Arthur Meet The Pediatric Opthalmologist @ Jakarta Eye Centre

Arthur Meet The Pediatric Opthalmologist @ Jakarta Eye Centre

Sekitar setahun sudah Arthur terdiagnosa ROP stage 5. Ingat dulu pontang panting kesana kemari mencari diagnosa. Karena sempat salah diagnosa oleh dokter mata di Jogja. Kalau inget itu aku jadi kesel sendiri! Kalau Arthur beneran retinoblastoma, mungkin sekarang dia udah di surga. Udah gitu seenaknya aja langsung disuruh tindakan untuk ambil bola matanya buat diganti bola mata palsu. Kok kayak cari duit banget ya, langsung main tindakan. Bukannya dirujuk untuk retcam dulu atau gimana. Padahal di RS mata yang di jogja itu juga ada retcam nya. ( ceritanya gimana baca disini aja deh : Retinoblastoma?!! )  Hissshhhh… Sudahlah… Daripada kesel & ngomel sendiri nggak ada gunanya karena inget yang lalu-lalu. Let’s move on!

Dulu Arthur akhirnya fix terdiagnosa ROP stage 5 di KMN (Klinik Mata Nusantara) Lebak Bulus, Jakarta Oleh dr. Rini Hersetyati Sp.M yang memang pediatric opthalmologist (dokter mata subspesialis anak). Dan dia banyak belajar tentang ROP. Jadi setelah melakukan retcam, dia langsung bilang arthur ROP stage 5 di kedua matanya. Meskipun sebelumnya di RS mata dr YAP jogja sempat terdiagnosa retinoblastoma dan di RS mata AINI jakarta diduga phpv (persistent hyperplastic primary vitreous).

Waktu mendengar penjelasan dr. rini aku down banget. Karena kedua mata Arthur memang sudah tidak bisa melihat dan tidak bisa diapa-apakan lagi.

 Diagnosa Final – ROP end of stage

dr. Rini bilang kalau Arthur tidak perlu kontrol-kontrol lagi. Tinggal di didik saja untuk masa depannya agar bisa mandiri dan survive dengan kondisi keterbatasannya tersebut. Tapi, setelah aku masuk komunitas orangtua dengan anak ber-hambatan penglihatan, disana ibu prima (pendamping komunitas tersebut) menjelaskan bahwa kontrol mata tetap harus dilakukan setahun sekali. Kontrol mata untuk anak ROP stage 5 bukan bertujuan untuk menyembuhkan karena memang dokter sudah nggak bisa apa-apa. Tapi tujuannya adalah untuk memeriksa kondisi kesehatan mata. Apakah ada iritasi dan infeksi atau tidak. Kondisi syaraf nya, Atau sudah sejauh mana kerusakan retina. Anak prematur yang bebas dari ROP maupun yang sudah mendapatkan tindakan sebelumnya, sebaiknya juga kontrol mata setahun sekali. Karena rentan mengalami minus tinggi yang berakibat lazy eyes atau starbismus (juling).

Masalah mata pada bayi yang terlahir prematur

Mumpung Arthur mau lebaran di Bekasi, sekalian aja kontrol mata tahunan. Karena sudah setahun yang lalu Arthur ke dokter mata, saat dia fix terdiagnosa ROP stage 5. Pilihannya 2, ke KMN lagi dengan dr. rini atau ke JEC dengan dr. florence. Dua-duanya adalah Pediatric Opthalmologist dan concern dengan ROP.

Aku dan lingga akhirnya memutuskan untuk kontrol mata Arthur ke Jakarta Eye Centre (JEC) dengan dr. Florence Manurung SpM. Karena :

  • Lebih deket ke Menteng daripada Lebak Bulus.
  • Kalau mau balik ke KMN Lebak Bulus macet banget karena daerah situ lagi ada proyek pembangunan MRT.
  • Banyak yang merekomendasikan dr florence di JEC, dan review dari mereka bagus. Katanya, dr flo enak diajak diskusi dan konsultasi.
  • Bulan ini lagi ada promo diskon 50% biaya admin di JEC kalau daftar online (maklum emak-emak).

