Telinga Arthur Berdarah

Sejak usia 8 bulanan, Arthur mulai susah dibersihin telinganya. Dan kotoran di dalem telinganya tuh udah kayak upil – upil. Kalau dia pas lagi nenen aku sering iseng ngintipin dan aku senterin. Aku malah jadi risih sendiri lihatnya, dan juga takut kalau kotoran itu bisa menggumpal malah jadi susah keluar atau bisa bikin mampet.

Mumpung Arthur tidur dan posisinya miring, aku bersihin telinganya. Aku bersihin pakai stick flashlight, pembersih telinga yang ada lampunya itu. Biar kelihatan dimana kotorannya. Karena kalau pakai cotton bud biasanya akan mendorong kotoran semakin masuk ke dalam, bukannya ngeluarin kotoran. Aku mau keluarin kotoran di dalem telinganya yang udah kayak upil itu. Pertama, telinga kiri nya dulu pelan -pelan dan akhirnya berhasil keluar tuh kotorannya. Bener aja, kotorannya sampai udah agak keras gitu. Walaupun belum bersih banget telinganya yang kiri, tapi dia udah mulai ngulet-ngulet mau kebangun. Terus akhirnya minta nenen. Sambil nenen, akhirnya aku bersihin tuh telinganya yang kanan.  Tapi mungkin karena Arthur masih agak sadar, dia terus gerak – gerak. Tau – tau Arthur nangis, dan nangis nya sampe kejer. Awalnya aku kira karena dia kaget keganggu tidurnya. Gara – gara mamanya bersihin telinganya waktu dia masih enak tidur. Aku nggak tau ternyata waktu itu telinga Arthur jadi luka. Hikkksss… Aku nyesel banget!

Malem itu, Arthur nangis ampe sesenggukan. Maaf ya mama waktu itu nggak tau kalau telinga kamu malah jadi sakit. Mama kira kamu cuma kagol karena boboknya keganggu. Dan tengah malem, Arthur baru bisa bobok lagi. Setelah dipijitin badannya terus nenen.

Paginya, aku lihat telinga Arthur yang kanan ada hitam – hitam nya. Aku kira itu kotoran yang semalem, akhirnya keluar. Tapi kok banyak gitu ya… Atau jangan – jangan darah… Aku jadi deg deg seerrr….

Abis Arthur mandi, aku coba bersihin pakai cotton bud di bagian lubang luar nya, dan ternyata bener itu bukan warna hitam. Tapi setelah kena air warnanya jadi merah. Aduh, telinga Arthur berdarah. Aku coba nggak panik dan nggak bikin orang lain panik karena kalau panik malah jadi ambyar semuanya. Aku terus whatsapp papanya Arthur yang udah di kantor. Katanya, di deket rumah ada dokter THT yang buka praktek di rumahnya. Disuruh coba kesana dulu aja daripada langsung ke hermina bekasi.

Mau langsung kesana tapi hari itu di rumah nggak ada motor. Dan karena masih suasana lebaran, masih ada tamu dan saudara yang datang berkunjung ke rumah. Nggak tau juga jadwal praktek dokter itu jam berapa aja, dan udah buka belum abis lebaran gini. Arthur juga terlihat biasa aja, nggak rewel, nggak terlihat kesakitan atau risih telinganya. Dia nggak megang – megang telinganya juga. Karena biasanya kan kalau telinganya kesaitan atau risih, anak bakalan rewel atau sering megang telinganya.

Malemnya setelah papa Arthur pulang dari kantor. Seperti biasa, Arthur minta ngajak jalan – jalan keliling naik motor dan biasanya pulang – pulang dia terus bobok. Sekalian pas jalan muter keliling, mau lewatin rumah tempat praktek dokter THT itu. Buat nanya dokternya udah buka praktek belum, takutnya masih libur lebaran. Waktu lewat rumah sekaligus tempat praktek beliau, ternyata udah sepi. Namanya dr Janius Emra Sp THT. Ternyata kalau siang beliau praktek di hermina bekasi juga. Sementara di klinik rumahnya, buka setiap hari pagi dan sore. Senin sampai Sabtu pagi jam 06.30-08.00 dan sore jam 16.30-18.00. Di hermina bekasi beliau praktek senin sampai sabtu jam 10.00-12.00.

Akhirnya esok paginya, aku bawa Arthur ke klinik nya dr Janius. Pagi itu antrinya nggak banyak, cuma beberapa orang aja, jadi nggak lama nungguinnya. Giliran Arthur masuk ruangan periksa. Dokter Janius sepertinya memang sudah senior, dan memiliki gaya khas dan santai. Hampir seperti Prof Anwar yang membantu persalinan Arthur dulu.

Dokter tanya siapa yang mau periksa dan kenapa. Akhirnya aku ceritain kalau aku kemaren abis bersihin telinga Arthur dan malah berdarah. Dokter nyuruh nidurin Arthur ke bed, untuk diperiksa telinganya. Aku nawarin untuk pangku Arthur aja, karena Arthur pasti nggak bakalan mau dan berontak kalau diperiksa ditidurin di bed. tapi dr janius dengan gaya khasnya bilang , “udah nggak apa-apa nangis nanti dipegangin aja, saya periksa telinganya sambil dia tiduran”.

Akhirnya, daripada nggak jadi diperiksa, aku tidurin Arthur ke bed dan bener aja Arthur nggak mau ditidurin. Dokter megangin tangan dan kepala Arthur sambil nyenterin telinganya. Tapi dia terus ganti alat, semacam teropong kecil untuk memeriksa telinga. Aku pegangin tangan Arthur, Andien (Tantenya Arthur) megangin kaki nya, dan dokter megangin kepala Arthur sambil meriksa telinganya. Arthur jelas aja merasa nggak nyaman digituin dan dia nangis kejer.

“Wah, ini masih berdarah bu” Kata dokter Janius.

Duhhhh.. masih berdarah? Aku kira udah nggak keluar darah lagi. Tinggal dibersihin aja.

Dokter kasih Arthur resep obat untuk dibeli di apotek. Obatnya untuk diminum, aku kira bakal dikasih obat tetes telinga. Aku tanya fungsi obat itu untuk apa, katanya supaya lukanya cepet sembuh dan tidak keluar darah lagi. Supaya tidak terjadi infeksi.

