Arthur ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Arthur ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Arthur skrining ADB

Sekitar 6 bulan yang lalu, arthur sempat demam beberapa hari dan aku bawa ke dokter anak, waktu itu Arthur bertemu dengan dr rina triasih di RS Hermina Jogja. Dokter Rina melakukan anamnesis dan memeriksa fisik Arthur. Karena saat itu arthur juga sedikit diare. Dokter rina detail banget meriksanya, nggak keburu-buru juga padahal diluar masih banyak yang antri.

Seperti biasa, Arthur diperiksa dengan stetoskop dan termometer. Saat itu badannya anget tapi masih aktif. Waktu periksa mulutnya, ternyata gigi Arthur lagi pada mau keluar. Geraham atas dan bawah. Kemungkinan penyebab demam adalah gigi tumbuh. Karena langsung 4 geraham yang keluar. Padahal taring bawahnya aja baru keluar separo belum nongol full.

Dokter juga memeriksa penis Arthur, karena takutnya ada ISK. Demam adalah salah satu ciri ISK. Tapi Kata dokter, sepertinya tidak ada tanda ISK. Karena Arthur kalo pipis juga nggak keliat kesakitan. Sehingga tidak perlu cek urin. Hanya ada gejala fimosis, tapi nggak parah amat. Hanya penis nya harus sering di bersihkan. Supaya tidak ada kotoran yang menyumbat.

Lalu Arthur juga disarankan cek darah, karena demamnya udah sekitar 3 harian. Untuk memeriksa haemoglobin, trombosit, leukosit, dsb. Agak drama juga pas cek darah, diambil darah dari jarinya beberapa cc. Nangis kejer. Hasil cek darah langsung keluar sekitar 15-30menit kemudian dan langsung aku konsultasikan dengan dr rina. Ternyata Hb Arthur rendah. Hanya 8 g/dl, normalnya 10,8 – 12,8 g/dl. Dokter bilang, Arthur kemungkinan kurang asupan zat besi juga, disebut ADB (Anemia Defisiensi Besi). Karena Arthur memiliki riwayat prematur, BBLR, dan juga ASI eksklusif bahkan masih ASI sampai sekarang.

Kandungan zat besi didalam ASI tidak mampu memenuhi kebutuhan zat besi yang diperlukan oleh tubuh, namun zat besi yang di peroleh dari ASI dicerna dengan mudah oleh sistem pencernaan bayi.Selingan susu seperti UHT ataupun susu murni, biasanya kandungan zat besinya juga sedikit. Sehingga sebaiknya, diberikan suplemen zat besi tambahan.

Arthur pun diresepkan Fe (suplemen zat besi). Awalnya Arthur minum ferlin drop, 1 botol sampe habis dalam beberapa minggu. Lalu aku pun beli lagi di apotek, tapi Arthur sering muntah tiap dikasih ferlin yang baru. Akhirnya aku coba konsultasikan ke dokter lagi saat imunisasi, suplemennya pun diganti merk feriz. Dan sampai sekarang Arthur masih rutin minum feriz.

****************************************************************************

BB Arthur Stuck

Lalu sekitar 6 bulan kemudian, Aku sedikit galau. Setelah berdiskusi sebentar dengan dr rinawati di metro tv, beliau sambil kasih liat chart ke aku tentang pertumbuhan arthur. Katanya arthur kayak anak 12-13 bulan. Badannya tidak sesuai dengan usianya dan ada di garis merah 💔  Beliaupun menyarankan untuk konsultasi ke dsa sub gizi.

Mama Arthur dalam acara Selamat Pagi Indonesia @MetroTV , selasa 12 september 2017

Lalu aku pun berencana ke dr Rina Triasih di hermina jogja. Beliau sebenernya dsa sub spesialis respirologi (paru anak). Tapi aku pengen coba dulu Bagaimana saran beliau karena aku merasa klik konsultasi dengan beliau. Komunikatif, detail dan nggak kemrungsung. Aku pun menceritakan kegalauanku setelah pertemuanku dengan dr rinawati, karena Arthur BB nya kurang. Lalu setelah di cek ulang, di buku KMS nya Arthur ternyata pertumbuhannya ada di garis ijo muda. Bisa dibilang masih dalam batas aman, tapi kan tidak boleh santai dan kalo bisa dikejar.

