Drama CT scan Arthur

Lanjutan postingan sebelumnya. Ini cerita tentang proses CT scan arthur.

Arthur menjalani CT scan di Salah satu RS swasta di Jogja. Prosesnya ternyata nggak semudah yang aku bayangin. Apalagi ayah arthur masih di bekasi, aku kemana-mana ditemenin ibuku. Sepulang dari Sardjito aku langsung ke RS itu, awalnya aku kira arthur bisa langsung ditanganin dan di proses untuk CT scan. Ternyata CT scan nggak kayak USG, CT scan butuh anestesi, konsultasi dulu dengan dokter anak, dan karena arthur masih bayi saat itu usia nya baru mau 4 bulan, arthur diminta rawat inap dulu sehari sebelumnya untuk di observasi. Aku daftarin arthur CT scan, aku langsung diarahkan ke bagian Radiology dan katanya paling cepet bisa dilakukan senin atau selasa besok karena dijanjikan dulu dengan dokter anestesi nya (hari itu pas hari jumat). Setelah daftar, arthur diminta cek darah dulu di lab, aku agak lupa ya tujuan tes darah nya ini untuk apa, kalau nggak salah sih untuk ngecek ginjal nya arthur karena mau dimasukkan obat kontras dan bius.

Aku telepon atasanku, ijin minta cuti lagi dan aku jelasin kondisi arthur gimana. Sebenernya waktu itu aku bilang atasanku ada rencana resign setelah lebaran (sekitar 2 bulan lagi). Karena itu tengah tahun dan sisa jatah cuti ternyata pro-rata kalau mau resign pertengahan tahun. Cuti ku sebenernya udah habis, tapi mau gimana lagi aku harus nemenin arthur CT scan. Dan Arthur butuh aku. Aku bersedia dipotong gaji, dapet SP, surat teguran, atau terserahlah mau dikasih apaan.

Senin pagi aku ditelepon pihak RS kalau arthur bisa CT scan hari selasa dan senin sore dia kudu nginep dulu di RS. Ya buat pindah tidur aja semalem. Sampai di sana, booking kamar anak dan konsultasi dengan dokter anak disana. Kebetulan dokternya sedang praktek di poli. Dokternya perempuan, dan ramah. Aku ceritain kondisi dan riwayat arthur sampai kenapa dia disarankan untuk CT scan. Dan dokter menjelaskan mengenai retinoblastoma, serta proses CT scan besok bagaimana. Dokter ini enak sekali dalam memberikan penjelasan. Malem itu nggak ada tindakan apa-apa juga, pokoknya cuma numpang tidur aja. Arthur di observasi juga cuma di cek suhu nya dan perawat pesen, kalau arthur besok pagi kudu puasa ngga boleh nenen mulai jam 5 pagi sampai setelah CT scan sekitar jam 9an. Jadi sebelum jam 5an gitu dia aku nenenin dulu sepuas dia.

Sekitar jam 7 pagi perawat bilang arthur mau di pasang infus, biar nggak kekurangan cairan dan buat masukin obat. Arthur di gendong perawat ke ruang tindakan buat dipasang infusnya, aku sebenernya pengen nemenin tapi takut malah nggak tega nanti. Dan bener aja, arthur nangis kejer kenceng banget, dia kesakitan dipasang infus. Arthur dipasang infus di kaki nya. Dia biasanya bisa diem kalau udah nenen. Tapi arthur masih harus puasa sampai sekitar jam 10 nanti. Dia bener – bener kesakitan karena tusukan jarum infus. Dia nggak bisa tidur , digendong masih aja nangis. Sampai dia ketiduran karena kecapekan nangis, dan tidur sambil sesenggukan itupun nggak lama. Aku bolak balik ke perawat nanyain ini kapan dilakukan CT scan nya soalnya kasihan anaknya nangis kejer terus, pengen nenen juga. Perawat ngehubungin ke pihak radiology katanya masih nunggu dokter anestesi nya dulu. Duh pengen marah tapi nggak boleh, harus sabar. Aku nelpon ayah arthur sambil nangis ceritain kondisi arthur saat itu.