Aku terus dimarahin ama dokter Janius “Lagian ibu ada – ada aja, ngapain telinganya dibersihin segala sih, buat apa? Memangnya orang bakalan lihat kotoran di dalem telinga, kan nggak kelihatan juga”

Bahasa dokternya nyantai banget gitu, dan tidak ada kondisi serius pada Arthur aku sedikit lega. Semoga hanya luka kecil di telinganya dan nggak kena ke telinga bagian dalam. Semua gara – gara mama mu nih Arthur.. iseng bener bersihin telinga segala…

Aku tanya ke dokter Janius, memangnya nggak apa – apa kalau kotoran telinga itu didiamkan saja, nggak dibersihkan. Karena orang dewasa aja kadang gatal kalau telinganya kotor. Tadinya aku khawatir kalau kotoran telinga Arthur yang udah kayak upil itu bikin dia gatal atau malah bisa menyumbat telinganya. Ternyata nggak apa – apa, kotoran telinga nggak berbahaya. Didiamkan saja, nggak usah diapa – apain. Kalau misalkan mau bersihin telinga, yang paling aman emang ke dokter THT untuk di vacuum tiap 6 bulan sekali. Pemakaian cotton bud atau korek telinga yang bentuknya kayak congkelan itu juga sebenernya nggak disarankan. Dan aku nggak mau lagi deh bersihin telinga Arthur. Takut Arthur kenapa – kenapa lagi. Karena telinga Arthur bisa membantu matanya untuk melihat. Besok lain kali, kalau mau dibersihin ke dokter THT aja.

Aku kira Arthur sekalian mau dibersihkan telinganya sama dokter Janius, tapi ternyata cuman diresepin obat. Karena telinga Arthur masih berdarah, dokter nggak berani mau bersihin telinganya. Takut malah luka kalau kena alat yang buat bersihin. Jadi sementara didiamkan dulu dan minum obatnya sampai habis. Dokter juga nggak nyuruh Arthur untuk balik kontrol lagi. Semoga aja Arthur telinganya udah sembuh, karena weekend kami mau pulang ke Jogja dulu.

 

Arthur Meet The Pediatric Opthalmologist @ Jakarta Eye Centre

Sekitar setahun sudah Arthur terdiagnosa ROP stage 5. Ingat dulu pontang panting kesana kemari mencari diagnosa. Karena sempat salah diagnosa oleh dokter mata di Jogja. Kalau inget itu aku jadi kesel sendiri! Kalau Arthur beneran retinoblastoma, mungkin sekarang dia udah di surga. Udah gitu seenaknya aja langsung disuruh tindakan untuk ambil bola matanya buat diganti bola mata palsu. Kok kayak cari duit banget ya, langsung main tindakan. Bukannya dirujuk untuk retcam dulu atau gimana. Padahal di RS mata yang di jogja itu juga ada retcam nya. ( ceritanya gimana baca disini aja deh : Retinoblastoma?!! )  Hissshhhh… Sudahlah… Daripada kesel & ngomel sendiri nggak ada gunanya karena inget yang lalu-lalu. Let’s move on!

Dulu Arthur akhirnya fix terdiagnosa ROP stage 5 di KMN (Klinik Mata Nusantara) Lebak Bulus, Jakarta Oleh dr. Rini Hersetyati Sp.M yang memang pediatric opthalmologist (dokter mata subspesialis anak). Dan dia banyak belajar tentang ROP. Jadi setelah melakukan retcam, dia langsung bilang arthur ROP stage 5 di kedua matanya. Meskipun sebelumnya di RS mata dr YAP jogja sempat terdiagnosa retinoblastoma dan di RS mata AINI jakarta diduga phpv (persistent hyperplastic primary vitreous).

Waktu mendengar penjelasan dr. rini aku down banget. Karena kedua mata Arthur memang sudah tidak bisa melihat dan tidak bisa diapa-apakan lagi.

 Diagnosa Final – ROP end of stage

dr. Rini bilang kalau Arthur tidak perlu kontrol-kontrol lagi. Tinggal di didik saja untuk masa depannya agar bisa mandiri dan survive dengan kondisi keterbatasannya tersebut. Tapi, setelah aku masuk komunitas orangtua dengan anak ber-hambatan penglihatan, disana ibu prima (pendamping komunitas tersebut) menjelaskan bahwa kontrol mata tetap harus dilakukan setahun sekali. Kontrol mata untuk anak ROP stage 5 bukan bertujuan untuk menyembuhkan karena memang dokter sudah nggak bisa apa-apa. Tapi tujuannya adalah untuk memeriksa kondisi kesehatan mata. Apakah ada iritasi dan infeksi atau tidak. Kondisi syaraf nya, Atau sudah sejauh mana kerusakan retina. Anak prematur yang bebas dari ROP maupun yang sudah mendapatkan tindakan sebelumnya, sebaiknya juga kontrol mata setahun sekali. Karena rentan mengalami minus tinggi yang berakibat lazy eyes atau starbismus (juling).

Masalah mata pada bayi yang terlahir prematur

Mumpung Arthur mau lebaran di Bekasi, sekalian aja kontrol mata tahunan. Karena sudah setahun yang lalu Arthur ke dokter mata, saat dia fix terdiagnosa ROP stage 5. Pilihannya 2, ke KMN lagi dengan dr. rini atau ke JEC dengan dr. florence. Dua-duanya adalah Pediatric Opthalmologist dan concern dengan ROP.

Aku dan lingga akhirnya memutuskan untuk kontrol mata Arthur ke Jakarta Eye Centre (JEC) dengan dr. Florence Manurung SpM. Karena :

  • Lebih deket ke Menteng daripada Lebak Bulus.
  • Kalau mau balik ke KMN Lebak Bulus macet banget karena daerah situ lagi ada proyek pembangunan MRT.
  • Banyak yang merekomendasikan dr florence di JEC, dan review dari mereka bagus. Katanya, dr flo enak diajak diskusi dan konsultasi.
  • Bulan ini lagi ada promo diskon 50% biaya admin di JEC kalau daftar online (maklum emak-emak).

2 minggu sebelumnya, aku daftarin Arthur secara online ke JEC menteng dengan dr. Florence. Sabtu, 18 juni 2017 kami pun ke JEC. Beberapa hari sebelumnya, Arthur udah di bilangin dulu kalau mau ketemu ibu dokter untuk diperiksa matanya. Pokoknya sounding – sounding terus sebelum hari H.

Sampai di JEC, Alhamdulillah Arthur nggak ngambek atau rewel. Dia ceria. Main – main dan jalan kesana kemari.

Begitu masuk ruangan, dr Flo bertanya masalahnya apa. Dan waktu aku bilang ROP, terlihat wajahnya seperti kecewa. Beliau langsung bertanya “Apakah ibu berasal dari daerah luar jakarta?”

Aku pun cerita kronologis Arthur waktu awal terdiagnosa ROP dulu, dan sudah periksa ke RS mana aja. Beliau agak menyayangkan karena Jogja termasuk kota besar.   Kemudian dia tanya history Arthur. Kelahiran Arthur, berat badan lahir, pemakaian oksigen selama di NICU, keadaan jantung dan paru-parunya, screening yang sudah dilakukan, apakah ada transfusi atau komplikasi. Pokoknya history medis yang paling penting bagi bayi prematur. Karena ini pertemuan pertama kali dengan dr Flo, beliau banyak bertanya mengenai riwayat medis arthur saat di NICU dan saat terdiagnosa ROP.

