Fisioterapi dengan menggunakan BPJS

Fisioterapi dengan menggunakan BPJS

Arthur sudah beberapa bulan ini Fisioterapi rutin. Jadwal arthur dalam seminggu adalah : 2x Neurosenso + brain gym dan 1x okupasi terapi.

Arthur terapi apaan, kenapa arthur terapi? Udah pernah ku ceritain di postingan blog ku sebelumnya. Bisa dibaca disini :ย Arthur Mengikuti Okupasi Terapi

Alhamdulillah sejak pertama kali mengikuti terapi, arthur nggak pernah nangis. Mungkin cuma pas awal sesi okupasi terapi aja dia ngambek ngambek dikit karena pas sensitip dan masih sedikit susah mengikuti (Masih sesukanya dia). Tapi beberapa kali dia sampe ketiduran saat sesi terapi, apalagi saat neurosenso. Karena neurosenso itu terapi sentuh, seperti dipijit tapi hanya dengan diraba dan disentuh untuk memberikan stimulasi sensori di tubuhnya. Karena Arthur mengalami sensory processing disorder. Kayaknya dia keenakan saat terapi neurosenso.

Sejak awal, aku pakai jalur umum alias nonBPJS – biaya pribadi.
Biaya untuk fisioterapi arthur di RSRC (Rumah Sakit Rajawali Citra, bantul)ย  adalah 60.000/kedatangan.
Tapi semakin kesini, kalo dihitung lumayan juga pengeluarannya meskipun sudah terbudget sendiri pengeluaran bulanan untuk arthur, termasuk untuk fisioterapinya ini.

Berhubung kami ada rencana program adik untuk arthur tahun ini, kami ingin berhemat dan budget bulanan arthur tersebut bisa dialihkan untuk kontrol bulanan kehamilan nantinya. Karena tempat kerja suami yang sekarang tidak memberikan fasilitas asuransi kesehatan keluarga cuma BPJS aja dan asuransi bulanan yang kami ikuti hanya mengcover kesehatan untuk rawat inap saja. Jadi, kalau terapi Arthur tercover BPJS, budget yang biasanya bisa untuk persiapan kontrol kehamilan di obsgyn.

Beberapa bulan sebelumnya aku memang sudah ada niatan untuk mengurus bpjs arthur ini, tapi waktu itu arthur malah sakit demam+diare sampe kudu opname di RS. Akhirnya tertunda, dan saat arthur sembuh semangat mengurus BPJS memudar ๐Ÿ˜‚

Surat Keterangan Diagnosa Dari Dokter Anak

Akhirnya awal tahun 2019 aku niatin untuk ngurus fisioterapi Arthur menggunakan BPJS, sampe tanya sana sini. Karena takut kalo misal faskes pertama nggak mau kasih rujukan (karena baca pengalaman orang rata-rata kok kaya gitu).
Dan yang dikhawatirkan, ketika melihat arthur seperti anak “sehat” lainnya, hanya masalah penglihatannya. Takutnya dokter pihak faskes memaklumi, karena emang arthur blind. Dan tidak melihat masalah yg berarti pada arthur. Padahal arthur mengalami gangguan sensory dan motorik.

Temen yang biasa mendampingi pasien BPJS dan paham masalah per-fisioterapi-an, ngasih saran supaya aku minta surat keterangan diagnosa dulu ke terapis. Sebagai bekal bahwa arthur memang perlu fisioterapi dan arthur ada masalah perkembangan. Setelah coba aku mintakan, ternyata terapis tidak berhak memberikan surat keterangan diagnosa ataupun surat keterangan dalam perawatan, kami diminta ke dokter umum atau dokter anak untuk meminta surat tersebut.

Kami pun mendatangi dokter anak di RSRC (menggunakan kalur umum / biaya pribadi). Kebetulan, dokter anak yang praktek di RSRC hanya 1 yaitu dr. Ristantio SpA.
Setelah cerita panjang lebar dengan beliau, kami pun diberikan surat keterangan diagnosa untuk bekal ke faskes 1.

Suratnya seperti ini :

img_20190211_104958663110323.jpg
surat keterangan diagnosa Arthur dari dokter anak

Saat itu, Arthur nggak diperiksa apa-apa, kami hanya ditanya-tanya dan bercerita saja tentang history dan riwayat prematuritas Arthur. Tapi karena pemahaman arthur kalo masuk ruang dokter itu diperiksa pake stetoskop lalu di suntik (biasa di vaksin), dia pun minta diperiksa pake stetoskop dulu ๐Ÿ˜‚ Akhirnya sama dr Ristan digendong dan disuruh tiduran di tempat periksa untuk diperiksa pakai stetoskop, baru deh Arthur mau diajak pulang ๐Ÿ˜‚ Tidak lupa Arthur bilang terima kasih ke pak dokter dan pamitan dadah kissbye juga. Hehehe….

Oiya, surat keterangan diagnosa dari dokter anak ini sifatnya nggak wajib digunakan untuk mengurus BPJS ya. Tapiย  karena aku pengen punya “bukti yang kuat” bahwa Arthur memang perlu Fisioterapi, jadi aku perlu surat ini. Dan juga supaya nggak terlalu banyak bercerita kepada dokter saat ke faskes pertama nanti. Intinya sih ya biar nggak banyak bicara cukup kasih buktinya, Hehehe…

Faskes Pertama

Besoknya, kami langsung ke klinik faskes 1 BPJS. Di jogja, kami sekeluarga pilih klinik pratama PMI kota Yogyakarta sebagai faskes pertama. Karena dekat rumah, dan klinik pratama biasanya antrinya nggak seramai puskesmas. Kalo di puskesmas bisa setengah hari antrinya udah capek dan bete duluan, padahal cuma pengen minta rujukan. Pas dateng ke klinik pratama PMI, antrinya cuma 2-3 orang aja disana. Dan nggak perlu nunggu lama.
Setelah ditanya keperluan periksa oleh petugas, kami diberikan penjelasan ternyata sekitar akhir 2018 kemarin BPJS mengeluarkan aturan baru mengenai sistem rujukan. Karena faskes 1 arthur di area kota Jogja, bisanya kirim rujukan ke RS di area jogja aja. Padahal RSRC ada di kabupaten Bantul.
Jadi klinik PMI Kota Yogyakarta tidak bisa kirim rujukan balik ke RSRC ๐Ÿ’”
Setelah ketemu dokter dan ditanya-tanya, kemudian petugas kasih surat rujukan yang memberikan rujukan Arthur untuk ke RS Happyland (Waktu itu disuruh milih beberapa RS di Jogja, karena biasa di RS Happyland kami pun milih Happyland).

Daripada kalo pindah tempat terapi aku kudu mengulang lagi terapi arthur dari awal, asesmen ulang lagi, cerita history nya lagi, dll. Arthur sepertinya udah cocok terapi disana, udah kenal terapisnya, dan Aku juga kasihan kalau Arthur kudu adaptasi lagi. Karena Fisioterapi itu juga cocok-cocokan sih ama terapisnya. Akhirnya, surat rujukan ke RS Happylan itu nggak aku pakai. Dan aku mending pindahin faskes 1 arthur ke klinik di area bantul , mindahnya gampang kok tinggal pakai aplikasi JKN mobile. Walopun baru bisa dipake kesana bulan depannya.
Aku cari klinik terdekat dari rumah, males puskesmas soalnya antrinya pasti banyak dan lama ๐Ÿ˜…
Kebetulan, dideket rumah ada klinik baru buka. Ternyata klinik tersebut masuk area bantul (lokasinya perbatasan kotamadya dan Kabupaten BAntul)
Akhirnya aku pindah faskes arthur ke klinik pratama Qanita Jotawang. Walopun baru bisa dipake kesana bulan depannya (februari 2019).