Akhirnya sekitar jam 9, radiology konfirmasi CT scan sudah siap dan bisa dilakukan. Arthur dikasih obat bius dulu, dimasukkan lewat anus. Supaya pas proses CT scan dia bobo anteng dan nggak gerak – gerak. Biar proses pemindaiannya berjalan lancar. Arthur digeledek bed nya, dari kamarnya di lantai 3 ke bagian radiology. di jalan dilihat orang dan ditanya “kenapa?” “berapa bulan?” aku cuma bisa jawab “prematur”.

Aku ikut masuk ke ruangan CT scan, alat pemindai nya berbentuk lingkaran seperti cincin besar dan ada tempat tidurnya. Proses scanning nya dilakukan dengan berbaring. Aku nggak boleh lama – lama ada di ruangan itu karena radiasi nya tinggi sekali, kata perawat karena aku masih produktif dan menyusui juga nanti bisa beresiko. Sebenernya anak – anak memiliki resiko yang lebih besar terhadap paparan radiasi daripada orang dewasa. Tapi jika memang sangat diperlukan, mau gimana lagi?

Arthur juga malah hampir kebangun, dia gerak – gerak pas lagi CT scan. Jadi arthur dikasih obat bius lagi lewat infusnya. Proses CT scan ini dilakukan dua kali, sebelum diberikan kontras dan setelah diberikan cairan kontras. Cairan tersebut berisi pewarna aman yang membantu memperjelas gambar pada CT scan. Arthur dikasih cairan kontras lewat infusnya supaya masuk ke dalam aliran darah. Dan cairan tersebut akan dikeluarkan tubuh melalui urin. Cairan kontras ini sering membuat alergi pada sebagian orang, sebelumnya dokter devie juga udah jelasin tentang alergi ini. Tapi selama ini arthur nggak ada alergi pada obat tertentu dan alhamdulillah setelah CT scan arthur juga nggak ada tanda alergi pada obat kontras tersebut. CT scan pada arthur ini bertujuan untuk membantu proses diagnosa dan memonitor atau melihat gambar jaringan lunak dalam tubuh, fokus nya ke otak arthur. Karena arthur saat itu suspect retinoblastoma, dokter ingin melihat lokasi tumornya ada dimana.

Aku nunggu di luar ruang radiologi. Arthur sendirian di tempat CT scan sementara ibu, perawat, dokter anestesi, dan para petugas radiologi ada di ruang sebelah yang terpisah dari ruang pemeriksaan. Semacem ruangan untuk mengontrol alat CT scan gitu, tapi ada jendela yang bisa melihat ke ruang pemeriksaan. Jadi bisa melihat arthur dari situ.  Sambil nungguin arthur, aku chat whatsapp’an sama sahabat-sahabatku minta doa dari mereka mengenai kondisi arthur. Minta doa yang terbaik untuk arthur semoga arthur baik – baik aja dan tidak tejadi apa – apa.

arthur lagi menjalani CT scan

Kira – kira ya hampir setengah jam lah arthur ada di tempat CT scan. Setelah proses CT scan selesai arthur terus di geledek lagi masuk ke kamarnya naik ke lantai 3. Hasil CT scan nggak langsung keluar, katanya siang ini setelah jam 12 hasilnya baru keluar. Karena hasil pemindaian dan informasi yang diterima komputer akan dianalisis dulu oleh dokter spesialis radiologi. Jadi aku masih menunggu hasil laporan CT scan.

