Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day10 – Because i’m special…

Setelah hari ini kontrol mata tahunan dan konsultasi dengan dokter mata anak di JEC (Jakarta Eye Centre), dokter belum bisa memastikan sisa penglihatan Arthur karena dia belum bisa diajak komunikasi. Tapi asessement yang dilakukan, Arthur respon dan bisa mengikuti arah cahaya. 

Aku jadi pengen coba meng-komunikasikan ke Arthur tentang dirinya sejak dini. Terutama tentang penglihatannya yang terbatas. Agar dia besok bisa lebih menerima dirinya apa adanya.
Aku terus inget, isi bukunya retno hening “happy little soul” dan ternyata komunikasi antara ibuk dan kirana juga mengajarkan aku banyak hal tentang contoh komunikasi produktif antara ibu dan anak. 

Salah satunya tentang mengajarkan kepada kirana tentang kelainan kulitnya, yaitu dermatitis atopi yang membuat dia alergi beberapa makanan dan juga sensitif dengan cuaca. Aku bisa mencontoh komunikasi ketika ibuk menjelaskan mengenai alergi yang dialami kirana. 
“Arthur itu anak special… apa yang diberikan Allah ke Arthur lain dari yang lain. Karena Allah sayang sama Arthur”
“Kalau orang melihat dengan mata aja, Arthur juga bisa melihag dengan telinga, hidung, dan tangan untuk membantu mata Arthur”

Selain itu, aku juga membelikan Arthur beberapa buku yang nantinya akan aku braille kan. Salah satunya “the different dino” 

Bercerita tentang seekor dinosaurus yang berbeda dari saudara-saudaranya. Cerita tersebut memeiliki pesan agar anak mau menerima perbedaan di dirinya dan juga supaya tidak mengejek kekurangan orang lain. Karena dari kekurangan tersebut bisa menjadi kelebihan pada dirinya.

#level1
 

#day10
 

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif #Day9 – Mainan Pintu Kulkas

Arthur sepertinya memang lagi suka kegiatan membuka tutup pintu. Kalau di jogja kemarin dia suka mainan pintu, sekarang di Bekasi dia juga suka mainan pintu, tapi pintu kulkas. Sebenernya di Jogja, dia juga suka mainan di kulkas. Tapi cuma pukulin pintunya aja, soalnya dia nggak kuat mau buka pintunya. Malah kadang sampai gemes dan geregetan sendiri karena nggak kuat buka pintu kulkasnya. Eh pas di Bekasi, nggak taunya dia bisa buka pintunya. Karena kulkasnya ada handle di pintunya. Awalnya sih dia nggak bisa, tapi lama-lama kuat juga ngebuka pintu kulkas. Jadinya dia main buka tutup pintu kulkas deh. Karena dia merasa sudah bisa, kalau udah didepan kulkas bakalan betah banget mainan pintunya. Tapi kudu dijagain, takut kejepit kaki atau tangannya. Dan takut ngegelebak ke belakang juga kalau dia pas lagi narik ngebuka pintunya.

Awalnya aku diemin aja dia mainan pintu kulkas begitu, karena dia anteng dan jadi sibuk sendiri. Tapi lama-lama takut jadi kebiasaan. Nanti kalau kulkasnya rusak gara-gara Arthur, aku kan jadi nggak enak. Hahaha..

“Arthur, kulkasnya nanti bisa rusak. Minumannya jadi nggak dingin kalau pintunya dimainin buka tutup gini”

“Arthur, nanti tangannya bisa kejepit. Kakinya juga bisa kena pintu kulkas. Nanti Arthur kesakitan.”

Tapi nggak di gubris sama Arthur, dia cuek dan masih aja mainan buka tutup pintu kulkas. Aku inget waktu Arthur mainan pintu, coba pakai kata – kata “pamitan” untuk ninggalin kesibukannya itu. Dan mengalihkan untuk melakukan kegiatan yang lainnya.

