Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day3 – Belajar Orientasi Mobilitas Di Dalam Rumah

Anak yang dapat melihat dengan baik menggunakan matanya untuk mengetahui dimana dia sedang berada dan juga dimana letak benda-benda berada. Namun untuk anak yang tidak dapat melihat dengan baik, juga perlu mengetahui hal tersebut tetapi dengan menggunakan indranya yang lain ataupun dengan memanfaatkan sisa penglihatannya (cahaya / benda warna terang).

Untuk anak seperti Arthur pelajaran orientasi mobilitas sangatlah penting sekali. Karena Setelah dia tahu dan hafal letak suatu benda dia kemudian dapat bergerak ke sekeliling rumahnya dan kemudian dapat menjadi aktif di lingkungan masyarakat. Salah satu goals kemandirian anak dengan gangguan penglihatan adalah orientasi mobilitas. Dan tentu saja hal ini paling sulit ketika berada di lingkungan baru. Tapi aku yakin kalau Arthur pasti bisa.

Seperti pada materi komunikasi produktif di poin E : Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

Dikutip dari buku Helping Children Who Are Blind (The Hesperian Foundation) , Orientasi mobilitas dapat diajarkan dengan cara :

1. Mengajarkannya tentang tubuhnya dan bagaimana tubuhnya bisa bergerak

2. Membantunya mengembangkan indra-indramya, yang memberikan informasi penting mengenai lingkungan sekitarnya

3. Berpikirnmengenai benda-benda di sekeliling rumahnya atau lingkungan tempat tinggalnya yang bisa dia gunakan sebagai penanda.

Belajar orientasi mobilitas ini, membutuhkan penyampaian informasi kepada anak. Sehingga ilmu komunikasi produktif, terutama poin Keep Information Short & Simple (KISS) dapat diterapkan dalam penyampaian informasi tersebut. Agar anak seusia Arthur mudah menangkap / menyerap informasi

Arthur beberapa hari ini sangaaattt aktif sekali, nggak bisa anteng. Maunya jalan melulu. Karena sepertinya dia lagi seneng bereksplorasi. Sekalian aja belajar untuk orientasi mobilitas di dalam rumah. Sebenarnya dia mulai hafal ruangan didalam rumah, dari kamar, ruang tv, ruang tamu dan teras. Untuk memantapkan, membiasakan , dan menyimpan di memorynya, masih perlu dilatih sesering mungkin.

Berikut Beberapa kejadian komunikasi produktif untuk belajar orientasi mobilitas di dalam ruangan. Mungkin masih perlu banyak yang dibenahi, baik dalam proses ber-komunikasi nya maupun cara ngajarin orientasi mobilitasnya.


Arthur lagi di ruang tv dan dia minta minum. 

👦🏻 Arthur : “aaahh… aahhh… “ (Dia selalu mengakhiri kegiatan minumnya dengan “aaaahhhh” , jadi dia kalau minta minum bilangnya “aaahh… aaahhh”)

👩🏻 mama : “Ayok kita ambil minumnya. Ayo arthur berdiri dulu, kita jalan ke deket kulkas” (Arthur hafal letak kulkas yang berada di ruang makan)

Lalu Arthur berdiri dan mulai jalan. Tapi aku awasin dan tanganku siap-siap kalau misal dia hampir nabrak tembok.

👩🏻 mama : “Ayo jalan lurus ke depan… Nah sekarang belok kanan, minum Arthur ada diatas meja makan deket kulkas” (sambil mengarahkan Arthur ke kanan masuk ke ruang makan)

Biasanya di ruang makan, Arthur main di kulkas, pukulin pintu kulkas Minta dibuka.

👩🏻 mama : “Mama ambilin minumnya ya, ini gelasnya Arthur sambil pegang sendiri. Pelan-pelan minumnya.. Biss mi lah hir roh man nir roh him”

👦🏻Arthur : “Sluuurrrrpp… Aaahhhh… “

👩🏻 mama : “hmm segaaarrrr… Alhamduu….lillahhhh….”



Arthur minta nenen ke kamar



👦🏻Arthur : “mmaaaa… nene… nenee…”

👩🏻 mama : “Kalau mau nenen di kamar ya… ayo kita jalan ke kamar Arthur.. berdiri dulu yuk… dimana kamarnya Arthur, ayo kita jalan kesana”

Arthur terus berdiri, mulai jalan.

