AOP – Apnea Of Prematurity 

AOP – Apnea Of Prematurity 

APNEA biasa terjadi pada bayi prematur. Hari pertama setelah arthur dilahirkan, arthur mengalami APNEA. Waktu itu, pagi – pagi aku tengok arthur masih nggak apa-apa. Tapi siangnya dia mulai APNEA, perawatnya bilang arthur boleh dipegang dengan sentuhan-sentuhan untuk merangsang supaya dia tidak henti nafas. Dan sore itu dokter anak bilang, arthur harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU dengan CPAP.

Walaupun ada sumber yang mengatakan, meskipun setelah seminggu tidak terjadi APNEA sama sekali, resiko nya kecil untuk terjadi APNEA lagi. Tapi, APNEA ini bisa juga terjadi pasca bayi pulang ke rumah, dokter dan perawat selalu pesen ke aku supaya sering di itung nafas arthur per menit. Seinget ku, normalnya bayi semenit itu 40-50 hitungan nafas. Kalau lebih dari itu  (nafasnya cepet) bisa aja sesek, dan kalau kurang dari itu yang di takutkan adalah terjadi APNEA lagi. Alhamdulillah, setelah pulang ke rumah, arthur tidak ada masalah dengan pernafasannya.

Belum lama kemarin, sempat ada pembahasan mengenai APNEA di grup pemature. Ternyata APNEA ini masih bisa terjadi saat anak eks preemie sudah memasuki usia sekolah. Memanglah anak eks preemie harus ekstra ketat, tidak boleh sembarangan. Berikut ini ada penjelasan mengenai APNEA yang bersumber dari kids health, di copy dari postingan facebook dr agung zentyo wibowo SpA

Mengenal Apnea of Prematurity, Bahaya Laten Pada Bayi Prematur

Setelah bayi dilahirkan, tubuh bayi membutuhkan oksigen secara terus-menerus. Pada bayi yang terlahir prematur, bagian pada sistem saraf pusat yang mengatur pernafasan belum cukup matang untuk mengatur pernafasan yang non-stop. Ini menimbulkan suatu periode nafas yang normal diikuti dengan periode nafas yang lemah, atau bahkan berhenti bernafas (apnea). Kondisi inilah yang disebut Apnea of Prematurity (AOP).

AOP cukup sering ditemui pada bayi prematur. Dokter biasanya mendiagnosis sebelum bayi boleh dibawa pulang. Apnea umumnya akan membaik dengan sendirinya seiring bertambah usia bayi. Ketika AOP sudah hilang, maka tidak akan kambuh kembali. Satu hal yang pasti, kondisi apnea sangat menakutkan bagi orang tua bayi prematur.

Apnea adalah kondisi dimana nafas benar-benar berhenti. Sebagian ahli mendefinisikan AOP sebagai kondisi bayi prematur yang berhenti nafas untuk 15-20 detik saat tidur.

Pada umumnya, bayi yang lahir kurang dari UK 35 minggu memiliki periode dimana mereka akan berhenti nafas atau detak jantungnya menurun (dalam bahasa medis disebut bradikardia). Ini adalah kondisi pernafasan yang tidak normal, bisa mulai terjadi sejak bayi berusia 2 hari hingga usia 2-3 bulan. Semakin kecil berat lahirnya, dan semakin prematur/awal lahirnya, maka sangat besar kemungkinannya untuk memiliki AOP.

Meskipun ini juga ditemui pada bayi umumnya, mereka berhenti nafas sejenak (pause) dan detak jantung, mereka yang memiliki AOP akan memiliki detak jantung dibawah 80 kali per menit yang menyebabkan bayi menjadi pucat dan kebiruan. Bayi juga tampak seperti lemah dan nafasnya berbunyi. Bisa jadi mereka bernafas lagi dengan sendirinya, atau memerlukan bantuan untuk bisa kembali bernafas.

Bedakan AOP dengan nafas periodik, yang juga umum ditemui pada bayi prematur. Nafas periodik ditandai dengan jeda/’pause’ pada saat bernafas yang hanya terjadi beberapa detik, dan diikuti oleh beberapa nafas cepat, dan lemah. Nafas periodik tidak disertai dengan perubahan pada warna kulit wajah (seperti kebiruan sekitar mulut), atau menurunnya detak jantung. Bayi yang memiliki nafas periodik bisa kembali bernafas dengan normal dengan sendirinya. Meskipun tampak menakutkan, nafas periodik tidak menimbulkan masalah khusus pada bayi baru lahir.