Dokter Rina juga sempat menghitung sesuatu, entah apa aku nggak tau. Hehehe. Tapi dia menjelaskan bahwa berat badan dan tinggi badan Arthur Proporsional, di angka 85%. Jika berada di bawah 80% dapat dikatakan kurang gizi. Namun jika dilihat perbandingan berat badan dan tinggi badannya dengan usia koreksinya, memang harus dikejar. Karena arthur usia 2 tahun udah nggak pakai usia koreksi lagi buat tumbuh kembangnya. Anak prematur masuk usia 2 tahun, tumbangnya diusahakan sudah bisa sesuai dengan anak-anak seusianya.

Memanglah masalah berat  badan anak yang seret naiknya, dan bahkan stuck membuat galau para Ibu. Nggak terlalu di khawatirkan juga sih sebenernya, tapi ya nggak boleh terus jadi nyantai juga.

Waktu periksa, Arthur pas lagi agak batuk pilek,  ternyata hanya common cold. Batuk nya juga gak kelihatan, paru-paru bersih. Pileknya juga nggak parah sampai bikin mampet.  PAs diperiksa, Arthur sensi banget, kayaknya dia udah tau ketika masuk di ruang periksa akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Karena waktu mau di stetoskop pun dia nggak mau, padahal stetoskop nempel di bajunya bukan di kulitnya. Dia langsung menepis stetoskop itu. Sampai dr rina pelan-pelan banget periksanya, dia masih aja kerasa. Akhirnya yaudah, sambil nangis deh diperiksanya. Padahal udah dibilangin sebelumnya, kalau arthur mau pergi ke hermina ketemu dengan dr rina untuk diperiksa.

Aku sempet bikin beberapa list pertanyaan untuk dokter rina. Yang aku tulis di buku pasien hermina. Beliaupun jawab pertanyaan itu satu persatu. Katanya “Wah aku dikasih soal ujian, sebentar aku tak tes dulu” Hehehehe…

List pertanyaanku itu antara lain masalah BB arthur yang stuck, perlukah review ADB dan tes urin untuk cek ISK, perlukah asupan susu atau makanan cair tambahan selain ASI, dan perlukah ke dsa subspesialis gizi.

 Penyebab berat badan anak stuck, biasanya :

asupan makanan

padahal arthur maem doyan. kalopun gtm juga nggak parah amat karena lagi nggak tumbuh gigi juga. Makan udah pakai protein nabati hewani, dll juga.

ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Arthur emang positif ADB tapi sudah di terapi pake suplemen sekitar 5-6bulanan, dan setelah di review ternyata udah bagus.

ISK (Infeksi Saluran Kencing)< /strong>

Nggak ada tanda ISK, arthur nggak lagi demam juga. Jadi menurut dokter nggak perlu cek urin segala.

TB (Tuberkulosis)

Nggak ada tanda TB. Coba skoring sendiri hasilnya memang nggak ada tanda TB jadi tidak perlu mantoux segala.

Review ADB

Karena cek ADB terakhir sudah 6 bulan yang lalu, doter rina menyarankan untuk dilakukan review. Bagaimanakah hasilnya setelah diberikan suplemen zat besi secara rutin. Di review nya dengan tes darah di laboratorium seperti awal dulu. Dan dramaaakkk bangeetttt…. Di stetoskop aja nggak mau dan ngambek. Ini mau diambil darahnya segala. Sampe dipegangin 4 orang waktu ambil darah. Nangis kejer teriak sampai jackpot. Kasihan sebenenya, aku malah jadi inget perjalanan diagnosa Arthur dulu, bolak balik diperiksa ini itu segala macem. Tapi mau gimana lagi kan, balada antara tega nggak tega. Semua demi kesehatan Arthur kok.

Selesai ambil darah untuk sample, jari Arthur diplester tapi dia masih nangis dan malah ditarik plesternya soalnya dia risih. Sampai ganti 4x plesternya. Karena dia tarikin mulu, dan dikibasin. Akhirnya sama perawat ditebelin beberapa kali tuh buntelan plesternya, eehhh malah diteken-teken ama dia karena dia risih. Darahnya masih keluar dan merembes ke plester. Minta ganti lagi deh plester dan perbannya. Abis itu dia baru diem nangisnya karena dibeliin puding di kantin hermina, dan nggak lama kemudian dia molor digendong eyangnya. Antara capek nangis dan emang dasarnya udah ngantuk.

