Perlukah Arthur Sekolah Playgroup?

Perlukah Arthur Sekolah Playgroup?

Seperti perjuangan untuk memberikannya hak pendidikan yang layak. Harus aku pikirkan dan persiapkan dari sekarang meskipun usia Arthur belum cukup 2 tahun. Lagian, Arthur memberikan tanda kesiapan bersekolah. Setiap ditanya “siapa yang mau sekolah” Arthur langsung angkat tangannya dengan bersemangat, karena aku sering menceritakan kepada Arthur apa itu sekolah, ada apa di sekolah, dan ngapain aja di sekolah. Ketika Arthur ditanya, sekolah dimana dia langsung jawab “sekolah di TK”. Aku tanya temanku seorang psikolog, ternyata itu salah satu tanda Arthur menunjukkan kesiapan bersekolah. Sebelum masuk sekolah, PR ku adalah melatih kemandiriannya di rumah seperti makan sendiri dan toilet trainee. 2 Hal tersebut memang jadi PR banget, sudah lama dilakukan namun selalu saja kurang konsisten sehingga tidak ada hasilnya, hehehehe…

Ada yang pernah bilang “Anak sekolah di playgrup itu hanya sebagai ajang ibu-ibu untuk sibuk antar jemput anak sekolah lalu ngerumpi dengan ibu-ibu yang lain” Emang sih sering aku lihat macem gini, tapi semoga aku bukan kaum ibu-ibu yang sering rumpik nggak penting seperti ini kalau Arthur sekolah playgrup nanti. Lha wong aku nyekolahin Arthur supaya aku bisa me time, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku seperti bikin tugas, ngeblog, ngebraillein buku Arthur, dll. Kalau Arthur nggak sekolah, aku baru bisa ngerjain pekerjaanku kalau malem Arthur udah tidur dan itu aku bakalan begadang. Soalnya Arthur bakalan ngintilin aku kemana-mana.

Mungkin ada juga yang berpikir “Kasihan anak nya kecil – kecil udah disuruh sekolah, anak kecil kan main bukan belajar”

Sering juga aku lihat postingan di facebook, yang biasanya di re-share para ibu-ibu. Tulisan dari seorang psikolog pemerhati anak, yang mengatakan jika anak disekolahkan terlalu dini itu berbahaya, karena anak itu sebaiknya bermain bukan belajar. Menyekolahkan anak terlalu dini itu sama saja menyemai bibit kanker kata beliau. Dan kalau saya pribadi kok tidak setuju dengan kata-kata psikolog tersebut. Nah ini yang kadang menjadi perdebatan atau “mommy’s war”, Yes or No untuk menyekolahkan anak di Playgrup. Biasalah emak – emak kan hobbynya nyinyir dan ributin apa aja, hahahaha… aku sih maklumin aja. Persepsi orang kan berbeda-beda.  Tapi kemudian kembali lagi ke orang tua masing – masing, karena kondisi orang kan berbeda – beda. Mungkin pemilihan kata para emak – emak ketika mengkritisi permasalahan tersebut tidak tepat sehingga menimbulkan perdebatan yang tidak pada tempatnya alias nyinyir.Hehehe…

Playgroup itu artinya kelompok bermain.  Kegiatan sekolah playgroup ya bermain. Kalaupun belajar, mereka belajar dengan cara bermain.  Lagian Playgroup itu rata-rata nggak setiap hari juga sekolahnya, palingan seminggu 2-3 kali aja. Dan cuma sekitar 2-3 jam aja. Kecuali kalau ortunya pengen masukin ke program fullday, biasanya kalau kedua orangtuanya sibuk bekerja, anak akan dimasukkan ke playgroup yang fullday. Makanya aku bilang,  kondisi orang kan berbeda-beda.

Ya mungkin saja ada beberapa sekolah yang masih berkonsep pada hasil, sehingga anak usia dini dipaksa untuk bisa calistung. Kalau yang seperti ini memang tidak sesuai dengan fitrah anak yang seharusnya di usia tersebut lebih baik bermain. Mungkin psikolog pemerhati anak yang saya bilang tadi, menilai sekolah playgrup demikian karena hanya melihat playgrup yang berkonsep pada hasil seperti ini. Padahal tidak semua sekolah playgrup berkonsep pada hasil, sehingga kita harus melihat sistem belajar sekolahnya seperti apa sebelum mendaftarkan anak ke sekolah tersebut. Jadi, sebelum memutuskan akan disekolahkan dimana, baiknya bertanya dulu bagaimana kurikulum dan sistem belajar anak disana.

Kalau aku, mencari sekolahan bukan melihat bagaimana hasilnya dia ketika bersekolah disitu, tapi aku melihat proses didalamnya. Yang penting Arthur bisa mengembangkan dirinya dengan bermain bersama teman – temannya, berinteraksi dengan orang lain, menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri dan hal yang paling penting yang aku cari adalah sosialisasi dengan teman sebaya dan orang lain. Ketika anak tersebut memiliki prestasi di sekolah tersebut, itu hanyalah menjadi nilai tambah yang ada pada dirinya.

 

Perlukah Arthur masuk playgroup di usianya yang masih 2 tahunan ini?

Sekali lagi, semua kembali ke orang tua masing-masing dan juga meilihat kesiapan anak. Setelah konsultasi dengan teman yang seorang psikolog, dan dia bilang kalau Arthur menunjukkan tanda kesiapan sekolah aku langsung aktif untuk mencari informasi pre-school di Jogja. Dan menurutku, Arthur juga butuh untuk masuk playgroup.  Di grup Baby Community pun seringkali disarankan, ketika usia anak sudah bisa masuk sekolah (2-3tahunan), tidak ada salahnya dimasukkan ke PlayGroup agar dia mampu  bersosialisasi serta percaya diri.