Arthur masih belum sadar, dia bobok pules. Kata dokter anestesi, di tidurin nya jangan pakai bantal dikepala. Tapi kasih handuk atau selimut yang di gulung dan ditaruh di bagian belakang lehernya. Supaya pernafasannya lancar dan saat sadar nanti nggak sesak nafas juga. Hampir sejam setelah proses CT scan, arthur baru bangun. Tapi aku nggak boleh langsung nyusuin arthur, tunggu dia sampai bener-bener sadar dan nangis. Karena di bius, dia nggak ngerasa kesakitan tusukan jarum infus pagi tadi. Pas efek bius nya mulai hilang, arthur mulai gerak dan nangis. Tapi nangis nya belum kenceng, aku di suruh nunggu sampai dia nangis beneran biar memastikan efek bius udah ilang.Nggak sampai 15 menit, arthur akhirnya nangis kenceng. Setelah puasa sekitar 5 jam, akhirnya arthur bisa nenen. Ya Allah, anak bayi se kamu aja udah disuruh sabar dan puasa. Nggak apa-apa prihatin dulu ya arthur, Allah maha adil, maha baik. Setelah kita jalani ini semua pasti Allah kasih yang terbaik buat Arthur. Amin.

arthur baru sadar, dan masih setengah sadar efek di bius.

Sekitar jam 1an aku dihubungi perawat kalau hasil CT scan arthur sudah keluar. Dan siang itu dokter anak juga sedang visit. Saat dokter visit ke arthur, dia meriksa hasil CT scan nya. Dia bilang kalau dilihat dari hasil CT scan dan membaca hasil analisa nya tidak ada tanda  semacam tumor. Dia juga bilang kemungkinan yang ada di arthur adalah ROP. Tetapi karena yang menyarankan untuk CT scan dokter spesialis mata jadi lebih baik hasil nya dikonsultasikan dengan dokter matanya. Dokter anak itu nyuruh ngelepas infus arthur dan memperbolehkan pulang hari itu juga.

Aku langsung browsing hari itu dokter onkologi mata yang kemarin praktek dimana. Selasa sore beliau praktek di RS mata YAP.  Untung aja jarak ke YAP deket  banget dari RS itu. Aku sampai ninggal KTP di perawat, karena mau ngejar ketemu dokter di YAP sore itu juga. Aku nggak sempat ngurus administrasi dan bayar RS, takut dokter agus udah kelar di YAP dan juga aku segera pengen tahu arthur gimana. Supaya nggak terlambat penanganannya juga.

Sore itu hujan, dan kami langsung menuju YAP. Disana daftar dulu dan bilang kalau pasiennya bayi supaya diduluin (pengalaman dulu pas daftar ke dokter retina). Di YAP nunggu antriannya cukup lama. Karena YAP juga salah satu RS mata rujukan di area sekitar jogja. Pasiennya banyak yang dari luar kota jogja. Akhirnya dipanggil juga untuk masuk diperiksa ke ruangan dokter onkologi mata itu. Dokter memeriksa hasil CT scan arthur, dia nggak komentar tentang CT scan nya gimana, tapi dia ngajak untuk USG mata arthur lagi karena katanya USG mata di YAP alatnya lebih bagus dan lebih jelas hasilnya daripada yag di sardjito. Arthur hari itu juga beberapa kali diberi tetesan mata kayak kalau pas mau di skrining. Aku kasihan sama arthur beberapa hari ini. Pagi dia harus puasa nahan haus dan laper, nahan kesakitan. Di bius total, dikasih obat. Sore dia masih di tetes mata berkali – kali dan menjalani USG mata lagi.

Setelah USG mata, dokter meminta untuk menunggu dulu. Ternyata akan di konsultasikan ke dokter ahli retina. Akhirnya ketemu juga dengan dokter ahli retina itu, dokternya perempuan.  Untuk periksa dengan beliau memang antriannya banyak sekali. Aku cerita tentang riwayat arthur, Dokter retina tersebut kemudian melihat hasil USG mata arthur sambil bilang “oh saya pernah melihat hasil USG anak ini saat di Sardjito kemarin, karena sempat di tanyakan ke saya juga” dan kemudian beliau meriksa mata arthur dengan opthalmoskop. Kemudian dokter angela memberikan penjelasan “bu, saya tidak dapat memeriksa mata anak ini. Karena saya tidak bisa melihat retina di mata nya. Ada sesuatu yang menutup retina nya dan saya tidak bisa memastikan itu apa. Untuk yang semacam ini dokter agus yang lebih tau”

Beliau menjelaskan dengan gambar, ada gambar struktur bola mata. Dia menunjuk dimana letak retina dan dimana letak “sesuatu” yang menutup retina nya itu.  “Sesuatu” yang dibilang itu sudah menutup hampir seluruh mata kanan arthur, sedangkan untuk mata kiri nya juga tetapi masih sedikit belum sebanyak yang ada di mata kanannya. Setelah itu dokter retina menyarankan untuk kembali dikonsultasikan ke dokter onkologi.

