Retinopathy Of Prematurity (ROP)


Disini saya ingin berbagi info, mengedukasi, dan sharing mengenai ROP (Retinopathy Of Prematurity). Mengapa? Karena beberapa tahun terakhir angka kejadian ROP di indonesia bisa dibilang meningkat dan rata-rata disebabkan kurangnya pengetahuan kita dan kurangnya informasi dari pihak medis untuk melakukan skrining, terutama skrining mata pada bayi prematur secara berkala.

Saya akan menjelasakan ROP hanya secara umum, selebihnya silahkan bisa googling sendiri ya. Akan lebih banyak informasi secara lengkap dibeberapa blog atau artikel mengenai ROP ini.

Q : Apakah ROP itu?

A : Retinopathy Of Prematurity adalah kelainan pada mata yang sangat beresiko terjadi pada bayi prematur. Terutama bayi yang lahir pada <34w dan bb <1500gr. Serta berada di NICU dengan alat CPAP (oksigen) terlalu lama (>1minggu) dengan pemberian tekanan oksigen yang tinggi.

Saya pribadi, sebagai preemie parents merasa kondisi ini fifty-fifty, karena disatu sisi baby preemie sangat beresiko terjadi APNEA of Prematurity yaitu kehilangan pernapasan selama beberapa detik atau menit (karena paru – paru belum mengembang sempurna) sehingga harus dipasang CPAP dengan tekanan oksigen yang sesuai hingga pernafasannya stabil.

Nah, pada usia gestasi tersebut retina belum matang sempurna, sehingga proses pertumbuhan retina terjadi di luar rahim. pemberian oksigen dengan CPAP juga mengganggu pertumbuhan retina, sehingga retina terpapar dan kemudian tumbuh jaringan atau pembuluh darah abnormal yang tumbuh di sekitar retina yang akan mengganggu proses kematangan retina. gangguan pembuluh darah abnormal tersebut dapat menarik retina, sehingga retina dapat terlepas dari tempatnya dan beresiko menyebabkan kebutaan.

Selain hal tersebut infeksi berat (sepsis) , transfusi darah yang dilakukan berulang, serta adanya gangguan pernafasan dan jantung juga dapat menyebabkan bayi mengalami ROP. Namun, penyebab paling utama dari ROP adalah karena kelahiran bayi yang premature. Semakin premature usianya, maka resiko ROP nya juga semakin tinggi. Bayi dengan ROP, tidak terlahir buta atau buta sejak lahir. Karena ROP bisa dicegah.

Jadi, ROP ini sangat beresiko kebutaan jika terlambat menanganinya.

Q : Apakah ROP bisa diobati?

A : ROP tidak dapat diobati namun DAPAT DICEGAH.

ROP ini tidak ada gejalanya, dan tidak bisa dilihat hanya dengan kasat mata. Jika ada gejalanya maka bisa dibilang sudah terlambat (kemungkinan stadium 4-5). Sehingga wajib dilakukan skrining mata secara berkala tiap 2 minggu sekali, hingga usia gestasi 50weeks sampai benar – benar dinyatakan aman dan bebas ROP.

