Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Berkomunikasi produktif dalam membersamai tumbuh kembang anak akan menjadikan anak mudah mengolah emosinya.

Ilmu komunikasi produktif ini sangat diperlukan dan sangat berguna saat Arthur belajar kemandirian dan belajar mengenai orientasi mobilitas. Serta dalam berkegiatan sehari-haripun diupayakan menggunakan ilmu komunikasi produktif. Namun, sayangnya lingkungan sekitar belum tentu bisa berkomunikasi produktif dengan Arthur.

Arthur anaknya cukup sensitif dengan apa yang dikomunikasikan oleh orang lain. Baik dari  isi penyampaian atau kata – kata yang digunakan maupun intonasinya. Ketika dia tahu dan sedikit menyakiti hatinya (seperti dibentak, dimarahi, atau ada yang tak sesuai) maka Arthur akan menangis. Sebisa mungkin orang tua nya tidak melakukan hal tersebut, sehingga ilmu komunikasi produktif pun dapat diterapkan.

Berikut terlampir materi mengenai Komunikasi Produktif.

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir.

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I’m responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

 

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :

“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:

“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :

“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :

“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :

“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :

“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :

“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:

“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”

“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:

“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:

“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:

“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :

“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :

“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati

⛔Kalimat tidak produktif :

“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”

✅kalimat produktif :

kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :

“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :

“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:

Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014

Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

#GameLevel1
#BundaSayang
#IIP
#KuliahBunsayIIP
#InstitutIbuProfesional
#KomunikasiProduktif

Advertisements
Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day10 – Because i’m special…

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day10 – Because i’m special…

Setelah hari ini kontrol mata tahunan dan konsultasi dengan dokter mata anak di JEC (Jakarta Eye Centre), dokter belum bisa memastikan sisa penglihatan Arthur karena dia belum bisa diajak komunikasi. Tapi asessement yang dilakukan, Arthur respon dan bisa mengikuti arah cahaya. 

Aku jadi pengen coba meng-komunikasikan ke Arthur tentang dirinya sejak dini. Terutama tentang penglihatannya yang terbatas. Agar dia besok bisa lebih menerima dirinya apa adanya.
Aku terus inget, isi bukunya retno hening “happy little soul” dan ternyata komunikasi antara ibuk dan kirana juga mengajarkan aku banyak hal tentang contoh komunikasi produktif antara ibu dan anak. 

Salah satunya tentang mengajarkan kepada kirana tentang kelainan kulitnya, yaitu dermatitis atopi yang membuat dia alergi beberapa makanan dan juga sensitif dengan cuaca. Aku bisa mencontoh komunikasi ketika ibuk menjelaskan mengenai alergi yang dialami kirana. 
“Arthur itu anak special… apa yang diberikan Allah ke Arthur lain dari yang lain. Karena Allah sayang sama Arthur”
“Kalau orang melihat dengan mata aja, Arthur juga bisa melihag dengan telinga, hidung, dan tangan untuk membantu mata Arthur”

Selain itu, aku juga membelikan Arthur beberapa buku yang nantinya akan aku braille kan. Salah satunya “the different dino” 

Bercerita tentang seekor dinosaurus yang berbeda dari saudara-saudaranya. Cerita tersebut memeiliki pesan agar anak mau menerima perbedaan di dirinya dan juga supaya tidak mengejek kekurangan orang lain. Karena dari kekurangan tersebut bisa menjadi kelebihan pada dirinya.

