How To Train Your “Dragon”

“The most helpful thing a person can do for a blind child is to treat them like a human being with normal social and emotional needs and to help others learn to do the same”

(wonderbaby.org)

 

Mengajarkan kemandirian pada anak dengan hambatan penglihatan, rasanya seperti menjinakkan naga. Jadi postingan ini judulnya how to train your dragon. Hahaha…

Susah? iya..

Sabar? Hadeh… Stok sabar harus ekstra ekstra ekstra buanyaaakk….

Dan yang masih menjadi kekuranganku adalah “konsisten”. Aku belum konsisten melatih Arthur mencapai kemandiriannya. Padahal Kalau terus-terusan terjadi pemakluman. “Maklum penglihatannya nggak seperti anak lain”. Kapan berhasilnya?. Goals nya Arthur adalah kemandirian, anak yang mandiri adalah anak yang memiliki keinginan dan menjalankan keinginanya sendiri tanpa perlu banyak bantuan orang tua mapun orang lain.

PR nya arthur itu banyak. Maksud PR disini, apa yang harus dilakukan Arthur agar tidak terjadi ketertinggalan motoriknya dan melatih kemandiriannya. Maklum, anak prematur rentan mengalami delay tumbuh kembang nya. Apalagi dengan keterbatasan yang dia miliki. Tapi Alhamdulillah dia sudah bisa berjalan saat usia sekitar 13 bulan. Tinggal ngajarin motorik halusnya dengan menggunakan sisa penglihatannya yang entah seberapa dan juga mengoptimalkan indra yang lainnya.

Kita bisa mengerjakan PR arthur belajar dengan bermain. Karena pada dasarnya anak memang senang bermain. Tapi sebelum belajar, kita harus tau tipe anak nya dulu. Supaya tidak memaksakan anak.

Ada 4 tipe gaya belajar anak:
1⃣ visual: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat mata/melihat
2⃣ auditori: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat telinga/mendengar
3⃣ kinestetik: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat gerakan badan
4⃣ taktil : informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat rabaan tangan

Arthur sepertinya termasuk type anak kinestetik, cara belajar dan informasi cepat dia terima kalau lewat gerakan badan. Selain itu, Arthur type anak yang nggak bisa duduk anteng sambil mainan. Kalo main sambil duduk, nggak sampe semenit dia terus kabur lagi. Kalau anak lain dengan type ini mungkin juga belajar dengan meniru gerakan orang lain. Kalau Arthur, biasanya aku gerakin tangan atau badannya dulu, kalau dia anteng dan diem berarti dia sedang mencerna informasi yang aku berikan. Tapi kalau udah usil nggak betah atau nolak berarti dia lagi nggak mau dan aku nggak boleh memaksa.

Di usianya yang belum genap 2 tahun ini, yang harus Arthur capai adalah bisa makan sendiri dengan alat makan dan lulus toilet training. Itu hal mendasar kemandirian anak-anak di usia tersebut. Sama seperti anak-anak normal lain yang usianya sama. Namun cara atau threatment nya yang berbeda.

Anggap saja sebagai sebuah challenge.

Mungkin ada yang mbatin, kasihan anaknya buta tapi disuruh dan dipaksakan bisa ini itu. Saya tidak memaksakan. Tapi ini demi masa depan anak saya. Agar tidak selalu bergantung pada orang lain. Karena kami orang tuanya pun juga tidak selamanya bisa mendampinginya. Keberhasilan seorang tuna netra pada dasarnya adalah kemandirian.

Mengajarkan kemandirian pada anak pun juga perlu komunikasi produktif. Misalnya saat anak gagal atau ngompol hindari memarahi anak. Karena anak belum punya kontrol penuh untuk mengontrol pipis dan pup. Misalnya dengan bilang “wahh… arthur pipis disini (diruangan), yuk mama ajak ke toilet. Nanti pipis nya di toilet aja ya”.

 

Tips membuat jadwal teratur untuk toilet training (Walaupun belum sepenuhnya konsisten aku lakukan hehehe)

1. Pagi bangun tidur, ajak anak ke toilet. Tanyakan ke anak apa ingin pipis atau pup. Kalau belum, bilang ke anak “kalau mau pipis atau pup, kesini ya”

2. Beri kata kunci yang menarik dan mudah diingat anak. Misal sinyal untuk pipis diberi kata kunci “pis”. Ajarkan anak aturan mainnya.

3. Beri pujian setiap anak mengucapkan kata kunci dan berhasil sampai ke toilet.

4. Relakan sementara waktu rumah kotor kena pipis dan pup selama proses toilet training

5. Hindari memasang muka seram atau teriak histeris setiap anak pipis di sembarang tempat. Ini untuk menghindari anak trauma.

“Kemandirian terbangun melalui bantuan, kesempatan dan dukungan yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan sekitar.”

 

Dan Alhamdulillah, di kelas bunda sayang Institus Ibu Profesional ini diberikan materi dan game tantangan tentang membangun kemandirian anak. Sehingga aku pun juga menjadi bersemangat dalam melatih kemandirian Arthur walaupun belum maksimal. Se tidanya aku tahu cara melatih kemandirian anak dengan tepat dan benar. Learning by doing.

 

#GameLevel2

#BundaSayang

#IIP

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

#MelatihKemandirianAnak

Berikut terlampir materi dari kelas bunda sayang – IIP tentang melatih kemandirian anak :

 

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
10  Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s