skrining mata arthur yang pertama

skrining mata arthur yang pertama

Hari itu arthur kontrol untuk yang ke-3 kalinya setelah dia pulang dari NICU. Umur arthur sudah 5 minggu. Arthur ditimbang dulu sebelum masuk ke ruang periksa. Berat badan arthur sudah masuk 2kg. Dokter meriksa dan bilang kondisi arthur overall bagus dan kenaikan berat badannya juga sesuai target (masih dibantu dengan HMF). Karena berat arthur sudah masuk 2kg, dokter mau vaksin arthur. Karena pada anak prematur, pemberian vaksin bisa dilakukan setelah berat badan bayi diatas 2kg. Hari itu arthur diberi vaksin pertamanya hepatitis B yang pada umumnya diberikan pada bayi setelah lahir.

Setelah di imunisasi, aku sedikit konsultasi ke dokter. Karena dirumah aku baca-baca di grup facebook tentang skrining.

“dok, ini kemarin sudah dilakukan skrining apa aja ya?”

“sebentar saya cek dulu” (sambil bolak balik rekam medis arthur)

“ini kemarin telinga sudah diperiksa, hasilnya bagus.. kemarin juga babygram lihat paru-paru nya, jantung saya dengan stetoskop gini juga namanya udah skrining. Kondisinya bagus semua”

“kalau mata?” soalnya baca di grup kok kayaknya anak prematur itu penting dan wajib skrining mata.

“sebenernya gak wajib, tapi kalau mau skrining mata ya silahkan setelah ini ke poli mata dengan dokter spesialis mata”

dan aku saat itu juga nggak kepikiran nanyain tentang skrining kepala Β sudah dilakukan belum. Karena selama di inkubator aku cuma dapet laporan hasil skrining THT dan babygram.
Dari poli anak, kami terus lanjut ke poli mata. Sambil nungguin antrian, kasih arthur ASIP + HMF pake sendok. Oiya, aku juga nanya ke dokter boleh nggak sih dikasih dot. Kata dokter kalau di rumah sakit nggak boleh karena rumah sakit prinsip nya Rumah sakit sayang ibu dan anak, nanti ndak anaknya nggak mau nyusu langsung ke ibunya alias bingung puting, tapi kalau mau dikasih dot dirumah ya monggo terserah aja.

Nggak berapa lama, perawat ada yang nyamperin. Dia bilang mau kasih tetes mata ke arthur dan kasihtau tetes mata itu fungsinya untuk memperbesar pupil supaya gampang diperiksa dan terlihat retina nya. Abis ditetes, 5-10 menit kemudian perawat dateng lagi ngecek pakai senter, ternyata belum membesar pupilnya. Terus ditetes lagi. Begitu berulang selama beberapa kali. Arthur nangis pas ditetes. Aku tanya itu tetes matanya adem apa gimana rasanya dimata. Perawat bilang, katanya memang agak perih rasanya setelah ditetes. Aku kasihan sama arthur jadinya. Pas nungguin pupil arthur membesar, Ada beberapa dokter koas yang lagi praktek di poli mata juga ikut nyamperin, nanyain aku mau periksa apa. Aku ceritain riwayat prematur arthur dan mau melakukan skrining ROP. Dia tanya umur arthur juga, katanya memang usia 4-5 minggu tepat untuk dilakukan skrining. Gak banyak yang diobrolin sih ama beberapa dokter koas yang nyamperin waktu itu. Kenapa mereka juga nggak mengedukasi mengenai ROP secara lengkap ya waktu itu? 😦

Akhirnya pas di cek pakai senter sama perawat, pupil arthur udah membesar tapi yang satunya masih belum. Ditetes lagi, terus nungguin. Ya sekitar sejam lebih lah nunggu sampai pupil arthur membesar dan bisa diperiksa retina nya. Perawat terus dateng lagi, periksa pakai senter, terus bilang kalau udah bisa diperiksa. Arthur di gendong perawat dan aku ikutan masuk ke ruang periksa. Dokternya waktu itu laki-laki, aku cerita riwayat arthur ke dokter mata, kemudian beliau minta perawat untuk mempersiapkan arthur. Arthur dibedong dulu supaya nggak berontak. Ada sekitar 3-5 dokter koas juga yang ngerumunin. Aku cuma duduk di depan meja dokter. Sementara arthur dikerumunin banyak orang di bed tempat periksa. Dokter terus ngeluarin alat, opthalmoskop. Aku nggak tau dan nggak lihat arthur diapain dan dipasangin apaan tapi dia mulai nangis dan lama-Β  lama makin kejer. Lalu dokter mulai memeriksa, dan lampu ruangan dimatikan supaya gelap. Arthur nangis nya kejer banget, kayak nggak nyaman dan kayak kesakitan. Aku duduk di depan meja dokter sambil terus – terus baca doa dan AlFatihah, soalnya aku juga jadi takut sendiri. Badan juga udah merinding sendiri. Kasihan arthur….