“Arthur, bye bye dulu sama kulkasnya.. Bye bye kulkas.. Arthur main yang lain dulu yaa… Ayoo sekarang kita ambil bola…”

Dan dia langsung dadah dadah sama kulkas. Pergi ninggalin kulkas begitu aja. Alhamdulillah langsung berhasil.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif #Day8 – Belajar Orientasi Mobilitas di Rumah Bekasi

Arthur sudah 4 bulan nggak ke Bekasi, terakhir Arthur di Bekasi dulu masih titahan belajar jalan, belum bisa jalan sendiri. Dan polah nya belum se aktif sekarang. Kalau di  rumah jogja, Arthur sudah mulai mengenal dan hafal ruangan serta letak beberapa barang seperti meja, kursi, sofa, lemari, dll. Di Bekasi, Arthur belajar orientasi mobilitas di dalam rumah lagi untuk menghafal ruangan dan letak benda.

Komunikasi Produktif dengan kaidah KISS (Keep Information Short & Simple) menjadi andalan dalam memberikan informasi pada orientasi mobilitas agar anak dapat dengan mudah memahami dan mengerti. Tinggal konsisten melakukannya berulang-ulang, Arthur pasti cepat bisa menguasai rumah di Bekasi.

Tempat main Arthur di ruang tengah, karena luas dan memang sengaja di setting tidak banyak perabotan supaya Arthur bisa main dan kesana kemari sesukanya. Aku jelasin pelan-pelan ke Arthur di ruang tengah ada apa aja. Dia paling cepet hafal adalah letak kulkas, karena dia memang suka mainan di depan pintu kulkas. Dan ternyata Arthur bisa main buka tutup pintu kulkas, dia betah banget kalau udah main pintu kulkas. Tapi harus tetep dijagain supaya nggak kejepit atau ngegelebak ke belakang.

“Arthur di sini kulkas, sampingnya ada TV. Tapi hati-hati di dekat tv ada kabelnya, nanti bisa sakit kena setrum listrik”

“Arthur, di sebelah sini ada kursi. Bisa buat duduk-duduk” (Sambil megangin dia ke kursi)

“Di sebelah sini kamar tante Andin. Arthur mau masuk ke kamar tante? Tapi tantenya lagi sekolah, main sama tantenya nanti kalau tante Andin udah pulang sekolah ya”

Letak ruang tengah, dekat dengan dapur dan ruang makan. Tapi, ada sedikit hambatan kecil untuk Arthur kalau mau jalan menuju ke dapur dan ruang makan. Karena ada seperti 1 anak tangga kecil yang membatasi ruangan tersebut. Kalau Arthur nggak bener-bener dijagain bisa “kejeglong” (aduh bahasa indonesianya apa ya). Jadi setiap menuju ke arah ruang makan, selalu aku pegangin dia.

“Pelan-pelan ya, kalau sampai disini kita turun dulu.. hap hap 1..2..3..”

Begitu pula sebaliknya, kalau dari ruang makan mau balik ke ruang tengah. Dia juga harus ekstra dijagain dan masih harus sambil dipegangin. Kalau nggak, bisa jatuh kesandung.

“Hati-hati Arthur.. sekarang naik nih.. kakinya diangkat.. hap hap 1..2..3..”

Karena sering main di ruang tengah, awal-awal aku ajarin dia buat hafalin jalan dari ruang tengah ke kamar dan juga sebaliknya, dari kamar ke ruang tengah. Di dalam kamar seharusnya aku kasih tau letak barang, tapi belum aku lakukan karena aku belum sempat beberes kamar. Masih ada koper, kardus dan beberapa barang nggak penting yang belum di singkirkan ke atas lemari.

“Ayo kita ambil bola. Bolanya ada di dalem kamar Arthur. Kita ambil ke kamar yuk. Jalan lurus ke arah pintu depan, ehh arthur nginjak keset tuh, terus belok kiri. Kita udah masuk ke kamar Arthur nih. Bolanya ada di dalem kotak nih.. “

Lalu aku coba mengulang – ulang kembali supaya letak kamar bisa masuk ke memory nya..

