Arthur Bermain Pasir di Pantai

Arthur Bermain Pasir di Pantai

Arthur mengalami sensory processing disorder karena hambatan penglihatannya.
Tentu saja hal tersebut berpengaruh pada tahapan perkembangan dan kemampuan motoriknya. Terutama pada kemandirian dan kemampuan motorik halusnya.

Saat ini, Motorik halus arthur jauh tertinggal dibandingkan dengan yang seharusnya sudah bisa dia capai di usianya (cek pakai KPSP). Wajar karena dia nggak bisa melihat. Tetapi ketika hal tersebut sebetulnya bisa diperbaiki, bagiku menjadi hal yang tidak wajar. Karena jika dimaklumi terus menerus, justru bikin anak nggak bisa ini itu.

Bisa dibilang Efek domino karena ROP. Tapi jika sejak dini diberikan intervensi dan stimulasi, aku yakin saat dewasa nanti dia bisa melakukan kegiatan seperti anak lain pada umumnya.

Sebenernya pengen jelasin gimana sebab akibat arthur mengalami gangguan sensori atau sensory processing diaorder ini. Tapi jujur aja, cukup rumit merangkai kalimatnya biar mudah dipahami orang lain. Tapi secara sederhananya begini : ibaratnya nyetir motor. Semua indra saling berintegrasi. Vestibular/keseimbangan, proprioseptif/ kekuatan otot, penglihatan, pendengaran. Semua indra bekerja sama mengirim informasi ke otak untuk bisa mengatur kecepatan, menentukan arah lewat mana, kapan saat belok, saat mengerem, saat berhenti, dll.
Itulah yang dimaksud sensori integrasi.
Ketika salah satu indra tidak berfungsi tentu saja jadi kacau.
Begitulah permasalahan arthur selama ini. Dokter memberikan diagnosa sensory processing disorder.

Note :
Kalau menurut perfisioterapian dan seputar perkembangan anak, manusia punya 7 indra. (nggak 5 lagi kayak ysng diajarin di sekolah dulu πŸ˜…)
7 indra itu adalah : Penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, peraba, keseimbangan, kekuatan otot.

Karena Arthur mengalami sensory processing disorder dan hal tersebut mengganggu perkembangan serta kemampuan motoriknya, arthur pun disarankan untuk rutin fisioterapi

NOTE :
Arthur mengikuti fisioterapi itu untuk kepentingan perkembangan dia. Bukan untuk penglihatannya!
Karena kadang ada yang salah persepsi mengenai kata “terapi” ini. Ampe aku tu kadang gemes dan kesel sendiri kalo jelasin, gegara dikira terapi biar bisa ngelihat.

Baca : https://arthuranakprematur.wordpress.com/2019/02/11/fisioterapi-dengan-menggunakan-bpjs/

https://arthuranakprematur.wordpress.com/2018/09/28/arthur-mengikuti-okupasi-terapi/

Saat fisioterapi dia biasanya mendapatkan neurosenso (terapi sentuh), terapi oral, brain gym, dan juga ada sesi okupasi terapi.

Untuk anak yang mengalami sensory processing disorder, biasanya memang sangat terbantu dengan terapi neurosenso ini. Karena hubungannya dengan stimulasi syaraf dan sensori-sensori di tubuh anak. Terapinya Cuma kayak di pijet dan diusap gitu sih. Tapi tetep aja aku nggak ngerti dan nggak bisa meniru persis yang dilakukan terapis untuk dilakukan di rumah, karena aku bukan ahlinya πŸ˜…

Setiap konsultasi bulanan dengan dokter rehab medik, selalu ditanya “bagaimana arthur ketika berjalan atau bermain pasir?”
Karena arthur dari dulu ketakutan ketika berada di pasir, itu merupakan salah satu tanda anak mengalami gangguan sensory. Selain pasir, arthur juga takut ketika berada dikolam bola yang biasa ada di playground.

Aku sebel kalo ada yang bilang “nggak dibiasain sih makanya takut” “nggak pernah barefoot sih” “pak sendal mulu”

Terserah pada mo bilang apa.

Aku anggep yang komen kayak gitu tuh nggak ngerti aja, dia nggak paham.

Sensory processing disorder pada anak tuna netra biasanya gangguan pada kemampuan indra lain yang masih berfungsi.

yang terlihat pada arthur, kalau secara tactile masalah sama pasir ini. Secara audio (suara) pun kadang dia merasa ketakutan dengan suara tertentu. Misal suara mesin kendaraan atau truk besar yang tiba-tiba lewat. Suara orang yang tiba-tiba menyapa dia.

Untuk masalah suara ini, jujur aja aku masih bingung stimulus nya gimana. Yang cuma bisa aku lakukan masih sebatas menginformasikan itu suara apa dan itu tidak apa-apa, tidak berbahaya.

Berikut aku coba sharing beberapa tips untuk mengajak anak SPD (sensory processing disorder) khususnya anak yabg memiliki hambatan penglihatan, agar tidak takut dengan pasir.

1. Sering ajak anak bermain sensory play.
Misal dirumah bisa diberikan pasir kinetik (pasir warna warni yang gampang dibentukin). Ajak main cetak-cetak, bentuk-bentuk, dll. Biasanya saat awal, memang masih menolak dan takut. Jangan terlalu dipaksa supaya tidak menimbulkan trauma. Tapi tetap sering-sering ajak untuk memainkan pasir kinetik tsb agar terbiasa.

2. Ajak main ke pantai.
Seperti arthur, awal nya pasti dia nggak mau jalan di pasir. Maunya digendong.
Tapi nggak apa-apa. Yang penting perkenalkan dia dengan suasana pantai nya dulu. Agar dia terbiasa sehingga bisa beradaptasi. Mungkin perlu sebulan sekali ajak ke pantai (kalau deket sama pantai). Kebetulan kami tinggal di Jogja yang kemana-mana deket, kalo mau ke pantai cuma sekitar sejam perjalanan aja.

3. Berjalan diatas pasir bersama – sama.
Ketika kita mengajak anak untuk barefoot di pasir pantai, sebaiknya kita sebagai orangtua juga ikut ber barefoot bersama. Agar anak bisa mencontoh, dan katakan bahwa tidak apa-apa, tifak bahaya, dan tetap aman bertelanjang kaki di pasir.

4. Bawa mainan untuk bermain di pasir pantai
Bisa bawa sekop kecil, ember, mainan cetak-cetakan, dsb. Agar anak bisa punya kegiatan bermain dengan pasir. Sehingga dia enjoy dan tidak cepat bosan. Permainan tersebut juga bisa melatih motorik halusnya.

5. Buat perjanjian.
Ajak anak untuk berjanji bahwa dia berani untuk bermain, menyentuh, dan berjalan di pasir.
Dan sebagai orangtua, juga harus konsisten untuk tidak menggendong. Selalu ingatkan dia dengan janjinya tersebut.

6. Bawa pulang pasir pantai. Karena harga pasir kinetik lumayan mahal, dan teksturnya sedikit berbeda dengan pasir pantai, jadi kalo pas ke pantai bisa bawa pulang pasir nya buat dimainin di rumah. Taruh aja di ember atau wadah, ajak anak menginjak, menyentuh, dan bermain dengan pasir pantai.

Kalo pasir kali gimana? Jujur aja aku ngeri kalo ama pasir kali, kadang ada hewan ga keliatan, cacing dsb. Karena pernah baca berita (gak tau beneran apa hoax, tapi ngeri aja) anak kecil kakinya kemasukan cacing gara-gara main pasir kali. Ampe tuh cacing bisa gerak didalem kulit. Jadi aku lebih menyarankan pake pasir pantai aja. Hehe

7. Untuk anak yang memiliki hambatan penglihatan. Seperti biasa, sounding sounding dan sounding. Jelaskan tentang suasana pantai, ada apa saja disana.
Setiap dia menyentuh atau menginjak sesuatu, jelaskan juga padanya tentang bagaimana tekstur nya. Misal pasir nya lembut, pasir basah, pasir yg kasar, batu/kerikil, dll. Sehingga tactile kaki nya pun dapat mengenali berbagai macam tekstur saat barefoot.

*****

Setelah rutin fisioterapi dan berbagai stimulasi sensori, beberapa waktu yang lalu kita coba ajak arthur main pasir ke pantai untuk ngetes arthur. Biar kalo kontrol lagi, udah bisa jawab pertanyaan dokter.

gimana reaksi arthur saat diajak main pasir di pantai?
tonton aja videonya di youtube arthur. jangan lupa like & subscribe ya 😁

Advertisements
Mengajak Anak Tuna Netra Naik Pesawat

Mengajak Anak Tuna Netra Naik Pesawat

salt_20190623_165423_12936197698.jpg

Sebenernya udah lama banget pengen nulis ini.
Ditambah beberapa waktu yang lalu sedang viral di sosmed seorang public figur entah dia itu artis, model, selebgram atau apalah, aku nggak ngerti juga. Yang bilang kalo naik pesawat mending bawa hewan peliharaan daripada bayi, gegara ada bayi di belakang atau depan dia yang nangis selama penerbangan.
Dan tentu lah kemudian dia di hujat abis-abisan sama netizen di negara +62 ini, khususnya para emak-emak yang punya bayi dan balita. Ga cuma dihujat, kalo baca komennya malah sumpah serapah segala.
Ya positip thinking aja, dia kan belom punya anak jadi belom ngerasain riwehnya traveling sama bayi balita. Apalagi anak guweh balita tuna netra. Yang kudu bener-bener prepare biar anaknya nggak rewel selama perjalanan.

