Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

TMII – Sabtu, 12 Agustus 2017

Hari ini kami mengikuti pertemuan komunitas area Jabodetabek. Komunitas ini kami sebut dengan baby community, yaitu komunitas untuk tumbuh kembang anak dengan hambatan penglihatan. Saat Arthur di Jogja pun, Arthur selalu datang ke acara pertemuan baby community area Yogyakarta. Biasanya pertemuan dilaksanakan di area indoor. Tapi kebetulan, kali ini pas Arthur lagi di Bekasi pertemuan dilakukan di outdoor, dan dipilih Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasinya. Selain piknik, tentu saja ada materi yang akan disampaikan, yaitu belajar mengenai orientasi mobilitas di luar ruangan, khususnya di ruangan publik, dan juga pengenalan whitecane (alat bantu berupa tongkat untuk tuna netra).

Materi disampaikan oleh ibu primaningrum yang sudah banyak pengalaman di dunia disabilitas, khususnya pendampingan ABK tuna netra. Pada pertemuan baby community kali ini, ada beberapa tema yang dibahas oleh bu prima.

 

1. Pengenalan whitecane

a. Kaitan / Crook  

Seperti namanya, bagian ini merupakan bagian yang memiliki fungsi sebagai pengikat pergelangan tangan dengan tongkat, tujuannya adalah agar tongkat tidak terlepas dari tangan pengguna jika terjadi benturan atau ketika tongkat terlepas dari genggaman pengguna. Disisi lain, bagian ini juga memiliki fungsi untuk mengikat disaat tongkat dilipat.  Pengikat ini biasanya berbahan yang bisa melar, seperti karet.

b. Pegangan / grip  

Bagian yang memiliki fungsi sebagai tempat jemari tangan untuk menggenggam tongkat.

c. Reflektor

Bagian yang memiliki fungsi memantulkan cahaya jika terkena sinar pada malam hari, sebagai penanda.

d. Ujung tongkat / tip

Bagian ini memiliki fungsi sebagai penuntun. Tip ini ada 2 macam, yaitu type fix(tetap) dan roller (beroda). Type fix biasa digunakan sebagai penuntun jalan yang memiliki berbagai macam kontur, sedangkan type roller digunakan pada jalan yang memiliki kontur rata/datar karena type ini dapat bergerak sesuai dengan dorongan tongkat. Biasanya type roller lebih cocok digunakan di area indoor.

2. Cara memakai tongkat

a. Mengukur panjang tongkat  

Mengukur panjang tongkat merupakan hal yang wajib dilakukan agar pengguna mendapatkan tongkat yang ideal sesuai dengan tinggi badannya, dengan panjang tongkat yang ideal maka akan memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Panjang tongkat yang ideal dapat diukur dengan mengukur tinggi antara dada pengguna hingga ujung kaki pengguna.

b. Menggunakan tongkat  

Cara penggunaan tongkat adalah dengan mengarahkan tip pada posisi 1-2 langkah didepan pengguna, lalu menggerakan tongkatnya ke kiri dan kanan dengan batasan selebar bahu pengguna.  Agar keberadaan tongkaatnya tidak mengganggu keberadaan orang lain disekitarnya.

3. Orientasi mobilitas

Pada sesi ini, bu prima menjelaskan mengenai pentingnya komunikasi berupa deskripsi kondisi dan situasi bagi para ABK tuna netra dalam melakukan mobilitas aktifitasnya. Dalam kegiatan ini para orang tua diberikan tantangan untuk mencoba menjadi seperti para ABK yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Para orangtua ditantang menggunakan blindfold (tutup mata) agar merasakan apa yang dirasakan anak-anak saat berada di ruang publik tanpa melihat.

Tantangan pertama, orangtua berjalan dengan blindfold dan dituntun tanpa adanya komunikasi. Kendala yang kami alami adalah, kami tidak ada bayangan sama sekali mengenai apa yang akan kami lakukan, seperti apa bentuknya, bagaimana melaluinya, dll.  Tentu saja banyak yang merasa ketakutan akan bahaya atau celaka apa saja yang ada didepannya saat berjalan. Karena tanpa diberikan informasi apapun tentang lingkungan tersebut.

Tantangan kedua, orangtua berjalan dituntun dengan blindfold dan diberikan pengarahan informasi,  mengenai situasi dan kondisi lingkungan tersebut dan  tentang apa saja yang ada didepannya. Sehingga kami memiliki bayangan mengenai apa yg akan kami lakukan dan kami mengerti apa yang harus dilakukan untuk melaluinya.  Kami merasa lebih baik berjalan tanpa melihat tetapi diberikan penjelasan mengenai jalanan yang dilewati sehingga merasa lebih waspada.

Jadi, kita sebaiknya harus memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai situasi dan kondisi lingkungan tempat anak berada dan apa yang ada di depan anak serta ada apa saja disekitarnya. Bahkan kalau bisa informasi tersebut diberikan secara detail. Sejak dirumah, sudah diinformasikan kita mau pergi kemana dan disana ada apa. Dan selama diperjalanan, menginformasikan kepada anak tentang situasi dan kondisi perjalanan yang dilalui. Misalnya lewat jalan apa, belok kemana, melewati apa, dan sebagainya.

 

4. Pendamping ABK  tuna netra

Menjadi pendamping ABK tuna netra kadang dilihat sebagai sebuah kegiatan yang mudah karena hanya tinggal mengarahkan dan menuntun sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini terpatahkan ketika bu prima menjelaskan bagaimana menjadi pendamping bagi para ABK, ada teknik-teknik tertentu untuk menjadi pendamping bagi ABK tuna netra ketika menuntunnya berjalan yaitu :

a. Pendamping harus berada disisi terlemah anak

Teknik ini dimaksudkan agar para pendamping dapat menutupi bagian terlemah dari anak, dalam artian ketika mendampingi anak untuk berjalan dan menemui halangan maka pendamping bisa mencegah anak terjatuh.

b. Pendamping didepan anka

Teknik ini ditujukan ketika anak melalui jalan yang sempit. Hal ini dimaksudkan agar pendamping dapat menuntun anak untuk melewati jalan tersebut, pendamping disarankan tidak berada dibelakang anak. Karena jika tinggi badan anak lebih tinggi dari pendamping maka akan menutupi pandangan pendamping.

Ibu Prima berbagi ilmu dan pengalamannya

Belajar penerapan mengenai orientasi mobilitas di ruang publik memang lebih menantang dibandingkan dengan belajar orientasi mobilitas didalam rumah.

Karena di ruang publik, para orangtua harus “kebal” dengan tatapan orang-orang. Tidak semua orang merasa welcome dengan keberadaan ABK. Pasti ada saja tatapan, pertanyaan maupun perkataan tentang ABK.

Kami, Para orangtua anak-anak dengan hambatan penglihatan

#Day2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

SLB VS sekolah umum inklusi

Seorang teman dari komunitas yang anak nya juga terdiagnosa ROP stage 5, pernah mendapatkan kata – kata seperti ini dari dokter mata yang memeriksa dan mendiagnosa.

Ibu  : Terus gimana dok? (menurutku, ini kata-kata yang otomatis akan terucap saat dokter memberikan hasil diagnosa)

Dokter : Ya anak ibu besok sekolahnya di SLB.

Jadi selama ini menurut masyarakat awam, dan seorang dokter sekalipun. Ternyata masih memandang bahwa seorang anak berkebutuhan khusus itu sekolahnya ya di SLB. Tidak ada yang salah dengan SLB, namun anak berkebutuhan khusus juga dapat bersekolah di sekolah umum bersama dengan anak-anak lain pada umumnya.