Nggak lama kami menunggu antrian untuk ke dokter onkologi lagi, sewaktu aku mendengarkan penjelasan beliau. Aku nyalain recorder hp, biar aku nggak menceritakan kembali ke ayah arthur apa yang dokter bilang. Tinggal kirim hasil rekamannya aja. Rekaman itu masih ada sampai sekarang, tapi nggak pernah aku dengerin  lagi. Cuma bikin sakit hati dan sedih aja rasanya.

Dokter onkologi kembali melihat CT scan, hasil USG dan menayakan apa kata dokter tadi. retina. Sepertinya dokter onkologi tersebut  memang agak berat untuk memberikan penjelasan ini. Kemudian beliau menjelaskan dari awal apakah itu retinoblastoma dan penyebabnya. Dokter agus bilang mata kanan arthur terdapat semacam tumor dan harus diangkat untuk memeriksa dan meneliti tumor tersebut.

“Terus dok, gimana dengan penglihatannya?”

“Jadi mata kanan  adek ini sudah tidak bisa melihat bu”

Syok? Sedih? BANGET. Cobaan apalagi ini? Ujian apalagi yang Allah kasih? Kenapa harus arthur? Kenapa harus anakku? Aku langsung  nangis, bener – bener hal yang paling hancur banget selama hidup aku. Aku terus mikir Gimana masa depan arthur, gimana kehidupan dia nanti nya.

“Terus gimana dok?”

Lalu dokter menyarankan tindakan operasi agar tumor itu tidak menyebar mengenai otak. Operasi itu berupa pengangkatan bola mata yang kanan dan kemudian diganti kan dengan bola mata palsu. Awalnya aku kira kalau dipasang bola mata palsu ini kemudian arthur bisa melihat , ternyata aku salah. Bola mata palsu ini hanya untuk kosmetika. Dia tetap tidak bisa melihat dengan mata kanan nya, hanya supaya terlihat kalau dia punya mata.

Sedangkan untuk mata kiri nya, dokter bilang sudah terkena juga tapi belum separah yang kanan. Mungkin masih ada sisa penglihatan namun harus segera dilakukan tindakan kemoterapi supaya tidak menyebar. Selama ini aku tau kemo cuma dari cerita dan nonton di film doang. Setau aku efek kemo itu nggak enak. Apalagi untuk pertumbuhan bayi sekecil arthur. Dokter juga bilang supaya segera dilakukan tindakan, beliau menyarankan hari sabtu besoknya untuk operasi. Kami meminta waktu dari dokter untuk membahas ini dengan keluarga terlebih dahulu.

Hari itu sudah malam dan hujan. Aku keluar dari ruangan dokter itu, duduk diluar dan nangis ditemenin ibu. Biarin aja orang ngeliatin, aku udah sebodo amat nggak mikir lagi. Sambil nunggu jemputan, Aku telepon ayah arthur dan mama mertua, tapi masih nggak bisa nahan nangis. Aku denger disana sepertinya mama juga nangis, sambil suruh aku buat sabar. Mama juga bilang, kita cari cara lain asal arthur nggak di kemo karena kasihan kalau di kemo segala.

Hari itu rasanya hari paling berat selama hidupku, sebelumnya aku pernah rasain sedih yang kayak gitu waktu almarhum bapak meninggal. Tapi kali ini rasanya lebih sedih, lebih berat, dan lebih hancur. Saat itu Aku ngerasa Tuhan nggak adil. Kenapa harus arthur? Kenapa harus anakku?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s