Mencegah Terjadinya Sibling Rivalry Anak Berkebutuhan Khusus

Resume Kulwapp mengenai sibling rivalry oleh mbak Fauzia Chafitsa Anggraini S,Psi, M.Psi Psikolog. Beliau adalah seorang psikolog pendidikan dan konsultan perencanaan karier, Tetapi memiliki pengalaman praktek psikolog pendidikan anak dan remaja di Semarang.

8e1477594674803a67b0b0f09907b165

1. Pengertian Sibling Rivalry

Sibling Rivalry atau persaingan antar saudara diartikan sebagai kompetisi antar saudara untuk memperebutkan kasih sayang, penerimaan, dan perhatian dari ayah dan ibu. 

Sibling rivalry tidak bisa dihindari jika orangtua memiliki lebih dari satu anak

Perilaku yang muncul akibat sibling rivalry:

✔merebut mainan

✔menangis tanpa sebab yang jelas

✔ memukul adik

✔menendang adik

✔menggigit adik

✔membentak adik

✔Mencari perhatian orangtua

2.  Bagaimana Sibling Rivalry Terbentuk

👉 Mitos : faktor utama dan satu-satunya timbulnya sibling rivalry karena salah pola asuh orangtua.

👉 Fakta  : sibling rivalry timbul karena 2 faktor, faktor pemicu dan faktor penguat.

▶️ Faktor pemicu

Faktor pemicu sibling rivalry adalah ibu mengandung anak kedua, ketiga, dan seterusnya.

Benih sibling rivalry muncul karena anak pertama merasa hubungannya dengan orangtua terancam hilang dengan kehadiran adiknya

▶️  Faktor Penguat

Faktor penguat dari sibling rivalry yaitu reaksi dan kepekaan orangtua pada perubahan sikap anak pertama. 

Semakin orangtua peka dan bereaksi dengan tepat, sibling rivalry bisa dihindari saat anak kedua hadir

3. Sibling Rivalry dari Kaca Mata Anak Pertama

Persaingan antar anak adalah bagian dari fase perkembangan emosi yang dialami anak di usia dini. Meskipun sesuatu yang wajar terjadi, orangtua tetap perlu berperan aktif untuk menimalisir terjadinya persaingan antar saudara, terutama yang mengarah ke perilaku negatif.

Dari sudut pandang atau kaca mata anak pertama, sibling rivalry muncul karena adanya 4 emosi ini:

⚫Rasa Khawatir

rasa khawatir digambarkan dengan *“khayalan ketakutan”* atau *“gelisah tanpa alasan”*  Rasa khawatir muncul dari pikiran anak sendiri, bukan berasal dari interaksi dengan orangtua atau saudaranya. Rasa khawatir muncul karena membayangkan situasi – seperti kehilangan kasih sayang orangtua, berkurangnya waktu untuk manja dan bermain dengan orangtua. 

⚫Rasa Cemas

Rasa cemas ditandai dengan kekhawatiran dan prasangka buruk yang disertai dengan ketidakmampuan anak untuk mencari pemecahan masalah. Penyebab utama cemas adalah ketakutan yang dibayangkan di dalam pikiran, salah satunya ketakutan kehilangan kasih sayang orangtua. 

rasa cemas diekspresikan dalam bentuk perilaku murung, gugup, sulit tidur nyenyak, cepat marah, dan sangat peka pada kritik. 

⚫Rasa Marah

Rasa marah adalah ekspresi yang paling sering diungkapkan anak dibandingkan emosi yang lain. Rasa marah biasanya muncul karena adanya rasa khawatir dan cemas. Anak-anak usia dini belajar dengan menggunakan ekspresi marah, mereka bisa mendapatkan perhatian dari orangtua, dan keinginan mereka dipenuhi oleh orangtua. 

Rasa marah diekspresikan dengan perilaku tantrum, seperti memukul, merebut mainan, menggigit. 

⚫Rasa Cemburu

Rasa cemburu adalah reaksi normal dari kehilangan rasa kasih sayang yang nyata, atau kemungkinan kehilangan rasa kasih sayang. Sumber rasa cemburu pada anak pertama merasa terabaikan karena orangtua memberikan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah pada bayi yang baru lahir. 

reaksi cemburu yang umum dilakukan anak-anak seperti menggigit, menendang, mendorong, meninju, mengompol, mengisap jempol, berperilaku seperti bayi.

