Retinoblastoma?!!

 

Saat itu usia kronologis arthur 3,5 bulan. Setelah arthur opname 1 minggu karena DB, aku perhatiin. Kok matanya kanan dan kiri bola matanya beda. Lebih gedean yang kanan, perasaanku aja atau memang gitu. Pas nanya ke dokter anak waktu kontrol pasca DB dibilang “ah enggak mungkin cuma perasaan ibu saja”

Terus yaudahlah dokter bilang gitu, aku pikir juga gak apa-apa. Lagian dulu juga udah pernah di skrining matanya waktu arthur umur 5 minggu dan hasilnya baik, nggak ada gejala ROP. Tapi kemudian keluarga juga ikut perhatiin, mereka juga ngerasa mata arthur lain. Saat itu arthur kalau dikasih mainan matanya nggak natap dan nggak ngikutin kemana arah benda bergerak. Aku waktu itu mikirnya mungkin memang dia belum jelas penglihatannya. Karena bayi setelah lahir kan memang penglihatannya masih belum jelas, apalagi bayi prematur. Usia perkembangannya mengikuti usia koreksi. Dan saat itu arthur masih usia koreksi 1,5 bulan.

Akhirnya kami berinisiatif periksain mata arthur ke dokter spesialis mata. Kami ke rumah sakit tempat arthur dirawat, soalnya mikirnya semua rekam medis arthur ada disana biar kalau ada apa-apa udah tau riwayatnya. Dokter mata yang meriksa arthur waktu itu bukan dokter mata yang skrining arthur pertama kali dulu. Pas diperiksa, kami jelasin keluhannya apa serta riwayat prematur arthur. Dokter nya cek mata arthur paka senter kemudian nggak bisa kasih jawaban arthur kenapa, cuma dia bilang kemungkinan ada kelainan di matanya sambil ngomong beberapa istilah kondisi  medis gitu tapi beliau tidak bisa memastikan, jadi kami ngasih surat rujukan supaya arthur di bawa  ke RS Mata YAP, bertemu dengan dokter ahli retina.

Setelah itu kami langsung cus ke RS mata YAP, ayah arthur pas lagi nggak enak badan waktu itu. Dia daftarin arthur, aku sama arthur nungguin aja di mobil. Kata ayah arthur, dokternya antriannya lama banget karena spesialis retina pasiennya banyak sekali dan kita dapet antriannya baru bisa diperiksa masih 2 mingguan lagi padahal daftar nya udah pakai umum bukan BPJS. Dan ternyata kalau mau periksain bayi gini kudu dibilang di awal pas daftar kalau pasiennya bayi dan prematur supaya didahulukan antriannya. Maklum deh, pas itu ayah arthur lagi agak nggak fit jadi nya nggak kepikiran gitu juga. Karena  antriannya ketemu dokter ahli retina masih lama sekali, kami takut arthur kenapa-kenapa. Waktu itu aku juga sempat share nanya ke grup facebook “prematur indonesia” mengenai kondisi arthur ini sebenarnya kenapa. Siapa tau ada yang berpengalaman seperti ini dan bisa membantu menjawab. Walaupun tidak mendaapatkan jawaban, namun ternyata ibu-ibu disana sangat membantu dan mengedukasi. Terutama ibu prima 🙂

Saya post capture-an nya ya. Maaf kalau misal terlalu  kecil untuk dibaca supaya loading nya nggak lama dan nggak bikin lemot kalau di buka.

 

  

Karena nunggu periksa di RS mata YAP masih lama, Ibu aku (eyang nya arthur) kasih tau kalau ada klinik dokter mata senior didaerah prawirotaman.  Ternyata sekarang yang megang praktek disana anaknya, karena dokter senior tersebut ternyata sudah almarhum. Dia buka praktek nya malem karena siang dinas di rumah sakit. Hari itu senin sore pulang kantor aku minta ijin pulang duluan mau periksan arthur. Disana nunggu nya lama banget, pasiennya udah dateng banyak banget dan numpuk padahal. Berarti ini dokternya bagus kalau pasiennya banyak gini, aku sih kepikirannya gitu. Untung ibuku daftarin arthur bilang kalau pasiennya bayi prematur  jadi petugasnya ngeduluin arthur dapet toleransi untuk antrian pertama, begitu dokter dateng langsung disuruh masuk ke dalem buat diperiksa. Dokternya meriksa arthur cuma ngecek pakai senter, terus bikinin surat rujukan supaya hari jumat ketemu dia di Sardjito karena disana peralatannya lebih lengkap. Duh, masih belum dapet jawaban juga arthur ini sebenernya kenapa. Beberapa hari deg-degan dan berdoa buat arthur semoga dia nggak kenapa-kenapa mata nya. Sambil nunggu hari jumat bawaannya perasaannya jadi nggak enak terus. Padahal hari itu anniversary pernikahan kami yang pertama, dan besok nya aku ulang tahun. Pasangan yang pada umumnya happy dan merayakan anniversary pernikahan mereka, apalagi anniversary pertama. Tapi kami hanya diliputi rasa cemas, khawatir, deg-degan, bawaannya galau terus memikirkan sebenarnya anak kami ini kenapa.