Tibalah bulan februari..
Aku sudah merencanakan sebelumnya, di hari senin awal bulan februari aku mau bawa Arthur ke klinik pratama Qanita (faskes1) kemudian lanjut ketemu dokter anak sorenya.

Klinik Qanita ini masih baru beberapa bulan buka. Waktu kesana, belum ada pasien datang sama sekali. Tapi untunglah dokter jaga nya sudah datang.
Aku pun menceritakan tujuan kedatanganku, dan dengan bekal surat diagnosa dari dokter anak waktu itu. Setelah dilakukan anamnesis, ditanya-tanya, Terbitlah surat rujukan balik ke RSRC yang berl ditujukan ke dokter spesialis anak. Dan surat rujukan tersebut berlaku selama 3 bulan.

Ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan, faskes pertama gampang kok ngasih rujukannya. Entah memang gampang, atau karena aku udah bawa surat keterangan diagnosa dari dokter anak.

img_20190211_105015496403889.jpg
Surat Rujukan dari Faskes Tingkat Pertama

Dokter Spesialis Anak

Abis dari klinik Faskes Pertama, kita langsung ke RSRC karena arthur saat itu pas ada jadwal fisioterapi juga. Sambil menunggu arthur terapi, aku urus berkas rujukan BPJS untuk ketemu dokter anak sorenya.
Berkasnya antara lain :
Fotokopi kartu BPJS
Fotokopi KK/akte
Fotokopi surat rujukan dari Faskes Tingkat Pertama

Antrian pendaftaran pasien BPJS di RS cukup wow kudu punya stok ekstra sabar, tapi Alhamdulillahnya pelayanannya lumayan cepet dan berkasku udah komplit semua jadi langsung bisa daftar ke dokter anak untuk hari itu.
Dan untungnya aku udah booking ambil nomor antrian ke dokter anak sejak beberapa hari sebelumnya, karena kuota periksa ke dokter anak hari itu ternyata sudah full. Kalau enggak booking beberapa hari sebelumnya, Arthur nggak bisa ketemu dokter anak hari itu. Memang kudu bener-bener butuh perencanaan dan persiapan ngurus beginian yak. Baru pertama pake BPJS ๐Ÿ˜…

Setelah selesai urus berkas pendaftaran ke dokter anak dengan BPJS, dan arthur juga selesai sesi fisioterapinya. Kita pulang dulu. Tapi sorenya balik ke RSRC lagi untuk ketemu dokter anak. Arthur dapet antrian nomer 31 padahal udah daftar beberapa hari sebelumnya ๐Ÿ˜… untunglah masih bisa masuk kuota hari itu walopun dapet angka besar. Maklum, karena di RSRC dokter anaknya cuma ada 1, dan aku follow-followan di instagram sama beliau ๐Ÿ˜…

Sorenya, kita datang sengaja agak telat. Jadwal dokter mulai praktek jam 16, tapi kita dateng jam 17. Karena mbayangin antrinya mesti rame banget apalagi dapet nomer 31.

Karena urus berkas pendaftaran dengan BPJS sudah dilakukan siang tadi, jadi sore kita langsung dateng ke poli. Baru juga masuk sampai poli, nama arthur langsung dipanggil. Aku batin โ€œlhah secepat itu?โ€ ternyata perawat mengkonfirmasi tujuan aku ke dokter anak untuk mencari surat rujukan ke dokter rehab medik atau sekalian periksa. Karena kalau hanya mencari surat rujukan ke dokter rehab medik, sudah dibuatkan suratnya dan tidak perlu ketemu dokter nya nggak apa-apa. Mungkin karena waktu itu antriannya banyak dan crowded banget, dan sebelumnya dokter anak sudah pernah memberikan surat keterangan diagnosa juga.

Padahal udah mbayangin antrian periksa nya bakalan rame, nunggu, boring, dll.. tapi ternyata dateng langsung dikasih surat nya ๐Ÿ˜…

img_20190211_105031951701429.jpg
Surat Keterangan Dalam Perawatan Dari Dokter Anak

Setelah dikasih surat rujukan ke rehab medik, aku urus administrasi dan daftar untuk ketemu dokter rehab medik dengan menunjukan berkas pendaftaran BPJS dan surat rujukan yang sudah diberikan oleh dokter anak. Arthur dapet jadwal ketemu dokter rehab medik 2 hari kemudian dapet antrian no.10 lumayan lah nggak nunggu lama-lama amat ๐Ÿ˜…

Arthur terakhir konsultasi dengan dokter rehab medik saat usia 8bulanan sewaktu belum bisa tengkurap dan kepalanya belom bisa tegak, setelah itu arthur disarankan fisioterapi tapi nggak periksa konsultasi ulang ke dokter rehab medik karena overall motorik kasar ya sudah bisa tercapai ๐Ÿ˜…

Dokter Rehab Medik

2 hari setelahnya, jadwal ketemu dokter rehab medik. Nggak antri terlalu lama karena dapet antriannya nomor 10 dan datengnya juga dipasin. Jadwal Dokter nya jam 15.00 Tapi kita baru berangkat Jam 15 lebih dari rumah.

Sama dokter nya nggak diperiksa secara fisik, cuma anamnesis dan asessment perkembangan arthur aja. Aku cuma ditanya-tanya Apa yang sudah bisa dia capai dan apa yang belum bisa dia capai. Dokter juga menanyai Arthur untuk mengecek kemampuan pemahaman bahasa dan komunikasinya.

Kesimpulannya sih dokter memberikan diagnosa arthur sensory processing disorder dan motorik development disorder. Karena efek hambatan penglihatannya tersebut.

Lalu dokter memberikan arthur jadwal untuk fisioterapi dan okupasi terapi, melanjutkan yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Dan 1 bulan lagi kontrol ulang untuk melihat sejauh mana perkembangan arthur.

img_20190211_105056934464709.jpg
Jadwal Fisioterapi dan Okupas Terapi Arthur, yang diberikan oleh dokter Rehabilitasi Medik

Akhirnya selesai sudah mengurus keperluan fisioterapi arthur dengan menggunakan BPJS. Tinggal besok saat datang untuk fisioterapi, aku diminta mengurus dulu di bagian asuransi RS dengan membawa berkas dan jadwal yang sudah diberikan oleh dokter.
Nah, yang menjadi tantangan adalah antrian mengurus asuransi ini ๐Ÿ˜‚ย Karena pendaftaran pasien BPJS kan wow banget antriannya.
Kepengurusannya bisa dilakukan sehari sebelumnya sih, untuk mendaftar jadwal terapi besoknya. Tapi antri nya bisa puluhan orang. Malahan bisa sampe seratusan kalo pas lagi rame-ramenya. Tinggal pinter-pinter membaca situasi untuk mengambil nomor antrian kapan, supaya bisa menyesuaikan. Biasanya waktu Arthur lagi terapi aku sambi ngantri ke bagian asuransi. Kalau pas lagi beruntung, bisa dipanggil duluan sebelom Arthur selesai terapi. Tapi kalau enggak, Arthur udah selesai terapi belom dipanggil juga nomor antriannya. Biasanya sih kalau ARthur udah selesai, tapi antrinya masih lama dan banyak, Arthur pulang duluan sama eyang, kakung, atau tantenya (tergantung saat itu yang nganterin siapa), kemudian aku lanjut ngantri pulangnya naik gojek. Positifnya sih, sambil nungu ngantri aku bisa sambil ngetik blog ini pakai smartphone. Hehehe…

Advertisements
3/12/2018 International Day Of People With Disabilities

3/12/2018 International Day Of People With Disabilities

Perjalanan yang sangat panjang dan luar biasa ketika dianugerahi anak yang terlahir sebelum waktunya. Tidak ada yang meminta, tidak ada yang berharap terjadi. Tapi apalah daya ketika Tuhan yang berkehendak.