 

Kenapa memilih sekolah di Jogja, bukan di Bekasi?

Karena setelah memikirkan beberapa hal di masa depan, kami berencana untuk tinggal di Jogja. Selain itu, sekolah di Jogja lebih mudah aksesibilitas nya dibanding ketika di Bekasi. Menurutku, biayanya pun juga lebih murah dengan fasilitas yang setara seperti sekolah di area jabodetabek. Dan yang paling penting, Yogyakarta ramah disabilitas. Terbukti dengan adanya guding block di trotoar-trotoar di pinggir jalan kota jogja (meskipun masih ada ditemui beberapa titik yang memang tidak sesuai pemasangan guiding block nya).

 

Sekolah inklusi menjadi pilihanku untuk Arthur bersekolah kelak. Karena pertimbangan beberapa hal. Di saat usia Arthur masih kecil seperti ini tentu saja dia belum paham ketika ada yang bertanya “matamu kenapa?” “kamu nggak bisa lihat ya” “kamu kasihan” dan sebagainya. Dia belum bisa merasakan sakit hati ataupun tersinggung dengan kata-kata seperti itu, tapi mamanya paling yang tersinggung hehehe… Tapi semoga aku selalu diberikan kewarasan dalam berpikir jika suatu saat nanti dihadapi oleh perkataan seperti itu, supaya kata-kata seperti itu tidak membuatku kembali denial lagi.

SLB VS sekolah umum inklusi

Tapi setelah bertanya kesana kemari ke beberapa sekolah inklusi di Kota Jogja,  ternyata masih banyak sekolah (pre-school) inklusi yang belum bisa menerima kondisi Arthur. Dengan alasan belum siap dengan fasilitas dan lingkungan sekolah, meskipun sekolah tersebut bisa menyediakan shadow teacher. Ternyata aku harus berjuang lagi. Ku ketuklah pintu UNY jurusan PLB. Dan Alhamdulillah jalan Arthur InsyaAllah menjadi di permudah. Aku diperkenalkan oleh temanku dengan seorang dosen disana, yang akan membantu “mengetuk pintu” sekolah-sekolah inklusi dan beliau juga menawarkan pendampingan untuk Arthur.

Sebelum bertemu dengan ibu sukinah (dosen PLB UNY) , Sebenernya aku juga sudah daftar waiting list PAUD inklusi psikologi UGM untuk tahun 2018. Sayangnya, waiting list nya udah buuanyak banget. Padahal mereka hanya ada 1 kelas, sekitar 12 – 15 anak.  Padahal PAUD psikologi UGM tersebut, bisa dibilang murah dengan fasilitas yang diberikannya. Dan disana bisa menerima anak dengan kondisi hambatan penglihatan. Mereka sudah beberapa kali menerima murid ABK tuna netra, dan saat aku datang kesana ada salah satu murid yang low vision. Jadi, aku pikir mereka memang suadah berpengalaman menangani dan membimbing anak – anak ABK, terutama Tuna Netra.

Namun sayangnya, pada tahun ajaran 2017 kemarin, PAUD inklusi psikologi UGM ini tutup. Karena sebenernya PAUD ini adalah laboratorium milik fakultas psikologi UGM, mungkin saja ada masalah dengan perizinannya sehingga tidak bisa dilanjutkan lagi. Sangat disayangkan sekali 😦

Lalu, aku cari tau sekolah lain di jogja, PAUD dan TK inklusi dan coba dateng langsung kesana untuk tanya – tanya cari informasi. Mereka memang meng-inklusi, menerima anak berkebutuhan khusus. Tapi sayangnya beberapa sekolah tidak bisa menerima semua kondisi ABK. Rata-rata anak autis, down syndrom, ADHD, gangguan konsentrasi yang bersekolah disana. Mereka masih belum bisa menerima Anak Tuna netra dan Tuna rungu dengan alasan keterbatasan fasilitas, lingkungan sekolah yang belum mendukung dan kekurangan tenaga pendidik. Meskipun orang tua bersedia membawa shadow teacher (guru pendamping) sendiri. Aku hampir hopeless untuk mencari playgroup inklusi. Karena kalau SLB pun belum ada yang bisa menerima murid usia playgroup 2 – 3 tahunan, rata-rata  usia TK atau SD minimal 4 tahun.

Akhirnya, setelah bercerita dengan temanku yang merupakan alumni PLB UNY, aku pun diperkenalkan dengan ibu Sukinah dosen PLB UNY. Kami pun janjian untuk bertemu di UNY. Ibu sukinah baik banget, enak diajak sharing dan diskusi serta memberikan masukan apa yang harus aku lakukan. Beliau juga bersedia membantu untuk mencarikan sekolah ataupun pendampingan kepada Arthur. Alhamdulillah jalan Arthur dipermudah. Bu Sukinah ini spesialisasinya adalah sekolah inklusi. Jadi beliau cukup tahu banyak tentang sekolah inklusi yang berada di Yogyakarta. Aku pun disarankan untuk mencoba datang dan bertanya ke TK & Playgroup Pedagogia. Pedagogia adalah TK & Playgroup milik UNY, dan salah satu sekolah inklusi di Yogyakarta.

Setelah diberi saran oleh Ibu Sukinah, aku pun mendatangi Pedagogia. Dan Alhamdulillah disana sebetulnya bisa menerima kondisi Arthur, namun sayangnya Quota ABK untuk tahun ajaran 2018 baru update di bulan Januari 2018. Sehingga aku diminta untuk mengisi waiting list terlebih dahulu. Padahal kalau bisa, aku mau langsung daftarin saat itu juga. Karena setelah tanya mengenai  sistem belajar dan  bagaimana respon anak lain terhadap ABK, aku merasa sekolah tersebut aman untuk Arthur. Selain itu, lokasi nya tidak terlalu jauh-jauh amat dari rumah.