Waktu aku bilang, dulu di jogja salah diagnosa dibilang retinoblastoma, dr Flo langsung bilang “Ibu, kalau anak ini retinoblastoma dan itu diagnosa setahun yang lalu. Anak ini nggak mungkin kondisinya seperti ini. Dia pasti sudah di surga. Karena retinoblastoma itu kanker yang dapat mengancam nyawa. Kalau ROP tidak akan mengancam nyawa meskipun dia tidak bisa melihat lagi”

Beliau meminta hasil pemeriksaan Arthur dulu. Aku serahin hasil USG mata dari beberapa rumah sakit dan juga hasil retcam nya dulu. Aku juga bawa hasil CT scan yang segede gaban itu, tapi dr Flo nggak minta hasil CT scan nya. Kemudian beliau memeriksa mata Arthur menggunakan alat yang seperti teropong. Arthur diperiksa sambil main-main ama papanya jadi dia diem aja nggak berontak. Padahal aku udah takut banget kalau dia berontak pas kontrol.  Lalu Arthur juga di cek sisa penglihatannya. Dr Flo coba senterin mainan dan gerakin di deoan Arthur, dia bus mengikuti mainannya ke kanan kiri. Tapi waktu dr Flo coba gerakin jari atau tangannya ke kanan kiri, Arthur diem aja nggak mengikuti. Meskipun ikhlas, Sebenernya aku juga masih menaruh harapan akan hal ini. Tapi ternyata sama saja. Dr Flo bilang Arthur hanya respon pada cahaya. Yang jelas, dia nggak bisa lihat huruf sehingga untuk huruf harus dengan Braille. Kata dr Flo, kemungkinan Arthur ada di lowvision level terburuk yaitu bisa melihat cahaya saja. Dan aku juga tanya untuk penglihatan lain bagaimana, dr Flo bilang tunggu Arthur bisa berkomunikasi dulu. Aku sebenernya bingung, karena di komunitas dibilang anak seusia Arthur sudah bisa tes visus (tes jarak pandang / sisa penglihatan) tanpa harus menunggu anak bisa diajak komunikasi. Tetapi dr Flo bilang belum bisa. Padahal aku sebenernya juga butuh assesment dari dokter mata tentang penglihatan Arthur untuk persiapan Arthur masuk sekolah playgroup, tapi aku malah lupa karena banyak yang pengen aku tanyakan ke dr Flo.

Pertemuan dengan dr Florence sekitar 15 menitan. Aku suka dengan penjelasan beliau. Tanpa aku tanya banyak, beliau menjelaskan ini itu secara lengkap sambil browsing dengan google di komputernya untuk memperlihatkan kondisi mata. Beliau memperlihatkan gambar mata ROP, retinoblastoma, kornea keruh, dll. Aku juga dijelaskan kemungkinan Arthur salah diagnosa retinoblastoma dulu, karena hasil USG menunjukan ada sesuatu di dalam matanya. Dokter mata disana mengira itu sesuatu yang padat (seperti tumor) padahal sebenarnya itu adalah retina yang sudah retinal detachment, atau sudah terlepas dari tempatnya (Ablasio Retina).

Aku tanya tentang selaput putih yang ada di mata Arthur.  Apakah itu berbahaya?

Kata dokter itu tidak berbahaya. Itu adalah retina yang sudah terlepas dan menempel ke kornea, dan kornea sudah tidak berfungsi sehingga terlihat selaput putih-putih seperti itu. Nanti kalau Arthur sudah besar, bisa memakai soft lens hitam. Bukan untuk penglihatannya, tetapi hanya untuk kosmetikanya. Supaya orang tidak “takut” atau menganggap dia “aneh” dengan kondisi mata nya yang putih-putih. Dr Flo juga menjelaskan, bahwa beliau punya pasien anak yang matanya putih keruh seperti itu, bahkan sejak lahir di kedua matanya putih-putih. Dia tidak ROP, tetapi korneanya keruh (maaf saya lupa istilah medisnya)

Saat beliau sedang mencari di hp nya untuk memperlihatkan foto anak itu, aku langsung bilang “namanya syahnaz ya bu?”

dr florence kaget kok aku bisa kenal Syahnaz. Syahnaz itu teman Arthur di komunitas baby community (komunitas orang tua dengan anak hambatan penglihatan, hambatan penglihatan diagnosa apa saja tidak hanya ROP). Sebelum ke JEC aku whatsapp mamanya syahnaz dulu tanya tentang dr Florence sebelum akhirnya memutuskan periksa dengan dr Flo. Karena syahnaz abis operasi pencangkokan kornea dengan dr Flo, dan perjalanan syahnaz masih sangat panjang. Semoga syahnaz sehat selalu, dan selalu diberikan kelancaran rizki untuk kedua orang tuanya 😊 (Semangat terus untuk ortu syahnaz!).

Dr Flo menjelaskan, perbedaan Arthur dan Syahnaz. Kalau Arthur yang rusak itu dalem matanya, jadi kalau lampu yang sudah rusak bohlamnya mau diapakan lagi? Arthur sudah tidak bisa diapa-apakan lagi matanya. Kalau syahnaz, yang rusak itu luar matanya. Jadi masih bisa dibenerin. Dalem matanya syahnaz masih bagus, jadi luarnya saja yang kudu di benerin dengan pencangkokan kornea. Sampai saat ini, belum ada teknologi pencangkokan retina apalagi untuk kasus ROP. Retina itu selaput tipis seperti tissu. Kalau sudah rusak, robek, terlepas dan menempel ke kornea sudah susah dibenerin. Mau sampai ke Amerika, Eropa atau ujung dunia pun dokter mata disana juga pasti akan bilang “Buat apa buang-buang waktu, lebih baik gunakan waktumu untuk mendidik anakmu. Tumbuh kembang anak tidak akan bisa diulang kembali”

Intinya, ROP nggak main-main. Kalau udah terlambat nggak bisa disembuhin. Jadi jangan sepelekan screening ROP pada bayi prematur.

Arthur kembali kontrol mata tahun depan, tapi kalau mata Arthur ada infeksi atau iritasi harus segera dibawa ke dokter mata.

Terimakasih dr Florence Manurung SpM. 🙏🏻

 

 

MPASI Arthur

Mengenai pemberian MPASI pada bayi prematur disarankan saat usia koreksi nya. Aku sering baca juga di grup tentang kapan sebaiknya pemberian MPASI pada bayi prematur, selain itu Sebelum kapan mulai pemberian MPASI yang tepat, aku konsultasi juga ke dsa untuk memastikan kapan arthur boleh mulai makan.

Aku sering baca diFB ada yang ngeshare tentang efek MPASI dini, resikonya, bahkan sampai menyebabkan kematian. Naudzubilah, serem banget. Mungkin karena kurang nya pengetahuan si ibu, dan biasanya manut apa kata mbahnya. Maklum kan orang dulu bayi 2minggu aja udah dikerokin pisang.

Arthur juga gitu. Waktu dulu arthur belum mpasi, dan uti akung nya semacam pengen lihat arthur makan :

Bapak : “Kasihan masak belom boleh makan” -> Tapi sejak mulai MPASI bb nya naiknya nggak secepet waktu masih ASI eksklusif. Selain karena anaknya banyak polah juga.

Mama : “Dulu aja ayahnya 2minggu udah dikerokin pisang sekarang nggak apa-apa kan” (Tapi jadi alergian sekarang. Alergi udang dan cuaca) -> cuma mbatin nggak berani ngomong hehehe

Kalau eyang nya arthur manut aja apa yang aku bilang karena aku juga kasih alasannya. Pokoknya kalau aku bilang nggak boleh dulu, ya nggak dikasih.

Tapi kalo uti arthur rada ekstrem juga. Lagi aku tinggal nyuci, eh arthur dikerokin pepaya, katanya mau coba dulu. Ya aku bilang nggak lah. Aku dah takut banget soalnya agak maksa. Ya namanya menantu kan pasti ngga enakan juga kan kalo ngadepin kondisi begini. Tapi Untung aja arthur nya terus bobok. Anak pinter 😭😭😭 Abis itu kalo uti nya arthur beli buah-buahan aku yang makanin daripada tau-tau dikerokin diem-diem.Wkwwkwk…

Waktu itu umur arthur sekitar 4bulanan koreksinya masih 2bulan. Duduk aja masih geleyotan. Kalau kesedak gimana. Salah satu ciri anak siap MPASI kan sudah bisa duduk dengan tegak. Supaya kalau makan nggak kesedak.

Bukannya aku nggak ngebolehin tapi BELUM WAKTUNYA BOLEH. Ya namanya juga bayi kalo dikasih ya mau-mau aja kan. Tapi kan kita nggak tau organ didalemnya, apakah pencernaannya sudah siap untuk mencerna makanan padat. Apalagi dengan riwayat prematurnya, saat lahir organ – organ belum sepenuhnya matang.

Pemberian air putih juga sebaiknya ditunda dulu sampai pemberian MPASI, kecuali ada kondisi tertentu misalnya minum obat. Atau untuk membersihkan lidah bayi. Itupun pemberiannya ada batasnya nggak boleh banyak-banyak. Karena air putih itu  dapat memperberat kerja ginjal bayi. Takaran air putih yang diperbolehkan untuk bayi di bawah 6 bulan adalah 2 ml, atau sekitar seperempat sendok teh, tidak lebih. Itupun jika benar-benar diperlukan dan tidak dianjurkan memberikan air putih dengan dot atau sippy cup sebelum usia 6 bulan.

https://www.id.theasianparent.com/bolehkah-bayi-minum-air-putih/amp/

Tapi kalau misal arthur minum obat atau vitamin nggak aku kasih air putih juga, dia nya nggak apa-apa kok palingan abis itu juga aku nenenin. Pernah juga arthur cegukan, mau dikasih air putih anget. Aku bilang diemin aja, normal kan bayi cegukan.

Aduh ya gimana ya. Mempertahankan arthur supaya Asi eksklusif, nggak MPASI dini dan nggak air putih dini waktu itu perjuangan buaaangeettt rasanya. Mempertahankan ditengah mitos, dan kebiasaan orang tua jaman dulu. Intinya tuh bukannya aku nggak ngebolehin tapi belum waktunya boleh. Nanti kalau udah waktunya juga bakalan aku kasih kok. Aku cuma nggak mau arthur kenapa-kenapa lagi. Karena efeknya juga bisa terjadi kalau dia udah besar nanti.

Waktu itu arthur mau 6 bulan, awalnya aku belum tau kalau pemberian mpasi bayi prematur sebaiknya saat usia koreksi. Aku agak ragu juga, lalu saat vaksin kami datang ke dokter yang berbeda dan menanyakan kapan sebaiknya pemberian MPASI. Dokternya bilang, kalau kenaikan berat badannya masih bagus tunda dulu. Dan tetap lanjutkan Asi. Karena waktu itu kenaikan BB Arthur sebulan rata-rata 1-1,5 kg. Maka kami tunda dulu pemberian MPASI nya.

Bulan depannya waktu vaksin coba ditimbang kenaikannya nggak sampai 1kg, dan coba nanya ke dokter (dokternya lain lagi) Katanya nggak apa-apa diberikan MPASI. Menu tunggal dulu, buah, biskuit. Tapi aku nggak langsung ngasih arthur makan gitu aja karena aku juga nggak begitu yakin ama yang dibilang dokternya. Akhirnya arthur mulai makan perdana nya waktu dia usia kronologis 7,5 bulan atau koreksi 5 bulan. Mungkin feeling seorang ibu juga untuk kapan saat nya yang tepat memberikan MPASI. Dan Aku ambil tengah-tengah nya aja antara usia 6 bulan kronologis dan 6 bulan koreksi nya.

IMG-20161112-WA0041

Awalnya aku cuma coba dulu kasih puree buah. Sehari sekali. Selama 3 hari. Lalu lanjut sehari 2 kali pagi dan sore, selama sekitar 2 minggu. Setelah itu baru rutin sehari 3 kali, pagi – siang – sore.

Seminggu pertama masih menu tunggal. Lalu abis itu 2* selama 1-2mingguan. Minggu berikutnya naik 3*. Walaupun ada yang bilang udah deh kasih 4* aja juga nggak apa-apa. Tapi maap, Nggak apa-apa buat anakmu belum tentu nggak apa-apa buat anakku. Anakku kan preemie pokoke mau tak awasin di awal MPASI nya hehehe

Arthur pinter maemnya. Duduk di infant seat, anteng dan Selalu habis. Apalagi kalau pakai kaldu kan gurih dia ampe merem melek. Tapi itu cuma bertahan 2-3 bulan aja. Abis itu dia mulai banyak polah dan nggak betah lama makan sambil duduk.

Apalagi waktu ke bekasi, aduh puyeng… Disana kan ngga ada kursi buat arthur makan. Aku sewain deh model booster seat, eh dia nya nggak mau duduk disitu. Malah pencalitan. Makan maunya sambil di titah, atau berdiri merambat. Untung ada sepeda tricycle, jadi makan bisa sambil duduk kalau disepeda. Aku capek sendiri kalau arthur makan gini caranya, gimana cara ngembaliin kebiasaan dia yang makan sambil duduk.

Akhirnya aku ngojokin ayah arthur pokoke beli high chair. Dan dengan kekuatan credit card datang lah high chair itu 😘👏🏻 Akhirnya arthur bisa makan sambil duduk di kursi dengan pewe. Berarti selama ini sebenernya dia minta dibeliin high chair sendiri ya. Hehehe…

Alasan kenapa nggak dari dulu aku beli high chair sendiri. Karena masih belum tau mau tinggal di bekasi apa jogja, masih bolak balik kesana kemari. Kalau beli nanti gotong kesana kemari, ya kali beli high chair nya 2 kan eman-eman. Jadi aku lebih milih sewa dulu. Sekarang kan banyak rental perlengkapan baby, di jogja atau bekasi lengkap semua.

Arthur pernah GTM karena mau tumbuh gigi yang atas. 2 Gigi bawah arthur tumbuh seminggu setelah arthur mulai makan dan tanpa demam, rewel atau GTM. Kalau gigi atasnya numbuh bareng langsung 4, tanpa demam rewel, cuma jadi susah makan. Akhirnya aku coba naik tekstur yang agak kasar. Dia mau makan lagi sih walaupun susah masuk nya dan nggak terlalu banyak. Mungkin pengen yang digigit-gigit gitu kali makan nya. Aku sampe bingung mau kasih makan apa, soalnya dia nggak mau disuap pake sendok. Yakali kan makan bubur atau tim suapin pake tangan. Akhirnya aku naikin teksturnya pake nasi dipenyekin. Ama bikin perkedel kentang no gulgar karena masih 10m.

Waktu usia 14m arthur GTM lagi , mau nya ngemil, biskuit, puding, buah.. Makan juga mulai ngelepehin segala. Ternyata gigi nya tumbuh lagi. Pokoknya kalo arthur kumat GTM nya curiga deh gigi nya ada yang mau numbuh.

Umur setahunan, arthur udah bisa ngikuti menu keluarga. Udah bebas gular juga, walaupun udah gagal no gulgar sejak usia sekitar 1om. Akhirnya kecapaian juga target mpasi. Pokoknya usia setahun mulai bisa makan nasi dan mengikuti menu keluarga. Cuma rasanya aja yang menyesuaikan untuk bayi. Arthur jadi lebih enak diajak pergi & jajan. Mo jajan ke KFC, McD, nongki, dia udah bisa ikutan makan, nggak sangu nasi tim lagi. Enaknya lagi, udah nggak perlu gantian yang makan buat gantian gendong arthur. Dia tinggal di dudukin di baby chair aja, terus kasih makanan. Ntar mulai deh dia sibuk ber-BLW. Hehehe…

EPING- cerita perjalanan menyusui Arthur

Melahirkan secara prematur tentu saja tidak banyak persiapan yang dilakukan waktu itu. Belanja perlengkapan baby? sama sekali belum beli apa – apa. Karena saat itu usia kehamilanku masih 30 weeks dan kemudian Arthur lahir secara spontan. Hanya berbekal ilmu dan informasi  yang didapat dari teman – teman dan juga beberapa artikel yang dibaca selama masa kehamilan. Sebenarnya waktu itu aku meminjam beberapa buku dari teman – teman tentang melahirkan, menyusui, dan perawatan baby. Tapi itu semua belum sempet aku baca, niatnya mau baca pas cuti melahirkan. Tapi arthur ternyata born to soon. Sehingga setelah melahirkan semacam melakukan learning by doing bagaimana perawatan bayi prematur, menyusui, dan lainnya sambil bertanya ini itu kepada teman – teman dan juga para perawat di NICU.

produksi ASI setelah melahirkan

 

Setelah proses persalinan, aku nggak bisa melakukan IMD. Karena kondisi baby yang kecil sekali dan rentan hipotermia. Harus segera dibawa ke inkubator untuk dihangatkan. Selain itu, bayi prematur masih belum memiliki reflek hisap. Sehingga setelah lahir belum bisa menyusu langsung. Awal pasca melahirkan poduksi ASI ku hanya beberapa tetes, itupun aku marmet karena belom beli breastpump. Dan  ternyata Arthur pun harus dipuasakan dulu selama sekitar 4-5hari untuk di observasi lambungnya kira – kira kapan siap untuk menerima ASI. Jadi selama sekitar 4-5 hari Arthur hanya mendapat asupan dari cairan infus saja. Tapi aku setiap hari selalu pumping untuk Arthur berapapun dapetnya dan beberapa hari kemudian setelah pumping dengan breastpump Alhamdulillah produksi ASI ku mengalir. Karena di rumah aku dicekokin berbagai macem sayuran rebus juga. Selama Arthur dirawat di NICU, aku selalu pumping tiap 3-4 jam sekali dan Setiap hari setor ASIP ke perawat sambil nengokin arthur diinkubatornya. Karena belum memiliki eflek hisap, Arthur di berikan ASI melalui selang sonde (selang di mulut yang langsung masuk ke lambung).

Sewaktu Arthur di NICU dan kondisinya sudah cukup stabil dokter kasih program “belajar netek” Tapi nggak enak banget didengernya jadi aku bahasakan “belajar menyusui langsung dari ibunya”. Jadi Setelah arthur umur 10 hari baru lah dia menyusu langsung dan itupun arthur belum bisa, dia masih harus belajar nenen. Aku diajari perawat bagaimana cara menyusui yang benar. Arthur juga dilakukan fisioteraphy oral untuk merangsang reflek hisap dan menelannya.

Program Menyusui dilakukan 3 jam sekali. Mulai jam 06.00 , 09.00, 12.00 , 15.00 , 18.00 , 21.00, 00.00. Kalau jam 03.00 pakai sonde, biar ibu bisa istirahat. Sebenernya nggak wajib ibu datang setiap saat pada jam itu untuk menyusui, boleh jam berapa aja pas jadwal nya. Tapi instingku sebagai seorang ibu ya, aku dateng ke rumah sakit berangkat pagi – pagi sekali supaya setengah 6an sudah sampai di RS, dan bisa nyusuin arthur langsung mulai jam 6,  disana seharian full. Sangu baju, sangu maem, sangu cemilan. Kadang kalau makan siang, makanannya dianterin ke RS sama orang rumah. Selain program “belajar menyusui langsung dari ibunya” Sekalian biar bisa KMC (Kangaroo Mother Care) paling nggak sehari bisa dua kali. Biasanya siang sebelum jam besuk dan malem setelah isya. Baru pulang dijemput tengah malem jam 11-12an. Capek? Pastilah, tapi nggak apa- apa semua demi arthur.

Kalau aku punya masalah dalam menyusui dan perASIan, konselor terbaikku adalah sahabat – sahabat aku. Karena kami sama – sama punya baby dan semanagat untuk memberikan ASI eksklusif hingga 2 tahun. Kami saling bertukar informasi dan sharing mengenai masalah ASI, menyusui, MPASI, tumbuh kembang, dan lainnya.  Selain itu adanya komunitas para ibu menyusui yang juga sangat membantu, karena membuat kita mendapatkan informasi yang lebih up to date. Karena biasanya jika bertanya kepada para “orang tua” yang berbeda generasi, sering kali jawabannya justru kebayakan mitos daripada fakta nya.

Tabungan ASIP Arthur sewaktu ditinggal mama bekerja

 

 

Masalah yang paling sering ditemui biasanya mitos para orang tua tentang ASI dan menyusui. Misalnya nggak boleh makan ini itu karena akan berpengaruh pada ASI. Dan Ibu menyusui tidak boleh sakit karena bisa nyetrum sakit ke anaknya. Duh, busui juga manusia. Pengennya sih ya nggak sakit dan sehat terus lah. Tapi kalau sakit gimana lagi. Busui sakit disalahkan dibilang ASI nya jadi nggak enak, dan anak yang sakit juga ibunya selalu disalahkan. Bahkan kadang kalau anak sakit, rewel, nggak mau nenen Ibu pasti target utama yang selalu disalahkan. Dibilang gara – gara ASInya. Paling kesel banget sebenernya kalau orang tua bilang gini, kebanyakan mitos nggak penting. Tapi kalau ngasih tau yang bener malah dibilang “dikasih tau orang tua kok malah ngeyel” yaa karena mereka selalu merasa yang paling berpengalaman.

Dan aku orang nya keras kepala untuk tetap memberikan ASI ke Arthur. Karena beberapa kali pernah ada saran dari keluarga untuk memberikan sufor. Aku percaya diri aja kalau ASI ku cukup untuk kebutuhan Arthur. Bahkan pernah ketika Arthur bapil dan aku ke dokter, aku sempat konsultasi ke dokter mengenai berat badan arthur yang seret banget naiknya. Tapi dokternya malah kasih saran untuk nambahin sufor yang weight gain. Padahal kalau aku nanyain ke dokter lain dan dokter spesialis tumbuh kembang, sebenarnya berat badan arthur masih sesuai dengan usia nya. Karena dia prematur dan BBLR, saat lahir beratnya hanya 1500gr.

Arthur terdiagnosa ROP stage 5 saat usia nya 4 bulan, dan kemudian aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku supaya bisa merawat arthur dan selalu ada untuk arthur. Sebelum aku resign, aku merasakan perjuangan sebagai working mom yang memberikan ASI eksklusif kepada buah hati nya. Perjuangannya sungguh wow sekali. Pinter – pinter mencuri waktu untuk pumping, karena kerjaanku ngelayanin customer. Di kantor aku pumping sehari 3-4 kali. Pagi jam 9, saat makan siang, setelah tutup kas, dan saat perjalanan pulang kalau dijemput naik mobil. Pompa aku manual, ngengkol banget kan. Di kantor ku dulu nggak ada tempat khusus untuk pumping, biasanya aku pumping di musholla dekat pantry.

img_5467
Hasil pumping di kantor sewaktu masih menjadi working mom

Tapi setelah aku resign, arthur nggak mau ngedot lagi. Jadi setelah itu aku nggak pernah mompa ASI lagi. Kecuali kalau memang urgent. Sampai sekarang ini Arthur menyusu langsung ke aku. Arthur saat ini usianya setahun lebih sebulan. Dan aku akan menyusui minimal sampai arthur usia 2 tahun. Perjuangan menyusui Arthur selama setahunan ini amazing sekali. Apalagi dengan kondisi ROP nya. Tapi aku yakin bisa memberikan ASI sampai Arthur 2 tahun. Karena ASI adalah yang terbaik.

Arthur Jadi Murid Klinik Tumbuh Kembang

Aku sering update di sosmed, arthur fisioterapi di hermina jogja. Terus pada nanya :

1. Arthur kenapa? 

2. Arthur terapi apaan sih? 

3. Buat apa arthur di terapi? 

4. Udah bagus kan perkembangannya kok masih di terapi? 

5. Sampe kapan mau terapi? 

6. dll dll dll dll dll bla bla bla

Mungkin ada yang aku jawab sekenanya aja, dan mungkin waktu itu ada yang udah tau dan ada juga yang belum tau kalau arthur ROP.

Jawaban pertanyaan temen-temen diatas baru sempet aku ceritakan disini.
Kelahiran arthur yang secara prematur, membuat dia punya 2 usia. Usia kronologis yaitu usia sesuai hari kelahirannya. Dan usia koreksi yaitu usia sesuai HPL (Hari Perkiraan Lahir) seharusnya. Usia koreksi digunakan untuk memantau tumbuh kembang anak prematur. Seperti berat badan, panjang, lingkar kepala. Serta perkembangannya seperti saat tengkurap, berguling, duduk, merangkak, merambat, berjalan, dll.
Tentang tumbuh kembang arthur sendiri, awalnya aku cukup memaklumi karena kelahirannya yang prematur pasti akan ada sedikit keterlambatan dan kemudian bisa dipantau dengan menggunakan usia koreksi. Sehingga perkembangannya pun tidak bisa menyamakan dengan anak yang seusianya.

Tapi kemudian arthur di diagnosa ROP. Ada rasa ketakutan sendiri buat aku. Aku takut arthur kemudian GDD (Global Development Delay). Karena dia prematur dan memiliki hambatan penglihatan. Tentu aja bisa mempengaruhi millestones perkembangannya. Waktu imunisasi dan konsultasi ke salah satu DSA di bekasi, dokternya ngasih rujukan supaya arthur di fisioterapi dan juga di rujuk untuk diperiksa ke neurolog anak (dokter anak subspesialis syaraf anak).

Waktu ketemu neurolog, Arthur diperiksa dan disarankan MRI, tapi aku terus bilang kalau arthur udah pernah CT scan apa masih harus dilakukan MRI juga. Ternyata nggak perlu lagi kalau udah dilakukan CT scan. Sayangnya waktu ketemu dengan neurolog, hasil CT scannya nggak aku bawa. Arthur kemudian diminta untuk fisioterapi. Di surat rujukan untuk fisioterapi dituis microsephaly. Duh arthur kena apalagi coba, dibilang microsephaly segala. Microsephaly itu lingkar kepalanya kecil, tidak sesuai dengan seusianya. Sehingga bisa berpengaruh ke perkembangan otak dan juga perkembangan anak. Aku malah jadi takut kok ada diagnosa beginian lagi. Aku juga baru nyadar kalau dokter nulis microsephaly pas mau daftarin fisioterapi, jadi nggak sempet nanyain.

Fisioterapi di hermina bekasi memang terkenal bagus. Dan tempat pelatihan para terapis hermina se indonesia. Kemudian kami daftar buat fisoterapi arthur, ternyata fisioterapi di hermina bekasi sistemnya paketan Mau yang berapa kali pertemuan, dan bayar nya diawal. Jadwalnya nanti di cocokan juga dengan terapis yang kosong hari itu. Kirain sistemnya sekali dateng terus bayar. Padahal dalam waktu dekat rencana nya mau balik jogja. Kan nanti sayang juga, udah terlanjur daftar dan bayar tapi malah nggak dilanjutin karena mau balik ke jogja.

Akhirnya kami putuskan fisioterapi di jogja aja. Sambil cari dokter yang kompeten di jogja.
Aku kan suka mantengin instagram dan blog @grace.melia , anaknya yang terkena rubella rutin fisioterapi. Aku terus DM in dia di instagram nanya fisioterapi si ubii dimana dan siapa dokter nya. Orang ini ramah banget, belum kenal sama sekali dia langsung merespon dan kasih masukan juga. Ubii fisioterapi di RS UGM, dia juga kasihtau gimana prosedurnya, dokter rehab medik dan neurolog nya dengan siapa. Dia juga bilang kalau fisioterapi bisa dengan BPJS dan belakangan ini fisioterapi di RS yang ber-BPJS antriannya ramai. Sistemnya pun bayar per kedatangan, kata grace di RS UGM 55ribu/ kedatangan.

Setelah beberapa hari di jogja, aku bawa arthur ke RS UGM. Sesuai dengan prosedur yang dikasih tau gracemelia. Aku Ketemu dengan dokter rehab medik nya, Bawa surat rujukan dari neurolog di bekasi. Aku cerita riwayat prematur dan ROP arthur. Aku juga nanya tentang microsephaly yang dibilang neurolog di surat rujukan. Kemudian dokter rehab medik menjelaskan, karena arthur lahir prematur dan BBLR, fisiknya kan kecil banget saat lahir, jadi sebenernya normal aja lingkar kepalanya. Tinggal besok pertumbuhan dan perkembangannya lingkar kepalanya gimana. Kan masih dalam masa pertumbuhan, jadi sebaiknya dipantau juga. Semoga saja perkembangan lingkar kepalanya bisa mengikuti sesuai dengan usia (koreksi) nya. Denger itu aku agak lega juga. Memanglah second opinion itu penting…

Saat itu arthur di cek perkembangannya udah bisa ngapain aja, waktu itu arthur umurnya sekitar 7bulanan koreksi 5 bulan. Baru bisa baring & miring doang 😅 Belum bisa tengkurep sendiri, Kalau ditengkurepin pun belum kuat angkat kepalanya. Dokternya kemudian saranin fisioterapi seminggu 2-3 kali tapi karena antriannya lama, dokter ngajarin stimulasi supaya arthur bisa angkat kepala kalau ditengkurepin. Padahal kalau dipangkuin atau gendong lehernya dah kuat tegak. Selesai ketemu dokter rehab medik. Aku ke bagian respsionis fisioterapi buat daftarin arthur. Dan ternyata antrinya bisa 2-3 bulanan.

Karena lama banget tunggu kabar dari RS UGM yang nggak pasti, aku mau coba ke hermina jogja. Karena dokter rehab medik nya juga praktek disana. Daripada arthur keburu telat perkembangannya pikirku. Sekalian Aku juga coba browsing Dokter anak subspesialis tumbuh kembang anak di jogja, ternyata beliau juga praktek di hermina jogja. Dan sekalian aja pas jadwalnya vaksin, daftar dengan dsa subspesialis tumbang. Biar sekalian konsultasi juga. Sesampai di hermina jogja, aku coba nanya tentang fisioterapi takutnya antri juga. Ternyata nggak, berhubung hermina jogja termasuk RS baru dan belum menerima BPJS jadi antrian fisioterapinya ngga kayak RS yang udah ber-BPJS. Jadi malem itu daftar besoknya bisa langsung fisioterapi. Biaya fisioterapi di hermina jogja agak lebih mahal , 95ribu/pertemuan.

Karena hermina jogja rada jauh dari rumah. Aku daftar seminggu 2x aja. Kalau seminggu 3x agak kerepotan juga nanti yang antar jemput. Aku terus ngisi jadwal mau ambil hari apa dan jam berapa, nyesuain jadwal yang masih kosong disitu. Dan saran dari terapis diselang seling aja harinya. Supaya latihannya nggak melulu dari terapis tapi juga dilakukan latihan di rumah. Karena pada dasarnya fisioterapi tumbuh kembang / bobath, lebih ke ngajarin orang tua buat dilakukan latihan di rumah. Awalnya aku ambil hari selasa dan sabtu. Tapi cuma bertahan beberapa kali pertemuan aja, kemudian aku ambil jadwal seminggu sekali. Hari sabtu doang. Soalnya ndak nggak ada yang nganter dan nemenin.

Terapis arthur cowok, mas – mas gitu. Ada 2 orang yang menangani arthur. Sebelum latihan arthur dipijat dulu. Dia kalo dipijet awalnya diem tapi lama kelamaan nangis. Jadi pas mulai sesi terapi nangis kejer. Kata terapis, emang biasanya pada nangis kalo sesi terapi gini. Mas nya bilang seneng kalo megang arthur soalnya walaupun nangis kejer gitu, arthur tetep mau mengikuti apa yang diajarin. Jadi latihannya pasti sambil nangis kejer. Kadang ada anak yang kalo udah nangis kejer gitu badannya terus dikakuin jadi bikin nggak bisa maksimal latihannya. Awal-awal ikut fisioterapi Arthur belajar tengkurep, berguling dan angkat kepala. Sekitar 1-2bulanan fisioterapi akhirnya arthur bisa tengkurep dan kuat angkat kepalanya dikit, tapi masih belum bisa on hand (tengkurep angkat kepala dan dada dengan tumpuan tangan yang tegak – moga bisa bayanginnya ya hehe). Setelah program belajar tengkurep berguling, selanjutnya belajar bangun untuk duduk. Arthur usia 8 bulanan mulai bisa duduk (didudukin) walaupun masih goyang doyong-doyong dan ambruk. Cukup lama ngajarin Arthur bangun duduk sendiri. Dia sebenernya kurang dikit banget. Halah, paling cuma tinggal 10% aja, buat dia bangun duduk sendiri. Sambil ngajarin duduk sendiri, dikasih latihan juga untuk ongkok – ongkok. Arthur masih belum begitu kuat tengkurep sambil on hand nya, jadi ongkok – ongkok nya juga masih belum muncul.

Arthur jadi murid fisioterapi di klinik tumbuh kembang hermina jogja cuma 3 bulanan aja. Soalnya Akhir tahun diajak ke bekasi jadi fisioterapi di stop. Pas pertemuan terakhir aku konsultasi dan minta diajarin sama terapis , PR nya apa aja. Pokoknya target nya arthur kudu dah bisa bangun duduk sendiri dalam waktu sebulan. Karena duduk statis nya sudah bagus. Tapi masih belum bisa bangun duduk sendiri. Nah pas dibawa ke bekasi, baru 2 mingguan di sana arthur udah bisa bangun duduk sendiri. Pertamanya dia tengkurep terus ongkok-ongkok, tau-tau bisa duduk sendiri.

Kalau pada bilang efek tiap hari ngumpul ama ortunya lengkap jadi bikin perkembangan anak bagus. Maklum jarang ketemu ayah. Tapi nggak cuma bagus menurut aku dan keluarga. Perkembangannya mendadak jadi cepet banget. Dibanding pas di fisioterapi. Setelah dia bisa duduk, dia juga mulai merangkak dan juga merambat berdiri. Apalagi mertuaku type nya cas cis cus… Tau arthur merambat berdiri terus diajarin jalan, dititah. Awalnya emang cm mau melangkah 1-2langkah tapi lama-lama akhirnya mau jalan dititah. Terus dikenalin naik tangga juga. Ampe anaknya ketagihan main naik-naik tangga.

Sekitar 2 bulan di bekasi, arthur balik ke jogja lagi. Maklum ya arthur ini masih no maden, galau mau di mana 😜 Besok kalau udah mulai sekolah baru deh menetap, mumpung belum sekolah bolak balik jogja – bekasi deh. Pas di jogja, seperti biasa kalau jadwal vaksin sekalian konsultasi. Dsa arthur nanya perkembangan arthur sekarang, kemudian aku ceritain arthur sekarang dah bisa ngapain aja. Menurut dokter, perkembangan arthur dengan kondisi nya yang ROP sudah sangat bagus. Dan udah nggak perlu dilakukan fisioterapi lagi.

Di grup baby community pernah dibahas tentang “Fisioterapi yes or no” Jadi semacam sedikit perdebatan gitu sih. Seberapa pentingkah terapi A B C, kenapa kok ortu berpikir memberikan terapi A B C, apakah terapi membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi, dll. Sebenarnya sih kembalikan ke masing-masing lagi aja, karena setiap orang tua pasti memiliki alasan tersendiri dan ingin yang terbaik untuk buah hatinya. Pendapat seriap ortu pasti berbeda-beda.

Kalau menurut aku dan lingga, sebagai ortu kami saat ini fokus pada tumbuh kembang arthur. Kami konsultasikan kepada dsa tumbuh kembang yang menurut kami memang ahli nya, beliau menyarankan fisioterapi. Beberapa dsa juga menyarankan demikian. Terapi melalui fisioterapi ini membantu dalam proses tumbang anak, karena aku dan lingga orangnya kudu diajarin secara praktek dulu baru mengerti. hehhehe.. Kan terapis nya juga ngajarin langsung secara praktek untuk melatih arthur dirumah. Jadi prosesnya bukan cuma tergantung pada terapis saja. Terapis ngajarin praktek yang bener untuk latihan, takutnya ngajarin stimulasi nya salah dan malah resiko cedera pada anak. Kadang di rumah aku juga tambahin melatih stimulasi indra lain, karena terapis nggak ngasih stimulasi indra lainnya.

Pokoknya masalah terapi itu intinya cuma : sering – sering aja anaknya dilatih dirumah, karena terapis cuma ngajarin dan bantu ngoreksi. 

Arthur Cek ke Low Vision Centre

Akhir tahun arthur di bawa ke bekasi mumpung ayah nya nggak dinas. Jadi, Arthur ikut pertemuan bulanan baby community area jabodetabek. Agenda saat itu akan ada petugas dari low vision centre yayasan Layak untuk membantu memeriksa anak low vi, jika masih memiliki sisa penglihatan dan bisa dibantu dengan alat, akan dibantu untuk mengecek dan mencarikan alat bantu penglihtannya.

Arthur termasuk low vision karena masih memiliki sisa penglihatan. Dia ada respon dengan cahaya dan warna terang. Tapi kita masih belum tau seberapa besar dan disebelah mana sisa penglihatan arthur.

Arthur di minta datang ke kantor lowvi layak di daerah jagakarsa, jaksel. Sebelum kesana, kami harus janjian dulu karena petugasnya kadang juga ke lapangan. Tadinya mau dateng hari kamis tapi ternyata mereka sedang di RSCM jadi arthur diminta datang hari jumat siang.

Jumat siang arthur, mama dan uti naik Commuter line terus ketemuan sama ayah di stasiun manggarai. Ayah ijin dari kantor sebentar, mau nemenin arthur. Dari stasiun manggarai kita transit dan ganti kereta yang ke arah depok. Lalu turun di stasiun pasar minggu, terus naik angkot. Turun dari angkot kita masih nyari-nyari klinik lowvi layak disebelah mana dan setelah nanya-nanya akhirnya ketemu juga.

Sampai disana Arthur dikasih mainan dengan warna terang dan mengeluarkan suara, dia juga dites dengan cahaya. Dia bisa mengikuti ke arah mana saat cahaya itu digerak-gerakkan. Dan dia juga bisa menangkap mainan berwarna terang yang disenterin. Bener aja arthur nya on mood, hepi, ceria kalo ditemenin ayahnya. Nggak kayak pas acara pertemuan baby community jabodetabek kemarin, arthur lagi nggak mood dan cengeng banget kalau main sama temen-temennya.

arthur mau nangkepin cahaya dari senter

Arthur sambil main dicek dengan menggunakan alat, tetapi ternyata penglihatan arthur sejauh mana masih belum tau, karena masih belum nemu fokusnya arthur dimana. Mungkin dia kalo nangkep melihat sesuatu yang samar, tapi abis itu yaudah dia nggak melihat nya terlalu lama. Jadi fokus nya dia bisa melihat disebelah mana belum ketemu. Kami disuruh sering latihan di rumah supaya arthur nemuin fokus nya.

 

arthur sedang di cek

Ini bukan berarti arthur berobat agar sembuh. Tapi lowvi centre membantu anak untuk memaksimalkan sejauh mana sisa penglihatannya dan agar dia tidak malas menggunakan sisa penglihatannya. Karena arthur juga masih dalam masa pertumbuhan, jika sering dilatih maka dia akan terbiasa menggunakan sisa penglihatannya.

Dan dalam kasus ROP stage 5 aku nggak terlalu berharap banyak mengenai alat yang bisa digunakan untuk memaksimalkan sisa penglihatan arthur. Tapi ikhtiar yang kami lakukan semoga nggak sia-sia.

Tapi aku yakin teknologi semakin maju, semakin canggih, dan dapat membantu masa depan arthur. Seperti adanya penelitian mengenai kacamata bionic yang dapat membantu penglihatan tuna netra tanpa dilakukan operasi. Bahkan info terakhir yang aku baca, kacamata bionic juga akan dikembangkan menjadi lensa bionic. Semoga saja kacamata atau lensa bionic segera masuk ke indonesia. Berapapun harganya mama dan ayah akan menabung untuk beli kacamata bionic buat arthur ❤️