Bayi yang terlahir kecil dan berat badan lahir yang rendah, hanya salah satu dari sekian banyak masalah yang kami hadapi.

Arthur. Dia adalah anak pertama kami. seorang anak laki-laki yang terlahir sebelum waktunya. Arthur lahir pada 24 januari 2016, di usia kehamilan 30 minggu, berat badan lahir hanya 1500 gram.

Saat ini, dia baru akan berusia 3 tahun.

Dan dia sekarang hingga seumur hidupnya, menjadi seorang penyandang difabel karena kelahirannya yang prematur tersebut.

RETINOPATHY OF PREMATURITY, menjadi salah satu resiko prematuritas yang harus ditanggungnya seumur hidup. Karena kebutaannya bersifat permanen.

Ya, dia terdiagnosa buta disaat usianya 4bulan karena ROP stage 5. Padahal, jika terdeteksi lebih dini penglihatannya masih bisa terselamatkan.

Tidak semudah itu diagnosa yang Arthur dapatkan. Berbagai macam rangkaian pemeriksaan medis harus Arthur jalani.

Karena pada awalnya, arthur diduga retinoblastoma (kanker pada retina) dan mata kanan arthur harus diambil untuk diganti mata palsu, sementara mata kiri dilakukan tindakan kemoterapi.

Tapi beruntunglah, kami tidak langsung menyetujui saran dokter tersebut. Keesokan hari nya kami membawa Arthur ke Jakarta, untuk mendapatkan second opinion. Beberapa rumah sakit kami datangi, dan akhirnya kami pun bertemu dengan dokter yang tepat, and finally arthur terdiagnosa ROP stage 5. Retina arthur sudah terlepas (totally detachment) – kebutaan bersifat permanen karena kerusakan terjadi pada retina.

Dokter berkata tidak ada harapan dengan penglihatannya. Bahkan, jika dilakukan operasi keberhasilannya sangat kecil sekali. Karena kondisi retina arthur sudah terlepas total.

Saat itu dokter memberikan kami pilihan :

Pilihan pertama, membawa arthur ke jepang untuk operasi vitrektomi dengan harapan dan keberhasilan yang sangat kecil, atau bahkan beresiko memperburuk penglihatannya saat ini.

Pilihan kedua, mendidik Arthur agar bisa mandiri dan beraktivitas seperti anak lain pada umumnya.

Dan kami pun mengambil pilihan yang kedua, karena kondisi keuangan kami saat itu tidak memungkinkan membawa arthur untuk pembedahan mata di jepang. Apalagi dokter berkata bahwa hasil operasi juga bisa beresiko memperburuk sisa penglihatan arthur saat ini.
Jadi, lebih baik kami menyimpan uang yang kami miliki untuk pendidikan dan persiapan masa depan arthur.

Tapi kami masih bersyukur, Arthur “hanya” terdiagnosa Retinopathy Of Prematurity stage 5, bukan retinoblastoma yang bisa mengancam nyawanya.

Terpuruk, marah, sedih, denial. Semua itu sudah kami lewati.
Yang sedang kami lakukan saat ini adalah fokus untuk mempersiapkan dan mendidik arthur agar lebih kuat dalam menghadapi kehidupan dan melawan dunia.

Arthur memiliki kesempatan dan hak untuk bermain, belajar, bersosialisasi, dan beraktivitas seperti anak lain pada umumnya. Kami tidak membatasinya meskipun kondisinya terbatas.
Kami percaya suatu saat nanti, jerih payah yang kami lakukan untuknya disaat ini, akan membuat arthur melewati keterbatasannya hingga tak terbatas.

Kehadiran Arthur pun Menjadi pelajaran bagi kami, untuk lebih bersyukur dan memaknai hidup ini.
Kami percaya bahwa Allah itu tidak pernah tidak adil kepada umatNya.

See the ability not the disability.

Because it’s a time to focus on abilities not disabilities.

Di Indonesia, masih jauh tertinggal dari negara lain mengenai fasilitas terhadap penyandang difable.

Beruntunglah ada sebuah komunitas kecil yang didampingi oleh pemerhati balita tuna netra dan juga konsultan pendidikan dari perkins. Kami menamainya โ€œbaby communityโ€. Anggotanya adalah para orangtua yang memiliki anak tuna netra.

Disana kami belajar bagaimana mengajarkan anak-anak kami supaya bisa mandiri dan bertumbuh kembang dengan baik.

Kami juga sering belajar dari website negara lain karena sumber informasi di Indonesia sangat terbatas dan masih tertinggal jauh dari negara lain, khususnya tentang cara mendidik anak tunanetra yang masih berusia dini.

Menurutku, hal yang paling penting dan menjadi dasar mendidik saat anak masih berusia dini. Karena akan menjadi bekal di kehidupannya di masa yang akan datang.

semoga kita bisa membuat Indonesia yang ramah terhadap penyandang difabel. baik aksesibilitas, sarana prasarana, pendidikan, kesehatan, maupun lingkungan sosial.
Karena peran pemerintah saja tidak cukup, tapi kehidupan sosial bermasyarakat pun juga harus mendukung keberadaan penyandang difabel.

Untuk para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, apapun kondisinya. Tetap semangat dan jangan pernah menyerah. Lihatlah bagaimana anakmu berjuang hingga saat ini, kamu harus selalu mendampingi dan mendukungnya.

Selamat Hari Disabilitas Internasional

TANTRUM

TANTRUM

Masuk usia 2,5 tahun lebih, Arthur mulai suka tantrum.

Sebelum Arthur bisa tantrum begini, aku udah baca-baca artikel dan tips bagaimana menangani anak yang sedang tantrum. Tapi yang dikatakan artikel – artikel itu sungguhlah tidak seindah kenyataannya. Nggak segampang itu praktekinnya.

Karena kami masih tinggal menumpang dengan ortu, jadi intervensi pola asuh pun seringkali terjadi. Enaknya sih jadi ada yang bisa dititipin arthur dan bantuin ngemong arthur.

Dan masih untung , ketika Arthur mulai bisa tantrum gini aku ada di Jogja. Bukan di Bekasi sama mertua. Karena bakalan lebih rempong urusannya kalo Arthur tantrum nya disana, yang ada nanti aku cuma dianggap nggak becus ngurus anak dan drama – drama lainnya karena ngediemin anak yang lagi tantrum.

Walaupun sebenernya sih sama aja mau mertua atau ortu sendiri. Sama – sama terintervensi pola asuh nya. Tapi kalo sama ortu sendiri kan nggak rikuh, mau bilang apa, mau marah , mau emosi. Ortu kadang bisa ngerti kalo aku lagi nggak mau diganggu dulu. Tapi Kalo sama mertua nanti urusannya malah bisa jadi makin panjang kalo aku nya jadi emosi, dan kalo aku nya yang mengalah malah jadi tekanan batin sendiri.

Nah, ketika Arthur Tantrum, tanpa sebab yang jelas mau apa. Biasanya dia nangis teriak sambil meronta di kasur “nggak mauu iniiii… maunya ituuu ajaa..” Nggak ada yang paham apa yang dia minta, kita kasih pilihan A B C D pun justru malah makin jadi serba salah. Dia jadi nangis mbingungi nggak jelas gitu. Yaudah daripada aku malah jadi emosi, stress dan senewen sendiri. Aku diemin aja dia sampe selesai nangis dan diem sendiri. Sambil ku awasin atau aku peluk.

Tapiiii…. kemudian mbah buyut nya datang, eyang nya dateng… Dan kemudian mengambil alih Arthur dari aku. Rasanya malah Grrrrrrrrr…..

Ya memang Arthur habis itu terus diem, atau kadang terus tidur digendong.