Di UUD 1945 dalam pasal 31 ayat 1 pun disebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. Dan lebih ditekankan lagi di dalam Undang – undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, bahwa pemerintah memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Sehingga anak ABK pun mendapatkan hak untuk memperoleh akses pendidikan di sekolah umum. Untuk itu pemerintah pun mencanangkan sekolah negeri harus bisa ber-inklusi.

 

PLAN A – SEKOLAH DI SEKOLAH UMUM INKLUSI

Apa itu pendidikan inklusi? Yaitu system layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak untuk belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individu sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal. (Ibu Siyam Mardini, M.Pd – Kepsen SD N Giwangan).

Beberapa orangtua anak ABK terkadang merasa minder, takut mental anaknya tidak kuat ataupun takut anak tidak bisa mengikuti pelajaran jika bersekolah di sekolah umum inklusi bersama anak-anak yang lainnya. Sehingga kemudian menyekolahkan anaknya di SLB.

Tapi InsyaAllah besok Arthur akan bersekolah di sekolah umum inklusi. Dan tugasku sekarang adalah memperjuangkan hak Arthur untuk mendapatkan hak pendidikannya, agar dapat bersekolah di sekolah umum bersama anak regular lainnya.

Nggak minder? Aduh, Ngapain harus minder??? Apa yang membuat minder? Aku justru bangga… Jangan pernah melihat kekurangan seorang penyandang disabilitas, tapi lihatlah kelebihannya. Dibalik kekurangannya pasti Tuhan memberikan dia kelebihan. Allah itu Maha Adil.

Nggak takut mental anak nya nggak kuat atau down? Arthur anak laki-laki, harus kuat dan tegar. Justru bersekolah dengan anak “biasa” lainnya akan menumbuhkan rasa percaya dirinya bahwa dia dapat diterima dalam pergaulan dan juga bisa bersosialisasi dengan anak non-difabel. Hidup di masayarakat itu heterogen sekali, kita harus bisa membaur satu sama lain untuk meng-inklusikan diri.

Nggak takut anaknya ketinggalan pelajaran atau nggak bisa mengikuti? Sistem pendidikan inklusi sudah dibuat sebaik mungkin. Dan pada sekolah inklusi, kurikulum yang dibuat untuk anak ABK berbeda dengan anak reguler. Pada anak ABK, kurikulum PPI (Progam Pembelajaran Individual) yaitu  proses pembelajaran yang akan mengikuti anak, bukan anak yang mengikuti kurikulumnya. Dan anak ABK juga memilki Shadow teacher (Guru pendamping Khusus) yang selalu memberikan bimbingan dan layanan kepada ABK yang memiliki hambatan, kesulitan dan keterbatasan dalam melakukan aktifitas belajar di sekolah, sehingga di kelas anak pun dapat terbantu. Shadow teacher juga menjadi fasilitator dan mediator yang menampung dan melayani segala macam yang menjadi kebutuhan ABK.

TIPS MENCARI SEKOLAH INKLUSI UNTUK ABK

Ada beberapa tips (sebenernya saran dari seorang psikolog) untuk persiapan Arthur bersekolah di sekolah umum nantinya.

  • Cari sekolah yang baik, yang bagus, yang tidak pernah bermasalah dengan siswa inklusi nya. Dan sekolah tersebut memiliki psikolog sekolah (bukan cuma lulusan S1 psikologi). Karena dengan adanya psikolog sekolah , penting untuk proses pembuatan kurikulum PPI (Program Pembelajaran Individual). Mengapa harus psikolog sekolah? Karena jika hanya sarjana psikologi, belum mumpuni untuk membuat PPI.
  • Seklah inklusi yang 1 kelas hanya berisi maksimal 15  anak dengan minimal 2 guru (1 guru utama dan 1 guru pendamping khusus)
  • Sekolah inklusi yang fleksibel dalam pemberian materi ujian , tidak harus selalu paper and pencil.
  • Guru – guru yang memiliki sertifikasi untuk mengajar anak berkebutuhan khusus (Lulusan PLB)

Usia Arthur memang belum genap 2 tahun, tapi aku mulai mencari informasi beberapa sekolah inklusi mulai dari sekarang. Karena terbatasnya “quota” ABK di kelas. Biasanya sekolah hanya dapat menerima 2-3 anak. Jadi sebisa mungkin kudu “inden” kelas dulu jauh hari. Syukur – syukur kalau Arthur bisa masuk ke playgroup inklusi. Susah banget lho cari Playgroup atau Daycare yang bisa menerima ABK.

 

PLAN B – Sekolah di SLB

Tapi misalkan Arhur pada akhirnya tidak bisa bersekolah di sekolah umum inklusi, plan B kami menyekolahkan Arthur di sekolah yang memang khusus untuk anak yang memilki hambatan penglihatan. Karena pihak sekolah inklusi pun selalu melakukan observasi dan asessement kepada anak terlebih dahulu sebelum menyatakan anak dapat bersekolah disana. Dan aku juga sudah mengantongi beberapa sekolahan inklusi yang sesuai dengan kriteria kami.

Untuk sekolah khusus, SLB A negeri untuk anak tuna netra yang paling bagus ada di Lebak Bulus Jakarta. Dan kalau mau sekolahin disana, Arthur harus berangkat subuh – subuh. Karena cukup jauh dari rumah dan juga menembus kemacetan yang luar biasa. Aku bayangin aja bingung sendiri, hahaha… Sementara, di Jogja sekolah khusus untuk tuna netra yang bagus dan banyak di rekomendasikan adalah YAKETUNIS milik yayasan keluarga tuna netra indonesia, dan Alhamdulillahnya letak sekolah tersebut dekat dengan rumah. Nggak sampe 10 menit naik motor juga dah sampe, tanpa harus bermacet-macet ria dulu. Yaketunis selain sekolahan juga menyediakan asrama madrasah, les tambahan pelajaran, dan juga les membaca Al Quran tiap sore. Itu salah satu alasan juga kenapa aku ingin menyekolahkan Arthur di Jogja aja daripada di Jakarta. Karena aksesnya mudah dan juga lokasi sekolahannya dekat, fasilitas yang disediakan pun juga bagus.

 

Mama Arthur bikin tulisan ini setelah mengikuti seminar pendidikan di UNY dalam rangka hari pendidikan nasional, dengan tema “Education for Disabilities”.

 

 

MPASI Arthur

Mengenai pemberian MPASI pada bayi prematur disarankan saat usia koreksi nya. Aku sering baca juga di grup tentang kapan sebaiknya pemberian MPASI pada bayi prematur, selain itu Sebelum kapan mulai pemberian MPASI yang tepat, aku konsultasi juga ke dsa untuk memastikan kapan arthur boleh mulai makan.

Aku sering baca diFB ada yang ngeshare tentang efek MPASI dini, resikonya, bahkan sampai menyebabkan kematian. Naudzubilah, serem banget. Mungkin karena kurang nya pengetahuan si ibu, dan biasanya manut apa kata mbahnya. Maklum kan orang dulu bayi 2minggu aja udah dikerokin pisang.

Arthur juga gitu. Waktu dulu arthur belum mpasi, dan uti akung nya semacam pengen lihat arthur makan :

Bapak : “Kasihan masak belom boleh makan” -> Tapi sejak mulai MPASI bb nya naiknya nggak secepet waktu masih ASI eksklusif. Selain karena anaknya banyak polah juga.