Pada kebanyakan kasus, bayi prematur (khususnya dengan UK <34 minggu) akan menerima bantuan medis untuk mengatasi AOP di NICU, dan perina. Ketika mereka lahir, bayi prematur harus dibantu untuk bisa bernafas dengan normal, karena paru—parunya belum matang, dan belum sanggup untuk bernafas dengan sendirinya.

Bayi yang memiliki AOP bisa diberikan obat minum atau intravena (infus) yang mengandung kafein untuk menstimulasi nafas mereka. Seperti halnya fungsi kafein pada kopi, dosis kecil bisa membantu bayi untuk tetap sadar dan bernafas dengan teratur. Kebanyakan bayi tidak memerlukan lagi kafein yang biasa mereka dapat di NICU, meskipun sebagian kecil tetap melanjutkan pengobatan setelah pulang dari RS.

Bayi perlu dimonitor secara terus-menerus untuk menemukan bukti terjadinya apnea. Monitor cardiorespiratory atau disebut apnea dan bradikardia atau A/B monitor, juga bisa melihat detak jantung bayi. Alarm pada monitor akan bersuara jika nafas bayi berhenti untuk beberapa detik. Ketika monitor berbunyi, perawat akan segera mengecek apakah terjadi distress pada bayi. Meskipun seringkali alarm bunyi tapi tidak ada apa-apa.

Kalau bayi tidak mulai bernafas lagi dalam 15 detik, maka perawat akan mengusap punggung bayi, tangan, dan kaki untuk menstimulasi pernafasan. Pada banyak kasus bayi dengan AOP akan mulai bernafas lagi setelah dilakukan stimulasi ini.

Bagimanapun, ketika perawat menangani bayi, dan bayi belum mulai bernafas, dan tampak pucat, kebiruan, maka oksigen akan diberikan dengan masker dan kantung udara. Perawat akan memasangkan masker udara ke wajah bayi dan memompa kantung udara untuk mendorong beberapa nafas masuk ke paru-paru. Biasanya beberapa nafas yang dibutuhkan, sebelum akhirnya bayi bisa bernafas lagi dengan sendirinya.

AOP bisa terjadi sekali atau beberapa kali dalam sehari. Dokter akan memonitor dengan ketat untuk evaluasi bayi untuk memastikan apnea tidak berasal dari sebab khusus, misalnya dari infeksi.

Kalau bayi tidak bernafas, dan wajahnya tampak pucat atau kebiruan, ikuti instruksi yang disarankan staf NICU. Biasanya yang harus dilakukan adalah teknik stimulasi lembut, dan jika tidak berhasil, baru lakukan CPR dan bawa ke RS. Ingat, jangan mengguncangkan bayi untuk membangunkannya.

Hal ini bisa jadi sangat membuat stres bagi orang tua, bayi pulang dengan membawa monitor apnea. Sebagian orang tua terus melihat monitor apnea bahkan takut untuk ditinggal kemana-mana. Biasanya ini akan membaik seiring waktu. Jika anda merasakan hal ini, sampaikan ke staf NICU. Mereka bisa menenangkan dan meyakinkan, bahwa orang tua bisa melewatinya, sama seperti orang tua bayi prematur yang lain.
(*pembahasan ini memang sangat tepat untuk di negara maju)

AOP biasanya menghilang seiring waktu. Untuk kebanyakan bayi prematur, AOP berhenti di usia post konsepsi 44 minggu. Usia post konsepsi dihitung dari usia kehamilan saat melahirkan ditambah usia setelah lahir. Pada beberapa kasus yang jarang, AOP berlanjut untuk beberapa minggu lebih lama.

Bayi yang sehat yang punya riwayat AOP biasanya tidak punya masalah tumbuh kembang khusus dibandingkan bayi lainnya. AOP tidak menyebabkan kerusakan otak. Bayi yang sehat dan sudah tidak apnea untuk 1 minggu, kemungkinan tidak akan mengalami AOP lagi.

Meskipun sindrom kematian bayi yang mendadak/Sudden Infant Death Syndromes (SIDS) bisa terjadi pada bayi prematur, tidak ada hubungannya antara AOP dan SIDS.

Selain dari AOP, komplikasi lain dari bayi prematur akan membatasi orang tua untuk bisa langsung berinteraksi dengan bayi. Tapi orang tua tetap bisa memiliki ikatan/’bonding’ yang baik dengan bayi saat di NICU. Bicarakan dengan perawat NICU, interaksi apa yang terbaik dilakukan saat di NICU. Apakah memegang, memberikan ‘makanan’, atau sekedar berbicara dengan lembut. Staf di NICU tidak hanya untuk merawat dan menangani bayi prematur, tapi juga untuk memastikan dan mensuport orang tua dari bayi prematur.

Sumber: KidsHealth

(Dari postingan di Facebook dr agung zentyo wibowo SpA)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s