Tapi, bukan cara seperti itu yang mau aku lakukan untuk menghentikan tantrumnya Arthur….

Penyebab anak tantrum, biasanya :

  • over stimulasi
  • capek
  • ngantuk
  • laper
  • menginginkan sesuatu tapi tidak bisa mengkomunikasikannya
  • mendapat suatu hal yang tidak sesuai keinginannya.

Yang paling pusing dan bikin senewen para ortu adalah bagaimana menghentikan anak tantrum. Secara teori, caranya sih gampang.

  • Ajak anak ke tempat yang lebih tenang. Kalau ditempat umum bisa diajak ke tempat yang lebih sepi. Kalo di rumah bisa di kamar dan tutup pintunya.
  • Komunikasikan, tanyakan dia mau apa. Kalau keinginannya itu hal yang tidak bisa kita penuhi, beritau alasannya.
  • Tapi kalo anak lagi nggak bisa diajak komunikasi. Diemin aja dulu sampe agak tenang. Jangan ditanya mulu, yang ada dia malah makin emosi. Kita kalo lagi nangis dan lagi marah, tapi ditanya-tanyain melulu malah makin kesel juga kan?
  • Berikan waktu “time out” untuk anak mengatasi tantrumnya hingga lebih tenang. Tapi tetap diawasi. Jangan sampai melukai dirinya. Karena ada anak tantrum yang sampe melukai dirinya, jedotin ke tembok, banting badan kelantai, dll.
  • Ketika sudah tenang baru kita ajak komunikasi, jika perlu alihkan perhatiannya ke hal lain. Sehingga dia melupakan hal yang membuatnya tantrum.

Dan masalah klasik emak-emak jaman sekarang adalah : kita sudah tau bagaimana menghentikannya tapi malah mendapat intervensi dari orang lain ketika anak tantrum. Jadi bubar semua deh.

Ketika anak lagi nangis dikit udah diambil sama kakek atau neneknya. Diberikan ini itu , dituruti segala kemauannya. Padahal, jika seperti itu caranya anak akan menganggap “Berarti kalau aku mau minta ini itu , aku harus menangis teriak seperti tadi supaya dikasih”. Bubar jalan semua deh! Kalau gitu caranya, nanti ujung-ujungnya emaknya yang repot kan.

Dear para kakek nenek, semoga kalian membaca ini sehingga bisa lebih mengerti kami para orangtua, para ibu – ibuย  yang terkadang kesel dan sebel ketika anak kami yang sedang tantrum diambil alih oleh kalian.

1. Tantrum wajar terjadi pada anak usia diatas 2 tahun. kalo orang yang nggak tau sih biasanya kasih komentar “anaknya kok lagi rewel”
Padahal tantrum itu salah satu tahapan perkembangan emosional anak.
Jadi ya wajar aja ketika anak mengalami tantrum, nggak usah mbingungi santai aja (Asal bisa mbedain ya nangisnya anak tantrum dan anak yang kesakitan).

2. Ketika anak nangis meronta-ronta, kita bingung mau nya dia apa.
Yaudah kan, diemin dulu. Daripada kita malah jadi bingung dan stress sendiri.
Tunggu supaya anak agak tenang. Baru nanti dicoba tanya maunya apa.
Tapi, anak belum tenang biasanya udah “disamber” duluan.
Lhah Gimana ibunya bisa memahami dan mempelajari keinginan anak? Gimana ibunya bisa belajar mengatasi anak ketika tantrum?
Tapi nanti yang disalahin ibunya, dibilang nggak bisa ngurus anak, “anak nangis aja gak bisa diemin” dan berbagai komentar lain yang memojokkan ibu nya.
Emang, emak itu selalu salah ya??

3. Kalo ada anak tantrum nggak usah bingung dan jangan malah bikin bingung ibunya.
Cara menangani anak tantrum itu harus tenang. Ibunya kudu tenang, Dibikin setenang mungkin, walopun otak dan emosi kita rasanya ingin meletup.
Tapi kalo malah ada yang mbingungi, ngeributi, ikut-ikutan. Malah jadi buyar semua deh.

4. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan.
Berilah kepercayaan pada ibunya. Anak itu milik dan tanggungjawab ayah ibunya. Bukan simbah,kakek, nenek, om, tante, pakde, bude, apalagi tetangga.
Jangan justru dikasih komentar “anak nangis kok didiemin aja” “gimana sih gak bisa ngurus anak” “kasian anaknya nangis gitu blablabla”
Ini justru malah mancing emosi. Cukup tutup rapat pintu kalo perlu kunciin. Bilang sedang tidak menerima komentar apalagi sumbangan.

5. Butuh waktu dan proses.
yakin deh anak itu pasti bisa diem setelah nangis-nangis cranky. Cuma perlu waktu. Jadi, cukup kasih waktu untuk menenangkannya.
Ketika anak udah mulai sedikit tenang, bisa dialihkan perhatiannya ke hal lain . melupakan penyebab dia tantrum.

Selesai kan?

Sebenernya menangani anak tantrum nggak repot. Cuma lingkungan dan orang lain disekitar kita yang terkadang malah bikin repot.

Percayalah, kami punya alasan melakukan ini. Dan ini cara kami.

Dan kami tau niat baik pemberi intervensi anak-anak kami.

Tapi tolong berikan kepercayaan juga kepada kami.

 

Mohon maaf jika tulisan saya ini agak sedikit emosional, karena memang sedikit mengandung curhat. Hahahaha

Apa yang harus saya lakukan ketika anak saya mendapat diagnosa Retinopathy Of Prematurity Stage 5?

Apa yang harus saya lakukan ketika anak saya mendapat diagnosa Retinopathy Of Prematurity Stage 5?

Nggak cuma sekali dua kali aku menerima info langsung dari ibu yang anaknya baru saja terdiagnosa ROP stage 5 oleh dokter. Biasanya mereka nemu blog ku ini dari google, kemudian dapet instagram ku dan langsung menghubungi lewat DM instagram.

Kadang perasaanku udah nggak enak duluan, kalau ada request inbox di DM instagram dari seorang ibu yang nggak aku kenal sebelumnya. Karena biasanya mereka memperkenalkan diri dan berkata bahwa anaknya juga ROP stage 5. Sudah beberapa kali kejadian seperti itu. Belum lagi info yang diterima melalui Grup Facebook Komunitas Premature Indonesia dan Grup Facebook Kasih Sayang Bayi Premature, dan juga informasi dari rekan sesama edukator premature Indonesia.

Di sisi lain, aku bersyukur blog ku ini (yang lumayan lama nggak aku sentuh hehehe) bisa membantu orang lain. Alhamdulillah… Karena memang dari awal aku bikin blog, salah satu tujuan ku adalah berbagi informasi.

Aku bisa memahami perasaan para orang tua yang anaknya baru saja terdiagnosa ROP. Karena aku pernah berada di posisi itu. DENIAL.

Lalu bagaimana caranya kita bangkit dari titik denial, atau move on?

Awalnya,yang dirasakan saat denial pastilah kita sangat sedih, marah, tidak bisa menerima keadaan. Tidak bisa menerima kenyataan bahwa anak kita buta, tidak terima kalau dia tidak bisa melihat. Pikiran yang bermacam – macam selalu datang. Menyalahkan siapa saja. Menyalahkan diri sendiri, orang lain, menyalahkan dokter atau rumah sakit, bahkan menyalahkan Tuhan. Dan di setiap doa pun masih berkata “Kenapa harus Anakku?” “Apa dosaku?” dll. Padahal dengan seperti itu tidak akan mengembalikan penglihatan si anak. Yang ada kita malah berdosa, karena menyalahkan Tuhan.