Mama : “Dulu aja ayahnya 2minggu udah dikerokin pisang sekarang nggak apa-apa kan” (Tapi jadi alergian sekarang. Alergi udang dan cuaca) -> cuma mbatin nggak berani ngomong hehehe

Kalau eyang nya arthur manut aja apa yang aku bilang karena aku juga kasih alasannya. Pokoknya kalau aku bilang nggak boleh dulu, ya nggak dikasih.

Tapi kalo uti arthur rada ekstrem juga. Lagi aku tinggal nyuci, eh arthur dikerokin pepaya, katanya mau coba dulu. Ya aku bilang nggak lah. Aku dah takut banget soalnya agak maksa. Ya namanya menantu kan pasti ngga enakan juga kan kalo ngadepin kondisi begini. Tapi Untung aja arthur nya terus bobok. Anak pinter 😭😭😭 Abis itu kalo uti nya arthur beli buah-buahan aku yang makanin daripada tau-tau dikerokin diem-diem.Wkwwkwk…

Waktu itu umur arthur sekitar 4bulanan koreksinya masih 2bulan. Duduk aja masih geleyotan. Kalau kesedak gimana. Salah satu ciri anak siap MPASI kan sudah bisa duduk dengan tegak. Supaya kalau makan nggak kesedak.

Bukannya aku nggak ngebolehin tapi BELUM WAKTUNYA BOLEH. Ya namanya juga bayi kalo dikasih ya mau-mau aja kan. Tapi kan kita nggak tau organ didalemnya, apakah pencernaannya sudah siap untuk mencerna makanan padat. Apalagi dengan riwayat prematurnya, saat lahir organ – organ belum sepenuhnya matang.

Pemberian air putih juga sebaiknya ditunda dulu sampai pemberian MPASI, kecuali ada kondisi tertentu misalnya minum obat. Atau untuk membersihkan lidah bayi. Itupun pemberiannya ada batasnya nggak boleh banyak-banyak. Karena air putih itu  dapat memperberat kerja ginjal bayi. Takaran air putih yang diperbolehkan untuk bayi di bawah 6 bulan adalah 2 ml, atau sekitar seperempat sendok teh, tidak lebih. Itupun jika benar-benar diperlukan dan tidak dianjurkan memberikan air putih dengan dot atau sippy cup sebelum usia 6 bulan.

https://www.id.theasianparent.com/bolehkah-bayi-minum-air-putih/amp/

Tapi kalau misal arthur minum obat atau vitamin nggak aku kasih air putih juga, dia nya nggak apa-apa kok palingan abis itu juga aku nenenin. Pernah juga arthur cegukan, mau dikasih air putih anget. Aku bilang diemin aja, normal kan bayi cegukan.

Aduh ya gimana ya. Mempertahankan arthur supaya Asi eksklusif, nggak MPASI dini dan nggak air putih dini waktu itu perjuangan buaaangeettt rasanya. Mempertahankan ditengah mitos, dan kebiasaan orang tua jaman dulu. Intinya tuh bukannya aku nggak ngebolehin tapi belum waktunya boleh. Nanti kalau udah waktunya juga bakalan aku kasih kok. Aku cuma nggak mau arthur kenapa-kenapa lagi. Karena efeknya juga bisa terjadi kalau dia udah besar nanti.

Waktu itu arthur mau 6 bulan, awalnya aku belum tau kalau pemberian mpasi bayi prematur sebaiknya saat usia koreksi. Aku agak ragu juga, lalu saat vaksin kami datang ke dokter yang berbeda dan menanyakan kapan sebaiknya pemberian MPASI. Dokternya bilang, kalau kenaikan berat badannya masih bagus tunda dulu. Dan tetap lanjutkan Asi. Karena waktu itu kenaikan BB Arthur sebulan rata-rata 1-1,5 kg. Maka kami tunda dulu pemberian MPASI nya.

Bulan depannya waktu vaksin coba ditimbang kenaikannya nggak sampai 1kg, dan coba nanya ke dokter (dokternya lain lagi) Katanya nggak apa-apa diberikan MPASI. Menu tunggal dulu, buah, biskuit. Tapi aku nggak langsung ngasih arthur makan gitu aja karena aku juga nggak begitu yakin ama yang dibilang dokternya. Akhirnya arthur mulai makan perdana nya waktu dia usia kronologis 7,5 bulan atau koreksi 5 bulan. Mungkin feeling seorang ibu juga untuk kapan saat nya yang tepat memberikan MPASI. Dan Aku ambil tengah-tengah nya aja antara usia 6 bulan kronologis dan 6 bulan koreksi nya.

IMG-20161112-WA0041

Awalnya aku cuma coba dulu kasih puree buah. Sehari sekali. Selama 3 hari. Lalu lanjut sehari 2 kali pagi dan sore, selama sekitar 2 minggu. Setelah itu baru rutin sehari 3 kali, pagi – siang – sore.

Seminggu pertama masih menu tunggal. Lalu abis itu 2* selama 1-2mingguan. Minggu berikutnya naik 3*. Walaupun ada yang bilang udah deh kasih 4* aja juga nggak apa-apa. Tapi maap, Nggak apa-apa buat anakmu belum tentu nggak apa-apa buat anakku. Anakku kan preemie pokoke mau tak awasin di awal MPASI nya hehehe

Arthur pinter maemnya. Duduk di infant seat, anteng dan Selalu habis. Apalagi kalau pakai kaldu kan gurih dia ampe merem melek. Tapi itu cuma bertahan 2-3 bulan aja. Abis itu dia mulai banyak polah dan nggak betah lama makan sambil duduk.

Apalagi waktu ke bekasi, aduh puyeng… Disana kan ngga ada kursi buat arthur makan. Aku sewain deh model booster seat, eh dia nya nggak mau duduk disitu. Malah pencalitan. Makan maunya sambil di titah, atau berdiri merambat. Untung ada sepeda tricycle, jadi makan bisa sambil duduk kalau disepeda. Aku capek sendiri kalau arthur makan gini caranya, gimana cara ngembaliin kebiasaan dia yang makan sambil duduk.

Akhirnya aku ngojokin ayah arthur pokoke beli high chair. Dan dengan kekuatan credit card datang lah high chair itu 😘👏🏻 Akhirnya arthur bisa makan sambil duduk di kursi dengan pewe. Berarti selama ini sebenernya dia minta dibeliin high chair sendiri ya. Hehehe…

Alasan kenapa nggak dari dulu aku beli high chair sendiri. Karena masih belum tau mau tinggal di bekasi apa jogja, masih bolak balik kesana kemari. Kalau beli nanti gotong kesana kemari, ya kali beli high chair nya 2 kan eman-eman. Jadi aku lebih milih sewa dulu. Sekarang kan banyak rental perlengkapan baby, di jogja atau bekasi lengkap semua.

Arthur pernah GTM karena mau tumbuh gigi yang atas. 2 Gigi bawah arthur tumbuh seminggu setelah arthur mulai makan dan tanpa demam, rewel atau GTM. Kalau gigi atasnya numbuh bareng langsung 4, tanpa demam rewel, cuma jadi susah makan. Akhirnya aku coba naik tekstur yang agak kasar. Dia mau makan lagi sih walaupun susah masuk nya dan nggak terlalu banyak. Mungkin pengen yang digigit-gigit gitu kali makan nya. Aku sampe bingung mau kasih makan apa, soalnya dia nggak mau disuap pake sendok. Yakali kan makan bubur atau tim suapin pake tangan. Akhirnya aku naikin teksturnya pake nasi dipenyekin. Ama bikin perkedel kentang no gulgar karena masih 10m.