“Arthur, kalau lagi jalan ke arah pintu depan terus nginjak keset berarti itu pintu kamar Arthur yaa.. “

Arthur ada respon dengan cahaya, dan dia biasanya tau letak pintu keluar rumah. Karena kalau siang hari pintu di buka pasti terang benderang. Jadi , kadang aku menjadikan sumber cahaya itu patokannya.

PR Arthur nambah lagi, untuk menghafal ruangan dan belajar orientasi mobilitas lagi. Karena mau stay di Bekasi agak lama. Tapi aku yakin, Arthur nggak lama sudah bisa hafal jalan ruangan di dalam rumah. Karena memang anaknya lagi suka jalan dan bereksplorasi, jadi aku gampang memanfaatkan untuk dia belajar orientasi mobilitas.

 

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day7 – Mudik Ke Bekasi

Tahun ini Arthur mau lebaran di Bekasi. Berangkat ke Bekasi di Jemput Papanya naik pesawat. Arthur memang sudah beberapa kali naik pesawat. Tapi karena sekarang polahnya makin aktif, aku takut kalo dia ngajak jalan-jalan ke lorong pesawat pas lagi terbang. Atau malah jadi rewel di pesawat.

Beberapa hari sebelum berangkat, aku sounding terus. Mencoba sounding dengan komunikasi produktif. Tentang naik pesawat dan juga tentang rumah di bekasi. Karena Arthur udah 4 bulan nggak ke Bekasi. Dan kalau di Bekasi beberapa kali Arthur rewel nggak jelas. Mamanya malah jadi parno sendiri.

Kalau untung sounding ini, cocoknya pakai Kaidah 7-38-55. Karena hanya 7% kata-kata yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh.

“Arthur, ada pesawat lewat tuhhh.. bunyinya gimana? ngeeeenggg nggeeeeggg… Eh, besok kita naik pesawat yaa. Kalau di dalem pesawat itu duduk. Soalnya kita kan terbang diatas. Kalau jalan-jalan nanti bisa jatuh, kan pesawatnya goyang-goyang. Nanti duduknya mama pangku ya sambil nenen”

“Arthur besok kita ke tempat uti ya di Bekasi, kesana sama papa. Disana nanti mainnya sama uti,akung, tante andin. Kalau bobok di Bekasi, Arthur nanti tiap hari bisa ketemu papa”

Waktu di waiting room, ada playgroundnya. Arthur main sama papa nya tapi nggak sampai 5 menit dia betah main disitu. Abis itu dia ngajakin meterin jalan, mondar mandir kesana kemari. Tapi Alhamdulillah selama di perjalanan sampai ke rumah Bekasi, Arthur “ndemenakke” . Di pesawat pun dia bobok, padahal di rumah udah bobok beberapa jam. Semoga karena The power of sounding nya berhasil.

Di rumah Bekasi, Arthur sepertinya agak harus beradaptasi lagi. Karena sudah 4 bulan nggak kesana dan anak seusia Arthur sedang proses adaptasi dengan orang baru. Bener aja, Arthur lupa sama uti, akung dan tantenya. Walaupun sudah sering di sounding dan sering video call sama uti dan akungnya, tapi Arthur masih harus terbiasa dulu. Di gendong pun nggak mau, harus pendekatan dulu dan sepertinya proses pendekatannya perlu beberapa hari.

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day6 – Kebiasaan Jelek Arthur

Kebiasaan jelek Arthur adalah menekan kedua matanya. Seringnya sih mata yang kiri. Orang yang nggak tau mungkin pada ngira kalau mata Arthur gatal. Padahal bukan begitu…

Pada anak yang memiliki hambatan penglihatan, kegiatan menekan mata ini menjadi “hiburan” bagi mereka. Mereka seolah-olah bisa melihat kedap kedip merah abstrak, atau semacam pendaran cahaya merah. Kita saja kalau menekan atau mengucek mata juga dapat merasakannya. Mereka merasa asyik dan senang dengan hal tersebut.