Silahkan saja kalau mau bersedih, itu manusiawi. Saya pun pernah mengalami itu, bersedih, menangis tiap malam, menangis saat selesai Shalat, menangis saat berdoa. Tapi jangan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan dan berada di titik denial itu. Karena dengan seperti itu, tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Ingatlah bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka” ๐Ÿ™‚

Lalu bagaimana caranya “mengubah” dan segera move on.

Apa yang harus dilakukan ketika anak terdiagnosa Rop stage 5 dan divonis buta? Berikut ini saya share menurut pengalaman pribadi saya. 10 hal yang harus dilakukan sebagai orangtua ketika anak divonis buta karena Rop stage 5.

  1. Selesaikan masa denial anda

Kuatkan hati serta berpikirlah positif. Anda tidak akan terus-terusan selamanya meratapi nasib. Anda sendiri yang dapat mengubah nasib anda. Pikirkan anak anda, ketika ibu nya sedih pastilah dia akan merasa sedih juga karena adanya keterikatan batin.

Memang, ngomong itu gampang. Tetapi susah dan berat untuk menjalaninya, namun yakinlah bahwa anda harus mampu melewati masa denial tersebut.

2. Dekatkan diri dengan Tuhan

Ketika manusia sedang berada di kondisi terpuruk, biasanya baru ingat bahwa dia punya Tuhan.

Kita tidak bisa menyalahkan takdir, tidak bisa menyalahkan Tuhan. Tapi berpikirlah positif, bahwa Tuhan memberikan kondisi seperti ini karena kita dipercaya mampu untuk menjalaninya. Kita adalah seorang ibu special, yang dianugerahi anak special. Tidak semua ibu mampu menjalani “ujian” seperti ini.

Gantilah doa tangisan tersebut dengan penuh rasa syukur. Karena apapun keadaannya kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan.

Bersyukur bahwa hanya penglihatannya saja yang mengalami gangguan. Bersyukurlah bahwa anak anda masih diberikan kehidupan yang panjang, dan masih bisa menemani hari – hari anda.

3. Berpikirlah bahwa setiap individu itu unik

Setiap manusia yang dilahirkan itu tidak ada yang sama, bahkan anak kembar pun memiliki perbedaan. Masing – masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Lihatlah anak kita, dia memang berbeda karena penglihatannya. Anggaplah itu sesuatu yang unik. Jangan selalu melihat hal tersebut sebagai suatu kekurangan. Karena pada hakekatnya manusia memanglah tidak ada yang sempurna.

Kita pun bisa mengubah kekurangan yang dimilikinya tersebut menjadi kelebihan yang ada pada dirinya, dengan menonjolkan potensi yang dia miliki.

4. Dukungan orang terdekat dan keluarga

Dukungan yang paling utama adalah dari pasangan. Kalian berdua sebagai kedua orangtuanya harus bisa menerima kondisi anak dan memberikan yang terbaik untuk anak.

Lalu keluarga inti. Si kakak, kakek, nenek, tante , om, dll.

Dukungan dari keluarga sangatlah penting demi tumbuh kembang dan keberlangsungan masa depan anak.

Dan jika perlu, mintalah dukungan dari kerabat atau sahabat terdekat anda.

5. Bergabunglah dengan komunitas / support group

Untuk kasus ROP, kami memiliki sebuah support group yang berisi orang tua bayi dan balita tuna netra. Komunitas kecil ini bernama “baby community”. Awalnya hanya di grup wa saja, tapi karena wa grup terbatas jumlah member nya dan tiap tahun kami menemukan data bayi ROP sehingga member terus bertambah. Jadi, akhirnya ibu prima membuatkan grup di facebook. Jika anda adalah ortu anak dengan hambatan penglihatan silahkan join ke grup FB “Baby Community”.

Disana bisa sharing mengenai tumbuh kembang anak, stimulasi anak tuna netra, dan juga hambatan atau kesulitan apa saja yang ditemui saat mendampingi anak.

6. Bertemulah dengan orangtua yang memiliki nasib yang sama

Ketika bertemu dengan ibu atau orang tua yang memiliki nasib yang sama, kita akan merasa bahwa kita tidak sendirian.

Setelah Arthur terdiagnosa dulu, saya dikenalkan dengan ibu primaningrum lalu beliau mengajak saya untuk bergabung di baby community. Disanalah saya bertemu dengan orangtua lain yang memiliki nasib yang sama. Beban saya lama-lama menjadi ringan.

Apalagi saat pertemuan offline (kopdar), saya pun banyak belajar dari orangtua yang lain yang lebih berpengalaman. Sehingga saya tau apa saja yang harus saya lakukan.

7. Tidak usah pedulikan kata orang. Ambil yang positif, buang yang negatif

Tidak dipungkiri bahwa suatu saat pasti akan bertemu orang yang nyinyir dan julid dengan kondisi anak kita. Mau dinyinyirin langsung di depan kita, diomongin di belakang kita, komentar di sosmed, atau diliatin mulu. Tidak usah dipedulikan, jika tidak perlu tidak usah ditanggapi.

Selalu berpikir bahwa kita lah yang paling tau dengan kondisi anak.

Hidup kita yang jalani, mereka hanya bisa komentar.

8. Carilah informasi dan berkenalan dengan Tuna Netra yang menginspirasi

Banyak diantara kita yang tidak tahu bahwa di luar sana, banyak penyandang disabilitas netra yang sukses. Carilah informasi tersebut, zaman sekarang cari informasi kan udah gampang banget. Udah ada internet yang bisa diakses dengan smartphone. Jika memungkinkan, cobalah ajak berkenalan atau sekedar sharing. Supaya tau bahwa masa depan seorang penyandang disabilitas netra tidak hanya bisa menjadi “tukang pijat” (Karena selama ini anggapan negatif masyarakat seperti itu). Diantara mereka ada yang menjadi pengajar guru atau dosen, Ustadz, Musisi , Penyanyi, Pianis, Aktivis, atlet,dll.

Saya sendiri tidak begitu banyak mengenal para tuna netra yang sudah sukses. Untuk kasus yang tuna netra karena ROP, ada musisi cilik seperti : Michael Anthony, Ariani Nisma Putri, Zizi Raziq Shodiq,dan mungkin masih banyak lagi yang belum saya tau. Yang sudah dewasa dan menjadi aktivis antara lain : Sikdam Hasim Gayo, Dimas Muharram, (yang saya udah pernah ketemu). Dan masih banyak nama lain, mungkin coba bisa browsing di google.

Dan mereka bisa sukses, karena dukungan utama dari keluarga terutama orang tuanya.

9. Gali info sebanyak – banyaknya yang berhubungan dengan persiapan masa depan anak

Cari info sebanyak- banyaknya yang berhubungan dengan stimulasi maupun persiapan masa depan anak. Misalnya konsultasi dengan psikolog, konsuktasi klinik tumbuh kembang yang khsusus menangani ABK, mendatangi kampus yang memiliki jurusan Pendidikan Luar Biasa, mendatangi SLB, mencari info inklusi, dll. Apalagi sekarang banyak informasi yang bisa didapat dengan internet, browsinglah informasi dari dalam maupun luar negeri. Banyak website luar negeri yang bisa dimanfaatkan, jika kesulitan dengan bahasanya ada google translate.

10. Fokuslah dengan tumbuh kembang anak

1000 hari pertama kehidupan adalah periode emas anak,meskipun kadang kita anggap mereka belum paham apa-apa tapi pada saat itu, otak mereka seperti spons yang dapat menyerap berbagai mmacam informasi. Untuk itu, stimulasi sejak dini penting dilakukan, apalagi untuk ABK.

Karena masa depan anak tidak bisa diulang. Jika diagnosanya hanyalah ROP stage 5, tumbuh kembangnya sebetulnya bisa seperti anak normal lainnya kalau orang tuanya menstimulasi nya sejak dini. Jangan sampai Global Develompment Delay, kecuali ada masalah penyerta lainnya.