  1.   stage 1 –  Pertumbuhan pembuluh darah dikatakan ringan dan biasanya tidak dilakukan tindakan apa-apa, akan membaik sendiri dan memiliki penglihatan yang normal. Namun wajib skrining lagi per 2 minggu sekali karena beberapa kejadian, skrining pertama dokter bilang tidak ada masalah namun pada skrining berikutnya sudah stage 2-3.
  2.  stage 2 –  Pertumbuhan pembuluh darah agak berat. Namun masih bisa membaik sendiri atau dilakukan tindakan laser atau diberikan suntikan avastin untuk menghambat penjalaran pembuluh darah abnormal tersebut sehingga bayi dapat memiliki penglihatan normal
  3.   stage 3 – Pertumbuhan pembuluh darah meningkat dan sangat berat. Kondisi ini bisa dibilang fifty-fifty bisa membaik atau meningkat ke stage berikutnya sehingga harus segera dilakukan tindakan. Biasanya dengan laser atau tindakan bedah agar tidak terjadi pelepasan retina, karena pertumbuhan pembuluh darah tersebut sudah mulai mengganggu retina. Jika terlambat akan meningkat ke stage berikutnya. karena ROP berpacu dengan waktu.
  4. stage 4 – Pada kondisi ini retina sudah terlepas sebagian karena terjadi penarikan oleh pembuluh darah yang abnormal tersebut. Pada kasus rop stage 3 – 4b harus segera dilakukan tindakan baik dengan avastin, laser, cryo ataupun pemasangan schlera buckle. Dan hasil tindakan juga beragam. Ada yang baik ada yang tidak.
  5. stage 5 – Pada kondisi ini pembuluh darah abnormal sudah menarik retina sehingga retina sudah terlepas seluruhnya (ablasio retina). Dan bayi akan mengalami kebutaan, tidak ada tindakan yang bisa dilakukan secara medis. Jika pun dilakukan operasi pembedahan kemungkinan keberhasilan dalam penglihatannya sangat kecil. Bayi dengan diagnosa ROP stage 5, dinyatakan mengalami kebutaan. ADa yang benar – benar gelap (Totally Blind) dan ada juga yang masih bisa respon dengan cahaya, warna tertentu, ataupun ukuran / jarak pandang tertentu (Low Vision).


Q : apa saja komplikasi ROP?

A :

⁃ terjadi ablasio retina yaitu lepasnya lapisan retina

⁃ rabun jauh (miopia)

⁃ glaukoma

⁃ mata juling (starbismus)

⁃ mata malas (ambliopia)

Jadi sebelum terlambat, jika ada teman, saudara, tetangga , atau siapa saja yang memiliki bayi prematur yang baru saja lahir. Sarankan pada orangtuanya untuk dilakukan skrining mata secara BERKALA pada bayi prematur. Karena terkadang ada DSA yang tidak menyarankan untuk dilakukan skrining, kita harus inisiatif sendiri. Bisa minta rujukan dari DSA untuk ke dokter mata atau langsung datang ke poli mata untuk melakukan skrining. Untuk daftar tempat skrining mata ROP bisa dilihat di file grup Premature Indonesia / Super Premature.

Bayi premature pasca melakukan tindakan / treatment ROP ataupun yang sudah lolos dari ROP pun juga tetap harus kontrol kesehatan matanya tiap setahun sekali. Karena juga beresiko minus tinggi yang  dapat mengakibatkan mata malas (lazy eyes) ataupun juling (strabismus).

Q : Skrining mata itu gimana?

A : ROP pada bayi premature tidak ada gejalanya dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata sehingga butuh pemeriksaan secara medis dengan alat. Sebelum dilakukan skrining mata bayi ditetes dulu agar pupil membesar sehingga saat dicek retinanya terlihat. Skrining mata yang dilakukan pada bayi prematur biasanya menggunakan alat yang namanya Opthalmoskop. Dokter juga memasang alat dimata bayi agar mata bayi tetap terbuka saat diperiksa. Alat ini bernama spreader, yang dipasang di kelopak mata berfungsi untuk membantu kelopak mata agar tetap terbuka saat proses skrining. Kesannya memang menyeramkan, namun alat ini sangat ringan karena terbuat dari metal. Sehingga sebenarnya tidak menyakitkan untuk bayi, meskipun bayi pasti nangis kejer karena merasa tidak nyaman ataupun terganggu tidurnya, Dan seringkali pemasangan spreader ini membekas di mata bayi, namun jangan terlalu khawatir karena bisa dikompres atau dapat hilang dengan sendirinya. Sehingga beberapa orang tua mungkin merasa tidak tega dengan proses skrining ROP ini, namun tidak ada alasan lagi bahwa skrining ROP ini wajib dan sangat penting dilakukan kepada bayi premature. Demi masa depan bayi itu sendiri, agar terbebas dari kebutaan karena faktor prematuritasnya.