Kita tunggu saja besok sekitar awal 2018, apakah Arthur masuk kuota dan diterima atau tidak. Kalaupun ternyata Arthur tidak masuk kuota, ya mau gimana lagi. Sekolah playgrupnya ditunda sampai 2019. Padahal kalau Arthur udah bisa bersekolah, rencananya aku pengen hamil lagi, hehehe 😀

Perjuangan banget sepertinya nyariin sekolah buat Arthur. Ini baru nyari Playgroup dan TK loh. Belum lagi besok kalau nyari SD, SMP, SMA, Kuliah. Semoga saja jalan Arthur selalu dipermudah dan selalu ada yang membantu Arthur. AMIN.

Advertisements
Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

TMII – Sabtu, 12 Agustus 2017

Hari ini kami mengikuti pertemuan komunitas area Jabodetabek. Komunitas ini kami sebut dengan baby community, yaitu komunitas untuk tumbuh kembang anak dengan hambatan penglihatan. Saat Arthur di Jogja pun, Arthur selalu datang ke acara pertemuan baby community area Yogyakarta. Biasanya pertemuan dilaksanakan di area indoor. Tapi kebetulan, kali ini pas Arthur lagi di Bekasi pertemuan dilakukan di outdoor, dan dipilih Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasinya. Selain piknik, tentu saja ada materi yang akan disampaikan, yaitu belajar mengenai orientasi mobilitas di luar ruangan, khususnya di ruangan publik, dan juga pengenalan whitecane (alat bantu berupa tongkat untuk tuna netra).

Materi disampaikan oleh ibu primaningrum yang sudah banyak pengalaman di dunia disabilitas, khususnya pendampingan ABK tuna netra. Pada pertemuan baby community kali ini, ada beberapa tema yang dibahas oleh bu prima.

 

1. Pengenalan whitecane

a. Kaitan / Crook  

Seperti namanya, bagian ini merupakan bagian yang memiliki fungsi sebagai pengikat pergelangan tangan dengan tongkat, tujuannya adalah agar tongkat tidak terlepas dari tangan pengguna jika terjadi benturan atau ketika tongkat terlepas dari genggaman pengguna. Disisi lain, bagian ini juga memiliki fungsi untuk mengikat disaat tongkat dilipat.  Pengikat ini biasanya berbahan yang bisa melar, seperti karet.

b. Pegangan / grip  

Bagian yang memiliki fungsi sebagai tempat jemari tangan untuk menggenggam tongkat.

c. Reflektor

Bagian yang memiliki fungsi memantulkan cahaya jika terkena sinar pada malam hari, sebagai penanda.

d. Ujung tongkat / tip

Bagian ini memiliki fungsi sebagai penuntun. Tip ini ada 2 macam, yaitu type fix(tetap) dan roller (beroda). Type fix biasa digunakan sebagai penuntun jalan yang memiliki berbagai macam kontur, sedangkan type roller digunakan pada jalan yang memiliki kontur rata/datar karena type ini dapat bergerak sesuai dengan dorongan tongkat. Biasanya type roller lebih cocok digunakan di area indoor.

2. Cara memakai tongkat

a. Mengukur panjang tongkat  

Mengukur panjang tongkat merupakan hal yang wajib dilakukan agar pengguna mendapatkan tongkat yang ideal sesuai dengan tinggi badannya, dengan panjang tongkat yang ideal maka akan memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Panjang tongkat yang ideal dapat diukur dengan mengukur tinggi antara dada pengguna hingga ujung kaki pengguna.

b. Menggunakan tongkat  

Cara penggunaan tongkat adalah dengan mengarahkan tip pada posisi 1-2 langkah didepan pengguna, lalu menggerakan tongkatnya ke kiri dan kanan dengan batasan selebar bahu pengguna.  Agar keberadaan tongkaatnya tidak mengganggu keberadaan orang lain disekitarnya.

3. Orientasi mobilitas

Pada sesi ini, bu prima menjelaskan mengenai pentingnya komunikasi berupa deskripsi kondisi dan situasi bagi para ABK tuna netra dalam melakukan mobilitas aktifitasnya. Dalam kegiatan ini para orang tua diberikan tantangan untuk mencoba menjadi seperti para ABK yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Para orangtua ditantang menggunakan blindfold (tutup mata) agar merasakan apa yang dirasakan anak-anak saat berada di ruang publik tanpa melihat.

Tantangan pertama, orangtua berjalan dengan blindfold dan dituntun tanpa adanya komunikasi. Kendala yang kami alami adalah, kami tidak ada bayangan sama sekali mengenai apa yang akan kami lakukan, seperti apa bentuknya, bagaimana melaluinya, dll.  Tentu saja banyak yang merasa ketakutan akan bahaya atau celaka apa saja yang ada didepannya saat berjalan. Karena tanpa diberikan informasi apapun tentang lingkungan tersebut.

Tantangan kedua, orangtua berjalan dituntun dengan blindfold dan diberikan pengarahan informasi,  mengenai situasi dan kondisi lingkungan tersebut dan  tentang apa saja yang ada didepannya. Sehingga kami memiliki bayangan mengenai apa yg akan kami lakukan dan kami mengerti apa yang harus dilakukan untuk melaluinya.  Kami merasa lebih baik berjalan tanpa melihat tetapi diberikan penjelasan mengenai jalanan yang dilewati sehingga merasa lebih waspada.