Meskipun mereka merasa senang, bahagia dan terhibur dengan kebiasaan menekan mata tersebut. Tapi, kita harus melarangnya karena itu akan berakibat buruk. Jika kita perhatikan wajah para tuna netra dengan mata yang kecil dan cekung, itu akibat kebiasaan menekan mata yang sering mereka lakukan. Terutama pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Karena tulang di sekitar mata termasuk tulang rawan, sehingga area sekitar mata bisa menjadi cekung. Dan juga bisa berpengaruh ke perkembangan bola mata, mengakibatkan mata nampak lebih kecil.

Jadi, setiap Arthur menekan matanya biasanya aku langsung melarangnya dan menarik tangannya. Tapi dengan ilmu komunikasi produktif, aku akan mulai merubah cara dan kalimatku untuk melarang Arthur menekan matanya. Meskipun kalau lagi “selo” dia masih saja menekan tangannya, jadi Arthur harus selalu diawasin. Dan untuk ini harus melibatkan seluruh anggota keluarga untuk melarang dengan cara komunikasi produktif, minimal aku dan suamiku. Selain itu juga mengajarkannya agar sibuk menggunakan kedua tangannya untuk hal yang lain. Selama ini yang sudah aku lakukan adalah untuk mengenal anggota tubuhnya, tepuk tangan, main cilukba, hompimpah, dan juga bermain-main.

Biasanya aku pakai kalimat ini :

❌ “Arthur matanya jangan ditekan gitu! “

❌ “Arthur tangannya hayooo… Tangannya jangan gitu ahh.. jelek tau” (sambil narik tangannya)   

❌ “Arthur… tangannya tangannya… Hayooo Ragasyaaaaa… Ragasyaaa…”

 

Dan mulai sekarang akan aku biasakan (semoga bisa konsisten) :

✅  “Arthur, kalau matanya ditekan kasihan matanya… nanti matanya bisa jadi kecil…”

✅ “Arthur, tangannya dipakai buat main aja.. Ayo kita nyanyi sambil tepuk tangan… “

✅ “Eh mama kasihtau, ini tangannya buat yang baik-baik yah.. Kayak berdoa, membantu, menolong orang lain. Kan Arthur mau jadi anak baik katanya…”

✅ “Arthur… kan Arthur special, tangannya dipakai buat bantu mata melihat ya.. Bukan buat neken mata. “

 

Walaupun kadang Arthur masih aja ngeyel dan mencuri kesempatan untuk kebiasaan menekan matanya ini, tapi semoga suatu saat nanti dia bisa mengerti bahwa itu tidak baik untuk dirinya.

 

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day5 – Belajar Makan Sendiri

PR Arthur lainnya adalah Arthur belajar makan minum sendiri dengan peralatan makannya piring, sendok, gelas. Kalau untuk anak biasa lainnya, mungkin gampang aja ngajarin makan sendiri pakai sendok. Karena tidak ada masalah dengan penglihatannya, tinggal ngajarin koordinasi antara mata dan tangan aja. Kalau Arthur kan susah sekali belajar koordinasi mata dan tangan. Dia harus pakai feeling nya juga. Jadi untuk Arthur, makan dengan sendok membutuhkan koordinasi feeling dan tangan. Menantang mamanya banget buat ngajarin ini. Karena butuh kesabaran yang ekstra juga.