#level1
 

#day10
 

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif #Day9 – Mainan Pintu Kulkas

Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif #Day9 – Mainan Pintu Kulkas

Arthur sepertinya memang lagi suka kegiatan membuka tutup pintu. Kalau di jogja kemarin dia suka mainan pintu, sekarang di Bekasi dia juga suka mainan pintu, tapi pintu kulkas. Sebenernya di Jogja, dia juga suka mainan di kulkas. Tapi cuma pukulin pintunya aja, soalnya dia nggak kuat mau buka pintunya. Malah kadang sampai gemes dan geregetan sendiri karena nggak kuat buka pintu kulkasnya. Eh pas di Bekasi, nggak taunya dia bisa buka pintunya. Karena kulkasnya ada handle di pintunya. Awalnya sih dia nggak bisa, tapi lama-lama kuat juga ngebuka pintu kulkas. Jadinya dia main buka tutup pintu kulkas deh. Karena dia merasa sudah bisa, kalau udah didepan kulkas bakalan betah banget mainan pintunya. Tapi kudu dijagain, takut kejepit kaki atau tangannya. Dan takut ngegelebak ke belakang juga kalau dia pas lagi narik ngebuka pintunya.

Awalnya aku diemin aja dia mainan pintu kulkas begitu, karena dia anteng dan jadi sibuk sendiri. Tapi lama-lama takut jadi kebiasaan. Nanti kalau kulkasnya rusak gara-gara Arthur, aku kan jadi nggak enak. Hahaha..

“Arthur, kulkasnya nanti bisa rusak. Minumannya jadi nggak dingin kalau pintunya dimainin buka tutup gini”

“Arthur, nanti tangannya bisa kejepit. Kakinya juga bisa kena pintu kulkas. Nanti Arthur kesakitan.”

Tapi nggak di gubris sama Arthur, dia cuek dan masih aja mainan buka tutup pintu kulkas. Aku inget waktu Arthur mainan pintu, coba pakai kata – kata “pamitan” untuk ninggalin kesibukannya itu. Dan mengalihkan untuk melakukan kegiatan yang lainnya.

“Arthur, bye bye dulu sama kulkasnya.. Bye bye kulkas.. Arthur main yang lain dulu yaa… Ayoo sekarang kita ambil bola…”

Dan dia langsung dadah dadah sama kulkas. Pergi ninggalin kulkas begitu aja. Alhamdulillah langsung berhasil.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif #Day8 – Belajar Orientasi Mobilitas di Rumah Bekasi

Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif #Day8 – Belajar Orientasi Mobilitas di Rumah Bekasi

Arthur sudah 4 bulan nggak ke Bekasi, terakhir Arthur di Bekasi dulu masih titahan belajar jalan, belum bisa jalan sendiri. Dan polah nya belum se aktif sekarang. Kalau di  rumah jogja, Arthur sudah mulai mengenal dan hafal ruangan serta letak beberapa barang seperti meja, kursi, sofa, lemari, dll. Di Bekasi, Arthur belajar orientasi mobilitas di dalam rumah lagi untuk menghafal ruangan dan letak benda.

Komunikasi Produktif dengan kaidah KISS (Keep Information Short & Simple) menjadi andalan dalam memberikan informasi pada orientasi mobilitas agar anak dapat dengan mudah memahami dan mengerti. Tinggal konsisten melakukannya berulang-ulang, Arthur pasti cepat bisa menguasai rumah di Bekasi.

Tempat main Arthur di ruang tengah, karena luas dan memang sengaja di setting tidak banyak perabotan supaya Arthur bisa main dan kesana kemari sesukanya. Aku jelasin pelan-pelan ke Arthur di ruang tengah ada apa aja. Dia paling cepet hafal adalah letak kulkas, karena dia memang suka mainan di depan pintu kulkas. Dan ternyata Arthur bisa main buka tutup pintu kulkas, dia betah banget kalau udah main pintu kulkas. Tapi harus tetep dijagain supaya nggak kejepit atau ngegelebak ke belakang.

“Arthur di sini kulkas, sampingnya ada TV. Tapi hati-hati di dekat tv ada kabelnya, nanti bisa sakit kena setrum listrik”

“Arthur, di sebelah sini ada kursi. Bisa buat duduk-duduk” (Sambil megangin dia ke kursi)

“Di sebelah sini kamar tante Andin. Arthur mau masuk ke kamar tante? Tapi tantenya lagi sekolah, main sama tantenya nanti kalau tante Andin udah pulang sekolah ya”

Letak ruang tengah, dekat dengan dapur dan ruang makan. Tapi, ada sedikit hambatan kecil untuk Arthur kalau mau jalan menuju ke dapur dan ruang makan. Karena ada seperti 1 anak tangga kecil yang membatasi ruangan tersebut. Kalau Arthur nggak bener-bener dijagain bisa “kejeglong” (aduh bahasa indonesianya apa ya). Jadi setiap menuju ke arah ruang makan, selalu aku pegangin dia.