Hasil lab langsung keluar sekitar 15 menit kemudian, dan aku langsung serahkan ke dr rina untuk dikonsultasikan. Alhamdulillah hasilnya bagus jadi tidak ada tes lanjutan untuk pemeriksaan lab yang lebih detail. 6 bulan yang lalu Hb nya 8 g/dl, setelah terapi pakai vitamin zat besi secara rutin sehari 2 kali sekarang Hb nya udah naik jadi 13,1 g/dl. Dokter rina menyarankan suplemen zat besi tetap diberikan tapi sekarang sehari sekali aja.

Aku pun tanya kesimpulannya, jadi apakah penyebab bb nya Arthur stuck? Apa perlu diberikan susu atau suplemen tambahan lagi?

Dokter Rina menyarankan Arthur untuk diberikan tambahan makanan cair. Yaitu infantrini atau nutrinidrink. Namun disarankan, lebih baik konsul ke dsa sub gizi dulu, soalnya masalah begini wilayahnya dsa sub gizi.

Biasanya nanti  dsa sub gizi mereview pola makannya, dan juga membuatkan menu untuk asupan makanan apa saja yang sebetulnya diperlukan oleh tubuh Arthur. Kalau ternyata memang asupannya dari makanan masih kurang, baru deh dikasih tambahan makanan cair seperti susu tapi bukan susu juga sih yaitu infantrini atau nutrinidrink itu tadi.

Sebaiknya sih memang harus dikonsultasikan ke dsa sub spesialis gizi dulu. Karena makanan cair seperti infantrini atau nutrinidrink tidak boleh sembarangan diberikan, harus berdasarkan resep dokter atau ada indikasi medis tertentu.

Jadi setelah ini, kunjungan berikutnya adalah ke dokter subspesialis gizi.

Berikut Artikel yang diambil dari IDAI mengenai Anemia kekurangan zat besi

Secara sederhana anemia sering diartikan sebagai kekurangan darah. Secara teoritis anemia merupakan istilah untuk menjelaskan rendahnya nilai hemoglobin (Hb) sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Pada anak anak, kekurangan zat besi atau Anemia defisiensi Besi (ADB) merupakan penyebab anemia terbanyak. Anemia kekurangan zat besi ialah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan zat besi tubuh. Prevalensi anemia defisiensi besi di Indonesia masih sangat tinggi, terutama pada wanita hamil, anak balita, usia sekolah dan pekerja berpenghasilan rendah. Pada anak-anak Indonesia angka kejadiannya berkisar 40-50%. Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan kejadian anemia defisiensi besi sebanyak 48,1% pada kelompok usia balita dan 47,3% pada kelompok usia anak sekolah.

ADB pada anak akan memberikan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Selain itu berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang. Masalah yang paling penting yang ditimbulkan oleh defisiensi besi yang berlangsung lama, adalah menurunkan daya konsentrasi dan prestasi belajar pada anak

Saat lahir, bayi memiliki Hb dan cadangan zat besi yang tinggi karena zat besi ibu mengalir aktif  melalui plasenta ke janin tanpa perduli status besi sang ibu. Setelah lahir akan terjadi 3 tahap, yaitu:

  1. Usia 6-8 minggu akan terjadi penurunan kadar Hb sampai 11 g/dl, karena eritropoeisis berkurang dan umur sel darah merah janin memang pendek
  2. Mulai umur 2 bulan, Hb akan meningkat sampai 12,5 g/dl, saat ini eritorpoeisis mulai meningkat dan cadangan besi mulai dipakai (deplesi)
  3. Diatas usia 4 bulan cadangan besi mulai berkurang dan dibutuhkan zat besi dari makanan.

Pada bayi aterm, deplesi jarang terjadi sebelum usia 4 bulan, dan anemia juga jarang terjadi bila mulai dikenalkan makanan saat usia 4-6 bulan. Tetapi pada bayi premature, deplesi dapat terjadi pada usia 3 bulan karena pertumbuhan lebih cepat dan cadangan besi memang lebih sedikit.