👩🏻 mama : “Ayo jalan lurus, sekarang belok kanan lewat ruang makan dulu”

tapi Arthur malah belok mau ke arah kulkas, mau main di depan kulkas.

👩🏻 mama : “Loh arthur katanya mau nenen, kalau nenen ayo ke kamar. Dimana kamar arthur yaaa… belok ke kanan sini”

Sambil ngarahin Arthur ke kamarnya. Dia terus jalan lagi, jalannya agak mepet ke tembok. Kalau lewat situ kadang ngeraba tembok, tapi kadang nggak. Sepertinya dia mulai paham tembok yang di ruang makan itu artinya deket kamarnya.

👩🏻 mama : “Kamar Arthur didepan. Ayo kita Jalan lurus ke depan… Awas ada kasur kecilnya, pelan-pelan naik… (Kasur kecil ditaruh di pinggiran kasur tempat tidur Arthur untuk antisipasi kalau Arthur nggelundung. Dan bisa menjadi penanda Arthur, batas antara kamarnya dan ruang makan adalah ada kasur di dekat pintu kamar) Sekarang naik ke kasur Arthur , pelan-pelan 1..2..3… kakinya naik.. sekarang boboan di bantal, cari bantalnya sebelah mana hayooo… ini dia bantalnya (sambil benerin posisi tidur arthur ke bantal)”


Arthur lagi di kamar dan cariin tantenya



👦🏻Arthur : “tataa… tateee.. tateee”

👩🏻 mama : “Tante lagi nonton TV, ada di ruang TV. Ayo ke tempat tante”

Arthur terus merosot turun ke kasur. Dulu dia sering sesukanya kalau turun dari kasur, kadang ampe nggelundung. Tapi selalu aku bilang kalau turun dari kasur itu kaki nya duluan. Dan sekarang dia udah ngerti kalau turun dari kasur itu kakinya duluan, jadi dia ngesot kebelakang terus merosot turun kasur.

👩🏻 mama : “Pelan-pelan turun kasurnya… Ada kasur kecil lagi nih awas hati-hati yang turun. Happp…”

Dan Arthur berhasil turun dari kasurnya dan berjalan sampai ke ruang makan tanpa pegangan.

👩🏻 mama : “Panggil tante nya dimana, teee tanteee…”

👦🏻Arthur : “taaa… tattteee… teee”

👱🏻‍♀️tante : ” Arthuuurrrr mbuuullll”

👩🏻 mama : “Cari suara tante dimana”

Arthur denger suara tantenya, terus dia berjalan dari kamar – menuju ruang makan – belok kiri ke ruang tv – dan berjalan menuju tante. Wow dia sudah hafal tanpa aku kasih arahan kemana, dia langsung njeranthal aja. mungkin dia sambil mencari suara tantenya. Untuk anak seusia Arthur yang bisa melihat mungkin biasa aja. Tapi untuk anak seperti Arthur, hal semacam ini sudah menjadi goals dalam orientasi mobilitas ruangan. Arthur berjalan tanpa digandeng, tanpa diberikan informasi, dan tidak menabrak.
Tapi dia cuma mau main ngagetin tantenya aja “daaaaahhh” Abis itu jalan ke ruang tamu, karena pintu dibuka dan cahaya masuk. Sepertinya dia tertarik main di luar .

Waktu mau ke teras, aku gandeng arthur karena turun tangga

“Awas pelan-pelan ini turun 1..2..3.. happp”

Arthur akhirnya main-main di teras. Jalan kesana kemari tapi sambil aku gandeng. Karena di teras rumah banyak tangganya naik turun, takut Arthur nggelundung.

Tapi di tembok dekat tangga ada nempel batu alam, dan arthur sering main pukul-pukulin pintu di samping tembok itu. Aku kadang takut dia kebablasan geser ke kanan karena ada turunan tangga. Tapi kemudian aku rabakan tangannya ke tembok yang ada batu alamnya, kalau ada batu itu tandanya ada tangga.

👩🏻 mama : “Arthur pegang nih, ada batunya yang kayak gini… Kalau Arthur udah megang ini, stop & pelan-pelan ya jalannya. Soalnya sebelah kanan Arthur ada tangga turun & licin ada air dari AC”

Walaupun Arthur mau turun, tapi tetep aku pegangin dia juga sih sebenernya. Se enggaknya dia tau tanda batu itu dan harus lebih hati-hati karena ada turunan tangga.

 

#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s