“Pelan-pelan ya, kalau sampai disini kita turun dulu.. hap hap 1..2..3..”

Begitu pula sebaliknya, kalau dari ruang makan mau balik ke ruang tengah. Dia juga harus ekstra dijagain dan masih harus sambil dipegangin. Kalau nggak, bisa jatuh kesandung.

“Hati-hati Arthur.. sekarang naik nih.. kakinya diangkat.. hap hap 1..2..3..”

Karena sering main di ruang tengah, awal-awal aku ajarin dia buat hafalin jalan dari ruang tengah ke kamar dan juga sebaliknya, dari kamar ke ruang tengah. Di dalam kamar seharusnya aku kasih tau letak barang, tapi belum aku lakukan karena aku belum sempat beberes kamar. Masih ada koper, kardus dan beberapa barang nggak penting yang belum di singkirkan ke atas lemari.

“Ayo kita ambil bola. Bolanya ada di dalem kamar Arthur. Kita ambil ke kamar yuk. Jalan lurus ke arah pintu depan, ehh arthur nginjak keset tuh, terus belok kiri. Kita udah masuk ke kamar Arthur nih. Bolanya ada di dalem kotak nih.. “

Lalu aku coba mengulang – ulang kembali supaya letak kamar bisa masuk ke memory nya..

“Arthur, kalau lagi jalan ke arah pintu depan terus nginjak keset berarti itu pintu kamar Arthur yaa.. “

Arthur ada respon dengan cahaya, dan dia biasanya tau letak pintu keluar rumah. Karena kalau siang hari pintu di buka pasti terang benderang. Jadi , kadang aku menjadikan sumber cahaya itu patokannya.

PR Arthur nambah lagi, untuk menghafal ruangan dan belajar orientasi mobilitas lagi. Karena mau stay di Bekasi agak lama. Tapi aku yakin, Arthur nggak lama sudah bisa hafal jalan ruangan di dalam rumah. Karena memang anaknya lagi suka jalan dan bereksplorasi, jadi aku gampang memanfaatkan untuk dia belajar orientasi mobilitas.

 

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day7 – Mudik Ke Bekasi

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day7 – Mudik Ke Bekasi

Tahun ini Arthur mau lebaran di Bekasi. Berangkat ke Bekasi di Jemput Papanya naik pesawat. Arthur memang sudah beberapa kali naik pesawat. Tapi karena sekarang polahnya makin aktif, aku takut kalo dia ngajak jalan-jalan ke lorong pesawat pas lagi terbang. Atau malah jadi rewel di pesawat.

Beberapa hari sebelum berangkat, aku sounding terus. Mencoba sounding dengan komunikasi produktif. Tentang naik pesawat dan juga tentang rumah di bekasi. Karena Arthur udah 4 bulan nggak ke Bekasi. Dan kalau di Bekasi beberapa kali Arthur rewel nggak jelas. Mamanya malah jadi parno sendiri.

Kalau untung sounding ini, cocoknya pakai Kaidah 7-38-55. Karena hanya 7% kata-kata yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh.