2 minggu sebelumnya, aku daftarin Arthur secara online ke JEC menteng dengan dr. Florence. Sabtu, 18 juni 2017 kami pun ke JEC. Beberapa hari sebelumnya, Arthur udah di bilangin dulu kalau mau ketemu ibu dokter untuk diperiksa matanya. Pokoknya sounding – sounding terus sebelum hari H.

Sampai di JEC, Alhamdulillah Arthur nggak ngambek atau rewel. Dia ceria. Main – main dan jalan kesana kemari.

Begitu masuk ruangan, dr Flo bertanya masalahnya apa. Dan waktu aku bilang ROP, terlihat wajahnya seperti kecewa. Beliau langsung bertanya “Apakah ibu berasal dari daerah luar jakarta?”

Aku pun cerita kronologis Arthur waktu awal terdiagnosa ROP dulu, dan sudah periksa ke RS mana aja. Beliau agak menyayangkan karena Jogja termasuk kota besar.   Kemudian dia tanya history Arthur. Kelahiran Arthur, berat badan lahir, pemakaian oksigen selama di NICU, keadaan jantung dan paru-parunya, screening yang sudah dilakukan, apakah ada transfusi atau komplikasi. Pokoknya history medis yang paling penting bagi bayi prematur. Karena ini pertemuan pertama kali dengan dr Flo, beliau banyak bertanya mengenai riwayat medis arthur saat di NICU dan saat terdiagnosa ROP.

Waktu aku bilang, dulu di jogja salah diagnosa dibilang retinoblastoma, dr Flo langsung bilang “Ibu, kalau anak ini retinoblastoma dan itu diagnosa setahun yang lalu. Anak ini nggak mungkin kondisinya seperti ini. Dia pasti sudah di surga. Karena retinoblastoma itu kanker yang dapat mengancam nyawa. Kalau ROP tidak akan mengancam nyawa meskipun dia tidak bisa melihat lagi”

Beliau meminta hasil pemeriksaan Arthur dulu. Aku serahin hasil USG mata dari beberapa rumah sakit dan juga hasil retcam nya dulu. Aku juga bawa hasil CT scan yang segede gaban itu, tapi dr Flo nggak minta hasil CT scan nya. Kemudian beliau memeriksa mata Arthur menggunakan alat yang seperti teropong. Arthur diperiksa sambil main-main ama papanya jadi dia diem aja nggak berontak. Padahal aku udah takut banget kalau dia berontak pas kontrol.  Lalu Arthur juga di cek sisa penglihatannya. Dr Flo coba senterin mainan dan gerakin di deoan Arthur, dia bus mengikuti mainannya ke kanan kiri. Tapi waktu dr Flo coba gerakin jari atau tangannya ke kanan kiri, Arthur diem aja nggak mengikuti. Meskipun ikhlas, Sebenernya aku juga masih menaruh harapan akan hal ini. Tapi ternyata sama saja. Dr Flo bilang Arthur hanya respon pada cahaya. Yang jelas, dia nggak bisa lihat huruf sehingga untuk huruf harus dengan Braille. Kata dr Flo, kemungkinan Arthur ada di lowvision level terburuk yaitu bisa melihat cahaya saja. Dan aku juga tanya untuk penglihatan lain bagaimana, dr Flo bilang tunggu Arthur bisa berkomunikasi dulu. Aku sebenernya bingung, karena di komunitas dibilang anak seusia Arthur sudah bisa tes visus (tes jarak pandang / sisa penglihatan) tanpa harus menunggu anak bisa diajak komunikasi. Tetapi dr Flo bilang belum bisa. Padahal aku sebenernya juga butuh assesment dari dokter mata tentang penglihatan Arthur untuk persiapan Arthur masuk sekolah playgroup, tapi aku malah lupa karena banyak yang pengen aku tanyakan ke dr Flo.