Jumat nya aku ijin ambil cuti untuk nemenin arthur periksa, waktu itu aku nggak cerita sama temen kantor arthur kenapa. Cuma ijin bilang mau periksain arthur di sardjito karena arthur kan lahir prematur dan dokternya adanya disana. Karena memang belum tau sebenernya arthur kenapa. Aku ke sardjito ditemenin ibu, masuk ke poli mata dan daftar. Aku belum pernah kontrol di sardjito, baru kali itu masuk ke poli di sardjito. Ternyata rame banget. Karena Sardjito rumah sakit rujukan di area Jateng – DIY juga sih. Banyak pasien yang dari luar kota, mungkin ada yang nginep disitu juga soalnya ada yang bawa travel bag gede-gede, ada juga yang sangu maem nasi bungkus. Rame banget lah pokoknya. Dan nungguinnya itu lama banget. Dokter yang kami temui di klinik kemarin sepertinya ngerujuk arthur buat diperiksa ke dokter ahli retina. Soalnya pas arthur dipanggil, nggak diperiksa ama dia dulu. Tapi mau di skrining sama dokter ahli retina. Dan ternyata disitu ada dokter yang akan kami temui di RS Mata YAP lagi praktek, tapi sayangnya beliau lagi menangani pasien lain, kalau nggak salah lagi tindakan laser beberapa pasien. Jadinya arthur ditangani oleh dokter mata ahli retina yang lain daripada nunggu lama. Arthur menjalani proses skrining mata lagi, matanya di tetes sampai pupilnya membesar tapi sampai sekitar 1-2 jam ditetes pupil arthur sepertinya nggak ada perubahan. Dokter koas yang bantu tetes mata juga sambil nanya-nanya, dan aku ceritain tentang riwayat prematur arthur. Ditanya juga berapa lama di inkubator, berapa lama memakai CPAP. Karena udah beberapa kali ditetes tapi sepertinya pupil arthur nggak ada perubahan terus yaudah dokter nya bilang mau meriksa arthur aja nggak apa-apa. Dokter ahli retina nya cowok dan masih kelihat muda, maaf saya lupa namanya. Pas dia cek arthur pakai opthalmoskop ekspresi muka dokternya tuh kayak “ini apa ya?” terus dokternya nggak ngasih penjelasan apa-apa tapi mau lanjut meriksa pakai USG mata.

USG mata itu ya kayak kalau di USG, dikasih kayak lotion gitu di kelopak mata. Terus diperiksa pakai alat USG, meriksa nya ngga tau neken mata atau nggak. Pokoknya dilihat lah itu ada apanya. Dokternya terus ngebawa USG mata arthur sambil nyuruh kami nunggu. Kami nunggu lumayan lama, pas aku ke toilet aku lihat dia dan beberapa dokter mata lain  sedang semacam berdiskusi gitu. Nggak lama abis itu aku disamperin dokter yang merujuk kami ke sardjito itu, kalau mereka masih membahas arthur. Aku tanya kenapa, beliau bilang nanti mau coba diperiksa sama dokter onkologi mata.  Onkologi itu bukanya ilmu yang mempelajari mengenai kanker ya? aku terus kepikiran di mata arthur ini ada apanya kok sampai dilempar ke dokter onkologi mata.