“Arthur, ada pesawat lewat tuhhh.. bunyinya gimana? ngeeeenggg nggeeeeggg… Eh, besok kita naik pesawat yaa. Kalau di dalem pesawat itu duduk. Soalnya kita kan terbang diatas. Kalau jalan-jalan nanti bisa jatuh, kan pesawatnya goyang-goyang. Nanti duduknya mama pangku ya sambil nenen”

“Arthur besok kita ke tempat uti ya di Bekasi, kesana sama papa. Disana nanti mainnya sama uti,akung, tante andin. Kalau bobok di Bekasi, Arthur nanti tiap hari bisa ketemu papa”

Waktu di waiting room, ada playgroundnya. Arthur main sama papa nya tapi nggak sampai 5 menit dia betah main disitu. Abis itu dia ngajakin meterin jalan, mondar mandir kesana kemari. Tapi Alhamdulillah selama di perjalanan sampai ke rumah Bekasi, Arthur “ndemenakke” . Di pesawat pun dia bobok, padahal di rumah udah bobok beberapa jam. Semoga karena The power of sounding nya berhasil.

Di rumah Bekasi, Arthur sepertinya agak harus beradaptasi lagi. Karena sudah 4 bulan nggak kesana dan anak seusia Arthur sedang proses adaptasi dengan orang baru. Bener aja, Arthur lupa sama uti, akung dan tantenya. Walaupun sudah sering di sounding dan sering video call sama uti dan akungnya, tapi Arthur masih harus terbiasa dulu. Di gendong pun nggak mau, harus pendekatan dulu dan sepertinya proses pendekatannya perlu beberapa hari.

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day6 – Kebiasaan Jelek Arthur

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day6 – Kebiasaan Jelek Arthur

Kebiasaan jelek Arthur adalah menekan kedua matanya. Seringnya sih mata yang kiri. Orang yang nggak tau mungkin pada ngira kalau mata Arthur gatal. Padahal bukan begitu…

Pada anak yang memiliki hambatan penglihatan, kegiatan menekan mata ini menjadi “hiburan” bagi mereka. Mereka seolah-olah bisa melihat kedap kedip merah abstrak, atau semacam pendaran cahaya merah. Kita saja kalau menekan atau mengucek mata juga dapat merasakannya. Mereka merasa asyik dan senang dengan hal tersebut.

Meskipun mereka merasa senang, bahagia dan terhibur dengan kebiasaan menekan mata tersebut. Tapi, kita harus melarangnya karena itu akan berakibat buruk. Jika kita perhatikan wajah para tuna netra dengan mata yang kecil dan cekung, itu akibat kebiasaan menekan mata yang sering mereka lakukan. Terutama pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Karena tulang di sekitar mata termasuk tulang rawan, sehingga area sekitar mata bisa menjadi cekung. Dan juga bisa berpengaruh ke perkembangan bola mata, mengakibatkan mata nampak lebih kecil.

Jadi, setiap Arthur menekan matanya biasanya aku langsung melarangnya dan menarik tangannya. Tapi dengan ilmu komunikasi produktif, aku akan mulai merubah cara dan kalimatku untuk melarang Arthur menekan matanya. Meskipun kalau lagi “selo” dia masih saja menekan tangannya, jadi Arthur harus selalu diawasin. Dan untuk ini harus melibatkan seluruh anggota keluarga untuk melarang dengan cara komunikasi produktif, minimal aku dan suamiku. Selain itu juga mengajarkannya agar sibuk menggunakan kedua tangannya untuk hal yang lain. Selama ini yang sudah aku lakukan adalah untuk mengenal anggota tubuhnya, tepuk tangan, main cilukba, hompimpah, dan juga bermain-main.

Biasanya aku pakai kalimat ini :

❌ “Arthur matanya jangan ditekan gitu! “

❌ “Arthur tangannya hayooo… Tangannya jangan gitu ahh.. jelek tau” (sambil narik tangannya)   

❌ “Arthur… tangannya tangannya… Hayooo Ragasyaaaaa… Ragasyaaa…”

 

Dan mulai sekarang akan aku biasakan (semoga bisa konsisten) :

✅  “Arthur, kalau matanya ditekan kasihan matanya… nanti matanya bisa jadi kecil…”

✅ “Arthur, tangannya dipakai buat main aja.. Ayo kita nyanyi sambil tepuk tangan… “

✅ “Eh mama kasihtau, ini tangannya buat yang baik-baik yah.. Kayak berdoa, membantu, menolong orang lain. Kan Arthur mau jadi anak baik katanya…”

✅ “Arthur… kan Arthur special, tangannya dipakai buat bantu mata melihat ya.. Bukan buat neken mata. “

 

Walaupun kadang Arthur masih aja ngeyel dan mencuri kesempatan untuk kebiasaan menekan matanya ini, tapi semoga suatu saat nanti dia bisa mengerti bahwa itu tidak baik untuk dirinya.