Itu tadi sedikit tips dan saran dari saya. Berdasarkan pengalaman saya dulu.

Semoga bermanfaat dan bisa membantu.

jika dirasa ada yang ingin sharing tentang hal tersebut, atau ada yang ingin ditanyakan. Silahkan aja bisa email atau Dm di instagram saya.

Email : rannyaditya@ymail.com

Instagram : @rannyaditya

Tips cara cepat menghafal braille (untuk orangtua)

Tips cara cepat menghafal braille (untuk orangtua)

Huruf Braille

 

Rumus Dasar Huruf Braille

Huruf braille terdiri dari kombinasi 6 titik yang baku berlaku seluruh dunia.

Cara membaca dari kiri ke kanan.

Cara menulis dari kanan ke kiri. Kenapa? agar saat tulisan huruf braille dibalik, akan bisa terbaca (teraba) dari kiri ke kanan. Karena bentuk huruf braille itu titik-titik yang timbul dan bisa diraba.

Penyebutan titik adalah titik 1, titik 2 dst hingga titik 6. (Lihat gambar dibawah untuk lebih jelas)

Sumber : ibu primaningrum

 

Berikut ada 3 tips menghafal huruf braille (mode baca) untuk para orangtua.

 

1. Tips cara cepat menghafal braille dengan rumus “kotak TV”
(Dapet tips ini dari pak Rendy Roos Handoyo – dosen PLB UNY)

Rumus kotak TV ini, khusus untuk orangtua / orang yang awas. Bukan untuk diajarkan ke anak tuna netra. takutnya nanti anak malah bingung, karena cara mereka menghafal huruf dengan merabanya bukan melihat.

Pada dasarnya, menghafal huruf braille itu cukup huruf A sampai J saja. Selain dengan menghafal letak nomer titik nya. Juga bisa dengan rumus kotak TV ini.

Berikut penjelasannya :

*)sambil lihat gambar ya

Buatlah :

Titik A
Titik B – kebawah
Titik C – atas Kesamping
Titik E – miring turun
Titik I – miring naik

*) jika disambung menyerupai huruf : TV

Lalu buat kotak
Titik F : sudut kiri atas
Titik D : sudut kanan atas
Titik H : sudut kiri bawah
Titik J : sudut kanan bawah
Titik G : Kotak

Lalu, terbentuklah “kotak TV” yaitu huruf TV yang berada didalam kotak (lihat gambar dibawah ya)

Setelah hafal huruf A sampai J dengan rumus kotak TV tersebut. Selanjutnya huruf K sampai T, cukup menambahkan titik nomor 3.

Lalu huruf U V X Y Z , tambahkan titik nomor 3 dan 6.

Untuk Huruf W, adalah titik 2 4 5 6.

mohon maaf ya jika penjelasan saya kurang dipahami ๐Ÿ˜…๐Ÿ™๐Ÿ™

 

2. Tips menghafalkan dengan letak nomer titik.

Cukup dengan menghafalkan ini :

A : 1

B : 1 2

C : 1 4

D : 1 4 5

E : 1 5

F : 1 2 4

G : 1 2 4 5

H : 1 2 5

I : 2 4

J : 2 4 5

huruf K sampai T, cukup menambahkan titik nomor 3.

Lalu huruf U V X Y Z , tambahkan titik nomor 3 dan 6.

Untuk Huruf W, adalah titik 2 4 5 6. perlu dihafalkan sendiri karena di perancis dulu, louise braille tidak mengenal huruf W.

 

3. Cara lain menghafal, bisa melihat gambar dibawah ini

Sumber : pinterest

 

 

Sebelum mengajarkan anak membaca braille, ortu harus sudah bisa ya ๐Ÿ˜Š
semangat! ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Metode Konmari untuk mempermudah aktivitas keseharian Arthur

Metode Konmari untuk mempermudah aktivitas keseharian Arthur

Kondisi Arthur yang memiliki hambatan penglihatan membuat aku berpikir bagaimana supaya mobilitasnya di dalam rumah menjadi mudah dan juga mempermudah untuk melatih kemandiriannya.

Dulu waktu Arthur masih bayi, yang aku lakukan adalah, memberitahunya letak ruangan dan ada apa saja disana. Misalnya ketika kami berada di ruang tv, aku bilang itu suara tv, ada sofa, ada meja, dsb. Begitu juga ketika berada di ruangan lain. Ketika Arthur sudah mulai bisa bermobilitas (merangkak,merambat dan berjalan) aku menyentuhkan barang tersebut supaya dia tau letaknya.

Alhamdulillah, sejak masuk usia 2 tahun Arthur sudah dengan mudah bermobilitas di dalam rumah. Nggak nabrak, nggak jatuh. Mungkin hanya sesekali kejedut kalau dia ngebut. Orang lain biasanya bilang โ€œdia masih bisa lihat mungkinโ€ hehehe.. tapi udah diperiksa dokter dan therapist, di asessment penglihatannya juga dan hasilnya Arthur hanya respon dengan cahaya, bisa dibilang totally blind.

Meskipun Arthur sudah hafal ruangan, tapi aku ย masih pengen memberikannya kemudahan ketika berada di dalam rumah agar dia bisa beraktifitas dan mandiri seperti orang lain pada umumnya. Bagaimana meletakkan, menyimpan,mengambil dan mengembalikkan suatu barang dari suatu tempat.

Ketemu lah dengan metode konmari ini.

Awal mula tertarik dengan konmari, karena teman di komunitas ibu profesional yang sama-sama menjadi kontributor buku antologi yang berjudul โ€œHappy Momsโ€. Di buku tersebut, dia menceritakan pengalamannya ber konmari. Akuย  jadi smakin penasaran dengan konmari. Coba browsing sedikit, dan tertarik dengan metode konmari ini. Kemudian bulan puasa kemarin, komunitas ibu profesional mengadakan semacam social media challenge yang bertemakan Ramadhan Metamorph, yaitu berberes lemari dengan berkonmari. Aku pun tertarik dan coba ikutan,

Karena keterbatasan informasi (hanya melihat gambar-gambarnya di internet) tanpa tau secara teori dan sistemnya yang bener kayak gimana. Ternyata konmari ala – ala yang aku lakukan masih belum bener.

Sampai pada akhirnya ,ku lihat info di instagram kalau Komunitas Konmari Indonesia (Sekarang namanya Komunitas Gemar Rapi), membuka kelas belajar basic konmari batch ke-2. Atas izin suami, aku pun daftar.

Awalnya aku ย mikir, sekalian lah buat persiapan besok kalo kita punya rumah sendiri (belom tau kapan punya rumah sendiri tapi, semoga dimudahkan rezekinya, hehehe). Biar pas pindah ke rumah baru, langsung terkonsep dalemnya simple dan tertata rapi.

Dan, sekalian beberes. Belajar untuk lebih rapi supaya mempermudah pekerjaan rumah tangga juga.

Karena kami punya anak tuna netra. Kami pengennya kalo punya rumah yang nggak terlalu banyak barang dan mudah ter organize , supaya memudahkan mobilitas dan aktivitas Arthur di dalam rumah.

Setelah ku pikir, ternyata konsep menata dan menyimpan barang dengan metode konmari ini bisa membantu Arthur agar lebih mudah beraktivitas dan lebih mandiri. Meskipun dia masih balita, tapi jika terkonsep mulai dari sekarang pasti akan lebih baik ๐Ÿ™‚

Awalnya sih coba ikutan ber konmari karena aku cuma pengen biar keliat lebih rapi aja, biar mempermudah pekerjaan rumah tangga. Tapi ini ternyata cuma tujuan orang ber-konmari pada umumnya.