Waktu usia 14m arthur GTM lagi , mau nya ngemil, biskuit, puding, buah.. Makan juga mulai ngelepehin segala. Ternyata gigi nya tumbuh lagi. Pokoknya kalo arthur kumat GTM nya curiga deh gigi nya ada yang mau numbuh.

Umur setahunan, arthur udah bisa ngikuti menu keluarga. Udah bebas gular juga, walaupun udah gagal no gulgar sejak usia sekitar 1om. Akhirnya kecapaian juga target mpasi. Pokoknya usia setahun mulai bisa makan nasi dan mengikuti menu keluarga. Cuma rasanya aja yang menyesuaikan untuk bayi. Arthur jadi lebih enak diajak pergi & jajan. Mo jajan ke KFC, McD, nongki, dia udah bisa ikutan makan, nggak sangu nasi tim lagi. Enaknya lagi, udah nggak perlu gantian yang makan buat gantian gendong arthur. Dia tinggal di dudukin di baby chair aja, terus kasih makanan. Ntar mulai deh dia sibuk ber-BLW. Hehehe…

Mencegah Terjadinya Sibling Rivalry Anak Berkebutuhan Khusus

Resume Kulwapp mengenai sibling rivalry oleh mbak Fauzia Chafitsa Anggraini S,Psi, M.Psi Psikolog. Beliau adalah seorang psikolog pendidikan dan konsultan perencanaan karier, Tetapi memiliki pengalaman praktek psikolog pendidikan anak dan remaja di Semarang.

8e1477594674803a67b0b0f09907b165

1. Pengertian Sibling Rivalry

Sibling Rivalry atau persaingan antar saudara diartikan sebagai kompetisi antar saudara untuk memperebutkan kasih sayang, penerimaan, dan perhatian dari ayah dan ibu. 

Sibling rivalry tidak bisa dihindari jika orangtua memiliki lebih dari satu anak

Perilaku yang muncul akibat sibling rivalry:

✔merebut mainan

✔menangis tanpa sebab yang jelas

✔ memukul adik

✔menendang adik

✔menggigit adik

✔membentak adik

✔Mencari perhatian orangtua

2.  Bagaimana Sibling Rivalry Terbentuk

👉 Mitos : faktor utama dan satu-satunya timbulnya sibling rivalry karena salah pola asuh orangtua.

👉 Fakta  : sibling rivalry timbul karena 2 faktor, faktor pemicu dan faktor penguat.

▶️ Faktor pemicu

Faktor pemicu sibling rivalry adalah ibu mengandung anak kedua, ketiga, dan seterusnya.

Benih sibling rivalry muncul karena anak pertama merasa hubungannya dengan orangtua terancam hilang dengan kehadiran adiknya

▶️  Faktor Penguat

Faktor penguat dari sibling rivalry yaitu reaksi dan kepekaan orangtua pada perubahan sikap anak pertama. 

Semakin orangtua peka dan bereaksi dengan tepat, sibling rivalry bisa dihindari saat anak kedua hadir

3. Sibling Rivalry dari Kaca Mata Anak Pertama

Persaingan antar anak adalah bagian dari fase perkembangan emosi yang dialami anak di usia dini. Meskipun sesuatu yang wajar terjadi, orangtua tetap perlu berperan aktif untuk menimalisir terjadinya persaingan antar saudara, terutama yang mengarah ke perilaku negatif.

Dari sudut pandang atau kaca mata anak pertama, sibling rivalry muncul karena adanya 4 emosi ini:

⚫Rasa Khawatir

rasa khawatir digambarkan dengan *“khayalan ketakutan”* atau *“gelisah tanpa alasan”*  Rasa khawatir muncul dari pikiran anak sendiri, bukan berasal dari interaksi dengan orangtua atau saudaranya. Rasa khawatir muncul karena membayangkan situasi – seperti kehilangan kasih sayang orangtua, berkurangnya waktu untuk manja dan bermain dengan orangtua. 

⚫Rasa Cemas

Rasa cemas ditandai dengan kekhawatiran dan prasangka buruk yang disertai dengan ketidakmampuan anak untuk mencari pemecahan masalah. Penyebab utama cemas adalah ketakutan yang dibayangkan di dalam pikiran, salah satunya ketakutan kehilangan kasih sayang orangtua. 

rasa cemas diekspresikan dalam bentuk perilaku murung, gugup, sulit tidur nyenyak, cepat marah, dan sangat peka pada kritik. 

⚫Rasa Marah

Rasa marah adalah ekspresi yang paling sering diungkapkan anak dibandingkan emosi yang lain. Rasa marah biasanya muncul karena adanya rasa khawatir dan cemas. Anak-anak usia dini belajar dengan menggunakan ekspresi marah, mereka bisa mendapatkan perhatian dari orangtua, dan keinginan mereka dipenuhi oleh orangtua. 

Rasa marah diekspresikan dengan perilaku tantrum, seperti memukul, merebut mainan, menggigit. 

⚫Rasa Cemburu

Rasa cemburu adalah reaksi normal dari kehilangan rasa kasih sayang yang nyata, atau kemungkinan kehilangan rasa kasih sayang. Sumber rasa cemburu pada anak pertama merasa terabaikan karena orangtua memberikan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah pada bayi yang baru lahir. 

reaksi cemburu yang umum dilakukan anak-anak seperti menggigit, menendang, mendorong, meninju, mengompol, mengisap jempol, berperilaku seperti bayi.

 4. Reaksi Orangtua Pada Sibling Rivalry

👉 Reaksi reflek orangtua: menghentikan pertengkaran dengan memarahi dan menyalahkan anak pertama, dan membela anak kedua.

👉  Reaksi seharusnya : menyelesaikan penyebab sibling rivalry, bukan fokus di menghentikan pertengkaran.

FAKTA

Dalam studi penelitian di berbagai negara, saat anak kedua lahir, ibu-ibu cenderung menjadi lebih negatif, kasar, menyekang anak pertama, dan meminta anak pertama untuk tidak terlalu meminta perhatian seperti dulu. Anak pertama diharapkan berlatih mengendalikan diri dan bisa ikut berperan mengasuh adiknya. Bila anak pertama menunjukkan kecemburuan, orangtua cenderung melindungi anak yang lebih muda.

5. Mencegah menguatnya sibling rivalry

“Mencegah lebih baik daripada mengobati” Mencegah menguatnya sibling rivalry lebih baik dan lebih mudah daripada mengatasi sibling rivalry. 

Langkah-langkah yang bisa diambil orangtua untuk mencegah sibling rivalry:

◾Pra-kehamilan: menanyakan pada anak pertama apakah sudah siap memiliki adik.

◾Kehamilan: jika ibu hamil tetapi belum sempat menanyakan kesiapan anak pertama. Ibu dan ayah perlu menjelaskan bahwa akan hadir adik bayi.

◾Ayah dan ibu memberikan penjelasan apa saja yang akan terjadi saat adik bayi lahir. Penjelaskan disesuaikan dengan usia anak pertama, bisa lewat bermain ataupun bercerita. 

◾Ayah dan ibu mendiskusikan dengan anak pertama peran dan tugas yang perlu dilakukan anak pertama. Mendiskusikan peran serta anak pertama pada pengasuhan adiknya. 

◾Ayah dan ibu memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan rasa khawatir, cemas, dan cemburu.

◾Ayah dan ibu memastikan dan menunjukkan dengan konsisten bahwa kebutuhan psikologis anak pertama terpenuhi, seperti kasih sayang dan perhatian dari orangtua.

