Setahun pasca pencarian sebuah diagnosa

Tidak mudah untuk jujur dengan keadaan. Banyak di luar sana orang sibuk dengan berbagai macam pencitraan diri dan segala kepura-puraan.
Aku sendiri butuh waktu untuk mencoba mulai membuka diri.
Aku butuh waktu kurang dari setahun untuk menata hati dan mempersiapkan diri, untuk bercerita disini tentang arthur.

Ya pastilah akan ada aja omongan nggak enak diluar sana yang nggak perlu aku tau dan nggak perlu aku denger. Talk to my ass! Terserah aja mereka mau ngomong apalah inilah itulah endebra endebre… tapi semua faktanya, apa yang terjadi akan aku tulis di blog ini biar nggak jadi omongan yang cuma simpang siur. Biar kalau mau kepo in lebih gampang dan mereka jadi tau apa yang terjadi dan aku juga sangat berharap mereka menjadi lebih mengerti apa yang seharusnya dilakukan, supaya nggak asal ngomongin aja. Karena kekuatan netizen dalam berkomentar belakangan ini, nyablak banget. Omongannya bias Lebih pedes dari seblak level 10. Memangnya mereka ini bisa jadi aku? Kalo mereka dikasih cobaan kayak gini apa mereka bisa menjalaninya dengan ikhlas? Nggak semua orang bisa menjalani seperti ini. Banyak anak pejabat yang disembunyiin, cuma karena mereka malu. Naudzubilah!

Hal semacam ini nggak perlu disembunyikan. Tapi kami butuh waktu dan proses untuk Mempersiapkan diri, hati dan batin untuk menerima pertanyaan, empati, omongan orang, maupun cibiran orang.
Darimana aku dapet kekuatan itu? Paling utama adalah dari komunitas dan dukungan orang sekitar. Didalam sebuah komunitas yang berisi orang-orang dengan pengalaman yang sama, membuat kita tidak merasa sendiri. Kita saling memberikan motivasi, menguatkan dan mendukung demi buah hati. Mencari tahu dan mendatangi acara yang berhubungan dengan disabilitas, memberikan semangat kepada kami untuk selalu memberikan yang terbaik untuk Arthur.

Satu tahun sudah berlalu sejak perjalanan kami untuk mencari sebuah kepastian diagnosa.
Ketika kami sedang dalam kondisi seperti ini, akan terlihat mana teman, sahabat, saudara, dan kerabat yang sesungguhnya. Yang benar-benar tulus ikhlas menolong, yang hanya bersimpati, hanya mengkasihani, atau justru mencibir dan menjauhi. Tapi sejak aku mulai terbuka, Alhamdulillah kemudian Allah mencoba membukakan jalan kami. Untuk memudahkan segala urusan. Perkenalanku dengan beberapa orang kemudian memudahkan segala urusan kami. Terutama untuk pendidikan Arthur di masa depan. Kami selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Arthur. Penawaran pendampingan saat arthur masuk sekolah, dibantu dalam pencarian sekolah inklusi, serta informasi-informasi lainnya yang sangaaaaattt membantu.

Disabilitas itu sensitif. Maaf kalau postingan ini sedikit ber-suudzon. Karena orangtuanya pun terkadang bisa menjadi lebih sensitif. Anaknya sensitif untuk di bully, sensitif untuk di diskriminasikan. Tapi sebenarnya disabilitas itu adalah pola pikir. Kalian yang membully dan mendiskriminasikan lah yang seharusnya diberi label “penyandang disabilitas”.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s