Pertemuan dengan dr Florence sekitar 15 menitan. Aku suka dengan penjelasan beliau. Tanpa aku tanya banyak, beliau menjelaskan ini itu secara lengkap sambil browsing dengan google di komputernya untuk memperlihatkan kondisi mata. Beliau memperlihatkan gambar mata ROP, retinoblastoma, kornea keruh, dll. Aku juga dijelaskan kemungkinan Arthur salah diagnosa retinoblastoma dulu, karena hasil USG menunjukan ada sesuatu di dalam matanya. Dokter mata disana mengira itu sesuatu yang padat (seperti tumor) padahal sebenarnya itu adalah retina yang sudah retinal detachment, atau sudah terlepas dari tempatnya (Ablasio Retina).

Aku tanya tentang selaput putih yang ada di mata Arthur.  Apakah itu berbahaya?

Kata dokter itu tidak berbahaya. Itu adalah retina yang sudah terlepas dan menempel ke kornea, dan kornea sudah tidak berfungsi sehingga terlihat selaput putih-putih seperti itu. Nanti kalau Arthur sudah besar, bisa memakai soft lens hitam. Bukan untuk penglihatannya, tetapi hanya untuk kosmetikanya. Supaya orang tidak “takut” atau menganggap dia “aneh” dengan kondisi mata nya yang putih-putih. Dr Flo juga menjelaskan, bahwa beliau punya pasien anak yang matanya putih keruh seperti itu, bahkan sejak lahir di kedua matanya putih-putih. Dia tidak ROP, tetapi korneanya keruh (maaf saya lupa istilah medisnya)

Saat beliau sedang mencari di hp nya untuk memperlihatkan foto anak itu, aku langsung bilang “namanya syahnaz ya bu?”

dr florence kaget kok aku bisa kenal Syahnaz. Syahnaz itu teman Arthur di komunitas baby community (komunitas orang tua dengan anak hambatan penglihatan, hambatan penglihatan diagnosa apa saja tidak hanya ROP). Sebelum ke JEC aku whatsapp mamanya syahnaz dulu tanya tentang dr Florence sebelum akhirnya memutuskan periksa dengan dr Flo. Karena syahnaz abis operasi pencangkokan kornea dengan dr Flo, dan perjalanan syahnaz masih sangat panjang. Semoga syahnaz sehat selalu, dan selalu diberikan kelancaran rizki untuk kedua orang tuanya 😊 (Semangat terus untuk ortu syahnaz!).

Dr Flo menjelaskan, perbedaan Arthur dan Syahnaz. Kalau Arthur yang rusak itu dalem matanya, jadi kalau lampu yang sudah rusak bohlamnya mau diapakan lagi? Arthur sudah tidak bisa diapa-apakan lagi matanya. Kalau syahnaz, yang rusak itu luar matanya. Jadi masih bisa dibenerin. Dalem matanya syahnaz masih bagus, jadi luarnya saja yang kudu di benerin dengan pencangkokan kornea. Sampai saat ini, belum ada teknologi pencangkokan retina apalagi untuk kasus ROP. Retina itu selaput tipis seperti tissu. Kalau sudah rusak, robek, terlepas dan menempel ke kornea sudah susah dibenerin. Mau sampai ke Amerika, Eropa atau ujung dunia pun dokter mata disana juga pasti akan bilang “Buat apa buang-buang waktu, lebih baik gunakan waktumu untuk mendidik anakmu. Tumbuh kembang anak tidak akan bisa diulang kembali”

Intinya, ROP nggak main-main. Kalau udah terlambat nggak bisa disembuhin. Jadi jangan sepelekan screening ROP pada bayi prematur.

Arthur kembali kontrol mata tahun depan, tapi kalau mata Arthur ada infeksi atau iritasi harus segera dibawa ke dokter mata.

Terimakasih dr Florence Manurung SpM. πŸ™πŸ»

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s