Skrining Yang Wajib Dilakukan Pada Bayi Prematur

Skrining Yang Wajib Dilakukan Pada Bayi Prematur

Bayi prematur dilahirkan lebih cepat dari perkiraan kelahiran. Bisa dibilang prematur kalau lahir nya maju lebih dari 3 minggu dari perkiraan atau usia kehamilan <37  weeks.

Bayi prematur wajib dilakukan berbagai macam skrining untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang kemungkinan dialaminya. Karena dia born to soon, perkembangan organ terjadi di luar kandungan sehingga sangat riskan terjadi berbagai macam gangguan kesehatan. Bayi prematur juga bisa lahir dengan beberapa kondisi yang salah satunya menyebabkan disabilitas. . Jangan terus bilang “anak ku prematur tapi nggak apa-apa kok ngapain kudu skrining”. Bu ibuk, beberapa kejadian tidak bisa dilihat dengan kasat mata loh. Butuh pemeriksaan secara medis dengan alat tertentu. Misalnya saja pada kasus ROP ataupun loss hearing.

Kalau arthur, bisa dibilang skrining nya telat. Ya karena kurang pemahaman saya tentang informasi pentingnya skrining ini. Pihak medis yang merawat arthur saat di NICU juga kurang mengedukasi hal ini. Sangat disayangkan juga, saya mendengar cerita para ibu-ibu preemie yang lain, mereka juga nggak paham mengenai skrining apa saja yang harus dilakukan. Padahal ini sangat penting dan berdampak pada masa depan anak. Hal semacam ini pun kemudian menjadi tugas komunitas atau support group untuk mengedukasi secara benar.

Screening prematuritas yang wajib dilakukan antara lain adalah:

1. Skrining ROP (Penglihatan)

Skrining mata untuk pemeriksaan ROP hukumnya wajib bagi bayi prematur!!!

Skrining ROP fungsinya untuk memeriksa indra penglihatan bayi karena bayi prematur perkembangan retina nya belum sempurna.

Skrining ROP, gold standard nya menggunakan alat yang bernama opthalmoskop indirect. Dilakukan oleh dokter spesialis mata (biasanya oleh subspesialis mata anak atau subspesialis retina). Jika dibutuhkan pemeriksaan yang lebih detail dapat dilakukan retcam (foto retina).

Arthur menjalani skrining mata pertamanya saat usia 5 minggu dan hasil nya baik, nggak ada gejala ROP. Dokter nya bilang terserah aja mau balik untuk skrining lagi atau nggak.  Bodohnya aku waktu itu, pikirku arthur nggak apa – apa kok. Yaudah nggak skrining mata lagi.

Setelah itu dia berkali-kali di skrining saat usia 4bulan karena mencari diagnosa yang tepat. Pakai Opthalmoskop Indirect, USG mata, dan akhirnya setelah dilakukan pemeriksaan dengan retcam (foto retina) Arthur pun fix terdiagnosa ROP stage 5.

Baca :

Diagnosa Final – ROP end of stage

Retinopathy Of Prematurity (ROP)

2. Screening THT (Pendengaran)

Kalau skrining THT pertama kali waktu arthur usia 2minggu. Ada perawat yang dateng ke inkubator nya Arthur untuk periksa telinga arthur. Skrining ini bertujuan untuk memeriksa fungsi indra pendengaran bayi. Screening dilakukan dengan OAE. Jika hasilnya butuh tindak lanjut biasanya, dilakukan tes BERA yang hasilnya bisa lebih akurat.

Pas arthur pulang dari NICU aku dikasih laporan hasil skrining THT nya waktu  itu, hasilnya baik tidak ada masalah dan disitu di tulis skrining lagi akhir maret (saat usia Arthur UK 40 weeks atau sesuai HPL nya) . Aku juga nurutin dateng lagi buat skrining THT yang kedua walaupun telat beberapa hari datengnya. Hasilnya Baik. tidak ada masalah pada indra pendengarannya.

Saat ini banyak Rumah sakit yang sudah memiliki standard wajib, melakukan skrining OAE pada bayi yang baru lahir. Baik bayi premature maupun bayi yang lahir cukup bulan.

3. Skrining Kepala / Otak

Skrining kepala bertujuan untuk memeriksa otak bayi. biasanya dilakukan dengan USG kepala, dan juga bisa dilakukan dengan MRI jika ingin pemeriksaan lebih lanjut atau ada indikasi medis tertentu.

Kalau Arthur di skrining dengan CT scan saat usianya 4 bulan, waktu itu arthur nggak dicurigai ada retinoblastoma mungkin aku nggak ngelakuin pemeriksaan CT scan ini, karena aku juga belum paham dan belum memiliki banyak informasi mengenai skrining kepala. CT scan saat itu bertujuan untuk melihat otak serta syaraf nya arthur.

Baca :

Drama CT scan Arthur

4. Skrining Jantung

Arthur menjalani skrining jantung (ECHO) bisa dibilang telat banget. Pas dia udah 9 bulan. Itu juga karena dsa nya waktu itu lebih aware, sehingga langsung menyarankan dan memberi rujukan untuk ECHO. Karena dicurigai ada PFO, dan juga Arthur belum pernah ada riwayat dilakukan ECHO.  Alhamdulillah hasil ECHO nya juga bagus, dan ternyata tidak ada tanda PFO.

Baca :

arthur skrining jantung (echo)

5. Skrining paru-paru dan pencernaan

Saat pertama kali masuk NICU, arthur di rontgen dulu. Untuk mengecek bagaimana kondisi paru – paru dan pencernaannya. Karena Arthur juga sempat mengalami APNEA setelah lahir, dikawatirkan paru – parunya belum berkembang sempurna.