 4. Reaksi Orangtua Pada Sibling Rivalry

👉 Reaksi reflek orangtua: menghentikan pertengkaran dengan memarahi dan menyalahkan anak pertama, dan membela anak kedua.

👉  Reaksi seharusnya : menyelesaikan penyebab sibling rivalry, bukan fokus di menghentikan pertengkaran.

FAKTA

Dalam studi penelitian di berbagai negara, saat anak kedua lahir, ibu-ibu cenderung menjadi lebih negatif, kasar, menyekang anak pertama, dan meminta anak pertama untuk tidak terlalu meminta perhatian seperti dulu. Anak pertama diharapkan berlatih mengendalikan diri dan bisa ikut berperan mengasuh adiknya. Bila anak pertama menunjukkan kecemburuan, orangtua cenderung melindungi anak yang lebih muda.

5. Mencegah menguatnya sibling rivalry

“Mencegah lebih baik daripada mengobati” Mencegah menguatnya sibling rivalry lebih baik dan lebih mudah daripada mengatasi sibling rivalry. 

Langkah-langkah yang bisa diambil orangtua untuk mencegah sibling rivalry:

◾Pra-kehamilan: menanyakan pada anak pertama apakah sudah siap memiliki adik.

◾Kehamilan: jika ibu hamil tetapi belum sempat menanyakan kesiapan anak pertama. Ibu dan ayah perlu menjelaskan bahwa akan hadir adik bayi.

◾Ayah dan ibu memberikan penjelasan apa saja yang akan terjadi saat adik bayi lahir. Penjelaskan disesuaikan dengan usia anak pertama, bisa lewat bermain ataupun bercerita. 

◾Ayah dan ibu mendiskusikan dengan anak pertama peran dan tugas yang perlu dilakukan anak pertama. Mendiskusikan peran serta anak pertama pada pengasuhan adiknya. 

◾Ayah dan ibu memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan rasa khawatir, cemas, dan cemburu.

◾Ayah dan ibu memastikan dan menunjukkan dengan konsisten bahwa kebutuhan psikologis anak pertama terpenuhi, seperti kasih sayang dan perhatian dari orangtua.

Mengatasi Sibling Rivalry

Bagaimana jika sibling rivalry terlanjur terjadi, apa yang bisa dilakukan orangtua? Langkah paling penting adalah fokus pada penyebab sibling rivalry, bukan pada menghentikan pertengkaran antar saudara.  

🔹Orangtua mengendalikan emosi diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengendalikan emosi anak pertama.

🔹Orangtua mengajak anak pertama dan kedua (jika anak kedua sudah bisa diajak komunikasi lisan), dan mendiskusikan “khayalan ketakutan” yang ada di pikiran anak pertama. 

🔹Jika anak belum bisa diajak komunikasi lisan, orangtua bisa memberikan pengertian dan konsisten menunjukkan dalam sikap bahwa anak pertama tetap mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtua.

🔹Orangtua memberikan kesempatan pada anak pertama untuk berkontribusi dalam merawat dan mengasuh adiknya. 

🔹Orangtua memuji proses kontribusi anak pertama, bukan pada hasilnya.

🔹Orangtua bersikap adil dalam memberikan hadiah, hukuman, kasih sayang, dan perhatian pada anak pertama, kedua, dan seterusnya

🔶 mitos ➡ jarak kelahiran antar saudara yang pendek menyebabkan sibling rivalry

🔶 fakta ➡ penelitian di berbagai negara, termasuk Indonesia, membuktikan jarak kelahiran yang dekat tidak terlalu mempengaruhi muncul atau tidaknya sibling rivalry

*penting*

  • Jangan memaksa anak untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. 
  • Buat kesepakatan kapan, bagaimana, dan bentuk perhatian yang akan diterima kakak. Yang pastinya akan berbeda dengan yg diterima adik baru

 

01ac8e2cbe8a6b3f4e09706b6ffc8268_-of-siblings-fighting-in-a-fighting-siblings-clipart_450-315

Mengikuti Kulwapp tersebut, aku kepikiran calon adek nya arthur besok. Gimana arthur dan adek-adeknya besok (adek-adek? duh adeknya lebih dari 1 nih, hahahaha)

Aku sedikit nanya dan konsultasi dengan mbak fauzia, tentang pikiranku ini apa yang sudah benar, apa yang salah, dan mana yang harus diperbaiki. Untuk mencegah terjadinya sibling rivalry anak-anakku nanti, karena semua harus dipersiapkan dari dini. Apalagi pola pengasuhan, meskipun nantinya akan ada saja intervensi dari luar mengenai pola pengasuhan yang aku terapkan.

Awalnya dulu aku ngerasa seneng anak pertamaku seorang anak laki-laki, karena aku juga menaruh harapan besok kalo udah gede bisa jagain ortu dan adek2nya. Tapi dengan kondisi arthur saat ini, pikiranku itu otomatis berubah.

Besok kalo ada adeknya, adeknya otomatis aku ajarin buat jagain / bantuin arthur. Meskipun arthur juga aku latih kemandiriannya sejak dini. Tapi yang aku takutkan adalah terjadi nya sibling rivalry.  Si adek kemudian merasa terbebani, atau cemburu. Merasa perhatian orang – orang lebih ke arthur karena kondisi arthur. Program kehamilan si adek mungkin masih 2-3 tahun lagi. Tapi saya mau mempersiapkan semua dr sekarang.

Nah, menurut mbak fauzia gimana, apa yang harus dibenahi pikiran saya ini? apa yang harus saya persiapkan kelak agar anak-anak saya tidakterjadi sibling rivalry.

Berikut jawaban dari mbak fauzia :

➡ merawat dan mengasuh anak istimiewa tentu membutuhkan orangtua yang istimewa juga. ketika saya praktek di SLB, saya berbicara dengan orangtua, dengan anak, dengan guru, saya mendapatkan kesimpulan orangtua yang istimewa itu: 

1. menerima kondisi-kondisi istimewa anak sepenuhnya, termasuk menerima diagnosa yang diberikan dokter ahli dengan penuh kerelaan dan keiklasan.

2. memberikan terapi-terapi yang dibutuhkan dan selalu mendampingi anak

memperlakukan anak istimewa seperti anak biasanya, mengijinkan anak untuk tetap bebas bermain seperti teman-teman lainnya. Tidak terlalu dilindungi dan dikasihani. 

3. orangtua tetap memberikan kebutuhan psikologis kepada anak, seperti kebutuhan diakui keunikan karakternya, dihargai pendapatnya, dihormati pilihannya, didengarkan saat bicara dan bercerita.

4. memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplore dirinya dan mengeksplore bakat minatnya seperti anak-anak lainnya

5. jika orangtua dan anak sudah menemukan bakat dan minatnya, fokus orangtua adalah mengembangkan bakat dan minatnya saja. tidak perlu terlalu memaksa anak untuk menguasai hal-hal di luar bakat dan minat.

*apa yang bisa saya lakukan?*

1. melepaskan harapan kepada anak yang melebihi kapasitas potensi anak

2. memberikan peran kepada anak sebagai anggota keluarga sesuai dengan kemampuannya

3. mengubah pola pikir menjadi Arthur bisa mandiri dan menjaga dirinya dan adiknya. Hapus pola pikir adiknya otomatis harus menjaga Arthur. tetap berikan pemahaman kepada calon adik tentang kondisi Arthur, tetapi jangan memaksa adik menjaga Arthur. jika memang calon adik ingin menjaga kakaknya, biarkan keinginan itu datang atas kemauan calon adik sendiri. 

4. berikan perhatian, kasih sayang, dan penerimaan kepada Arthur sesuai kebutuhan. mba bisa memperhatikan dan bertanya ke Arthur (kalau Arthur sudah bisa komunikasi lisan) seperti apa perhatian yang dia butuhkan, kapan ingin diperhatikan, dan bagaimana bentuk perhatian yang dia butuhkan. 

*note penting*

sibling rivalry terjadi ketika anak merasa terancam hubungan dengan orangtuanya akan hilang karena kehadiran adik baru. anak merasa porsi kasih sayang, perhatian, dan penerimaan akan jauh berkurang. karena itu penting bagi orangtua mengenai perhatian yang dibutuhkan anak, sehingga anak bisa mendapatkan perhatian yang tidak berlebih dan tidak kurang.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s