Nggak lama kemudian Arthur dipanggil masuk ke ruangan dokter ahli onkologi mata tersebut, disana aku juga menjelaskan mengenai riwayat prematur arthur dan juga cerita kalau dulu pernah menjalani skrinng mata saat usia 5minggu dengan hasil baik tidak ada ROP. Arthur diperksa pakai senter, terus pakai opthalmoskop lagi, abis itu diajak untuk USG mata lagi. Duh nggak tau deh gimana rasanya arthur hari itu, aku kasihan banget. Mungkin dia juga udah capek. Pas diperiksa atau ditetes mata pasti nangis. Tapi mau gimana lagi, kami harus tau mata arthur itu kenapa. Abis di USG, beliau melihat hasilnya dan mencoba melihat mata arthur dengan senter lagi dan opthalmoskop lagi. Kemudian dokter itu menjelaskan, ada beberapa kemungkinan di mata arthur. Sambil menjelaskan dengan hasil USG, kemungkinan yang pertama adalah Retinoblastoma dan kemungkinan kedua adalah ROP. Namun sepertinya 90% suspect Retinoblastoma. Selanjutnya dokter muda yang ada disitu juga membantu menjelaskan mengenai retinoblastoma dan juga penyebabnya. Penyebab nya bisa jadi saat proses pembuahan, bisa juga karena riwayat keluarga. Tapi sepertinya keluarga aku dan keluarga ayah arthur nggak ada yang bermasalah dengan mata. Aku udah nggak kepikiran  nanya lebih jauh lagi dan tindakan apa saja yang harus dilakukan dengan retinoblastoma ini. Aku cuma sibuk mikir sendiri. Pikiran ku dah kemana-mana. aku waktu itu udah capek, laper juga, dah nggak konsen lah. Mau nangis juga udah nggak kepikiran lagi rasanya,

Untuk mengecek apakah retinoblastoma atau bukan, dan sejauh mana dia berada di mata arthur dokter ahli onkologi mata tersebut menyarankan untuk dilakukan CT scan. Karena takut mempengaruhi syaraf dan otak arthur juga.  Tapi CT scan di sardjito antri nya ber minggu-minggu. Dia menyarankan di salah satu RS swasta di jogja, karena dia juga praktek disana biar gampang nanti kalau ada apa-apa.

Karena aku pas itu udah capek dan laper jadi nangkep informasi dokter juga agak lemot. Pas pulang dari sardjito aku coba browsing apaan yang di bilang dokter tadi. Terus google ngasih tau ini :

img_5461

AKu buka dan baca beberapa artikel mengenai retinoblastoma ini, Blaaarrr.. Sedih ya pastilah, tapi aku coba nenangin diri sendiri dulu, yang dibilang dokter masih kemungkinan. Semoga aja nggak terjadi pada arthur. Aku langsung ke RS yang dirujuk dokter hari itu juga untuk daftarin arthur CT scan.

Cerita tentang CT scan Arthur ada di postingan berikutnya setelah ini ya… 🙂

 

Dan kita sedikit membahas mengenai retinoblastoma, ini sepengetahuan aku aja ya. Selebihnya banyak penjelasan kalau mau browsing di google.  Jadi retinoblastoma ini adalah kanker mata yang biasanya dialami bayi dan anak-anak. Dia menyerang retina, biasanay berada di belakang retina.  Ciri-ciri atau gejala retinoblastoma ini secara umum biasanya, kalau disenterin mata anak kayak mata kucing. Menyala gitu, atau terlihat seperti ada manik-manik berkilau nya. Retinoblastoma menyebabkan kebutaan. Kalau sudah stadium yang lanjut bola mata bisa keluar karena tertekan pertumbuhan tumor di retina itu. Cara penanganannya dengan tindakan bedah pengangkatan tumor, dan juga kemoterapi. Penyebab retinoblastoma, seperti yang dijelaskan dokter. Bisa karena faktor genetik, karena ada riwayat keluarga yang pernah mengalami retinoblastoma. Bisa juga saat proses pembuahan terjadi.

Berikut salah satu artikel yang saya baca mengenai retinoblastoma saat arthur ter-suspect RB :

http://www.alodokter.com/retinoblastoma

Nah, ROP stadium lanjut dan retinoblastoma ini ternyata ciri-ciri atau gejala nya mirip sekali, haya dibedakan dalam penaganannya. Jadi kita sebagai orang tua harus lebih jeli, cari lah second opinion ke dokter lain atau kalau perlu ke kota lain. Untuk menengakkan diagnosa. Untuk ROP stadium lanjut anak diberikan intervensi dini untuk tumbuh kembangnya, sedangkan pada kasus retinoblastoma harus ada tindakan sesegera mungkin untuk menyelamatkan jiwa. Karena namanya tumor / kanker jika tidak segera ditindak lanjuti bisa membahayakan organ yang lainnya. Sehingga pada kasus arthur dokter menyarankan dilakukan CT scan agar terlihat jelas apa yang terjadi di mata arthur.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s