Tujuanku berberes tidak hanya sekedar berberes agar rumah terlihat lebih rapi. Tapi aku punya tujuan lain selain hal tersebut, yaitu mempermudah arthur beraktifitas dan bermobilitas didalam rumah, agar dia bisa mandiri serta mempersiapkan masa depannya.

Saat ini, metode konmari udah mulai aku praktekkan di lemari Arthur,ย  lemari ku, mainan Arthur, rak buku,dan yang lainnya. Yang aku utamakan adalah ruangan dan benda- benda yang sering Arthur gunakan/ interaksi.

 

Lemari Pakaian

Di lemari Arthur pakaian sudah dipisahkan di masing-masing storage box nya berdasarkan subcategory, misalnya baju main, celana main, baju rumah, baju tidur, dan lainnya. Masing-masing storage box sudah ditempel judul subcategory tersebut dengan menggunakan huruf awas dan huruf braille. Dengan harapan kelak, Arthur bisa mengambil dan menyimpan pakaiannya sendiri. Dengan cara menghafal letak penyimpanannya di lemari , dan dengan meraba huruf braillenya.

Bayangkan jika pakaian tersebut menumpuk vertikal, Arthur pasti akan kesulitan memilih dan mengambilnya, pakaian juga mudah ambruk dan berantakan.
Tapi kalau dengan metode konmari ini, harapannya Arthur bisa mengambil dan memilih sendiri pakaiannya dengan mudah. Dan tetap rapi. Karena tersusun horizontal di masing-masing storage box.
Sehingga Arthur lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, meskipun dalam hal kecil seperti mengambil / memilih pakaian.

Yang perlu diajarkan sekarang adalah, memberitahunya letak / posisi storage box di dalam lemari. Dimana letak celana, baju, baju tidur, dll.
Nanti dia bisa hafal letak nya atau bisa juga dengan meraba braille nya (*kalau udah bisa baca).

arthur belajar mengambil dan meletakkan pakaiannya sendiri di lemarinya
lemari Arthur yang sudah ditata dengan metode konmari
storagebox yang masing-masing sudah ditempel huruf braille dan juga huruf awas

Book and Toys

Selain di lemari pakaian Arthur, tempat mainan nya pun juga demikian. Mainan Arthur ada kotaknya masing-masing. Misalnya mobil-mobilan diecast ada di kotak sendiri dan diberi label dengan huruf braille, begitu juga dengan kotak mainan balok, kotak mainan lego, kotak mainan berbahan plastik , kotak bola sensory, kotak mainan hewan, dll. Sehingga Arthur dengan mudah mencari, mengambil, mengembalikan, dan juga membereskan mainannya sendiri.

Karena aku juga sedang mempelajari tentang montessori, dan cara menyimpan/ menaruh maianan ternyata sejalan dengan metode konmari. Dalam prinsip montessori, mainan juga dipisahkan berdasarkan subkategori masing-masing di dalam kotak yang berbeda lalu sebaiknya diletakkan di rak. Sehingga anak tertarik untuk memainkannya, dan juga anak lebih mudah menjangkaunya.

Aku memakai rak seadanya dirumah, yang memang tidak dipakai. Aku manfaatkan aja untuk menaruh mainan-mainan arthur. Nantinya kalau sudah punya aparatus montessori rencananya mau aku letakkan disitu. Tapi sekarang untuk menyimpan mainan yang sering dia mainkan dulu. Karena keterbatasan tempat di rak, tidak semuanya bisa aku taruh di rak tersebut. Mainan yang Arthur jarang mainkan atau masih belum bisa memainkannya, ku simpan di dalam kontainer besar.

 

 

Tempat mainnya Arthur

 

 

rak mainan arthur
rak buku Arthur

 

 

storage mainan Arthur, yang masing- masing sub category sudah ditempel huruf braille dan huruf awas.

 

 

Untuk Rak buku, memang belum sesuai dengan prinsip montesori. Tapi menurutku tidak terlalu menjadi masalah mengingat kondis Arthur yang memilki hambatan penglihatan, dia tidakertarik untuk mengambil buku karena dia melihatnya. Semoga saja besok kalauada rejeki bisa beli rak buku yang sesuai dengan prinsip montesori. Jadi, saat ini sementara rak buku masih disusun seperti biasanya, hanya di urutkan per sub kategori buku. Misal buku touch and feel, buku import , buku anak muslim, dan juga buku yang dijual di onlineshopku harus dipisahkan sendiri di rak tersebut.

 

 

***

 

 

Bagaimana jika ada suatu barang yang dipindah? Misal meja digeser atau letak lemari dipindah kita harus menginformasikan kepada Arthur. Kalau perlu sounding dulu sebelum dipindah, karena nanti dia pasti mencari atau malah menabrak benda yang dipindah letaknya tersebut. Karena Arthur tidak bisa melihat, sehingga dia menggunakan insting dan sudah hafal letak benda tersebut dimana.

Kemarin sewaktu rumah sedang sedikit di renovasi, lemari , rak dan mainan Arthur digeser dan dipindahkan untuk sementara. Aku lupa sounding dan kasihtau kalau letaknya dipindah-pindah unytuk sementara, ya karena waktu itu memang sedikit mendadak. Alhasil, Arthur merasa kebingungan, dia mencari mainannya, mencari sepedanya yang biasanya ditaruh didekat pintu kamar. Dia seperti pengen memegang padahal didepannya tidak ada apa-apa. Jujur aja, melihat itu aku sedikit terenyuh dan sedih. Kasihan sama Arthur. Tapi kalau dipikir aku juga salah karena tidak menginformasikan apa-apa ke Arthur kalau barang-barang ada yang dipindah sementara karena renovasi.

 

***

 

Karena saat ini keluarga kecil kami masih tinggal menumpang di rumah ortu, jadi nya metode konmari ini baru dilakukan di area kamar seperti lemari arthur, lemari ku, rak buku, rak sepatu, dan kotak mainan. Walaupun sepertinya belum rapih-rapih banget, setidaknya lebih baik daripada sebelumnya.

Demikian sedikit pengalamanku yang masih belum seberapa dalam ber konmari dan juga tujuan ku dalam melakukan metode konmari. Semoga selalu konsisten meskipun menghadapi kendala yang bermacam-macam ๐Ÿ™‚
Ber-konmari dengan tujuan menjadi lebih rapi adalah hal yang sudah biasa. Tapi kalau demi kemandirian seorang anak berkebutuhan khusus akan menjadi luar biasa ๐Ÿ˜€

Arthur Mengikuti Okupasi Terapi

Arthur Mengikuti Okupasi Terapi

Kira – kira tiap 3 bulan sekali aku selalu melakukan asessment tumbuh kembang Arthur. Aku lakukan sendiri, dengan menggunakan KPSP (kuesioner pra skrining pertumbuhan) dan menggunakan buku sumber intervensi dini maupun buku lain yang berisi tentang tumbuh kembang anak. Kalau kira-kira kurang sreg, aku konsultasikan dengan dokter anak subspesialis tumbuh kembang.

 

Hasil asessment yang ku lakukan seperti ini:

Motorik Kasar : Sudah banyak yang tercapai, meskipun ada beberapa hal yang dia belum bisa.

Motorik Halus : Banyak mengalami ketertinggalan

Kemandirian : Masih mengalami ketertinggalan di beberapa hal.

Komunikasi dan Bahasa : Sangat bagus untuk seusia Arthur, bicaranya sudah lancar banget.

Kognisi : cara berpikirnya sudah bagus

 

Hasil asesment tersebut menyarankan bahwa aku harus konsultasikan ke dokter, karena Arthur memiliki ketertinggalan dalam beberapa hal. Ternyata dokter justru memakluminya, karena hambatan penglihatannya. Waktu aku tanya, apakah Arthur butuh fisioterapi, beliau tidak mewajibkan dan pertanyaan tersebut dikembalikan lagi “kalau memang ibu rasa perlu ya silahkan saja, nanti saya buatkan rujukannya”

Tapi aku sebagai ortunya, merasa Arthur butuh suatu latihan untuk mengejar ketertinggalannya. Aku pun cari info, terapi atau latihan seperti apa yang dibutuhkan Arthur. Aku coba browsing, jawabannya adalah Sensori Integrasi.