PR makan sendiri ini sudah beberapa bulan dilakukan tapi masih belum mencapai goalsnya, karena aku sepertinya memang belum terlalu konsisten dan optimal juga ngajarinnya. Soalnya Arthur kalau makan, masih sesukanya sendiri. Kalau kata orang, biasakan anak makan sambil duduk sedari dini sejak pertama mengenal MPASI. Supaya nggak terbiasa makan sambil digendong atau lari-larian kesana kemari. Duhh, itu cuma sukses diawal aja, setelah Arthur mulai aktif dia mulai nggak betah atau bahkan menolak duduk di kursi makannya. Akhirnya sekarang kalau makan, syukur-syukur mau duduk di kursinya sampai makanan habis. Seringnya sih dia terus pencalitan minta turun dari kursinya, abis itu makan disuapin sambil jalan kesana kemari. Aduh, kalau udah begini aku jadi gampang ngerasa emosi. Harus ngawasin atau megangin Arthur jalan, sambil bawa makanannya. Rempong byanget… Selain itu Arthur juga jadi ngga bisa belajar makan sendiri pakai sendoknya. Mau maksain duduk di kursinya sambil makan, malah dia bisa ngambek. Yaudah, daripada Arthur nggak mau makan atau makannya cuma sedikit aku dengan sangat terpaksa menuruti kemauannya. Karena Arthur juga harus banyak asupan makanan untuk mengejar kenaikan berat badannya. Maklum aja, dia kan anak prematur.

Aku udah sering ngomong dan sounding ke Arthur. Kadang kalau dia lagi tidur pun aku sounding dia juga. Aku kasih tau kalau makan itu duduk di kursinya, nggak sambil jalan-jalan. Tapi nggak mempan juga. Dasarnya anaknya memang lagi aktif dan suka eksplorasi kesana kemari.

Aku juga pernah ceritain, tentang ajaran-ajaran Rasulullah kalau sebelum makan itu berdoa dulu, makannya sambil duduk, nggak sambil ngomong karena bisa tersedak, makannya pakai tangan kanan,dll. Mungkin terlalu panjang juga ceritaku, dan dia susah nangkepnya.

Kayak waktu makan hari ini.

👩🏻 Mama : “Arthur, maem dulu ya… maemnya sambil duduk… ayo, Berdoa dulu sebelum makan”

Sambil baca doa mau makan dan ngajarin tangan Arthur buat berdoa, biasanya abis berdoa tangannya terus Amin sendiri.

Aku terus megangin sendok ke Arthur dan mengarahkan tangannya ke mangkok. Kalau Arthur pegang sendok, aku juga sambil megangin dan ngarahin. Kalau nggak, sendoknya bisa kebalik dan makanannya banyak yang tumpah. Atau sendoknya dikelamutin ama dia, kadang juga di lempar ama dia. Mangkok nya pun sambil aku pegangin, karena bisa disampar atau di obok-obok ama dia.

👩🏻 Mama : “Arthur, kalau makan pegang sendoknya begini ya, pakai tangan yang kanan.. Sekarang ambil nasinya pakai sendok, terus masukin ke mulut haaapppp… dikunyah-kunyah nyam nyam nyamm… Pinterr, Arthur bisa makan sendiri pakai sendok.”

 Tapi nggak berlangsung lama Arthur makan sambil pegang sendok sendiri. Dia terus main-main atau pencalitan di kursi. Se enggak nya dia udah latihan sedikit-sedikit setiap hari. Arthur belakangan ini juga suka ngemut makanannya. Dan ini bikin kegiatan makan jadi lama.

👩🏻 Mama : “Eh Arthur, nasi nya mau masuk ke perut. Udah ditungguin di perut. Ayo telan lewat tenggorokan sini (sambil pegang tenggorokannya) terus lewat sini (pegang dadanya) terus sampai deh ke perut Arthur”

👩🏻 Mama : “Ayoooo… ini wortel nya mau masuk ke perut Arthur, tok tok tok… Mau masuk lewat mulut dulu nih, ayo dibuka mulutnya.. haaaaakkk…. emmm…”

👩🏻 Mama : “Arthur, ayo maemnya dikunyah-kunyah nyam nyam.. terus ditelan glek glek… Biar makanannya masuk ke perut, Arthur kenyang deh. Biar Arthur juga cepet gede badannya tambah tinggi”

Makan duduk di kursi cuma berlangsung beberapa suapan. Abis itu dia merengek minta turun dari kursinya. Akhirnya aku turunin aja dia biar sambil jalan-jalan kesana kemari, yang penting makanannya bisa masuk pikirku. Walaupun sangat melelahkan. Karena Arthur kudu ngejar berat badannya, yang seret kenaikannya.