Beberapa faktor yang dapat memicu kekurangan zat besi pada manusia adalah status hematologik ibu hamil, Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), Bayi kembar, Infeksi, Infestasi parasit.

Sedangkan faktor faktor yang dapat menjadi penyebab kekurangan zat besi pada anak adalah:

  1. Pertumbuhan yang cepat
  2. Pola makanan. Susu merupakan sumber kalori utama bayi. Zat besi pada ASI  merupakan zat besi yang mudah diserap, tetapi zat besi pada susu formula memiliki bentuk ikatan non-heme sehingga lebih sulit diserap oleh usus. Pada bayi aterm, pemberian ASI saja sampai usia 6 bulan masih dapat memenuhi kebutuhan zat besi bayi, tetapi tidak bagi bayi premature. Komposisi makanan kita yang lebih banyak mengandung sereal/serat juga berperan dalam penyerapan zat besi. Besi pada serat bersifat non-heme dan serat sendiri dapat menghambat penyerapan zat besi.
  3. Infeksi. Kuman penyebab infeksi menggunakan zat besi untuk pertumbuhan dan multiplikasinya. Sehingga anak yang sering infeksi dapat menderita kekurangan zat besi
  4. Perdarahan saluran cerna
  5. Malabsorbsi (gangguan penyerapan makanan dalam usus)

Bagaimana mengetahui anak dengan ADB?

1. Klinis

Biasanya diagnosis klinis tegak sesudah terjadi anemia, yang sebenarnya merupakan gejala lanjut dari kekurangan zat besi. Pada tahap awal yang sering dikeluhkan orang tua adalah iritabel, lesu, lemas, nafsu makan berkurang, perhatian mudah teralih, tidak bergairah bermain, cepat lelah bila sedang bermain, sulit konsentrasi dalam belajar, pusing atau sakit kepala, dada berdebar-debar, sampai gejala yang sangat berat berupa pica (gemar makan atau mengunyah benda tertentu seperti tanah, kertas, kotoran, alat tulis, pasta gigi, dll)

2. Laboratoris

Hasil pemeriksaaan laboratorium biasanya sesuai dengan stadium kekurangan zat besi, yaitu:

– Stadium I: deplesi cadangan besi (penurunan kadar feritin)

– Stadium II: defisiensi besi tanpa anemia (penurunan SI dan TIBC)

– Stadium III: anemia defisiensi zat besi (penurunan Hb, MCV, Ht)

Dianjurkan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi dini defisiensi zat besi pada usia 1 tahun untuk bayi aterm, usia 6-9 bulan untuk bayi preterm, usia anak 2-3 tahun, 5 tahun dan saat dewasa muda.

Apakah ADB dapat diobati? Tentu saja ADB dapat dan harus segera diobati bila diagnosis sudah ditegakkan. Pada keadaan anemia defisiensi zat besi dapat diberikan  preparat besi (ferosulfat / ferofumarat / feroglukonat), diberikan diantara waktu makan pengobatan dilanjutkan sampai 2-3 bulan setelah kadar Hb normal untuk mengisi cadangan besi dalam tubuh. Dengan pemberian yang teratur, kadar Hb akan meningkat 1 g/dl tiap 1-2 minggu. Penyerapan dapat ditingkatkan dengan pemberian vit. C. Penyerapan akan berkurang akibat zat tannin (teh), susu, telur, fitat dan fosfat yang terdapat dalam tepung gandum. Setelah kadar besi normal di dalam tubuh, penting untuk ibu ibu untuk mencegah agar tidak sampai jatuh dalam keadaan anemia lagi.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari minum susu segar sapi yang berlebihan, memberikan makanan yang mudah absorbsi besinya (daging, ikan, ayam, hati dan asam askorbat). Sedangkan untuk bayi baru lahir, ibu ibu harus menggalakkan ASI sampai 4-6 bulan untuk bayi aterm, tetapi untuk bayi premature mulai diberikan preparat besi saat usia 2 bulan atau makanan tambahan yang mengandung suplemen besi saat usia 4-6 bulan.

Penulis: Rini Purnamasari

Reviewer: Hikari Ambara Sjakti

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Advertisements

One thought on “Arthur ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s