Jadi, kita sebaiknya harus memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai situasi dan kondisi lingkungan tempat anak berada dan apa yang ada di depan anak serta ada apa saja disekitarnya. Bahkan kalau bisa informasi tersebut diberikan secara detail. Sejak dirumah, sudah diinformasikan kita mau pergi kemana dan disana ada apa. Dan selama diperjalanan, menginformasikan kepada anak tentang situasi dan kondisi perjalanan yang dilalui. Misalnya lewat jalan apa, belok kemana, melewati apa, dan sebagainya.

 

4. Pendamping ABK  tuna netra

Menjadi pendamping ABK tuna netra kadang dilihat sebagai sebuah kegiatan yang mudah karena hanya tinggal mengarahkan dan menuntun sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini terpatahkan ketika bu prima menjelaskan bagaimana menjadi pendamping bagi para ABK, ada teknik-teknik tertentu untuk menjadi pendamping bagi ABK tuna netra ketika menuntunnya berjalan yaitu :

a. Pendamping harus berada disisi terlemah anak

Teknik ini dimaksudkan agar para pendamping dapat menutupi bagian terlemah dari anak, dalam artian ketika mendampingi anak untuk berjalan dan menemui halangan maka pendamping bisa mencegah anak terjatuh.

b. Pendamping didepan anka

Teknik ini ditujukan ketika anak melalui jalan yang sempit. Hal ini dimaksudkan agar pendamping dapat menuntun anak untuk melewati jalan tersebut, pendamping disarankan tidak berada dibelakang anak. Karena jika tinggi badan anak lebih tinggi dari pendamping maka akan menutupi pandangan pendamping.

Ibu Prima berbagi ilmu dan pengalamannya

Belajar penerapan mengenai orientasi mobilitas di ruang publik memang lebih menantang dibandingkan dengan belajar orientasi mobilitas didalam rumah.

Karena di ruang publik, para orangtua harus “kebal” dengan tatapan orang-orang. Tidak semua orang merasa welcome dengan keberadaan ABK. Pasti ada saja tatapan, pertanyaan maupun perkataan tentang ABK.

Kami, Para orangtua anak-anak dengan hambatan penglihatan

#Day2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

Energi Positif Dari Sikdam Hasim Gayo

Energi Positif Dari Sikdam Hasim Gayo

 

“look at me not my disability. See my ability rather than my disability” – Sikdam Hasim Gayo

 

 

Ketika pertemuanku dengan sosok Sikdam Hasim Gayo, Aku cukup bersyukur. Karena dia kemudian menjadi salah satu inspirasiku dalam membersamai Arthur nantinya. Dia adalah seorang penyandang disabilitas pertama dari Indonesia yang diundang keluarga kerajaan inggris untuk berpidato. Dia kehilangan penglihatannya karena kecelakaan tunggal yang dialaminya sekitar 5 tahun yang lalu. Dia sempat depresi bahkan ingin bunuh diri karena kehilangan penglihatannya. Namun kemudian bisa bangkit kembali karena peran ibunya. Ibunya selalu menyemangati, memotivasi dan mengajaknya mendatangi panti maupun yayasan anak-anak tuna netra. Ibunya memberitahunya bahwa dia seharusnya masih bersyukur pernah diberi kesempatan Tuhan untuk bisa melihat dunia. Karena banyak anak-anak kecil di panti tersebut yang kehilangan penglihatannya sejak bayi. Dari situ, kemudian dia mulai bangkit dan juga aktif di berbagai komunitas disabilitas. Dengan skill english yang dimilikinya, dia pun bisa sukses dan justru bisa meraih apa yang menjadi cita-citanya yaitu bisa keliling berbagai negara dan juga banyak orang yang mengenalnya. Menurut Sikdam, disabilitas menjadi berkah untuknya. Semua itu karena peran dari ibunya.

Dalam acara seminar pendidikan untuk disabilitas yang diselenggarakan oleh UNY ini, sikdam hadir sebagai salah satu pembicaranya. Dia bercerita bagaimana dia move on dari kondisinya saat itu. Dan tentu saja itu menjadi salah satu semangat untuk aku dalam membersamai arthur.

Sikdam juga bilang, buang energi negatif seperti omongan orang yang nggak enak, tidak perlu dihiraukan hal seperti itu justru kalau bisa jauhi saja. Karena masih banyak hal positif yang bisa kita lakukan. Dan lebih baik kita “accept” energi positif saja, yang bisa mendorong kita untuk lebih maju.

Menurut sikdam, disabilitas justru membawa berkah baginya. Karena dia bisa menggapai cita-citanya meskipun dengan keterbatasan yang dimilikinya itu.

 

img_8542
Arthur dan Om Sikdam

SLB VS sekolah umum inklusi

SLB VS sekolah umum inklusi

Seorang teman dari komunitas yang anak nya juga terdiagnosa ROP stage 5, pernah mendapatkan kata – kata seperti ini dari dokter mata yang memeriksa dan mendiagnosa.

Ibu  : Terus gimana dok? (menurutku, ini kata-kata yang otomatis akan terucap saat dokter memberikan hasil diagnosa)

Dokter : Ya anak ibu besok sekolahnya di SLB.

Jadi selama ini menurut masyarakat awam, dan seorang dokter sekalipun. Ternyata masih memandang bahwa seorang anak berkebutuhan khusus itu sekolahnya ya di SLB. Tidak ada yang salah dengan SLB, namun anak berkebutuhan khusus juga dapat bersekolah di sekolah umum bersama dengan anak-anak lain pada umumnya.

Di UUD 1945 dalam pasal 31 ayat 1 pun disebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. Dan lebih ditekankan lagi di dalam Undang – undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, bahwa pemerintah memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Sehingga anak ABK pun mendapatkan hak untuk memperoleh akses pendidikan di sekolah umum. Untuk itu pemerintah pun mencanangkan sekolah negeri harus bisa ber-inklusi.