Entah kenapa sekarang kegiatan makan ini jadi melelahkan. Belum lagi kalau makanannya di samplak, tumpah, dilepeh. Aduh jadi gampang bikin emosi dan ngomel. Kalau anaknya lagi mau duduk dan lahap rasanya bahagia sekali. Tapi seringnya pencalitan di kursi dan ujung-ujungnya makan sambil kejar-kejaran. Dia lagi aktif bereksplorasi jalan kesana kemari. Entah kata-kata yang bagaimana lagi buat ngasih tau Arthur supaya makan dengan baik. PR lagi ini buat mama Arthur. Semoga aja kalau sering dibilangin secara konsisten dia mengerti.

#level1

#day5

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day4 – Mainan Pintu

Hari ini, Arthur masih belajar orientasi mobilitas seperti kemarin-kemarin. Setiap hari aku kasih dia pelajaran ini, karena Arthur memang sedang aktif-aktifnya berjalan kesana kemari. Biar dia hafal ruangan didalam rumah dan letak benda-benda di dalam rumah. Penerapan kaidah KISS selalu coba aku terapkan dalam pelajaran orientasi mobilitas ini. Walaupun kadang kalau Arthur udah nggak bisa dibilangin, aku masih memakai intonasi yang tinggi. Tapi setelah itu nyesel sendiri kalau abis ngomel begitu. Mencoba menerapkan untuk nggak bilang “jangan” “nggak boleh” “tidak” itu yang masih susah banget. Selain karena belum terbiasa, aku harus memutar otak untuk mengganti dengan kalimat lain.

Seperti misalnya hari ini, Arthur lagi suka mainan pintu di buka tutup. Kadang aku biarin tapi tetep diawasin. Tapi takut juga kan nanti kalo dia kejepit, kejedot pintu atau ngeglebak.

❌ : “Arthuuurrr… hayooo.. no no no.. jangan main pintu ah.. ntar kalo kejepit sakit itu kakinya” 

Setelah aku pikir lagi, aduhh salah ni kata-katanya. Coba muter otak, supaya nggak keluar kata “jangan” dan “nggak boleh”. Dan coba juga menerapkan poin 7-38-55, (7% kata-kata, 38% intonasi suara dan 55% bahasa tubuh).

✅ : “Arthur, kalau mainan pintu gini nanti pintunya bisa rusak, kalau pintunya rusak nanti tikusnya bisa masuk lho.. Udah yuk main pintunya, kita main di kamar aja..” 

✅ : “Arthur, kalau pintunya dibuka tutup gini nanti bisa kejepit kena kaki / tangannya Arthur. Nanti sakit bisa keluar darahnya, terus Arthur nangis lho. Udah yuk mainan pintunya, dadah pintu.. bye byee Arthur mau makan puding dulu. Dimana ya pudingnyaa… Wah didalam kulkas, ayoo kita ke kulkas yuk ambil puding”

Walaupun kadang tetep nggak mempan juga bilangin Arthur, dia masih suka mainan pintu. Karena kalau udah suka dan sibuk dengan sesuatu, kadang nggak di gubris sama Arthur. Dan kalau pintunya diganjel supaya nggak bisa dimainin buka tutup, dia merengek marah dan menangis. Jadi harus sambil dialihkan untuk melakukan kegiatan yang lain, dan katakan “byebye” ke pintu.

#level1

#day4

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip