SLB VS sekolah umum inklusi

Seorang teman dari komunitas yang anak nya juga terdiagnosa ROP stage 5, pernah mendapatkan kata – kata seperti ini dari dokter mata yang memeriksa dan mendiagnosa.

Ibu  : Terus gimana dok? (menurutku, ini kata-kata yang otomatis akan terucap saat dokter memberikan hasil diagnosa)

Dokter : Ya anak ibu besok sekolahnya di SLB.

Jadi selama ini menurut masyarakat awam, dan seorang dokter sekalipun. Ternyata masih memandang bahwa seorang anak berkebutuhan khusus itu sekolahnya ya di SLB. Tidak ada yang salah dengan SLB, namun anak berkebutuhan khusus juga dapat bersekolah di sekolah umum bersama dengan anak-anak lain pada umumnya.

Di UUD 1945 dalam pasal 31 ayat 1 pun disebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. Dan lebih ditekankan lagi di dalam Undang – undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, bahwa pemerintah memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Sehingga anak ABK pun mendapatkan hak untuk memperoleh akses pendidikan di sekolah umum. Untuk itu pemerintah pun mencanangkan sekolah negeri harus bisa ber-inklusi.

 

PLAN A – SEKOLAH DI SEKOLAH UMUM INKLUSI

Apa itu pendidikan inklusi? Yaitu system layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak untuk belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individu sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal. (Ibu Siyam Mardini, M.Pd – Kepsen SD N Giwangan).

Beberapa orangtua anak ABK terkadang merasa minder, takut mental anaknya tidak kuat ataupun takut anak tidak bisa mengikuti pelajaran jika bersekolah di sekolah umum inklusi bersama anak-anak yang lainnya. Sehingga kemudian menyekolahkan anaknya di SLB.

Tapi InsyaAllah besok Arthur akan bersekolah di sekolah umum inklusi. Dan tugasku sekarang adalah memperjuangkan hak Arthur untuk mendapatkan hak pendidikannya, agar dapat bersekolah di sekolah umum bersama anak regular lainnya.

Nggak minder? Aduh, Ngapain harus minder??? Apa yang membuat minder? Aku justru bangga… Jangan pernah melihat kekurangan seorang penyandang disabilitas, tapi lihatlah kelebihannya. Dibalik kekurangannya pasti Tuhan memberikan dia kelebihan. Allah itu Maha Adil.

Nggak takut mental anak nya nggak kuat atau down? Arthur anak laki-laki, harus kuat dan tegar. Justru bersekolah dengan anak “biasa” lainnya akan menumbuhkan rasa percaya dirinya bahwa dia dapat diterima dalam pergaulan dan juga bisa bersosialisasi dengan anak non-difabel. Hidup di masayarakat itu heterogen sekali, kita harus bisa membaur satu sama lain untuk meng-inklusikan diri.

Nggak takut anaknya ketinggalan pelajaran atau nggak bisa mengikuti? Sistem pendidikan inklusi sudah dibuat sebaik mungkin. Dan pada sekolah inklusi, kurikulum yang dibuat untuk anak ABK berbeda dengan anak reguler. Pada anak ABK, kurikulum PPI (Progam Pembelajaran Individual) yaitu  proses pembelajaran yang akan mengikuti anak, bukan anak yang mengikuti kurikulumnya. Dan anak ABK juga memilki Shadow teacher (Guru pendamping Khusus) yang selalu memberikan bimbingan dan layanan kepada ABK yang memiliki hambatan, kesulitan dan keterbatasan dalam melakukan aktifitas belajar di sekolah, sehingga di kelas anak pun dapat terbantu. Shadow teacher juga menjadi fasilitator dan mediator yang menampung dan melayani segala macam yang menjadi kebutuhan ABK.

TIPS MENCARI SEKOLAH INKLUSI UNTUK ABK

Ada beberapa tips (sebenernya saran dari seorang psikolog) untuk persiapan Arthur bersekolah di sekolah umum nantinya.

  • Cari sekolah yang baik, yang bagus, yang tidak pernah bermasalah dengan siswa inklusi nya. Dan sekolah tersebut memiliki psikolog sekolah (bukan cuma lulusan S1 psikologi). Karena dengan adanya psikolog sekolah , penting untuk proses pembuatan kurikulum PPI (Program Pembelajaran Individual). Mengapa harus psikolog sekolah? Karena jika hanya sarjana psikologi, belum mumpuni untuk membuat PPI.
  • Seklah inklusi yang 1 kelas hanya berisi maksimal 15  anak dengan minimal 2 guru (1 guru utama dan 1 guru pendamping khusus)
  • Sekolah inklusi yang fleksibel dalam pemberian materi ujian , tidak harus selalu paper and pencil.
  • Guru – guru yang memiliki sertifikasi untuk mengajar anak berkebutuhan khusus (Lulusan PLB)

Usia Arthur memang belum genap 2 tahun, tapi aku mulai mencari informasi beberapa sekolah inklusi mulai dari sekarang. Karena terbatasnya “quota” ABK di kelas. Biasanya sekolah hanya dapat menerima 2-3 anak. Jadi sebisa mungkin kudu “inden” kelas dulu jauh hari. Syukur – syukur kalau Arthur bisa masuk ke playgroup inklusi. Susah banget lho cari Playgroup atau Daycare yang bisa menerima ABK.

 

PLAN B – Sekolah di SLB

Tapi misalkan Arhur pada akhirnya tidak bisa bersekolah di sekolah umum inklusi, plan B kami menyekolahkan Arthur di sekolah yang memang khusus untuk anak yang memilki hambatan penglihatan. Karena pihak sekolah inklusi pun selalu melakukan observasi dan asessement kepada anak terlebih dahulu sebelum menyatakan anak dapat bersekolah disana. Dan aku juga sudah mengantongi beberapa sekolahan inklusi yang sesuai dengan kriteria kami.

Untuk sekolah khusus, SLB A negeri untuk anak tuna netra yang paling bagus ada di Lebak Bulus Jakarta. Dan kalau mau sekolahin disana, Arthur harus berangkat subuh – subuh. Karena cukup jauh dari rumah dan juga menembus kemacetan yang luar biasa. Aku bayangin aja bingung sendiri, hahaha… Sementara, di Jogja sekolah khusus untuk tuna netra yang bagus dan banyak di rekomendasikan adalah YAKETUNIS milik yayasan keluarga tuna netra indonesia, dan Alhamdulillahnya letak sekolah tersebut dekat dengan rumah. Nggak sampe 10 menit naik motor juga dah sampe, tanpa harus bermacet-macet ria dulu. Yaketunis selain sekolahan juga menyediakan asrama madrasah, les tambahan pelajaran, dan juga les membaca Al Quran tiap sore. Itu salah satu alasan juga kenapa aku ingin menyekolahkan Arthur di Jogja aja daripada di Jakarta. Karena aksesnya mudah dan juga lokasi sekolahannya dekat, fasilitas yang disediakan pun juga bagus.

 

Mama Arthur bikin tulisan ini setelah mengikuti seminar pendidikan di UNY dalam rangka hari pendidikan nasional, dengan tema “Education for Disabilities”.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s