Namun untuk lebih valid lagi, selain dengan opthalmoskop indirek, proses skrining bisa dilakukan dengan retcam yaitu foto retina. Karena hasil retcam lebih jelas dan tepat. Namun proses retcam biasanya dilakukan untuk menegakkan diagnosa, jika bayi sudah terindikasi gejala ROP.

Karena arthur dulu sempat diagnosa kanker mata (retinoblastoma), tapi setelah dilakukan retcam ternyata tidak ada tumor. Namun  ROP dan sudah stage 5. Untuk lebih menegakkan diagnosa, dapat dilakukan pemeriksaan skrining dengan retcam. Arthur dulu menjalani proses retcam di KMN (Klinik Mata Nusantara) di Lebak Bulus Jakarta.

Skrining ROP juga bisa dilakukan dengan BPJS. Asal persyaratan, rujukan dan dokumen sudah lengkap. Biasanya RSUP menerima pasien BPJS yang akan melakukan skrining ROP.

Dan jangan lupa untuk meminta secara tertulis hasil skrining nya. Untuk berkas pribadi kita.

Q :  Kapan dilakukan skrining pada bayi prematur?

A : Paling cepat saat usia 2minggu setelah lahir, atau setelah kondisi bayi dikatakan sudah stabil oleh dokter. Setelah itu dilakukan lagi secara berkala selama minimal 2 minggu sekali, hingga usia gestasi 50weeks.

Dari total bayi prematur yang mengalami ROP, akan menjadi beberapa kemungkinan:
1. ROP yang ditemui pada stage yang belum membutuhkan tindakan, lalu ROP mengalami regresi. Pada kasus ini, pemeriksaan skrining tujuannya sebagai observasi yang harus dilakukan berkala. Kondisi ini pun bisa terjadi pada bayi yang terlewat tidak di skrining, dan akhirnya memiliki pengelihatan yang normal. Terjadinya ROP tidak disadari, karena membaik dengan sendirinya.
2. ROP yang ditemui pada stage yang sudah membutuhkan tindakan, ditemukan setelah pemeriksaan. ROP yang tidak regresi tetapi progresif, maka tindakan dibutuhkan dan dilakukan. Observasi pasca tindakan dan kontrol rutin tetap dilakukan. ROP progresif yang berbahaya ini, bisa ditangani sebelum menyebabkan kebutaan.
3. ROP yang ditemui pada stage yang sudah membutuhkan tindakan, tapi tidak dilakukan pemeriksaan skrining, juga tidak dilakukan tindakan. Dalam kondisi ini terjadi ROP yang progresif, terlambat diketahui, hingga menyebabkan kebutaan.
Jika kita biasa menemui anak prematur yang sehat saja pengelihatannya tanpa dilakukan skrining, maka ia sebetulnya bisa jadi masuk ke kelompok yang pertama. Skrining ROP wajib bagi semua bayi prematur, agar bisa mencegah masalah pengelihatan yang mungkin timbul, seperti di kelompok kedua. Jangan sampai mengabaikan, meremehkan, menunda skrining ROP dan tindakan yang dibutuhkan, seperti yang terjadi kepada kelompok ketiga.
Ilmu ini harus diketahui bagi siapapun yang memiliki bayi prematur, saudara, teman, tetangga, dan masyarakat luas lainnya.
(dr agung zentyo wibowo)

Untuk penjelasan lebih lengkap bisa juga membaca blog ibu dr rozalina loebis spM di link berikut:

https://rozalinaloebis.wordpress.com/2012/11/05/retinopati-pada-prematuritas/

Atau juga bisa membaca di beberapa postingan di grup facebook super prematur dan prematur indonesia . Instagram : @premature.indonesia

Disana banyak informasi mengenai prematuritas dan ROP.

terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s