Aku coba cari tau apa itu sensori integrasi, dan pas banget saat itu ada info seminar parenting yang membahas tumbuh kembang anak dengan tema sensori integrasi oleh fisioterapis di salah satu RS swasta. Tanpa mikir panjang aku daftar deh. Dari rumah aku juga udah siapin daftar pertanyaan yang pengen aku tanyakan terkait tumbuh kembang Arthur. Udah niat banget pokoknya.

Dan dari hasil seminar Arthur ini ternyata juga mengalami “Sensory Processing Disorder” Dia menolak ketika menerima sensori-sensori tertentu. Penolakannya seperti ketakutan, risih, dan kadang sampe menangis. Karena efek hambatan penglihatannya.

Setelah aku konsultasikan dengan terapis, menurutnya arthur perlu diberikan fisioterapi neurosensory dan juga okupasi terapi. Tapi, arthur harus di asesment terlebih dahulu oleh terapis. Aku pun langsung atur jadwal dan daftar untuk dilakukan fisioterapi.

Karena aku pake umum non bpjs, aku langsung bisa ketemu fisioterapisnya untuk dilakukan asesment.

Sebenernya bisa pake bpjs, tapi aku pengen arthur segera ditangani. Karena kalau pakai bpjs ngurusnya kudu ke faskes 1 dulu, minta rujukan ke dokter anak. Lalu ke dokter rehab medik. Dan dokter rehab medik baru mengarahkan ke fisioterapi. Cukup panjang perjalanannya, apalagi kalau surat rujukan habis masa berlaku. 1 hingga 3 bulan sekali kudu urus perpanjangannya, dan diulang lagi perjalanannya dari faskes 1. Memang cukup rempong. Aku nunggu dikomporin untuk semangat ngurus-ngurus BPJS nya aja deh, hehehe…

 

Nah, setelah Arthur dilakukan asesement oleh fisioterapis, dia langsung diberikan jadwal untuk dilakukan fisioterapi berupa neurosensory (terapi sentuh) seperti pijat sentuh. Katanya sih untuk stimulasi syaraf nya, sebelum dia ikut okupasi terapi. Karena Arthur mengalami sensory processing disorder, khawatirnya kalau langsung okupasi terapi nanti anaknya malah nangis, berontak, dan gak bisa mengikuti. Malah percuma. Jadi sebaiknya disiapkan dulu sensoris-sensorisnya melalui fisioterapi neurosensory.

Pertemuan fisioterapi neurosensory pertama kali, aku udah siap-siap. Karena ku pikir Arthur bakalan berontak, nangis, kabur dan menolak. Ternyata, dia manut dan anteng. Cuma saat bagian oralnya di berikan stimulus dengan sikat silikon, dia menolak. Kata terapisnya sih karena area oral Arthur masih sensitif dan sensoris area mulut nya masih belum baik.

Kurang lebih, selama 2 minggu Arthur mengikuti fisioterapi (setiap hari) Akhirnya langsung dijadwalkan untuk okupasi terapi. Padahal sebelumnya, aku pernah tanya kira-kira kapan Arthur bisa dijadwalkan okupasi terapi. Kata terapis biasanya 2 – 3 bulan ketika anak sudah dinilai siapย  untuk bisa mengikuti OT. Ternyata Arthur hanya perlu waktu sekitar 2 minggu persiapan untuk dijadwalkan OT. Karena saat fisioterapi Arthur memang tidak pernah berontak, menangis, teriak, ataupun menolak. Dia selalu anteng, manut dan menikmati sesi terapi nya.

Padahal, biasanya anak yang memiliki hambatan penglihatan paling enggak suka ketika dipegang oleh orang yang baru dia kenal, apalagi di tempat yang baru yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Entah kenapa Arthur sepertinya tidak masalah dengan hal tersebut. Mungkin karena sudah di sounding sebelumnya, kalau mau terapi.

Kurang lebih sebulanan ikut fisioterapi ditemenin sampe ke dalem ruangan dan ditungguin didalem, akhirnya pada suatu hari Arthur berani sendiri masuk ke dalem ruang fisioterapi sama terapis nggak ditemenin mamanya lagi.

Rasanya kayak nemenin anak sekolah TK, yang tadinya ditungguin terus sekarang udah berani nggak perlu ditungguin lagi. Hehehe

Jadwal fisioterapi Arthur seminggu 2x (senin dan jumat) mengikuti neurosenso dan seminggu 1x (selasa) mengikuti Okupasi Terapi.ย  Satu sesi terapi biasanya sekitar 45 menit hingga 1 jam.

Arthur fisioterapi di RS Rajawali Citra di daerah Bantul, biaya nya 60.000/sesi terapi.

Pasti ada yang menanyakan, bagaimana hasilnya setelah mengikuti fisioterapi?

Hasil tidak ada yang instan. Kita bikin mie instan aja nggak langsung jadi, tapi harus melakukan suatu proses juga kan?

Saya saat ini sedang melakukan suatu proses dan menikmati tiap proses tersebut, dan saya percaya bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

 

***

Biasanya pertanyaan dari para orangtua yang memiliki anak tuna netra adalah :

“Apakah anak saya juga perlu fisioterapi? Terapi apa sebaiknya?”

Jawaban aku sih, Seperti kata dokter tumbuh kembang ke aku sewaktu konsultasi dulu : terserah mau fisioterapi atau nggak. Kembali ke masing-masing orangtua. Kalau dirasa perlu, ya monggo silahkan. Tetapi kalau dirasa nggak usah, juga gak apa-apa.

Jika anak dirasa tidak perlu mengikuti fisioterapi, sebaiknya orangtua juga sering memberikan stimulus ke anak , jangan terus didiamkan saja. Stimulus yang diberikan tergantung pada kebutuhan anak apa yangsedang ingin dicapai.

Kalau anaknya di ikutkan fisioterapi.ย  Lakukan asesement dulu kebutuhan dan pencapaian anak mau yang seperti apa. Dan jangan asal “menyerahkan” anak kepada fisioterapis saja, tapi kita sebagai orangtuanya juga harus sering berkonsultasi dengan terapisnya.

Bisa menanyakan fungsi terapi seperti itu untuk apanya, dan konsultasikan mengenai target yang ingin dicapai. Misalnya, Arthur sampai saat ini masih takut sama pasir, nggak suka pakai topi, nggak suka pakai baju model overall yang ada talinya. Terapisnya pun memberikan stimulasi, agar Arthur berani dan tidak menolak dengan hal tersebut. Lalu kita juga harus aktif bertanya, stimulasi seperti apa yang diberikan, agar kita bisa melakukannya juga di rumah.

Tiap selesai sesi okupasi terapi pun, terapisnya arthur selalu meluangkan waktu untuk konsultasi. Tadi latihan seperti apa saja yang diberikan, fungsinya untuk apa,dan bagaimana respon anak.

Dan tidak semua terapis bisa memegang atau menangani anak tuna netra. Karena terkadang, kegiatan terapi yang diberikan caranya disamakan dengan anak awas lainnya. Sehingga anak tuna netra akan merasa kesulitan untuk mengikutinya.

Tapi, untungnya terapis okupasi terapi nya Arthur terbiasa dengan ABK dan sudah pernah bekerja di SLB sehingga sudah memiliki pengalaman berinteraksi dengan tuna netra. Dan kegiatan yang diberikan ke Arthur pun bisa menyesuaikan dengan kondisi Arthur.