Mengatasi Sibling Rivalry

Bagaimana jika sibling rivalry terlanjur terjadi, apa yang bisa dilakukan orangtua? Langkah paling penting adalah fokus pada penyebab sibling rivalry, bukan pada menghentikan pertengkaran antar saudara.  

🔹Orangtua mengendalikan emosi diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengendalikan emosi anak pertama.

🔹Orangtua mengajak anak pertama dan kedua (jika anak kedua sudah bisa diajak komunikasi lisan), dan mendiskusikan “khayalan ketakutan” yang ada di pikiran anak pertama. 

🔹Jika anak belum bisa diajak komunikasi lisan, orangtua bisa memberikan pengertian dan konsisten menunjukkan dalam sikap bahwa anak pertama tetap mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtua.

🔹Orangtua memberikan kesempatan pada anak pertama untuk berkontribusi dalam merawat dan mengasuh adiknya. 

🔹Orangtua memuji proses kontribusi anak pertama, bukan pada hasilnya.

🔹Orangtua bersikap adil dalam memberikan hadiah, hukuman, kasih sayang, dan perhatian pada anak pertama, kedua, dan seterusnya

🔶 mitos ➡ jarak kelahiran antar saudara yang pendek menyebabkan sibling rivalry

🔶 fakta ➡ penelitian di berbagai negara, termasuk Indonesia, membuktikan jarak kelahiran yang dekat tidak terlalu mempengaruhi muncul atau tidaknya sibling rivalry

*penting*

  • Jangan memaksa anak untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. 
  • Buat kesepakatan kapan, bagaimana, dan bentuk perhatian yang akan diterima kakak. Yang pastinya akan berbeda dengan yg diterima adik baru

 

01ac8e2cbe8a6b3f4e09706b6ffc8268_-of-siblings-fighting-in-a-fighting-siblings-clipart_450-315

Mengikuti Kulwapp tersebut, aku kepikiran calon adek nya arthur besok. Gimana arthur dan adek-adeknya besok (adek-adek? duh adeknya lebih dari 1 nih, hahahaha)

Aku sedikit nanya dan konsultasi dengan mbak fauzia, tentang pikiranku ini apa yang sudah benar, apa yang salah, dan mana yang harus diperbaiki. Untuk mencegah terjadinya sibling rivalry anak-anakku nanti, karena semua harus dipersiapkan dari dini. Apalagi pola pengasuhan, meskipun nantinya akan ada saja intervensi dari luar mengenai pola pengasuhan yang aku terapkan.

Awalnya dulu aku ngerasa seneng anak pertamaku seorang anak laki-laki, karena aku juga menaruh harapan besok kalo udah gede bisa jagain ortu dan adek2nya. Tapi dengan kondisi arthur saat ini, pikiranku itu otomatis berubah.

Besok kalo ada adeknya, adeknya otomatis aku ajarin buat jagain / bantuin arthur. Meskipun arthur juga aku latih kemandiriannya sejak dini. Tapi yang aku takutkan adalah terjadi nya sibling rivalry.  Si adek kemudian merasa terbebani, atau cemburu. Merasa perhatian orang – orang lebih ke arthur karena kondisi arthur. Program kehamilan si adek mungkin masih 2-3 tahun lagi. Tapi saya mau mempersiapkan semua dr sekarang.

Nah, menurut mbak fauzia gimana, apa yang harus dibenahi pikiran saya ini? apa yang harus saya persiapkan kelak agar anak-anak saya tidakterjadi sibling rivalry.

Berikut jawaban dari mbak fauzia :

➡ merawat dan mengasuh anak istimiewa tentu membutuhkan orangtua yang istimewa juga. ketika saya praktek di SLB, saya berbicara dengan orangtua, dengan anak, dengan guru, saya mendapatkan kesimpulan orangtua yang istimewa itu: 

1. menerima kondisi-kondisi istimewa anak sepenuhnya, termasuk menerima diagnosa yang diberikan dokter ahli dengan penuh kerelaan dan keiklasan.

2. memberikan terapi-terapi yang dibutuhkan dan selalu mendampingi anak

memperlakukan anak istimewa seperti anak biasanya, mengijinkan anak untuk tetap bebas bermain seperti teman-teman lainnya. Tidak terlalu dilindungi dan dikasihani. 

3. orangtua tetap memberikan kebutuhan psikologis kepada anak, seperti kebutuhan diakui keunikan karakternya, dihargai pendapatnya, dihormati pilihannya, didengarkan saat bicara dan bercerita.

4. memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplore dirinya dan mengeksplore bakat minatnya seperti anak-anak lainnya

5. jika orangtua dan anak sudah menemukan bakat dan minatnya, fokus orangtua adalah mengembangkan bakat dan minatnya saja. tidak perlu terlalu memaksa anak untuk menguasai hal-hal di luar bakat dan minat.

*apa yang bisa saya lakukan?*

1. melepaskan harapan kepada anak yang melebihi kapasitas potensi anak

2. memberikan peran kepada anak sebagai anggota keluarga sesuai dengan kemampuannya

3. mengubah pola pikir menjadi Arthur bisa mandiri dan menjaga dirinya dan adiknya. Hapus pola pikir adiknya otomatis harus menjaga Arthur. tetap berikan pemahaman kepada calon adik tentang kondisi Arthur, tetapi jangan memaksa adik menjaga Arthur. jika memang calon adik ingin menjaga kakaknya, biarkan keinginan itu datang atas kemauan calon adik sendiri. 

4. berikan perhatian, kasih sayang, dan penerimaan kepada Arthur sesuai kebutuhan. mba bisa memperhatikan dan bertanya ke Arthur (kalau Arthur sudah bisa komunikasi lisan) seperti apa perhatian yang dia butuhkan, kapan ingin diperhatikan, dan bagaimana bentuk perhatian yang dia butuhkan. 

*note penting*

sibling rivalry terjadi ketika anak merasa terancam hubungan dengan orangtuanya akan hilang karena kehadiran adik baru. anak merasa porsi kasih sayang, perhatian, dan penerimaan akan jauh berkurang. karena itu penting bagi orangtua mengenai perhatian yang dibutuhkan anak, sehingga anak bisa mendapatkan perhatian yang tidak berlebih dan tidak kurang.

AOP – Apnea Of Prematurity 

APNEA biasa terjadi pada bayi prematur. Hari pertama setelah arthur dilahirkan, arthur mengalami APNEA. Waktu itu, pagi – pagi aku tengok arthur masih nggak apa-apa. Tapi siangnya dia mulai APNEA, perawatnya bilang arthur boleh dipegang dengan sentuhan-sentuhan untuk merangsang supaya dia tidak henti nafas. Dan sore itu dokter anak bilang, arthur harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU dengan CPAP.

Walaupun ada sumber yang mengatakan, meskipun setelah seminggu tidak terjadi APNEA sama sekali, resiko nya kecil untuk terjadi APNEA lagi. Tapi, APNEA ini bisa juga terjadi pasca bayi pulang ke rumah, dokter dan perawat selalu pesen ke aku supaya sering di itung nafas arthur per menit. Seinget ku, normalnya bayi semenit itu 40-50 hitungan nafas. Kalau lebih dari itu  (nafasnya cepet) bisa aja sesek, dan kalau kurang dari itu yang di takutkan adalah terjadi APNEA lagi. Alhamdulillah, setelah pulang ke rumah, arthur tidak ada masalah dengan pernafasannya.

Belum lama kemarin, sempat ada pembahasan mengenai APNEA di grup pemature. Ternyata APNEA ini masih bisa terjadi saat anak eks preemie sudah memasuki usia sekolah. Memanglah anak eks preemie harus ekstra ketat, tidak boleh sembarangan. Berikut ini ada penjelasan mengenai APNEA yang bersumber dari kids health, di copy dari postingan facebook dr agung zentyo wibowo SpA

Mengenal Apnea of Prematurity, Bahaya Laten Pada Bayi Prematur

Setelah bayi dilahirkan, tubuh bayi membutuhkan oksigen secara terus-menerus. Pada bayi yang terlahir prematur, bagian pada sistem saraf pusat yang mengatur pernafasan belum cukup matang untuk mengatur pernafasan yang non-stop. Ini menimbulkan suatu periode nafas yang normal diikuti dengan periode nafas yang lemah, atau bahkan berhenti bernafas (apnea). Kondisi inilah yang disebut Apnea of Prematurity (AOP).

AOP cukup sering ditemui pada bayi prematur. Dokter biasanya mendiagnosis sebelum bayi boleh dibawa pulang. Apnea umumnya akan membaik dengan sendirinya seiring bertambah usia bayi. Ketika AOP sudah hilang, maka tidak akan kambuh kembali. Satu hal yang pasti, kondisi apnea sangat menakutkan bagi orang tua bayi prematur.

Apnea adalah kondisi dimana nafas benar-benar berhenti. Sebagian ahli mendefinisikan AOP sebagai kondisi bayi prematur yang berhenti nafas untuk 15-20 detik saat tidur.

Pada umumnya, bayi yang lahir kurang dari UK 35 minggu memiliki periode dimana mereka akan berhenti nafas atau detak jantungnya menurun (dalam bahasa medis disebut bradikardia). Ini adalah kondisi pernafasan yang tidak normal, bisa mulai terjadi sejak bayi berusia 2 hari hingga usia 2-3 bulan. Semakin kecil berat lahirnya, dan semakin prematur/awal lahirnya, maka sangat besar kemungkinannya untuk memiliki AOP.

Meskipun ini juga ditemui pada bayi umumnya, mereka berhenti nafas sejenak (pause) dan detak jantung, mereka yang memiliki AOP akan memiliki detak jantung dibawah 80 kali per menit yang menyebabkan bayi menjadi pucat dan kebiruan. Bayi juga tampak seperti lemah dan nafasnya berbunyi. Bisa jadi mereka bernafas lagi dengan sendirinya, atau memerlukan bantuan untuk bisa kembali bernafas.

Bedakan AOP dengan nafas periodik, yang juga umum ditemui pada bayi prematur. Nafas periodik ditandai dengan jeda/’pause’ pada saat bernafas yang hanya terjadi beberapa detik, dan diikuti oleh beberapa nafas cepat, dan lemah. Nafas periodik tidak disertai dengan perubahan pada warna kulit wajah (seperti kebiruan sekitar mulut), atau menurunnya detak jantung. Bayi yang memiliki nafas periodik bisa kembali bernafas dengan normal dengan sendirinya. Meskipun tampak menakutkan, nafas periodik tidak menimbulkan masalah khusus pada bayi baru lahir.

Pada kebanyakan kasus, bayi prematur (khususnya dengan UK <34 minggu) akan menerima bantuan medis untuk mengatasi AOP di NICU, dan perina. Ketika mereka lahir, bayi prematur harus dibantu untuk bisa bernafas dengan normal, karena paru—parunya belum matang, dan belum sanggup untuk bernafas dengan sendirinya.

Bayi yang memiliki AOP bisa diberikan obat minum atau intravena (infus) yang mengandung kafein untuk menstimulasi nafas mereka. Seperti halnya fungsi kafein pada kopi, dosis kecil bisa membantu bayi untuk tetap sadar dan bernafas dengan teratur. Kebanyakan bayi tidak memerlukan lagi kafein yang biasa mereka dapat di NICU, meskipun sebagian kecil tetap melanjutkan pengobatan setelah pulang dari RS.

Bayi perlu dimonitor secara terus-menerus untuk menemukan bukti terjadinya apnea. Monitor cardiorespiratory atau disebut apnea dan bradikardia atau A/B monitor, juga bisa melihat detak jantung bayi. Alarm pada monitor akan bersuara jika nafas bayi berhenti untuk beberapa detik. Ketika monitor berbunyi, perawat akan segera mengecek apakah terjadi distress pada bayi. Meskipun seringkali alarm bunyi tapi tidak ada apa-apa.

Kalau bayi tidak mulai bernafas lagi dalam 15 detik, maka perawat akan mengusap punggung bayi, tangan, dan kaki untuk menstimulasi pernafasan. Pada banyak kasus bayi dengan AOP akan mulai bernafas lagi setelah dilakukan stimulasi ini.

Bagimanapun, ketika perawat menangani bayi, dan bayi belum mulai bernafas, dan tampak pucat, kebiruan, maka oksigen akan diberikan dengan masker dan kantung udara. Perawat akan memasangkan masker udara ke wajah bayi dan memompa kantung udara untuk mendorong beberapa nafas masuk ke paru-paru. Biasanya beberapa nafas yang dibutuhkan, sebelum akhirnya bayi bisa bernafas lagi dengan sendirinya.

AOP bisa terjadi sekali atau beberapa kali dalam sehari. Dokter akan memonitor dengan ketat untuk evaluasi bayi untuk memastikan apnea tidak berasal dari sebab khusus, misalnya dari infeksi.

Kalau bayi tidak bernafas, dan wajahnya tampak pucat atau kebiruan, ikuti instruksi yang disarankan staf NICU. Biasanya yang harus dilakukan adalah teknik stimulasi lembut, dan jika tidak berhasil, baru lakukan CPR dan bawa ke RS. Ingat, jangan mengguncangkan bayi untuk membangunkannya.

Hal ini bisa jadi sangat membuat stres bagi orang tua, bayi pulang dengan membawa monitor apnea. Sebagian orang tua terus melihat monitor apnea bahkan takut untuk ditinggal kemana-mana. Biasanya ini akan membaik seiring waktu. Jika anda merasakan hal ini, sampaikan ke staf NICU. Mereka bisa menenangkan dan meyakinkan, bahwa orang tua bisa melewatinya, sama seperti orang tua bayi prematur yang lain.
(*pembahasan ini memang sangat tepat untuk di negara maju)

AOP biasanya menghilang seiring waktu. Untuk kebanyakan bayi prematur, AOP berhenti di usia post konsepsi 44 minggu. Usia post konsepsi dihitung dari usia kehamilan saat melahirkan ditambah usia setelah lahir. Pada beberapa kasus yang jarang, AOP berlanjut untuk beberapa minggu lebih lama.

Bayi yang sehat yang punya riwayat AOP biasanya tidak punya masalah tumbuh kembang khusus dibandingkan bayi lainnya. AOP tidak menyebabkan kerusakan otak. Bayi yang sehat dan sudah tidak apnea untuk 1 minggu, kemungkinan tidak akan mengalami AOP lagi.

Meskipun sindrom kematian bayi yang mendadak/Sudden Infant Death Syndromes (SIDS) bisa terjadi pada bayi prematur, tidak ada hubungannya antara AOP dan SIDS.

Selain dari AOP, komplikasi lain dari bayi prematur akan membatasi orang tua untuk bisa langsung berinteraksi dengan bayi. Tapi orang tua tetap bisa memiliki ikatan/’bonding’ yang baik dengan bayi saat di NICU. Bicarakan dengan perawat NICU, interaksi apa yang terbaik dilakukan saat di NICU. Apakah memegang, memberikan ‘makanan’, atau sekedar berbicara dengan lembut. Staf di NICU tidak hanya untuk merawat dan menangani bayi prematur, tapi juga untuk memastikan dan mensuport orang tua dari bayi prematur.

Sumber: KidsHealth

(Dari postingan di Facebook dr agung zentyo wibowo SpA)

Arthur Jadi Murid Klinik Tumbuh Kembang

Aku sering update di sosmed, arthur fisioterapi di hermina jogja. Terus pada nanya :

1. Arthur kenapa? 

2. Arthur terapi apaan sih? 

3. Buat apa arthur di terapi? 

4. Udah bagus kan perkembangannya kok masih di terapi? 

5. Sampe kapan mau terapi? 

6. dll dll dll dll dll bla bla bla

Mungkin ada yang aku jawab sekenanya aja, dan mungkin waktu itu ada yang udah tau dan ada juga yang belum tau kalau arthur ROP.

Jawaban pertanyaan temen-temen diatas baru sempet aku ceritakan disini.
Kelahiran arthur yang secara prematur, membuat dia punya 2 usia. Usia kronologis yaitu usia sesuai hari kelahirannya. Dan usia koreksi yaitu usia sesuai HPL (Hari Perkiraan Lahir) seharusnya. Usia koreksi digunakan untuk memantau tumbuh kembang anak prematur. Seperti berat badan, panjang, lingkar kepala. Serta perkembangannya seperti saat tengkurap, berguling, duduk, merangkak, merambat, berjalan, dll.
Tentang tumbuh kembang arthur sendiri, awalnya aku cukup memaklumi karena kelahirannya yang prematur pasti akan ada sedikit keterlambatan dan kemudian bisa dipantau dengan menggunakan usia koreksi. Sehingga perkembangannya pun tidak bisa menyamakan dengan anak yang seusianya.

Tapi kemudian arthur di diagnosa ROP. Ada rasa ketakutan sendiri buat aku. Aku takut arthur kemudian GDD (Global Development Delay). Karena dia prematur dan memiliki hambatan penglihatan. Tentu aja bisa mempengaruhi millestones perkembangannya. Waktu imunisasi dan konsultasi ke salah satu DSA di bekasi, dokternya ngasih rujukan supaya arthur di fisioterapi dan juga di rujuk untuk diperiksa ke neurolog anak (dokter anak subspesialis syaraf anak).

Waktu ketemu neurolog, Arthur diperiksa dan disarankan MRI, tapi aku terus bilang kalau arthur udah pernah CT scan apa masih harus dilakukan MRI juga. Ternyata nggak perlu lagi kalau udah dilakukan CT scan. Sayangnya waktu ketemu dengan neurolog, hasil CT scannya nggak aku bawa. Arthur kemudian diminta untuk fisioterapi. Di surat rujukan untuk fisioterapi dituis microsephaly. Duh arthur kena apalagi coba, dibilang microsephaly segala. Microsephaly itu lingkar kepalanya kecil, tidak sesuai dengan seusianya. Sehingga bisa berpengaruh ke perkembangan otak dan juga perkembangan anak. Aku malah jadi takut kok ada diagnosa beginian lagi. Aku juga baru nyadar kalau dokter nulis microsephaly pas mau daftarin fisioterapi, jadi nggak sempet nanyain.

Fisioterapi di hermina bekasi memang terkenal bagus. Dan tempat pelatihan para terapis hermina se indonesia. Kemudian kami daftar buat fisoterapi arthur, ternyata fisioterapi di hermina bekasi sistemnya paketan Mau yang berapa kali pertemuan, dan bayar nya diawal. Jadwalnya nanti di cocokan juga dengan terapis yang kosong hari itu. Kirain sistemnya sekali dateng terus bayar. Padahal dalam waktu dekat rencana nya mau balik jogja. Kan nanti sayang juga, udah terlanjur daftar dan bayar tapi malah nggak dilanjutin karena mau balik ke jogja.

Akhirnya kami putuskan fisioterapi di jogja aja. Sambil cari dokter yang kompeten di jogja.
Aku kan suka mantengin instagram dan blog @grace.melia , anaknya yang terkena rubella rutin fisioterapi. Aku terus DM in dia di instagram nanya fisioterapi si ubii dimana dan siapa dokter nya. Orang ini ramah banget, belum kenal sama sekali dia langsung merespon dan kasih masukan juga. Ubii fisioterapi di RS UGM, dia juga kasihtau gimana prosedurnya, dokter rehab medik dan neurolog nya dengan siapa. Dia juga bilang kalau fisioterapi bisa dengan BPJS dan belakangan ini fisioterapi di RS yang ber-BPJS antriannya ramai. Sistemnya pun bayar per kedatangan, kata grace di RS UGM 55ribu/ kedatangan.

Setelah beberapa hari di jogja, aku bawa arthur ke RS UGM. Sesuai dengan prosedur yang dikasih tau gracemelia. Aku Ketemu dengan dokter rehab medik nya, Bawa surat rujukan dari neurolog di bekasi. Aku cerita riwayat prematur dan ROP arthur. Aku juga nanya tentang microsephaly yang dibilang neurolog di surat rujukan. Kemudian dokter rehab medik menjelaskan, karena arthur lahir prematur dan BBLR, fisiknya kan kecil banget saat lahir, jadi sebenernya normal aja lingkar kepalanya. Tinggal besok pertumbuhan dan perkembangannya lingkar kepalanya gimana. Kan masih dalam masa pertumbuhan, jadi sebaiknya dipantau juga. Semoga saja perkembangan lingkar kepalanya bisa mengikuti sesuai dengan usia (koreksi) nya. Denger itu aku agak lega juga. Memanglah second opinion itu penting…

Saat itu arthur di cek perkembangannya udah bisa ngapain aja, waktu itu arthur umurnya sekitar 7bulanan koreksi 5 bulan. Baru bisa baring & miring doang 😅 Belum bisa tengkurep sendiri, Kalau ditengkurepin pun belum kuat angkat kepalanya. Dokternya kemudian saranin fisioterapi seminggu 2-3 kali tapi karena antriannya lama, dokter ngajarin stimulasi supaya arthur bisa angkat kepala kalau ditengkurepin. Padahal kalau dipangkuin atau gendong lehernya dah kuat tegak. Selesai ketemu dokter rehab medik. Aku ke bagian respsionis fisioterapi buat daftarin arthur. Dan ternyata antrinya bisa 2-3 bulanan.

Karena lama banget tunggu kabar dari RS UGM yang nggak pasti, aku mau coba ke hermina jogja. Karena dokter rehab medik nya juga praktek disana. Daripada arthur keburu telat perkembangannya pikirku. Sekalian Aku juga coba browsing Dokter anak subspesialis tumbuh kembang anak di jogja, ternyata beliau juga praktek di hermina jogja. Dan sekalian aja pas jadwalnya vaksin, daftar dengan dsa subspesialis tumbang. Biar sekalian konsultasi juga. Sesampai di hermina jogja, aku coba nanya tentang fisioterapi takutnya antri juga. Ternyata nggak, berhubung hermina jogja termasuk RS baru dan belum menerima BPJS jadi antrian fisioterapinya ngga kayak RS yang udah ber-BPJS. Jadi malem itu daftar besoknya bisa langsung fisioterapi. Biaya fisioterapi di hermina jogja agak lebih mahal , 95ribu/pertemuan.

Karena hermina jogja rada jauh dari rumah. Aku daftar seminggu 2x aja. Kalau seminggu 3x agak kerepotan juga nanti yang antar jemput. Aku terus ngisi jadwal mau ambil hari apa dan jam berapa, nyesuain jadwal yang masih kosong disitu. Dan saran dari terapis diselang seling aja harinya. Supaya latihannya nggak melulu dari terapis tapi juga dilakukan latihan di rumah. Karena pada dasarnya fisioterapi tumbuh kembang / bobath, lebih ke ngajarin orang tua buat dilakukan latihan di rumah. Awalnya aku ambil hari selasa dan sabtu. Tapi cuma bertahan beberapa kali pertemuan aja, kemudian aku ambil jadwal seminggu sekali. Hari sabtu doang. Soalnya ndak nggak ada yang nganter dan nemenin.

Terapis arthur cowok, mas – mas gitu. Ada 2 orang yang menangani arthur. Sebelum latihan arthur dipijat dulu. Dia kalo dipijet awalnya diem tapi lama kelamaan nangis. Jadi pas mulai sesi terapi nangis kejer. Kata terapis, emang biasanya pada nangis kalo sesi terapi gini. Mas nya bilang seneng kalo megang arthur soalnya walaupun nangis kejer gitu, arthur tetep mau mengikuti apa yang diajarin. Jadi latihannya pasti sambil nangis kejer. Kadang ada anak yang kalo udah nangis kejer gitu badannya terus dikakuin jadi bikin nggak bisa maksimal latihannya. Awal-awal ikut fisioterapi Arthur belajar tengkurep, berguling dan angkat kepala. Sekitar 1-2bulanan fisioterapi akhirnya arthur bisa tengkurep dan kuat angkat kepalanya dikit, tapi masih belum bisa on hand (tengkurep angkat kepala dan dada dengan tumpuan tangan yang tegak – moga bisa bayanginnya ya hehe). Setelah program belajar tengkurep berguling, selanjutnya belajar bangun untuk duduk. Arthur usia 8 bulanan mulai bisa duduk (didudukin) walaupun masih goyang doyong-doyong dan ambruk. Cukup lama ngajarin Arthur bangun duduk sendiri. Dia sebenernya kurang dikit banget. Halah, paling cuma tinggal 10% aja, buat dia bangun duduk sendiri. Sambil ngajarin duduk sendiri, dikasih latihan juga untuk ongkok – ongkok. Arthur masih belum begitu kuat tengkurep sambil on hand nya, jadi ongkok – ongkok nya juga masih belum muncul.

Arthur jadi murid fisioterapi di klinik tumbuh kembang hermina jogja cuma 3 bulanan aja. Soalnya Akhir tahun diajak ke bekasi jadi fisioterapi di stop. Pas pertemuan terakhir aku konsultasi dan minta diajarin sama terapis , PR nya apa aja. Pokoknya target nya arthur kudu dah bisa bangun duduk sendiri dalam waktu sebulan. Karena duduk statis nya sudah bagus. Tapi masih belum bisa bangun duduk sendiri. Nah pas dibawa ke bekasi, baru 2 mingguan di sana arthur udah bisa bangun duduk sendiri. Pertamanya dia tengkurep terus ongkok-ongkok, tau-tau bisa duduk sendiri.

Kalau pada bilang efek tiap hari ngumpul ama ortunya lengkap jadi bikin perkembangan anak bagus. Maklum jarang ketemu ayah. Tapi nggak cuma bagus menurut aku dan keluarga. Perkembangannya mendadak jadi cepet banget. Dibanding pas di fisioterapi. Setelah dia bisa duduk, dia juga mulai merangkak dan juga merambat berdiri. Apalagi mertuaku type nya cas cis cus… Tau arthur merambat berdiri terus diajarin jalan, dititah. Awalnya emang cm mau melangkah 1-2langkah tapi lama-lama akhirnya mau jalan dititah. Terus dikenalin naik tangga juga. Ampe anaknya ketagihan main naik-naik tangga.

Sekitar 2 bulan di bekasi, arthur balik ke jogja lagi. Maklum ya arthur ini masih no maden, galau mau di mana 😜 Besok kalau udah mulai sekolah baru deh menetap, mumpung belum sekolah bolak balik jogja – bekasi deh. Pas di jogja, seperti biasa kalau jadwal vaksin sekalian konsultasi. Dsa arthur nanya perkembangan arthur sekarang, kemudian aku ceritain arthur sekarang dah bisa ngapain aja. Menurut dokter, perkembangan arthur dengan kondisi nya yang ROP sudah sangat bagus. Dan udah nggak perlu dilakukan fisioterapi lagi.

Di grup baby community pernah dibahas tentang “Fisioterapi yes or no” Jadi semacam sedikit perdebatan gitu sih. Seberapa pentingkah terapi A B C, kenapa kok ortu berpikir memberikan terapi A B C, apakah terapi membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi, dll. Sebenarnya sih kembalikan ke masing-masing lagi aja, karena setiap orang tua pasti memiliki alasan tersendiri dan ingin yang terbaik untuk buah hatinya. Pendapat seriap ortu pasti berbeda-beda.

Kalau menurut aku dan lingga, sebagai ortu kami saat ini fokus pada tumbuh kembang arthur. Kami konsultasikan kepada dsa tumbuh kembang yang menurut kami memang ahli nya, beliau menyarankan fisioterapi. Beberapa dsa juga menyarankan demikian. Terapi melalui fisioterapi ini membantu dalam proses tumbang anak, karena aku dan lingga orangnya kudu diajarin secara praktek dulu baru mengerti. hehhehe.. Kan terapis nya juga ngajarin langsung secara praktek untuk melatih arthur dirumah. Jadi prosesnya bukan cuma tergantung pada terapis saja. Terapis ngajarin praktek yang bener untuk latihan, takutnya ngajarin stimulasi nya salah dan malah resiko cedera pada anak. Kadang di rumah aku juga tambahin melatih stimulasi indra lain, karena terapis nggak ngasih stimulasi indra lainnya.

Pokoknya masalah terapi itu intinya cuma : sering – sering aja anaknya dilatih dirumah, karena terapis cuma ngajarin dan bantu ngoreksi. 

Retinopati pada Prematuritas

Berikut mengenai ROP, oleh dr rozalina loebis spM

Seputar Kesehatan Mata Anak

Retinopathy of prematurity (ROP) adalah penyakit mata yang terjadi pada bayi yang terlahir prematur dengan usia kehamilan kurang dari 31 minggu dan berat badan lahir kurang dari 1250 gram. Semakin premature dan semakin kecil bayi, maka kemungkinan terjadinya ROP semakin besar.

Penyakit ROP ini menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah abnormal pada retina, yaitu lapisan jaringan syaraf pada mata yang penting untuk penglihatan.Pertumbuhan pembuluh darah abnormal pada retina ini akan menyebabkan lapisan retina terlepas dan mengakibatkan kebutaan.

Bayi yang terlahir prematur pada usia kehamilan < 32 minggu dengan berat badan lahir < 1500 gram, harus menjalani skrining mata untuk kemungkinan Retinopati pada Prematuritas ini.

Pada skrining, maka akan ditentukan kondisi pembuluh darah retina bayi prematur tersebut.

ROP dibagi menjadi 5 stadium :

Stadium I — Pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang ringan. Pada stadium ini biasanya membaik sendiri dan bayi akan mempunyai penglihatan yang normal.

Stadium II — Pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal…

View original post 390 more words