Disini aku mau sharing aja, dan mungkin sekalian berbagi sedikit tips. Gimana mengajak bayi / balita tuna netra naik pesawat.

*****

Cerita dari awal aja deh…

 

Pertama kalinya Arthur naik pesawat

Arthur pertama kali banget naik pesawat waktu usianya sekitar 3,5 bulan. Itu tanpa rencana banget. Kita dari jogja mau ke jakarta, untuk second opinion kondisi mata arthur waktu itu.
Mendadak banget dan persiapan seadanya. Beli tiketnya aja malem untuk berangkat besokan siangnya. Untung aja masih ada tiket ke jakarta.
Baca disini : Diagnosa Final – ROP end of stage

Aku cuma persiapan seadanya karena mendadak dan urgent.
1. Pakein arthur baju hangat, Jaket, topi, kaos kaki. Karena di dalam pesawat biasanya dingin.
2. Bawa Asip perah cuma beberapa botol aku masukin ke cooler bag. Lupa, waktu itu asipnya ikut masuk kabin apa aku taruh dalem koper masuk bagasi.
3. Diapers bag diisi lengkap keperluan arthur selama perjalanan. Isinya Apron menyusui, Baju ganti arthur, diapers, tissu basah & kering, selimut, minyak telon, dsb. Dan menaruh diapers bag di bawah kursi aja biar kalo ada apa-apa gak perlu minta tolong buka cabin.

Yang paling penting adalah mempersiapkan arthur selama terbang.
Tapi jujur aja aku kuatir banget kalo dia rewel. Karena baru pertama kali naik pesawat.
Dan waktu itu arthur masih bayi banget. Usianya sih 3,5 bulan, tapi kalo koreksinya dia tuh masih kayak bayi usia 1 bulan. Dan menurut aku waktu itu, aku gak perlu sampein ke pihak maskapai tentang usia koreksi arthur atau kondisi medis arthur. Karena urgent banget, kuatir nanti malah gak boleh terbang atau kudu minta surat dari dokter dulu.
Karena setau aku bayi newborn (kalo nggak salah usia dibawah 1 bulan) kudu pake surat pengantar dari dokter kalau mau diajak naik pesawat, tergantung bagaimana kebijakan masing-masing maskapai juga sih.
Tapi case arthur beda, karena dia prematur jadinya usia segitu dia bukan newborn lagi, walaupun masih kayak newborn. πŸ˜…

Dari yang aku baca-baca sih yang penting Saat take off atau landing, bayi dinenenin biar gak ngerasain telinga sakit atau berdenging.
Karena bayi yang rewel di pesawat biasanya karena :

  1. Merasa tidak nyaman dengan suasananya
  2. Telinga berdenging/ sakit karena tekanan udara
  3. Haus / lapar
  4. Bosan
  5. Ketakutan

Alhamdulillah pertama kali banget arthur naik pesawat di waktu itu, semua lancar. Dia gak rewel atau nangis. Tiap take off dan landing, aku nenenin. Dan dia tidur selama di perjalanan. Untungnya usia segitu, bayi masih banyak tidurnya juga πŸ˜…

salt_20190623_172513_5721324732532.jpg

Pertama kali naik pesawat waktu itu apakah arthur di sounding dulu? Seingetku sih iya, tapi sebatas kayak ngajak ngomong sama bayi. “Nanti kita naik pesawat ya ke jakarta, nanti kita ketemu papa disana. Nanti nginep di bekasi ada uti, akung”

Bukan sounding yang menjelaskan detail. Karena waktu itu masih belom bener-bener pasti apakah arthur beneran blind atau tidak. Dan aku juga belum terlalu mengerti tentang pentingnya sounding untuk bayi/anak tuna netra.

*****

Sejak saat itu kami beberapa kali bolak balik jogja jakarta naik pesawat. Yang hanya sekitar 1 jam perjalanan.
Kami juga sounding dan menginformasikan ke arthur kalo mau naik pesawat, ketika sedang naik tangga masuk pesawat, duduk didalam pesawat, ketika pesawat mau jalan, ketika mau lepas landas, dll. Sedetail yang kami bisa. Walaupun arthur masih kecil, tetap kami sounding agar dia tidak merasa takut dan bisa merasa nyaman. Karena yang paling penting disaat seperti itu adalah memberikan kenyamanan untuk anak.

Alhamdulillah Arthur sangat pengertian. Dia nggak pernah rewel dan nggak pernah nangis selama di pesawat. Cuma pernah sekali pas umur sekitar setahunan, dia tumben nggak betah banget. Nggak mau duduk, maunya berdiri, padahal pas udah mau landing. Ternyata dia pup πŸ˜…
Gak enak ama yang duduk dideket situ kalo kebauan πŸ˜… Akhirnya waktu udah bener-bener mau landing, dia agak dipaksa duduk di pangku. Dan dia pasti risih banget karena dudukin poop nya 🀣🀣🀣 mau gimana lagi kan, daripada kenapa-kenapa dia berdiri karena pesawat landing.
Ini fotonya….

salt_20190623_172448_7071859790277.jpg
Arthur pup di pesawat

 

Sejak arthur masuk usia 2 tahun, kami mulai jarang jogja jakarta naik pesawat. Karena kalo naik pesawat, anak usia diatas 2 tahun udah bayar dan dapat jatah kursi sendiri, padahal dia maunya masih dipangku. Daripada sayang di ongkos, kita pilih naik kereta. Kalau kereta diatas usia 3 tahun baru mulai bayar sendiri.

Sejak saat itu, selama sekitar setahunan lebih arthur nggak pergi-pergi naik pesawat.

*****

Arthur Duduk Sendiri

Ketika arthur usia 3 tahunan. Kami mengajak travelling ke singapore dan batam. Karena ada acara keluarha juga di batam. Dan baru kali itu dia naik pesawat bayar tiket dan dapet kursi sendiri.
Awalnya jika dibayangkan memang banyak takut dan cemas ini itu banyak hal. Karena :
1. Dia lama banget nggak diajak naik pesawat. Pasti udah lupa rasanya, dan dia belum bisa ngebayanginnya kayak gimana.
2. arthur udah nggak nenen. Dulu biar dia ngerasa aman dan nyaman, tinggal dinenin aja. kalo udah nggak nenen, Gimana nanti saat take off dan landing. Takutnya kalo diem aja malah merasa telinganya sakit/berdenging. Kita yang dewasa aja kadang ngerasa kuping budeg kalo lagi naik pesawat kan.
3. Dia duduk dikursinya sendiri. Apakah betah duduk 2 jam? Udah khawatir duluan anaknya bakal ngajak turun, ngambek atau tantrum.
4. Dia udah bisa memahami sesuatu. Gimana kalo dia merasakan sensasi & ketakutan. Misal terjadi turbulensi.

Pokoknya waktu itu sempet kuatir juga. Karena arthur nggak seperti anak lain yang bisa melihat.

Bismillah aja deh…
Yang paling penting, Sounding dan menjelaskan kepada arthur sebelum berangkat itu hukumnya wajib a’in.

1. Sounding
Waktu itu kita berangkat ke Batam via singapore karena tiket nya lebih murah. Kita berangkat ber-4 (aku, arthur, papa arthur & tante arthur). Jadi ada yang bantuin jaga arthur juga selain mama papa nya.
Arthur juga udah kita sounding beberapa hari sebelumnya, kalau kita mau berpergian. Kemana, naik apa, sama siapa, berapa lama, disana ada siapa aja, disana ada apa, disana ngapain, dll. Dan dia sudah bisa memahaminya.

2. Siapin bekal cemilan
Perjalanan Jogja – Singapore sekitar 2 jam. Aku udah siapin bekal arthur. Cemilan, susu, roti, dll.
Pengganti nenen, aku kasih dia cemilan. Biar dia ada kegiatan mengunyah sehingga telinganya tidak merasakan sakit/ berdenging. Karena arthur belom bisa makan permen, apalagi permen karet.

3. Kasih kegiatan
Kalo anak lain biasanya pada bawa semacam activity book. Biar anaknya anteng dan ada aktivitas selama perjalanan. Lha kalo arthur mana bisa dikasih activity book.
Arthur cuma ku ajak dengerin musik pake headset. Jadi selain kegiatan mengunyah (ngemil), dia dengerin lagu-lagu. Walaupun nggak betah lama juga sih.

Eh dia nya tumbenan jam segitu udah ngantuk. Bener-bener anak papa. Tiap perjalanan mesti pada molor.
Tapi arthur maunya minta tiduran rebahan. Akhirnya dia rebahan deh tu di kursi pesawat. Dia duduk di tengah. Kepala bantalan paha mamanya, kaki ditaruh ke papanya. Tidur deh . Puleeessss 🀣🀣🀣
Aelaaaahhh..udah sempet kuatir & prepare kudu gimana. Ternyata anaknya malah sukses molor. Ampe mau landing, dia baru bangun. Itupun kita bangunin. Karena dia harus posisi duduk.

Aku kira dia bakal takut sensasi ketika takeoff atau landing. Aku suruh dia duduk sambil pegangan tangan sama mama papanya. Eeehh nggak taunya dia malah seneng sensasi goyang waktu landing, dan minta “mau lagi” πŸ™ˆ

Ternyata mama aja yang lebay dan terlalu kuatir. Hahahaha..
Tapi mungkin karena arthur juga udah punya bayangan dari sounding-sounding yang udah dikasihtau sebelum nya.

salt_20190623_165646_497990263584.jpg

Sewaktu pulang dari Batam ke Jogja, kita cuma bertiga. Aku, arthur, dan tante arthur. Karena papa arthur udah pulang duluan, nggak bisa libur lama-lama.
Aku pikir bakalan aman aja kayak waktu berangkat, dan semoga anaknya tidur.
Seperti sebelumnya, aku sounding dan siapin cemilan.
Alhamdulillah awalnya aman, dia duduk sendiri, sambil makan roti. Untungnya flight siang, jadi pas jamnya tidur siang arthur. Dia pun tidur (beneran anak papa, mirip banget papanya).
Tapi tidurnya nggak lama, kira-kira masih sekitaran 40 menit lagi baru landing arthurnya udah bangun. Dan rada drama juga. Nggak mau pake seat belt. Nggak mau duduk sendiri. Maunya dipangku. Minta gendong. Nendang kursi depannya. Gedorin jendela. Dsb πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘
Kenapa kerempongan terjadi kalo pas nggak sama papanya. Kalo pas ada papanya, dia jadi anak baik.
Akhirnya sisa perjalanan arthur aku pangku terus, daripada ngambek dan aku udah capek juga.
Mungkin aku terlalu santai dan kurang sounding sih. Karena waktu itu aku lagi nggak fit. Agak gak enak badan dan udah kecapean juga.

Tips yang paling penting dan menjadi koentji ketika membawa anak (khususnya bayi atau balita) yang memiliki hambatan penglihatan adalah, sounding sounding dan sounding.Β  Selain itu, berikan kegiatan (kalau bisa aktivitas mengunyah,Β  makan atau minum) disaat pesawat take off maupun landing.

Have a nice flight!

salt_20190623_165542_4851946814946.jpg

Subscribe Youtube Channel Arthur ya guys!

Subscribe Youtube Channel Arthur ya guys!

Arthur akhirnya punya youtube channel nih πŸ˜‚
Biar menyalurkan hobinya dia yang suka ber “hola halo gaes”.

mohon maaf kameramen & editor nya masih amatiran 🀣 learning by doing.
Jadi video nya masih yang seadanya πŸ˜…

Harapannya semoga juga bisa menjadi media edukasi dan membuka pikiran orang. Bahwa seorang anak tuna netra pun bisa dan berhak hidup selayaknya anak lain.

Dan Arthur juga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain.

Silahkan subscribe & like video nya 😁

https://www.youtube.com/channel/UCrypWMv23WFHk3neo0XU2Fw

Atau bisa juga langsung ketik “ragasya arthur rayyan” di youtube / di google.

Arthur akhirnya dapet sekolah!

Arthur akhirnya dapet sekolah!

Ya, akhirnya…
Karena sebelumnya sempat pernah ditolak di beberapa PG-TK umum, dan juga sudah waiting list 2 tahun tapi belum ada kabar. Apakah mungkin PHP? HeheheπŸ˜…

Sekolah yang berlabel inklusi pun menolak anak tuna netra, dengan alasan fasilitas atau tenaga pengajar tidak mendukung.
Padahal, aku nggak perlu fasilitas macem-macem, akupun bisa bantu persiapkan apa yang arthur butuhkan. Masalah Tenaga pengajar, aku bisa ikut dampingin arthur. kalopun ortu nggak boleh mendampingi, aku bisa coba carikan shadow teacher sendiri. Tapi karena yang sebelum-sebelumnya udah ditolak duluan daripada terkesan memaksakan dan pihak sekolah keberatan , ya udah lah tinggalkan saja sekolah itu. Sambil jalan, kita dambik cari info sekolah lain.

Dulu pernah aku ceritain di blog disini :

perlukah arthur sekolah playgroup?

******

Lalu, Gimana ceritanya arthur akhirnya bisa dapet sekolah?

Jadi awalnya, kemarin aku ikut seminar dengan materi mengenali Anak Berkebutuhan Khusus.
Salah satu pengisi seminar nya adalah fisioterapis arthur.

Yayasan Rumah Sakit tempat arthur rutin fisioterapi, juga punya sekolah daycare, playgroup, dan TK. Lokasinya hanya sebelah RS.
Aku sering lewatin skolah tersebut, karena deket sama parkiran RS. Cuma awalnya memang nggak niat coba nanya kesana karena rasanya belum pernah lihat murid ABK disana. Udah males ditolak duluan kan, karena pengalaman-pengalaman yang sebelumnya.

Seminar yang aku hadiri itu diadakan oleh sekolah, dalam rangka kegiatan parenting dan juga mempromosikan sekolah untuk mencari siswa baru di tahun ajaran baru 2019/2020.

Sepertinya, sekolah tersebut sedang akan mencoba menerima siswa inklusi. Karena tema yang diangkat adalah tentang ABK, setelah selesai seminar aku coba tanya ke pihak guru. Apakah anak dengan kondisi seperti arthur bisa bersekolah disana. Katanya, aku disuruh langsung dateng aja ke sekolah saat jam kantor, dan arthur juga sekalian diajak.

Beberapa hari kemudian, setelah selesai fisioterapi aku mampir sekolahan ajak arthur. Waktu itu papa nya arthur pas lagi libur juga, jadi bisa nemenin.
Disana kita ketemu beberapa guru, melakukan asesment, interview masalah perkembangan, menceritakan keseharian arthur, kemandirian dan kemampuan arthur, dll.

Kami juga menanyakan masalah bagaimana sistem pembelajaran, fasilitas, biaya, dan hal umum lainnya.

Lalu, gurunya menyampaikan bahwa sekolah dan para guru, tidak bisa membantu mengajarkan arthur masalah braille, pra braille, belajar whitecane dan semacamnya. Mereka hanya bisa mendampingi dan memberikan materi kepada arthur sama seperti anak lainnya. Hanya saja nanti mungkin arthur perlu didampingi shadow teacher sendiri.
Karena takutnya, ortu beranggapan bahwa arthur memiliki keterbatasan, tetapi kok diberikan materi atau suatu hal yang sama seperti anak lainnya.
Aku tidak masalah dengan hal itu. Aku bilang, arthur kondisinya memang special needs kids. Tapi bukan berarti anak special harus selalu di specialkan dalam segala hal.
Nanti biarlah arthur juga mencoba beradaptasi dan menyesuikan dengan teman-temannya.
Bukan hanya teman-teman dan lingkungan saja yang harus menyesuaikan dengan kondisi arthur. Biarlah arthur belajar hal seperti itu dari sekarang. Dan juga agar arthur bisa memahami untuk “it’s okay to be different”. Karena hidup itu keras!

Untuk bisa menerima arthur sebagai murid, karena kondisinya yang “berbeda” dari murid yang lainnya, pihak sekolah arus rapat dulu dengan tim pengajar dan juga pihak yayasan. Karena sebelum-sebelumnya, mereka belum pernah menerima siswa yang kondisi nya seperti Arthur.
Dalam waktu 1minggu nanti aku akan di hubungi oleh pihak sekolah, tentang bagaimana keputusannya.

*****

Setelah sekitar 1 minggu…

Aku belum dikabarin juga πŸ˜‚
Akhirnya pas jadwal fisioterapi, aku coba mampir untuk menanyakan bagaimana keputusannya.
Ternyata ibu guru yang aku temui kemarin sedang ada diklat beberapa hari, jadi nya aku belum dihubungi. Katanya setelah selesai diklat, aku diminta datang ke sekolah lagi.

Beberapa hari kemudian….

Aku dateng lagi ke sekolah, setelah arthur selesai fisioterapi.
Aku dijelaskan lagi, pada intinya sekolah bisa menerima kondisi arthur. Tetapi tidak bisa mengkhususkan arthur. Aku diminta untuk berdiskusi dulu dengan papanya atau keluarga, baiknya gimana.
Berhubung mendapat sinyal positif dari pihak sekolah, aku nggak mikir dua kali. Aku langsung ambil formulir pendaftaran.
Karena susah lho cari sekolahan yang bisa menerima kondisi arthur.

Aku pun berkomitmen untuk kooperatif dengan pihak guru dan sekolah. Menurutku ini Penting dilakukan dan disampaikan sejak awal. Ketika memasukkan anak ke sekolah, bukan berarti orangtua kemudian lepas tangan, hanya menyerahkan anak kepada sekolah saja. Karena pada anak usia dini, pendidikan utama masih pada lingkungan keluarga.

Beberapa hari kemudian, aku kembalikan formulir yang sudah aku isi ke sekolah. Kami tinggal melakukan pembayaran dan setelah pembayaran nanti arthut bisa langsung ambil seragam. Untuk kegiatan belajarnya, baru dimulai pertengahan juli (masih sekitaran 3 bulan lagi).

Doakan arthur ya teman-teman, semoga arthur bisa mengikuti kegiatan dan aktivitas di sekolah dan semoga cepat beradaptasi dengan lingkungan serta teman-teman baru nya nanti.

Seragam Arthur masih kedodoran guys πŸ˜…
Arthur Mengunjungi SAVH (Singapore Association of the Visually Handicapped)

Arthur Mengunjungi SAVH (Singapore Association of the Visually Handicapped)

img_20190311_1511231866607338.jpg
Arthur di depan SAVH dengan whitecane pemberian staff SAVH

Ini adalah kedua kalinya kami mengunjungi SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped).

Pertama kali arthur ke SAVH bisa dibaca disini : Membeli Whitecane di SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped)

Waktu kami ke SAVH kemarin, pada nanyain “arthur periksa ya?” Hehehe
Kenapa harus jauh-jauh kontrol ke singapore kalo dokter dan rumah sakit di Indonesia masih bisa menangani? Lagian mata arthur untuk saat ini memang tidak bisa diapa-apakan lagi, mau sampe eropa, amerika. Sama aja. Teknologi medis saat ini belum ada yg bisa membantu penglihatan ROP stage 5. Lagian BPJS nggak bisa dipake di Singapore πŸ˜€

Dan, SAVH bukan Rumah sakit atau tempat untuk kontrol mata. SAVH ini semacam perkumpulan atau perhimpunan disabilitas netra di Singapore. Mungkin versi Indonesianya seperti yayasan mitra netra yang ada di lebak bulus atau Yayasan Mardi Wuto di Jogja. Selain perkumpulan atau komunitas, di SAVH menjual berbagai macam peralatan untuk tuna netra, terdapat berbagai macam pelatihan, dan berbagai macam kegiatan lainnya. Silahkan cek dan baca aja di website : nya www.savh.org.sg

Sebenernya niatan kami kemarin cuma mau mampir sebentar ke SAVH untuk membeli sesuatu. Lalu lanjut jalan-jalan bentar di Singapore. Karena kami ke singapore cuma transit aja. Bukan mau lanjut ke negara lain lagi, tapi transit balik ke indonesia lagi.hehehe.. Kita mau ke Batam karena tante arthur yang di Batam menikah πŸ˜‚ Kami pilih turun singapore dulu karena tiket nya lebih murah.
Jogja-singapore hanya 600ribuan. sementara jogja-batam 2x lipatnya, yaitu sekitar 1,3 jutaan. Dan tiket ferry nya singapore-batam sekitar 200ribuan. Lumayan banget selisih nya kan kalo berangkat 4 orang (arthur, aku, papa arthur, tante arthur) Apalagi arthur udah bayar tiket sendiri sekarang.

Maaf malah curhat harga tiket πŸ˜…
Balik lagi ke SAVH….

Jadi sekarang kami merencanakan, kalo tiap ke singapore dan ada rezeki mau mampir ke SAVH. Kenapa? Karena beberapa peralatan yang dijual disana jarang atau malah nggak dijual di indonesia. Biar sekalian…

Di hari itu kami flight pagi dan cuaca lagi bagus, tiba di singapore juga rada lebih awal. Setelah urus imigrasi dan muter cari stasiun MRT, kita langsung menuju ke daerah bugis dulu. Soalnya laper banget belom sempet sarapan, cuma Arthur yang udah sempet makan pagi. Di daerah Bugis, kita makan nasi briyani di zam zam restaurant, depan sultan mosque. Untung inget kalo porsi orang singapore bisa buat 2-3 orang πŸ˜‚ jadi kita pesen lamb briani, chicken briani, dan beef murtabak untuk ber-4. Pesen segitu aja kita nggak habis, dan udah kenyang banget.

img20190214122948993602184.jpg
Briyani Rice
img201902141233411592881145.jpg
Beef Murtabak

Maaf Foto makanan dulu πŸ˜‚

Setelah makan, rencananya kita mau ke SAVH bentar. Lalu lanjut jalan-jalan ke vivo city dan sentosa, yang deket sama harbourfront supaya gak ketinggalan ferry.

Untung aku masih inget kalo mau ke SAVH. Dari stasiun MRT bugis, turun stasiun botanic garden lalu ganti kereta yang ke stasiun MRT caldecott.
Dari stasiun MRT caldecott langsung nyebrang aja. Tapi ternyata kita salah ambil jalan keluar dari stasiun caldecott, jadi agak muter dikit buat nyebrang ke SAVH. Dan waktu itu di sekitar SAVH sedang ada pembangunan. Sepertinya sih proyek jalur baru MRT. Karena sedang ada penambahan jalur baru yaitu TE (Thomson – East Coast Line), yang rencana selesai tahun 2021. Dan stasiun MRT caldecott dipakai untuk salah satu pemberhentian jalur TE.

Sampai di SAVH, ada resepsionis seorang perempuan tuna netra. Dia menanyakan kami ada keperluan apa. Kami jelaskan kalo kami ingin membeli whitecane. Dan kami pun diminta menunggu sebentar.
Setelah pengunjung yang sebelumnya keluar dari ruangan, kami dipersilahkan masuk.

img_20190311_1511461452452770.jpg

Kami menjelaskan bahwa kami mencari whitecane untuk arthur, kami minta merk ambutech dengan roller.
Aku pikir, akan seperti dulu saat aku membelikan whitecane balqis. Dicarikan , ketemu, dibayar, selesai deh. Tapi karena ini mau beli buat arthur dan arthur juga ikut. Kami ditanya macam-macam. Darimana kami tau SAVH, usia arthur berapa, bagaimana orientasi mobilitasnya, apakah dia sudah belajar memakai whitecane, dll. Mungkin karena Arthur masih kecil dan kami jauh-jauh dari Indonesia hanya ingin membeli whitecane di SAVH πŸ˜‚πŸ˜‚
Kami juga menceritakan kalo whitecane di indonesia bahannya beda dan tidak bisa memakai roller, sambil aku liatin foto arthur dengan whitecane nya.

Setelah ngobrol dikit, staff tersebut memanggil temannya yang tuna netra untuk membantu menjelaskan kepada kami. Namanya edwin khoo. Tapi kami agak bingung kalo mereka pake bahasa singlish (singapore english, bahasa inggris dengan logat dan campuran mandarin). Untung sih mereka bisa sedikit bahasa melayu campur english.
Edwin menjelaskan bahwa whitecane dengan roller tidak disarankan untuk dipakai anak-anak karena bisa berbahaya. Karena takut anak belum bisa mengontrol dorongannya dan bisa tergelincir jika memakai roller.
Dan tongkat untuk anak pun tidak disarankan yang bisa dilipat karena memiliki resiko safety nya. Sehingga anak disarankan menggunakan tipe long cane.
Detil banget jelasinnya dan mereka mengutamakan keselamatan dan yang terbaik pemakaian untuk anak-anak. Padahal tongkat lokal arthur yang dirumah tuh lipetan. Aku jadi tau resiko-resiko tersebut.

Tapi aku tetep pengen whitecane yang pakai roller. Karena di Indonesia kan ngga dijualπŸ˜‚ sayang udah jauh-jauh tapi nggak beli roller nya.
Kalopun roller nggak kepake, bisa disimpen buat besok kalo arthur udah usia sekolah. Tapi whitecane lokal ngga bisa dipasang roller, jadi tetep kudu beli whitecane importnya.

Akhirnya aku pesan whitecane dengan size yang lebih panjang, karena Arthur pakainya nggak sekarang ini. Nanti mungkin usia TK atau SD. Aku minta size sekitar 34/35 inch. Karena nggak tau kapan bakalan balik Singapore lagi, jadinya sekalian aja beli untuk disimpan dulu. Kuatir juga harga nya naik atau kalau kurs dollar nya naik.

Setelah agak sedikit perdebatan mengenai pakai roller atau tidak. Akhirnya kami diperbolehkan untuk menggunakan roller, dan kami juga sudah paham atas resiko nya. Serta cara penggunaannya.
Edwin kemudian memanggil temannya, seorang perempuan. sepertinya seorang social worker di SAVH. Aku lupa namanya.
Edwin meminta tolong untuk mengajarkan kepada kami secara singkat tentang cara menggunakan whitecane. Cara memegang, mengayunkan, cara mengukur sesuai tinggi pemakai, dll Yang sebenernya aku sudah pernah belajar hal tersebut dari bu prima. Dia juga memberikan kami 2 alamat website untuk belajar.

img_20190311_151223857566581.jpg

Sambil menunggu dicarikan whitecane yang cocok ukurannya untuk Arthur, datang seorang bapak-bapak tuna netra.
Duh aku lupa banget namanya (Karena waktu itu aku manggilnya “uncle” untuk membahasakan ke ArthurπŸ˜…). Dia memakai Id card SAVH, sepertinya staff di SAVH juga.
Bapak ini bisa bahasa melayu dan cukup lancar, beliau juga membantu kami menerjemahkan. Beliau bertanya, kenapa arthur buta, dan ternyata sama. Beliau juga karena prematur. Tapi jaman dulu orang tidak tau apa itu ROP dan penyebabnya. Jadi dia taunya kalo sejak lahir sudah buta.

Kami juga sempat sharing sedikit mengenai pendidikan dan sekolah untuk tuna netra di Indonesia dan juga menanyakan bagaimana sekolah di Singapore. Aku juga bercerita bahwa di Indonesia, kami ada baby community yaitu komunitas orangtua bayi-balita tuna netra yang didampingi oleh bu prima dan bu weni dari perkins.
Dia ternyata juga beberapa kali ke Indonesia, katanya berkunjung ke bandung dan jakarta. Awalnya aku kira dia orang indonesia yang di singapore, karena bahasa indonesia dan logat nya cukup jelas. Tapi setelah aku tanya , dia kewarganegaraan singapore.

Akhirnya whitecane untuk Arthur dapet size 34inch. Karena masih anak-anak dan disarankan untuk longcane yang tidak bisa dilipat, Arthur dipilihkan yang tipe longcane dan bahannya yang graphite yang katanya lebih sensitiv dan lebih enak untuk belajar.

Aku juga minta tongkat ukuran 43inch dengan roller, ku bilang titipan teman (untuk balqis). Tapi ternyata tidak semudah dulu, saat aku ke SAVH tahun 2017 untuk membeli titipan tongkat balqis.
Kali ini kami tidak diperbolehkan membeli jika penggunanya tidak langsung datang ke SAVH. Dengan alasan takut ukurannya tidak sesuai. Jadi pemakai harus datang langsung untuk dilihat dan diukur size tongkat yang sesuai.

Aku langsung menghubungi bu prima dan menceritakan hal tersebut. Aku minta di fotokan full body saat mengukur balqis, tapi jam segitu anaknya lagi sekolah πŸ˜‚ untung saja bu prima sempet fotokan saat mengukur tinggi balqis, meskipun hanya tampak angka meteran yg menempel di badannya balqis.
Aku menunjukkan foto tersebut kepada staff yang dari awal melayani kami. Kemudian dia bilang ke edwin dengan bahasa singlish dan mandarin, yang aku nggak begitu paham mereka ngomong apaan.
Tapi pada akhirnya kami diperbolehkan membelikan titipan tongkat balqis ukuran 43inch.

Untuk ukuran balqis, ada 2 jenis (beda bahan). Bahan graphite dan bahan alumunium.
Graphite lebih bagus dan harga lebih mahal. Katanya sih lebih sensitiv dan lebih kuat bahannya, tapi agak lebih berat dibandingkan dengan bahan alumunium.
Kalo alumunium lebih enteng dan harga lebih murah. Tapi tidak sekuat graphite. Aku langsung wa bu prima, nanyain untuk balqis mau yang graphite atau alumunium.
Bu prima lupa, yang dipakai balqis tuh yang bahan apa. Karena pas beli dulu, kita juga gak disuruh milih gini. Tapi langsung disodorin aja sesuai ukuran yang diminta. Untunglah aku masih save foto nota SAVH pembelian tahun 2017 dulu. Ternyata dulu beli ambutech yang alumunium.
Akhirnya whitecane untuk balqis dapet size 48inch bahan alumunium, dengan roller

Oiya kami dari awal minta merk ambutech, tapi sepertinya ngga ada. Adanya merk revolutioner. Mirip banget sama ambutech, sama-sama made in USA juga. Kayaknya cuma beda merknya aja. Harganya pun sepertinya sama.

Setelah dapet whitecane untuk arthur dan balqis. Aku juga sekalian pengen cari reglet yang bahannya dari besi. Yang biasa ku pake, buatan indonesia bahannya plastik. Penasaran pakenya apa bener lebih enak pake reglet besi.hehehe… lumayan juga bisa disimpen buat dipake besok kalau arthur sekolah, tapi emaknya dulu yang mau coba pakai buat braillein buku-buku arthur.

Dulu pas tahun 2017 kami ke SAVH, kami juga coba nanya apa mereka punya riglet yang dari besi. Tapi pas aku tanya, mereka malah nggak paham ama maksud kita. Ternyata… “riglet” itu adalah bahasa nya orang indonesia πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Jadi, bahasa internesyenel nya “riglet” itu sebenernya adalah “braille slate”. Ya pantes aja dulu pas kita nanya ngomong riglat reglet mereka pada nggak paham.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku akhirnya coba nanya “do you have metal slate?” Alhamdulillah mereka paham “ohhh braille slate…”
Lalu diambilkanlah alumunium braille slate lengkap dengan stylus nya. Dan bu prima juga nitip stylus yang bentuk nya gepeng karena balqis sering kapalan pake stylus yang biasanya, sayangnya mereka lagi nggak punya stylus yang gepeng.

Jadi hari itu kami pun membeli :
Whitecane 34inch untuk arthur @30 SGD
Whitecane 48inch kakak balqis @31 SGD
2 roller (untuk arthur dan balqis) @ 22 SGD
Alumunium braille slate dengan stylusnya @25 SGD
Stylus titipan kakak balqis @6.10 SGD

Saat kami mau membayar, staff yang melayani kami sejak awal berulang kali mengkonfirmasi barang yang kami beli lengkap menyebutkan type nya, ukurannya. Mungkin biar nggak salah, karena udah jauh-jauh dari Indonesia.

Edwin tiba-tiba datang lagi, dia memberikan whitecane ambutech kecil untuk arthur. Katanya hadiah untuk arthur dari Uncle (bapak-bapak tuna netra yang bisa bahasa indonesia tadi). Size nya sesuai dengan tinggi Arthur saat ini, agar bisa dipakai Arthur untuk belajar di rumah. Meskipun yang dikasih ke arthur whitecane ambutech preloved, tapi aku agak terharu juga. Aku terimakasih banget sama mereka waktu itu.
Mereka baik banget. Dari melayani kami, mengajarkan kami, dan juga memberikan hadiah whitecane untuk Arthur segala. Aku nggak enak banget nih, lupa sama nama Uncle nya itu. Papa Arthur juga lupa namanya. Padahal beliau yang ngasih whitecane buat Arthur.

Alhamdulillah… semoga Arthur selalu dipertemukan dengan orang-orang baik dimanapun. Untuk kenang-kenangan. Aku ajak mereka foto bareng. Karena nggak tau juga bakal ketemu lagi atau nggak. Atau entah kapan lagi kami ke singapore dan mampir ke SAVH lagi. Semoga saja Arthur ada rezeki lagi.

Edwin yang berbaju hijau. Staff yang melayani kami dari awal yang baju abu-abu (maaf lupa namanya). Uncle yang kasih Arthur whitecane yang duduk berbaju biru.

Awal rencana kami berkunjung ke SAVH, perkiraan cuma sekitar setengah jam aja. Soalnya terus pengen lanjut jalan-jalan. Tapi ternyata disana kami disambut dengan baik, dikenalkan dengan orang-orang baik, dan juga dapet ilmu baru.

Akhirnya kami nggak sempet jalan-jalan nyebrang ke sentosa. Ke vivo city pun cuma di lantai bawah tempat jajanan dan makanan (deket stasiun MRT). Karena takut ketinggalan ferry ke Batam. Belum sempet check in juga. Di situ kita cuma jajan buat sangu di kapal. Beli subway, old chang kee, dll. Nyari garret popcorn nggak nemu, ternyata kudu ke lantai atas. Papa nya arthur mukanya udah kusut diajak jalan muter mall. Akhirnya aku ngalah hehehee

PAs udah check in dan mau masuk ke waiting room tiket kita semua malah bermasalah. Barcode nya erorr ngga bisa di scan. Padahal ferry berangkat 15 menit lagi, akhirnya papa arthur lari ke counter check in di lantai atas buat nanyain. Udah deg-degan dong takut ketinggalan ferry.

Akhirnya setelah sekitar 10menit, papanya arthur dateng lagi. Kami langsung masuk ke waiting room. Untungnya tiket udah beres, barcode bisa di scan. Kita urus imigrasi, scan Xray barang bawaan, padahal udah tinggal 5 menit ferry nya berangkat. Pas udah sampai waiting room di bawah, ternyata udah last call. Nama arthur, lingga, ranny, fanny. Udah dipanggil disuruh masuk ke kapal wkwkkwkwkw… Lari – lari lah kita sambil gendong arthur, bawa tongkat, bawa stroler. Ngos-ngosan…

Nggak jadi jalan – jalan keliling singapore deh, tapi Alhamdulillah disempatkan mampir ke SAVH. Bisa dapet ilmu baru, pengalaman dan dipertemukan dengan orang – orang baik. Thanks SAVH!

img_20190313_2257251023806133.jpg

Mempersiapkan Kehamilan Dengan Riwayat Kelahiran Prematur

Mempersiapkan Kehamilan Dengan Riwayat Kelahiran Prematur

Banyak orang yang bertanya kenapa aku bisa melahirkan prematur? Apa sebabnya?
Selama ini aku kira karena plasenta previa marginal.

Baca di sini :Β  Β Β Kenapa saya bisa melahirkan prematur dok?

Memang saat itu aku hanya mengasumsi dan mengambil kesimpulan sendiri, berdasarkan pengalaman yang terjadi dan sumber bacaan di internet. Bukan diagnosa dokter secara langsung.

Setelah melahirkan aku beberapa kali kontrol dengan dokter obsgyn, terutama dokter yang membantu proses persalinan waktu itu. Yaitu prof dr. Anwar spOg. Beliau sih memang bukan dokter biasa aku kontrol saat kehamilan arthur, karena waktu melahirkan arthur mendadak banget aku pasrah dibawa kemana aja. Akhirnya sama ibuku dianter ke klinik bersalin milik beliau, karena terdekat dari rumah. Dan ternyata beliau ini adalah dokter yang ahlinya bayi tabung (lupa istilah gelar kedokterannya).
Aku beberapa kali menanyakan ke beliau penyebab kelahiran prematur, dan seberapa besar kemungkinan terulang kembali. Beliau orangnya santai, aku diminta tidak perlu cemas dan tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Kemungkinan terulang hanya 1%.

Aku nggak puas dengan jawaban beliau, karena dari yang aku baca kelahiran prematur bisa terulang pada kehamilan berikutnya. Terlebih penyebab prematur nya belum jelas kenapa.
Waktu itu aku belum mencoba mencari “second opinion” sehingga aku mengambil kesimpulan sendiri bahwa waktu itu aku mengalami plasenta previa marginal. Karena sempat flek, bedrest,dan letak plasenta yang turun saat usia kandungan 28minggu.

*****

Lalu ketika arthur berusia 3 tahun, dan kami berencana mau memberikan adik kepada arthur. Kami mendatangi dokter kandungan konsultan fetomaternal (ahli di bidang kehamilan beresiko).
Yaitu dr detty spoG. Dan dr detty inilah dokter kandungan yang biasa menangani saat aku kontrol hamil arthur dulu.
Saat hamil arthur, aku malah tidak tau kalau dr detty adalah obsgyn fetomaternal, dan juga dulu aku tidak paham apa itu fetomaternal, hehehe…

Sekitar 1-2 bulan sebelum kami menemui dr detty spOg, beliau menulis komentar di FB ku (kami berteman di Facebook dan follow-followan di instagram, beliau orangnya humble 😁). Saat itu beliau memberikan komentar tentang postinganku yang bercerita tentang arthur yang terlahir prematur dan terdiagnosa ROP. Aku pun membalas komentar beliau, aku juga menyampaikan semoga bisa menjadi pasien beliau lagi dan meminta tolong untuk dibantu agar ketika hamil lagi tidak terulang melahirkan prematur.

Saat kami menemui dr detty di RS tempat prakteknya, aku ceritakan bagaimana kehamilan dan persalinanku dulu.
Karena aku datang di RS saat aku kontrol hamil arthur, jadi rekam medis kehamilanku masih tercatat disana dan dr detty pun mencoba kroscek.

Aku menanyakan apakah aku dulu plasenta previa?
Karena setauku jika plasenta previa, resiko besar terulangnya tinggi.
Tapi ternyata, menurut penjelasan beliau. Itu bukan plasenta previa. Karena dokter tidak boleh memberikan diagnosa plasenta previa pada kehamilan dibawah 32weeks.
Jadi dulu itu apa? Padahal aku mengalami pendarahan dan posisi plasentanya turun.
Ternyata itu adalah kondisi rahim yang membesar karena pertumbuhan dan perkembangan janin didalamnya. sehingga saat rahim semakin membesar, posisi plasenta berubah, bergeser dan cenderung agak kebawah.
Dan juga menimbulkan flek (bukan darah segar seperti plasenta previa).

Aku sedikit lega dengan jawaban dr detty karena aku ternyata tidak ada riwayat plasenta previa dan tidak ada resiko hal tersebut kembali terulang. Tapi kemudian masih menjadi “misteri” apa penyebab arthur terlahir prematur. Karena kudu dicari tau juga, sebelum memutuskan untuk hamil lagi. Soalnya aku takut dan sedikit trauma juga dengan segala resiko nya.

Dokter detty pun memberikan saran agar aku menjalani beberapa tes dan pemeriksaan sebelum hamil dan saat udah hamil nantinya.

Sebelum hamil, aku disarankan untuk Tes TORCH lengkap. Igg dan Igm Tokso, rubella, cmv, hsv. Dan juga melakukan Vagina Swab untuk mengecek cairan pada vagina.

Disaat hamil, aku juga disarankan untuk melakukan tes ISK (infeksi Saluran Kencing), Tes vagina swab ulang, dan juga mengukur panjang leher rahim saat hamil (biasanya saat masuk trimester kedua).

img_20190213_2010391611889060.jpg
Daftar rangkaian Tes yang mesti dijalani sebelum dan saat hamil nanti.

TES TORCH

Sebelum hamil, aku disarankan periksa TORCH karena selama ini aku memang belum pernah cek TORCH.
Besoknya, aku langsung ke laboratorium klinik pramita untuk minta tes TORCH. Tes TORCH di pramita ini sistemnya paketan. Paket panel TORCH (Igg dan IGm lengkap untuk tokso, rubella, cmv, hsv) harganya sekitar 2,4 juta. Sedangkan paket yang paling lengkap (ada tes HIV nya kalo gak salah) harganya sekitar 3jutaan. Memang mahal banget tes TORCH ini ya 😭 Tapi demi masa depan, rela mengambil tabungan. Lebih baik mencegah di awal daripada ketika terinfeksi kemudian hamil, lebih banyak biaya yang akan dikeluarkan (baca baca deh blog mami ubi gracemelia.com atau di IG nya @gracemelia yang mengkampanyekan awareness tentang TORCH terutama rubella).

Hasil lab tes TORCH baru keluar besoknya. Nungguin nya rada deg-degan juga karena kalo misal terinfeksi berarti kudu pengobatan dan program hamil kudu ditunda dulu. Belum lagi penasaran virus darimana dan kudu dengerin ceramah-ceramah dari ortu yang biasanya malah menyalahkan “makanya makan sayur, makanya olahraga, makanya blablabla”
Tapi Alhamdulillah, saat hasil tes keluar. Semuanya baik-baik aja. TORCH bersih dan sudah terdapat antibody.
Aku yang nggak bisa membaca hasil lab sampai menanyakan ke teman yang profesi dokter saking penasarannya.

Kemudian, saat kontrol dengan dr detty beliau berkata hasil lab bagus, bersih. Tidak perlu dikhawatirkan, hanya saat hamil nanti perlu waspada dengan virus CMV. Karena imunitas ibu hamil menurun dan virus CMV mudah menyerang ibu hamil kemudian menyerang janin melalui plasenta. Sehingga, disaat hamil nanti dr detty akan memberikan vitamin/suplemen untuk menambah imunitas.
Aku pun cukup lega….

Tes Vagina Swab

Lalu aku tanya, kapan tes Vagina swab (untuk mengecek koloni-koloni pada cairan vagina apakah terdapat bakteri jahat, jamur, dsb). Kata beliau, besok saja saat mau lepas IUD nya.
Aku nggak sabar, nggak mau menungguπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ aku akhirnya putuskan malam itu melepas KB IUD sekalian tes Vagina swab.
Tanpa ijin ke papa arthur dulu untuk lepas IUD (maafkan aku suamikuh).
Tapi Alhamdulillah suami mendukung aja waktu aku kasihtau, toh memang kita lagi merencanakan untuk menambah anak.

Hasil tes v-swab baru keluar 1 jam kemudian, tapi karena itu udah malam dan aku ajak arthur. Aku ambil hasil lab besokannya aja. Dan kata dokter detty tidak perlu ketemu dengan beliau, cukup via WA saja untuk memberitahu hasilnya.
Tapi Cukup dimaklumi kalau WA sama dokter dibalesnya lama. Hehehe.. bahkan kadang besokannya baru dibalas.

Keesokannya setelah mengambil hasil lab, aku pun mengirim foto hasil lab nya ke beliau, beberapa jam kemudian beliau membalas bahwa memang terdapat jamur dan koloni bakteri. Mungkin itu sebabnya aku sering mengalami keputihan juga.

img_20190227_143701426638563.jpg

dr detty bilang harus diobati dulu, dan akan memberikan resep obat. Untuk mengambil resep, tidak perlu bertemu beliau di poli. Cukup ambil resep di perawat poli kandungan saja, nanti beliau titipkan disana.

Tapi ternyata hari itu saat sudah sampai di RS, dr detty izin nggak praktek mendadak. Dan lupa nggak ngabarin aku (karena sudah janjian mau ambil resep). Aku diminta datang di jadwal praktek beliau berikutnya, dan beliau diminta untuk diingatkan dulu melalui WA.

Hari selanjutnya… Sore hari sebelum ke RS, aku coba wa dr detty untuk mengingatkan. Tapi ternyata beliau masih di luar kota dan izin tidak praktek. Ada dokter kandungan pengganti yang menggantikan beliau, katanya resepnya mau dititip ke dokter kandungan pengganti tersebut.
Kemudian malamnya aku langsung ke RS, dan mendapat resepnya.
Aku dikasih 3 macem obat, ada antibiotiknya dan juga ovula (obat yang dimasukkan melalui vagina untuk mengurangi keputihan). Obat tersebut dipakai selama 5 hari, dan jika sudah habis diminta kontrol lagi.
Tapi sayangnya, aku pas mendekati jadwal haid. Jadi pemakaian obatnya perlu ditunda dulu. Sebaiknya dipakai setelah haid selesai aja.

Kontrol Lagi….

Setelah obat habis, aku mendaftar untuk kontrol ke dr detty. Tapi ternyata, saat aku sudah datang di RS dr detty nggak praktek, dan nomor hp ku yang ada di sistem RS masih nomor hp yang lama, jadinya sms pemberitahuannya nggak masuk πŸ˜…Β Aku kena ZONK, hehehehe
Akhirnya aku daftar kontrol untuk jadwal praktek berikutnya, di hari rabu malem. Padahal kamis paginya aku pergi flight pagi. Umbrusss banget lah.. πŸ˜‚πŸ˜…

Sewaktu pemeriksaan, dr detty menanyakan kabar arthur. Sudah bisa apa, sudah disekolahin belum, dll. Ternyata beliau suka melihat video, foto, dan kegiatan Arthur yang aku share di facebook.

Hasil pemeriksaan lanjutan dibilang sudah bagus dan sudah bersih. Saat itu juga sekalian dibersihkan arena vagina nya, karena masih ada sisa obat yang masih menempel kemarin (kemarin dapet ovula, yang dimasukkan ke V). Karena dikhawatirkan sisa obat yang masih menempel tersebut malah menjadi jamur lagi.

Aku juga ditanya kapan hari terakhir haid nya. Dan sekalian aku konsultasi apakah sudah aman jika nanti hamil.Β Sambil lihat kalender di aplikasi gets baby, kapan haid, kapan subur. Dr detty malah menyarankan berhubungan 3hari sekali lebih baik πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ tapi kan papa arthur saat ini kerja nya rooster 3 minggu kerja – 1 minggu libur. Jadi kudu ngepasin segala kapan kira-kira siap dihamilin wkwkwkwk

Doakan saja ya gaes semoga kehamilan yang lebih dipersiapkan ini lancar sampai usia kandungan 40weeks nanti. Soalnya arthur udah ngebet banget pengen punya dedek. Tiap malem bilang “mau punya dedek” πŸ˜…

Bismillah….

Fisioterapi dengan menggunakan BPJS

Fisioterapi dengan menggunakan BPJS

Arthur sudah beberapa bulan ini Fisioterapi rutin. Jadwal arthur dalam seminggu adalah : 2x Neurosenso + brain gym dan 1x okupasi terapi.

Arthur terapi apaan, kenapa arthur terapi? Udah pernah ku ceritain di postingan blog ku sebelumnya. Bisa dibaca disini :Β Arthur Mengikuti Okupasi Terapi

Alhamdulillah sejak pertama kali mengikuti terapi, arthur nggak pernah nangis. Mungkin cuma pas awal sesi okupasi terapi aja dia ngambek ngambek dikit karena pas sensitip dan masih sedikit susah mengikuti (Masih sesukanya dia). Tapi beberapa kali dia sampe ketiduran saat sesi terapi, apalagi saat neurosenso. Karena neurosenso itu terapi sentuh, seperti dipijit tapi hanya dengan diraba dan disentuh untuk memberikan stimulasi sensori di tubuhnya. Karena Arthur mengalami sensory processing disorder. Kayaknya dia keenakan saat terapi neurosenso.

Sejak awal, aku pakai jalur umum alias nonBPJS – biaya pribadi.
Biaya untuk fisioterapi arthur di RSRC (Rumah Sakit Rajawali Citra, bantul)Β  adalah 60.000/kedatangan.
Tapi semakin kesini, kalo dihitung lumayan juga pengeluarannya meskipun sudah terbudget sendiri pengeluaran bulanan untuk arthur, termasuk untuk fisioterapinya ini.

Berhubung kami ada rencana program adik untuk arthur tahun ini, kami ingin berhemat dan budget bulanan arthur tersebut bisa dialihkan untuk kontrol bulanan kehamilan nantinya. Karena tempat kerja suami yang sekarang tidak memberikan fasilitas asuransi kesehatan keluarga cuma BPJS aja dan asuransi bulanan yang kami ikuti hanya mengcover kesehatan untuk rawat inap saja. Jadi, kalau terapi Arthur tercover BPJS, budget yang biasanya bisa untuk persiapan kontrol kehamilan di obsgyn.

Beberapa bulan sebelumnya aku memang sudah ada niatan untuk mengurus bpjs arthur ini, tapi waktu itu arthur malah sakit demam+diare sampe kudu opname di RS. Akhirnya tertunda, dan saat arthur sembuh semangat mengurus BPJS memudar πŸ˜‚

Surat Keterangan Diagnosa Dari Dokter Anak

Akhirnya awal tahun 2019 aku niatin untuk ngurus fisioterapi Arthur menggunakan BPJS, sampe tanya sana sini. Karena takut kalo misal faskes pertama nggak mau kasih rujukan (karena baca pengalaman orang rata-rata kok kaya gitu).
Dan yang dikhawatirkan, ketika melihat arthur seperti anak “sehat” lainnya, hanya masalah penglihatannya. Takutnya dokter pihak faskes memaklumi, karena emang arthur blind. Dan tidak melihat masalah yg berarti pada arthur. Padahal arthur mengalami gangguan sensory dan motorik.

Temen yang biasa mendampingi pasien BPJS dan paham masalah per-fisioterapi-an, ngasih saran supaya aku minta surat keterangan diagnosa dulu ke terapis. Sebagai bekal bahwa arthur memang perlu fisioterapi dan arthur ada masalah perkembangan. Setelah coba aku mintakan, ternyata terapis tidak berhak memberikan surat keterangan diagnosa ataupun surat keterangan dalam perawatan, kami diminta ke dokter umum atau dokter anak untuk meminta surat tersebut.

Kami pun mendatangi dokter anak di RSRC (menggunakan kalur umum / biaya pribadi). Kebetulan, dokter anak yang praktek di RSRC hanya 1 yaitu dr. Ristantio SpA.
Setelah cerita panjang lebar dengan beliau, kami pun diberikan surat keterangan diagnosa untuk bekal ke faskes 1.

Suratnya seperti ini :

img_20190211_104958663110323.jpg
surat keterangan diagnosa Arthur dari dokter anak

Saat itu, Arthur nggak diperiksa apa-apa, kami hanya ditanya-tanya dan bercerita saja tentang history dan riwayat prematuritas Arthur. Tapi karena pemahaman arthur kalo masuk ruang dokter itu diperiksa pake stetoskop lalu di suntik (biasa di vaksin), dia pun minta diperiksa pake stetoskop dulu πŸ˜‚ Akhirnya sama dr Ristan digendong dan disuruh tiduran di tempat periksa untuk diperiksa pakai stetoskop, baru deh Arthur mau diajak pulang πŸ˜‚ Tidak lupa Arthur bilang terima kasih ke pak dokter dan pamitan dadah kissbye juga. Hehehe….

Oiya, surat keterangan diagnosa dari dokter anak ini sifatnya nggak wajib digunakan untuk mengurus BPJS ya. TapiΒ  karena aku pengen punya “bukti yang kuat” bahwa Arthur memang perlu Fisioterapi, jadi aku perlu surat ini. Dan juga supaya nggak terlalu banyak bercerita kepada dokter saat ke faskes pertama nanti. Intinya sih ya biar nggak banyak bicara cukup kasih buktinya, Hehehe…

Faskes Pertama

Besoknya, kami langsung ke klinik faskes 1 BPJS. Di jogja, kami sekeluarga pilih klinik pratama PMI kota Yogyakarta sebagai faskes pertama. Karena dekat rumah, dan klinik pratama biasanya antrinya nggak seramai puskesmas. Kalo di puskesmas bisa setengah hari antrinya udah capek dan bete duluan, padahal cuma pengen minta rujukan. Pas dateng ke klinik pratama PMI, antrinya cuma 2-3 orang aja disana. Dan nggak perlu nunggu lama.
Setelah ditanya keperluan periksa oleh petugas, kami diberikan penjelasan ternyata sekitar akhir 2018 kemarin BPJS mengeluarkan aturan baru mengenai sistem rujukan. Karena faskes 1 arthur di area kota Jogja, bisanya kirim rujukan ke RS di area jogja aja. Padahal RSRC ada di kabupaten Bantul.
Jadi klinik PMI Kota Yogyakarta tidak bisa kirim rujukan balik ke RSRC πŸ’”
Setelah ketemu dokter dan ditanya-tanya, kemudian petugas kasih surat rujukan yang memberikan rujukan Arthur untuk ke RS Happyland (Waktu itu disuruh milih beberapa RS di Jogja, karena biasa di RS Happyland kami pun milih Happyland).

Daripada kalo pindah tempat terapi aku kudu mengulang lagi terapi arthur dari awal, asesmen ulang lagi, cerita history nya lagi, dll. Arthur sepertinya udah cocok terapi disana, udah kenal terapisnya, dan Aku juga kasihan kalau Arthur kudu adaptasi lagi. Karena Fisioterapi itu juga cocok-cocokan sih ama terapisnya. Akhirnya, surat rujukan ke RS Happylan itu nggak aku pakai. Dan aku mending pindahin faskes 1 arthur ke klinik di area bantul , mindahnya gampang kok tinggal pakai aplikasi JKN mobile. Walopun baru bisa dipake kesana bulan depannya.
Aku cari klinik terdekat dari rumah, males puskesmas soalnya antrinya pasti banyak dan lama πŸ˜…
Kebetulan, dideket rumah ada klinik baru buka. Ternyata klinik tersebut masuk area bantul (lokasinya perbatasan kotamadya dan Kabupaten BAntul)
Akhirnya aku pindah faskes arthur ke klinik pratama Qanita Jotawang. Walopun baru bisa dipake kesana bulan depannya (februari 2019).

Tibalah bulan februari..
Aku sudah merencanakan sebelumnya, di hari senin awal bulan februari aku mau bawa Arthur ke klinik pratama Qanita (faskes1) kemudian lanjut ketemu dokter anak sorenya.

Klinik Qanita ini masih baru beberapa bulan buka. Waktu kesana, belum ada pasien datang sama sekali. Tapi untunglah dokter jaga nya sudah datang.
Aku pun menceritakan tujuan kedatanganku, dan dengan bekal surat diagnosa dari dokter anak waktu itu. Setelah dilakukan anamnesis, ditanya-tanya, Terbitlah surat rujukan balik ke RSRC yang berl ditujukan ke dokter spesialis anak. Dan surat rujukan tersebut berlaku selama 3 bulan.

Ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan, faskes pertama gampang kok ngasih rujukannya. Entah memang gampang, atau karena aku udah bawa surat keterangan diagnosa dari dokter anak.

img_20190211_105015496403889.jpg
Surat Rujukan dari Faskes Tingkat Pertama

Dokter Spesialis Anak

Abis dari klinik Faskes Pertama, kita langsung ke RSRC karena arthur saat itu pas ada jadwal fisioterapi juga. Sambil menunggu arthur terapi, aku urus berkas rujukan BPJS untuk ketemu dokter anak sorenya.
Berkasnya antara lain :
Fotokopi kartu BPJS
Fotokopi KK/akte
Fotokopi surat rujukan dari Faskes Tingkat Pertama

Antrian pendaftaran pasien BPJS di RS cukup wow kudu punya stok ekstra sabar, tapi Alhamdulillahnya pelayanannya lumayan cepet dan berkasku udah komplit semua jadi langsung bisa daftar ke dokter anak untuk hari itu.
Dan untungnya aku udah booking ambil nomor antrian ke dokter anak sejak beberapa hari sebelumnya, karena kuota periksa ke dokter anak hari itu ternyata sudah full. Kalau enggak booking beberapa hari sebelumnya, Arthur nggak bisa ketemu dokter anak hari itu. Memang kudu bener-bener butuh perencanaan dan persiapan ngurus beginian yak. Baru pertama pake BPJS πŸ˜…

Setelah selesai urus berkas pendaftaran ke dokter anak dengan BPJS, dan arthur juga selesai sesi fisioterapinya. Kita pulang dulu. Tapi sorenya balik ke RSRC lagi untuk ketemu dokter anak. Arthur dapet antrian nomer 31 padahal udah daftar beberapa hari sebelumnya πŸ˜… untunglah masih bisa masuk kuota hari itu walopun dapet angka besar. Maklum, karena di RSRC dokter anaknya cuma ada 1, dan aku follow-followan di instagram sama beliau πŸ˜…

Sorenya, kita datang sengaja agak telat. Jadwal dokter mulai praktek jam 16, tapi kita dateng jam 17. Karena mbayangin antrinya mesti rame banget apalagi dapet nomer 31.

Karena urus berkas pendaftaran dengan BPJS sudah dilakukan siang tadi, jadi sore kita langsung dateng ke poli. Baru juga masuk sampai poli, nama arthur langsung dipanggil. Aku batin β€œlhah secepat itu?” ternyata perawat mengkonfirmasi tujuan aku ke dokter anak untuk mencari surat rujukan ke dokter rehab medik atau sekalian periksa. Karena kalau hanya mencari surat rujukan ke dokter rehab medik, sudah dibuatkan suratnya dan tidak perlu ketemu dokter nya nggak apa-apa. Mungkin karena waktu itu antriannya banyak dan crowded banget, dan sebelumnya dokter anak sudah pernah memberikan surat keterangan diagnosa juga.

Padahal udah mbayangin antrian periksa nya bakalan rame, nunggu, boring, dll.. tapi ternyata dateng langsung dikasih surat nya πŸ˜…

img_20190211_105031951701429.jpg
Surat Keterangan Dalam Perawatan Dari Dokter Anak

Setelah dikasih surat rujukan ke rehab medik, aku urus administrasi dan daftar untuk ketemu dokter rehab medik dengan menunjukan berkas pendaftaran BPJS dan surat rujukan yang sudah diberikan oleh dokter anak. Arthur dapet jadwal ketemu dokter rehab medik 2 hari kemudian dapet antrian no.10 lumayan lah nggak nunggu lama-lama amat πŸ˜…

Arthur terakhir konsultasi dengan dokter rehab medik saat usia 8bulanan sewaktu belum bisa tengkurap dan kepalanya belom bisa tegak, setelah itu arthur disarankan fisioterapi tapi nggak periksa konsultasi ulang ke dokter rehab medik karena overall motorik kasar ya sudah bisa tercapai πŸ˜…

Dokter Rehab Medik

2 hari setelahnya, jadwal ketemu dokter rehab medik. Nggak antri terlalu lama karena dapet antriannya nomor 10 dan datengnya juga dipasin. Jadwal Dokter nya jam 15.00 Tapi kita baru berangkat Jam 15 lebih dari rumah.

Sama dokter nya nggak diperiksa secara fisik, cuma anamnesis dan asessment perkembangan arthur aja. Aku cuma ditanya-tanya Apa yang sudah bisa dia capai dan apa yang belum bisa dia capai. Dokter juga menanyai Arthur untuk mengecek kemampuan pemahaman bahasa dan komunikasinya.

Kesimpulannya sih dokter memberikan diagnosa arthur sensory processing disorder dan motorik development disorder. Karena efek hambatan penglihatannya tersebut.

Lalu dokter memberikan arthur jadwal untuk fisioterapi dan okupasi terapi, melanjutkan yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Dan 1 bulan lagi kontrol ulang untuk melihat sejauh mana perkembangan arthur.

img_20190211_105056934464709.jpg
Jadwal Fisioterapi dan Okupas Terapi Arthur, yang diberikan oleh dokter Rehabilitasi Medik

Akhirnya selesai sudah mengurus keperluan fisioterapi arthur dengan menggunakan BPJS. Tinggal besok saat datang untuk fisioterapi, aku diminta mengurus dulu di bagian asuransi RS dengan membawa berkas dan jadwal yang sudah diberikan oleh dokter.
Nah, yang menjadi tantangan adalah antrian mengurus asuransi ini πŸ˜‚Β Karena pendaftaran pasien BPJS kan wow banget antriannya.
Kepengurusannya bisa dilakukan sehari sebelumnya sih, untuk mendaftar jadwal terapi besoknya. Tapi antri nya bisa puluhan orang. Malahan bisa sampe seratusan kalo pas lagi rame-ramenya. Tinggal pinter-pinter membaca situasi untuk mengambil nomor antrian kapan, supaya bisa menyesuaikan. Biasanya waktu Arthur lagi terapi aku sambi ngantri ke bagian asuransi. Kalau pas lagi beruntung, bisa dipanggil duluan sebelom Arthur selesai terapi. Tapi kalau enggak, Arthur udah selesai terapi belom dipanggil juga nomor antriannya. Biasanya sih kalau ARthur udah selesai, tapi antrinya masih lama dan banyak, Arthur pulang duluan sama eyang, kakung, atau tantenya (tergantung saat itu yang nganterin siapa), kemudian aku lanjut ngantri pulangnya naik gojek. Positifnya sih, sambil nungu ngantri aku bisa sambil ngetik blog ini pakai smartphone. Hehehe…