Waktu itu aku baru tahu kalau Arthur sempat di rontgen, saat Arthur akan pulang ke rumah. Perawat memberikan hasil babygram kepadaku , yang ternyata hasil foto rontgen Arthur sebelum masuk di ruang NICU.

6. Skrining Hipotiroid

Sebetulnya skrining Hipotiroid wajib dilakukan ke seluruh bayi yang baru lahir baik premature maupun cukup bulan. Namun masih banyak rumah sakit di Indonesia yang belum melakukan skrining hipotiroid pada bayi baru lahir. Skrining HK paling baik dilakukan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang. Sedikit darah bayi diteteskan di atas kertas saring khusus, dikeringkan kemudian bercak darah dikirim ke laboratorium

Hipotiroid jika kadar hormon tiroid pada bayi dibawah normal.  Skrining hipotiroid kongenital dilakukan untuk mendeteksi adanya hipotiroid kongenital (bawaan lahir). Karena diawal kehidupan, gejala klinis hipotiroid kongenital tidak tampak dan seharusnya menjadi skrining wajib.

Salah satu dampak hipotiroid kongenital jika tidak mendapat penanganan adalah pembesaran pada leher yang sering disebut gondok. Hipotiroid kongenital juga bisa mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan anak. Seperti

  1. Tubuh pendek (cebol)
  2. Muka hipotiroid yang khas ( muka sembab, bibir tebal, hidung pesek)
  3. Mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah)/ idiot
  4. Kesulitan bicara dan tidak bisa diajar bicara

Aku tau mengenai skrining Hipotiroid ini sebenarnya juga belum lama, saat chat whatsapp dengan dr Rinawati yang waktu itu aku temui saat live di metro tv. Karena aku juga belum mengetahui banyak mengenai Hipotiroid Kongenital ini, silahkan kunjungi website IDAI. Disana ada beberapa artikel yang membahas mengenai Hipotiroid Kongenital.

**********************************************************************

Berikut kutipan artikel dari seminar acara world prematurity day 2016 yang diselenggarakan oleh komunitas premature indonesia

Skrining bermanfaat untuk mengetahui secara dini masalah-masalah pada tubuh seseorang. Termasuk pada bayi prematur, skrining penting dilakukan. Mengingat pada bayi prematur, karena lahir sebelum waktunya organ tubuh mereka bisa dikatakan belum berkembang sebagaimana mestinya.

Diungkapkan dr Agung Zentyo Wibowo dari Prematur Indonesia, masalah pada bayi prematur menjadi masalah yang serius. Di Indonesia, 1 dari 7 kelahiran adalah bayi prematur sehingga penanganan bayi prematur seperti skirining dinilai sangat penting.

“Bayi prematur bisa lahir dengan beberapa kondisi yang salah satunya menyebabkan disabilitas. Oleh karena itu skrining sangat wajib dilakukan untuk mendeteksi dini masalah-masalah tersebut,” tutur dr Agung.

Hal tersebut ia sampaikan usai acara World Premature Day: Optimalisasi Tumbuh Kembang Bayi Prematur di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (3/12/2016). Lalu apa saja skrining-skrining yang harus dilakukan pada bayi prematur?

Skrining pertama ialah rontgen untuk memeriksa sistem pernapasan dan saluran pencernaan. Sebab, bayi yang lahir di bawah usia 34 minggu memiliki paru-paru yang tidak berkembang dengan baik sehingga berisiko mengalami masalah pernapasan.

Baca juga: Peneliti: Lahir Prematur, Perkembangan Bayi Lebih Berisiko Terhambat

“Pemeriksaan ini biasanya dilakukan 6 jam setelah lahir. Jika hasilnya bayi normal tanpa masalah berarti bisa dikatan aman,” sambung dr Agung.

Selanjutnya adalah pemeriksaan mata yakni retinopathy of prematury (ROP). Pemeriksaan ini dilakukan secara berkesinambungan dan berdasarkan dua hal. Jika bayi lahir di bawah usia kandungan 30 minggu, pemeriksaan ROP dilakukan setelah bayi berusia 4 minggu. Sedangkan, jika bayi lahir di atas usia 30 minggu, maka pemeriksaan dilakukan di usia 2 minggu.

“Pemeriksaan ini paling penting ya karena semua bayi prematur apalagi di bawah 28 minggu pasti mengalami ROP. Karena ROP bisa membuat retina berkembang abnormal sehingga berisiko kebutaan,” kata dr Agung.

Skrining ketiga adalah pemeriksaan pendengaran OAE (Otto Acoustic Emission). Pemeriksaan ini dinilai dr Agung sangat sederhana yaitu hanya dengan menempelkan alat pada telinga bayi kemudian alat bisa mengevaluasi hasilnya.

Yang terakhir adalah USG (ultrasound) kepala karena kepala pada bayi prematur rentan mengalami perdarahan. dr Agung menyebutkan pemeriksaan ini harus dilakukan pada minggu-minggu pertama.

“Jadi skrining 4 ini wajib harus dilakukan. Kalau masih kurang yakin ya bisa ditambah 1 lagi yaitu magnetic resonance imaging (MRI),” imbuh dr Agung.

Oleh karena itu, dr Agung mengingatkan kepada seluruh orang tua yang memiliki bayi prematur untuk segera melakukan skrining-skrining tersebut. Karena masalah yang diketahui dini bisa ditangani dini dan hasilnya, perkembangan anak pun jadi lebih baik.

“Pokoknya anak prematur di bawah 37 minggu harus skrining. Karena bayi yang nggak cukup bulan tetap memiliki risiko mengalami gangguan kesehatan. Meski memang, risiko paling tinggi pada bayi di bawah 32 minggu dan berat di bawah 700 gram,” pungkas dr Agung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s