Proses pemeriksaan nggak berlangsung lama. Sekitar 5-10menit lah. Abis itu lampu dinyalain lagi, opthalmoskop dilepas. Arthur masih nangis, sama perawat terus digendong dan dikasih ke aku. Begitu aku gendong, dia langsung diem. Dia dah tau kalau udah dipeluk ibunya. Aku lihat kulit di sekitar matanya agak merah.

Jadi saat dokter memeriksa dengan opthalmoskop, mata bayi dipasang suatu alat yang berfungsi agar mata bayi melek terus sampai terlihat bola matanya. Istilahnya ya dipaksa melek gitu. Untung aku nggak lihat pas arthur dipasang alat itu, kalau lihat bisa nangis sendiri dan nggak tega. Jadi kalau mau skrining mata bayi, mending nunggu di luar aja, daripada nggak tega. Cuma ibu yang bener-bener kuat deh yang berani nemenin sambil ngelihat proses skrining nya.

Aku dengerin penjelasan dokter sambil mangkuin arthur, kata dokter di mata arthur aman dan tidak ada tanda-tanda ROP. Beliau sambil nulis di rekam medis arthur. Sayang nya aku juga nggak kepikiran minta bukti tertulis untuk pegangan aku kalau arthur sudah pernah dilakukan skrining ROP dan hasilnya baik. Padahal saat di NICU arthur pernah skrining THT dengan OAE , aku dapet bukti tertulis kalau sudah pernah dilakukan skrining THT dengan hasil baik. Dan diminta skrining ulang lagi 2 bulan kemudian. Dokter mata juga tidak menyarankan untuk dilakukan skrining ulang secara bertahap. Pas aku nanya , beliau cuma bilang kalau mata arthur tidak ada gejala ROP dan terserah aja mau skrining ulang lagi atau nggak. Karena kurangnya edukasi dari pihak medis dan kami sebagai orang tua baru juga tidak mendapat banyak infomasi. Sehingga saat itu kami berpikiran kalau arthur memang tidak apa-apa, karena hasil skrining ROP nya juga tidak ada masalah. Dan sebagai ibu, aku juga merasa kasihan saat menemani proses skriningnya sepertinya dia kesakitan. (tolong yang tulisan miring ini jangan ditiru ya daripada menyesal seumur hidup, karena skrining secara berkala itu wajib untuk bayi prematur).

Saat itu aku tau tentang skrining ROP untuk bayi prematur dari grup prematur indonesia di facebook. Aku waktu itu sudah jarang buka FB, tapi main sosmed yang lain. Aku cuma tau bayi prematur kudu periksa mata buat cek ROP. Tapi aku nggak tahu kalau ternyata skrining ROP harus dilakukan secara berkala sampai usia gestasi 50weeks. Jadi, kadang merasa bersalah juga ke arthur, karena ibunya yang nggak tau kondisi dia jadi seperti ini.

Mau nuntut dokter-dokter yang nggak aware itu? Cuma habisin tenaga, waktu, dan uang. Yang ada kita bisa dituntut balik kayak kasus pencemaran nama baik RS swasta di jakarta beberapa tahun lalu. Kita cuma orang biasa, bukan orang kaya berduit banyak yang bisa ini itu. Kita cuma bisa apa sih? Lebih baik fokus ke tumbuh kembag arthur, dan mendidik arthur. Daripada kesel sendiri, penuh penyesalan dan merasa bersalah. Mending aku bikin blog ini, dan juga membantu mengedukasi se pengetahuan dan kemampuan ku. Agar kasus seperti arthur tidak terulang lagi ke anak-anak yang lain.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s