 

PLAN A – SEKOLAH DI SEKOLAH UMUM INKLUSI

Apa itu pendidikan inklusi? Yaitu system layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak untuk belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individu sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal. (Ibu Siyam Mardini, M.Pd – Kepsen SD N Giwangan).

Beberapa orangtua anak ABK terkadang merasa minder, takut mental anaknya tidak kuat ataupun takut anak tidak bisa mengikuti pelajaran jika bersekolah di sekolah umum inklusi bersama anak-anak yang lainnya. Sehingga kemudian menyekolahkan anaknya di SLB.

Tapi InsyaAllah besok Arthur akan bersekolah di sekolah umum inklusi. Dan tugasku sekarang adalah memperjuangkan hak Arthur untuk mendapatkan hak pendidikannya, agar dapat bersekolah di sekolah umum bersama anak regular lainnya.

Nggak minder? Aduh, Ngapain harus minder??? Apa yang membuat minder? Aku justru bangga… Jangan pernah melihat kekurangan seorang penyandang disabilitas, tapi lihatlah kelebihannya. Dibalik kekurangannya pasti Tuhan memberikan dia kelebihan. Allah itu Maha Adil.

Nggak takut mental anak nya nggak kuat atau down? Arthur anak laki-laki, harus kuat dan tegar. Justru bersekolah dengan anak “biasa” lainnya akan menumbuhkan rasa percaya dirinya bahwa dia dapat diterima dalam pergaulan dan juga bisa bersosialisasi dengan anak non-difabel. Hidup di masayarakat itu heterogen sekali, kita harus bisa membaur satu sama lain untuk meng-inklusikan diri.

Nggak takut anaknya ketinggalan pelajaran atau nggak bisa mengikuti? Sistem pendidikan inklusi sudah dibuat sebaik mungkin. Dan pada sekolah inklusi, kurikulum yang dibuat untuk anak ABK berbeda dengan anak reguler. Pada anak ABK, kurikulum PPI (Progam Pembelajaran Individual) yaitu  proses pembelajaran yang akan mengikuti anak, bukan anak yang mengikuti kurikulumnya. Dan anak ABK juga memilki Shadow teacher (Guru pendamping Khusus) yang selalu memberikan bimbingan dan layanan kepada ABK yang memiliki hambatan, kesulitan dan keterbatasan dalam melakukan aktifitas belajar di sekolah, sehingga di kelas anak pun dapat terbantu. Shadow teacher juga menjadi fasilitator dan mediator yang menampung dan melayani segala macam yang menjadi kebutuhan ABK.

TIPS MENCARI SEKOLAH INKLUSI UNTUK ABK

Ada beberapa tips (sebenernya saran dari seorang psikolog) untuk persiapan Arthur bersekolah di sekolah umum nantinya.

  • Cari sekolah yang baik, yang bagus, yang tidak pernah bermasalah dengan siswa inklusi nya. Dan sekolah tersebut memiliki psikolog sekolah (bukan cuma lulusan S1 psikologi). Karena dengan adanya psikolog sekolah , penting untuk proses pembuatan kurikulum PPI (Program Pembelajaran Individual). Mengapa harus psikolog sekolah? Karena jika hanya sarjana psikologi, belum mumpuni untuk membuat PPI.
  • Seklah inklusi yang 1 kelas hanya berisi maksimal 15  anak dengan minimal 2 guru (1 guru utama dan 1 guru pendamping khusus)
  • Sekolah inklusi yang fleksibel dalam pemberian materi ujian , tidak harus selalu paper and pencil.
  • Guru – guru yang memiliki sertifikasi untuk mengajar anak berkebutuhan khusus (Lulusan PLB)

Usia Arthur memang belum genap 2 tahun, tapi aku mulai mencari informasi beberapa sekolah inklusi mulai dari sekarang. Karena terbatasnya “quota” ABK di kelas. Biasanya sekolah hanya dapat menerima 2-3 anak. Jadi sebisa mungkin kudu “inden” kelas dulu jauh hari. Syukur – syukur kalau Arthur bisa masuk ke playgroup inklusi. Susah banget lho cari Playgroup atau Daycare yang bisa menerima ABK.

 

PLAN B – Sekolah di SLB

Tapi misalkan Arhur pada akhirnya tidak bisa bersekolah di sekolah umum inklusi, plan B kami menyekolahkan Arthur di sekolah yang memang khusus untuk anak yang memilki hambatan penglihatan. Karena pihak sekolah inklusi pun selalu melakukan observasi dan asessement kepada anak terlebih dahulu sebelum menyatakan anak dapat bersekolah disana. Dan aku juga sudah mengantongi beberapa sekolahan inklusi yang sesuai dengan kriteria kami.

Untuk sekolah khusus, SLB A negeri untuk anak tuna netra yang paling bagus ada di Lebak Bulus Jakarta. Dan kalau mau sekolahin disana, Arthur harus berangkat subuh – subuh. Karena cukup jauh dari rumah dan juga menembus kemacetan yang luar biasa. Aku bayangin aja bingung sendiri, hahaha… Sementara, di Jogja sekolah khusus untuk tuna netra yang bagus dan banyak di rekomendasikan adalah YAKETUNIS milik yayasan keluarga tuna netra indonesia, dan Alhamdulillahnya letak sekolah tersebut dekat dengan rumah. Nggak sampe 10 menit naik motor juga dah sampe, tanpa harus bermacet-macet ria dulu. Yaketunis selain sekolahan juga menyediakan asrama madrasah, les tambahan pelajaran, dan juga les membaca Al Quran tiap sore. Itu salah satu alasan juga kenapa aku ingin menyekolahkan Arthur di Jogja aja daripada di Jakarta. Karena aksesnya mudah dan juga lokasi sekolahannya dekat, fasilitas yang disediakan pun juga bagus.

 

Mama Arthur bikin tulisan ini setelah mengikuti seminar pendidikan di UNY dalam rangka hari pendidikan nasional, dengan tema “Education for Disabilities”.

 

 

Mencegah Terjadinya Sibling Rivalry Anak Berkebutuhan Khusus

Mencegah Terjadinya Sibling Rivalry Anak Berkebutuhan Khusus

Resume Kulwapp mengenai sibling rivalry oleh mbak Fauzia Chafitsa Anggraini S,Psi, M.Psi Psikolog. Beliau adalah seorang psikolog pendidikan dan konsultan perencanaan karier, Tetapi memiliki pengalaman praktek psikolog pendidikan anak dan remaja di Semarang.

8e1477594674803a67b0b0f09907b165

1. Pengertian Sibling Rivalry

Sibling Rivalry atau persaingan antar saudara diartikan sebagai kompetisi antar saudara untuk memperebutkan kasih sayang, penerimaan, dan perhatian dari ayah dan ibu. 

Sibling rivalry tidak bisa dihindari jika orangtua memiliki lebih dari satu anak

Perilaku yang muncul akibat sibling rivalry:

✔merebut mainan

✔menangis tanpa sebab yang jelas

✔ memukul adik

✔menendang adik

✔menggigit adik

✔membentak adik

✔Mencari perhatian orangtua

2.  Bagaimana Sibling Rivalry Terbentuk

👉 Mitos : faktor utama dan satu-satunya timbulnya sibling rivalry karena salah pola asuh orangtua.

👉 Fakta  : sibling rivalry timbul karena 2 faktor, faktor pemicu dan faktor penguat.

▶️ Faktor pemicu

Faktor pemicu sibling rivalry adalah ibu mengandung anak kedua, ketiga, dan seterusnya.

Benih sibling rivalry muncul karena anak pertama merasa hubungannya dengan orangtua terancam hilang dengan kehadiran adiknya

▶️  Faktor Penguat

Faktor penguat dari sibling rivalry yaitu reaksi dan kepekaan orangtua pada perubahan sikap anak pertama. 

Semakin orangtua peka dan bereaksi dengan tepat, sibling rivalry bisa dihindari saat anak kedua hadir

3. Sibling Rivalry dari Kaca Mata Anak Pertama

Persaingan antar anak adalah bagian dari fase perkembangan emosi yang dialami anak di usia dini. Meskipun sesuatu yang wajar terjadi, orangtua tetap perlu berperan aktif untuk menimalisir terjadinya persaingan antar saudara, terutama yang mengarah ke perilaku negatif.

Dari sudut pandang atau kaca mata anak pertama, sibling rivalry muncul karena adanya 4 emosi ini:

⚫Rasa Khawatir

rasa khawatir digambarkan dengan *“khayalan ketakutan”* atau *“gelisah tanpa alasan”*  Rasa khawatir muncul dari pikiran anak sendiri, bukan berasal dari interaksi dengan orangtua atau saudaranya. Rasa khawatir muncul karena membayangkan situasi – seperti kehilangan kasih sayang orangtua, berkurangnya waktu untuk manja dan bermain dengan orangtua. 

⚫Rasa Cemas

Rasa cemas ditandai dengan kekhawatiran dan prasangka buruk yang disertai dengan ketidakmampuan anak untuk mencari pemecahan masalah. Penyebab utama cemas adalah ketakutan yang dibayangkan di dalam pikiran, salah satunya ketakutan kehilangan kasih sayang orangtua. 

rasa cemas diekspresikan dalam bentuk perilaku murung, gugup, sulit tidur nyenyak, cepat marah, dan sangat peka pada kritik. 

⚫Rasa Marah

Rasa marah adalah ekspresi yang paling sering diungkapkan anak dibandingkan emosi yang lain. Rasa marah biasanya muncul karena adanya rasa khawatir dan cemas. Anak-anak usia dini belajar dengan menggunakan ekspresi marah, mereka bisa mendapatkan perhatian dari orangtua, dan keinginan mereka dipenuhi oleh orangtua. 

Rasa marah diekspresikan dengan perilaku tantrum, seperti memukul, merebut mainan, menggigit. 

⚫Rasa Cemburu

Rasa cemburu adalah reaksi normal dari kehilangan rasa kasih sayang yang nyata, atau kemungkinan kehilangan rasa kasih sayang. Sumber rasa cemburu pada anak pertama merasa terabaikan karena orangtua memberikan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah pada bayi yang baru lahir. 

reaksi cemburu yang umum dilakukan anak-anak seperti menggigit, menendang, mendorong, meninju, mengompol, mengisap jempol, berperilaku seperti bayi.

 4. Reaksi Orangtua Pada Sibling Rivalry

👉 Reaksi reflek orangtua: menghentikan pertengkaran dengan memarahi dan menyalahkan anak pertama, dan membela anak kedua.

👉  Reaksi seharusnya : menyelesaikan penyebab sibling rivalry, bukan fokus di menghentikan pertengkaran.

FAKTA

Dalam studi penelitian di berbagai negara, saat anak kedua lahir, ibu-ibu cenderung menjadi lebih negatif, kasar, menyekang anak pertama, dan meminta anak pertama untuk tidak terlalu meminta perhatian seperti dulu. Anak pertama diharapkan berlatih mengendalikan diri dan bisa ikut berperan mengasuh adiknya. Bila anak pertama menunjukkan kecemburuan, orangtua cenderung melindungi anak yang lebih muda.

5. Mencegah menguatnya sibling rivalry

“Mencegah lebih baik daripada mengobati” Mencegah menguatnya sibling rivalry lebih baik dan lebih mudah daripada mengatasi sibling rivalry. 

Langkah-langkah yang bisa diambil orangtua untuk mencegah sibling rivalry:

◾Pra-kehamilan: menanyakan pada anak pertama apakah sudah siap memiliki adik.

◾Kehamilan: jika ibu hamil tetapi belum sempat menanyakan kesiapan anak pertama. Ibu dan ayah perlu menjelaskan bahwa akan hadir adik bayi.

◾Ayah dan ibu memberikan penjelasan apa saja yang akan terjadi saat adik bayi lahir. Penjelaskan disesuaikan dengan usia anak pertama, bisa lewat bermain ataupun bercerita. 

◾Ayah dan ibu mendiskusikan dengan anak pertama peran dan tugas yang perlu dilakukan anak pertama. Mendiskusikan peran serta anak pertama pada pengasuhan adiknya. 

◾Ayah dan ibu memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan rasa khawatir, cemas, dan cemburu.

◾Ayah dan ibu memastikan dan menunjukkan dengan konsisten bahwa kebutuhan psikologis anak pertama terpenuhi, seperti kasih sayang dan perhatian dari orangtua.

Mengatasi Sibling Rivalry

Bagaimana jika sibling rivalry terlanjur terjadi, apa yang bisa dilakukan orangtua? Langkah paling penting adalah fokus pada penyebab sibling rivalry, bukan pada menghentikan pertengkaran antar saudara.  

🔹Orangtua mengendalikan emosi diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengendalikan emosi anak pertama.

🔹Orangtua mengajak anak pertama dan kedua (jika anak kedua sudah bisa diajak komunikasi lisan), dan mendiskusikan “khayalan ketakutan” yang ada di pikiran anak pertama. 

🔹Jika anak belum bisa diajak komunikasi lisan, orangtua bisa memberikan pengertian dan konsisten menunjukkan dalam sikap bahwa anak pertama tetap mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtua.

🔹Orangtua memberikan kesempatan pada anak pertama untuk berkontribusi dalam merawat dan mengasuh adiknya. 

🔹Orangtua memuji proses kontribusi anak pertama, bukan pada hasilnya.

🔹Orangtua bersikap adil dalam memberikan hadiah, hukuman, kasih sayang, dan perhatian pada anak pertama, kedua, dan seterusnya

🔶 mitos ➡ jarak kelahiran antar saudara yang pendek menyebabkan sibling rivalry

🔶 fakta ➡ penelitian di berbagai negara, termasuk Indonesia, membuktikan jarak kelahiran yang dekat tidak terlalu mempengaruhi muncul atau tidaknya sibling rivalry

*penting*

  • Jangan memaksa anak untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. 
  • Buat kesepakatan kapan, bagaimana, dan bentuk perhatian yang akan diterima kakak. Yang pastinya akan berbeda dengan yg diterima adik baru

 

01ac8e2cbe8a6b3f4e09706b6ffc8268_-of-siblings-fighting-in-a-fighting-siblings-clipart_450-315

Mengikuti Kulwapp tersebut, aku kepikiran calon adek nya arthur besok. Gimana arthur dan adek-adeknya besok (adek-adek? duh adeknya lebih dari 1 nih, hahahaha)

Aku sedikit nanya dan konsultasi dengan mbak fauzia, tentang pikiranku ini apa yang sudah benar, apa yang salah, dan mana yang harus diperbaiki. Untuk mencegah terjadinya sibling rivalry anak-anakku nanti, karena semua harus dipersiapkan dari dini. Apalagi pola pengasuhan, meskipun nantinya akan ada saja intervensi dari luar mengenai pola pengasuhan yang aku terapkan.

Awalnya dulu aku ngerasa seneng anak pertamaku seorang anak laki-laki, karena aku juga menaruh harapan besok kalo udah gede bisa jagain ortu dan adek2nya. Tapi dengan kondisi arthur saat ini, pikiranku itu otomatis berubah.

Besok kalo ada adeknya, adeknya otomatis aku ajarin buat jagain / bantuin arthur. Meskipun arthur juga aku latih kemandiriannya sejak dini. Tapi yang aku takutkan adalah terjadi nya sibling rivalry.  Si adek kemudian merasa terbebani, atau cemburu. Merasa perhatian orang – orang lebih ke arthur karena kondisi arthur. Program kehamilan si adek mungkin masih 2-3 tahun lagi. Tapi saya mau mempersiapkan semua dr sekarang.

Nah, menurut mbak fauzia gimana, apa yang harus dibenahi pikiran saya ini? apa yang harus saya persiapkan kelak agar anak-anak saya tidakterjadi sibling rivalry.

Berikut jawaban dari mbak fauzia :

➡ merawat dan mengasuh anak istimiewa tentu membutuhkan orangtua yang istimewa juga. ketika saya praktek di SLB, saya berbicara dengan orangtua, dengan anak, dengan guru, saya mendapatkan kesimpulan orangtua yang istimewa itu: 

1. menerima kondisi-kondisi istimewa anak sepenuhnya, termasuk menerima diagnosa yang diberikan dokter ahli dengan penuh kerelaan dan keiklasan.

2. memberikan terapi-terapi yang dibutuhkan dan selalu mendampingi anak

memperlakukan anak istimewa seperti anak biasanya, mengijinkan anak untuk tetap bebas bermain seperti teman-teman lainnya. Tidak terlalu dilindungi dan dikasihani. 

3. orangtua tetap memberikan kebutuhan psikologis kepada anak, seperti kebutuhan diakui keunikan karakternya, dihargai pendapatnya, dihormati pilihannya, didengarkan saat bicara dan bercerita.

4. memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplore dirinya dan mengeksplore bakat minatnya seperti anak-anak lainnya

5. jika orangtua dan anak sudah menemukan bakat dan minatnya, fokus orangtua adalah mengembangkan bakat dan minatnya saja. tidak perlu terlalu memaksa anak untuk menguasai hal-hal di luar bakat dan minat.

*apa yang bisa saya lakukan?*

1. melepaskan harapan kepada anak yang melebihi kapasitas potensi anak

2. memberikan peran kepada anak sebagai anggota keluarga sesuai dengan kemampuannya

3. mengubah pola pikir menjadi Arthur bisa mandiri dan menjaga dirinya dan adiknya. Hapus pola pikir adiknya otomatis harus menjaga Arthur. tetap berikan pemahaman kepada calon adik tentang kondisi Arthur, tetapi jangan memaksa adik menjaga Arthur. jika memang calon adik ingin menjaga kakaknya, biarkan keinginan itu datang atas kemauan calon adik sendiri. 

4. berikan perhatian, kasih sayang, dan penerimaan kepada Arthur sesuai kebutuhan. mba bisa memperhatikan dan bertanya ke Arthur (kalau Arthur sudah bisa komunikasi lisan) seperti apa perhatian yang dia butuhkan, kapan ingin diperhatikan, dan bagaimana bentuk perhatian yang dia butuhkan. 

*note penting*

sibling rivalry terjadi ketika anak merasa terancam hubungan dengan orangtuanya akan hilang karena kehadiran adik baru. anak merasa porsi kasih sayang, perhatian, dan penerimaan akan jauh berkurang. karena itu penting bagi orangtua mengenai perhatian yang dibutuhkan anak, sehingga anak bisa mendapatkan perhatian yang tidak berlebih dan tidak kurang.

Stevie Wonder

Stevie Wonder

Tau stevie wonder? Salah satu legenda musik,  penyanyi asal amerika. Jujur aja, aku nggak tau lagu dia. Cuma tau namanya doang. hehehe

Waktu aku browsing tentang ROP, ada artikel mengenai stevie wonder ini.

Mungkin belum banyak yang tau. Stevie wonder ini terlahir prematur, ibu nya melahirkan dia maju 6 minggu dari HPL. Dia berada di inkubator dan mendapat terlalu banyak tekanan oksigen sehingga mempengaruhi perkembangan retina matanya. Dan kemudian dokter pun mendiagnosa dia buta permanen. Stevie wonder adalah salah satu penyandang ROP stage 5.

Walaupun dari bayi dia memiliki hambatan penglihatan tapi ibu nya memperlakukan dia sama seperti anak-anak nya yang lainnya. Tidak ada perlakuan khusus. Sehingga dia bisa mandiri, percaya diri, dan dia memilki potensi di dunia musik.  Potensinya tersebut terus digali sehingga dia bisa menjadi salah satu penyanyi legenda dunia seperti saat ini.

Aku sedikit terinspirasi oleh ibunya. Yang mendidik dia tanpa membedakan perlakuan dan tanpa mengkhususkan bahwa stevie wonder seorang tuna netra. Ibunya menganggap stevie wonder seperti anaknya yang lain. Semoga aja aku bisa  mendidik Arthur seperti itu. Tidak memberikan perlakuan khusus kepada nya dan tidak membedakannya ketika Arthur memiliki adik.

 

“Mama was my greatest teacher, a teacher of compassion, love and fearlessness. If love is sweet as a flower, then my mother is that sweet flower of love.” — Stevie Wonder.

Prematurity Awareness

Prematurity Awareness

Mengapa saya membuat blog ini?

  1. Sharing and Caring. Saya mengalami kelahiran anak pertama secara prematur. Di usia gestasi 30w, berat badan bayi saat lahir hanya 1500gr. Dan arthur terdiagnosa ROP.
  2. Membantu untuk ber-edukasi. Karena masih Kurangnya edukasi tenaga medis mengenai penanganan bayi prematur. Saya ini hanya orang awam, bukan orang medis. Namun saya ingin berbagi pengalaman dan informasi yang sepengetahuan saya. Prematur tidak hanya masalah BBLR, masih banyak masalah riskan lain yang mungkin ditemui pada bayi prematur. Terutama masalah ROP ini. Belakangan kasus ROP semakin sering ditemui, dan sepertinya belum ada penelitian mengenai penyebab prematuritas di indonesia.
  3. Dan yang paling utama sebenernya untuk menjawab pertanyaan teman-teman dan orang-orang yang menanyakan kondisi Arthur. Karena saya capek juga lhoh menceritakan berulang-ulang kalau ada yang menanyakan tentang kondisi Arthur dari awal hingga saat ini. 
  4. Support special needs kids parents, dan juga untuk menyadarkan masyarakat kita ini mengenai disabilitas. Masyarakat Indonesia ini masih ada saja yang meremehkan para penyandang disabilitas. Padahal mereka sama saja seperti yang lain, tidak boleh membeda-bedakan. 
  5. Daripada cuma diliputi rasa penyesalan karena kondisi arthur seperti ini, tapi aku bisa apa sih? Mau nuntut dokter? Aku cuma orang biasa, bukan orang berduit banyak yang bisa ini itu. Daripada buang uang, tenaga, dan waktu untuk itu mending aku fokus ke tumbuh kembang arthur dan mendidik arthur. Dan aku juga cuma bisa kasihtau ibu yang lain mengenai kewajiban skrining untuk bayi yang terlahir prematur agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.

Semoga postingan di blog ini nanti nya bisa bermanfaat. thanks!