 

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day5 – Belajar Makan Sendiri

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day5 – Belajar Makan Sendiri

PR Arthur lainnya adalah Arthur belajar makan minum sendiri dengan peralatan makannya piring, sendok, gelas. Kalau untuk anak biasa lainnya, mungkin gampang aja ngajarin makan sendiri pakai sendok. Karena tidak ada masalah dengan penglihatannya, tinggal ngajarin koordinasi antara mata dan tangan aja. Kalau Arthur kan susah sekali belajar koordinasi mata dan tangan. Dia harus pakai feeling nya juga. Jadi untuk Arthur, makan dengan sendok membutuhkan koordinasi feeling dan tangan. Menantang mamanya banget buat ngajarin ini. Karena butuh kesabaran yang ekstra juga.

PR makan sendiri ini sudah beberapa bulan dilakukan tapi masih belum mencapai goalsnya, karena aku sepertinya memang belum terlalu konsisten dan optimal juga ngajarinnya. Soalnya Arthur kalau makan, masih sesukanya sendiri. Kalau kata orang, biasakan anak makan sambil duduk sedari dini sejak pertama mengenal MPASI. Supaya nggak terbiasa makan sambil digendong atau lari-larian kesana kemari. Duhh, itu cuma sukses diawal aja, setelah Arthur mulai aktif dia mulai nggak betah atau bahkan menolak duduk di kursi makannya. Akhirnya sekarang kalau makan, syukur-syukur mau duduk di kursinya sampai makanan habis. Seringnya sih dia terus pencalitan minta turun dari kursinya, abis itu makan disuapin sambil jalan kesana kemari. Aduh, kalau udah begini aku jadi gampang ngerasa emosi. Harus ngawasin atau megangin Arthur jalan, sambil bawa makanannya. Rempong byanget… Selain itu Arthur juga jadi ngga bisa belajar makan sendiri pakai sendoknya. Mau maksain duduk di kursinya sambil makan, malah dia bisa ngambek. Yaudah, daripada Arthur nggak mau makan atau makannya cuma sedikit aku dengan sangat terpaksa menuruti kemauannya. Karena Arthur juga harus banyak asupan makanan untuk mengejar kenaikan berat badannya. Maklum aja, dia kan anak prematur.

Aku udah sering ngomong dan sounding ke Arthur. Kadang kalau dia lagi tidur pun aku sounding dia juga. Aku kasih tau kalau makan itu duduk di kursinya, nggak sambil jalan-jalan. Tapi nggak mempan juga. Dasarnya anaknya memang lagi aktif dan suka eksplorasi kesana kemari.

Aku juga pernah ceritain, tentang ajaran-ajaran Rasulullah kalau sebelum makan itu berdoa dulu, makannya sambil duduk, nggak sambil ngomong karena bisa tersedak, makannya pakai tangan kanan,dll. Mungkin terlalu panjang juga ceritaku, dan dia susah nangkepnya.

Kayak waktu makan hari ini.

👩🏻 Mama : “Arthur, maem dulu ya… maemnya sambil duduk… ayo, Berdoa dulu sebelum makan”

Sambil baca doa mau makan dan ngajarin tangan Arthur buat berdoa, biasanya abis berdoa tangannya terus Amin sendiri.

Aku terus megangin sendok ke Arthur dan mengarahkan tangannya ke mangkok. Kalau Arthur pegang sendok, aku juga sambil megangin dan ngarahin. Kalau nggak, sendoknya bisa kebalik dan makanannya banyak yang tumpah. Atau sendoknya dikelamutin ama dia, kadang juga di lempar ama dia. Mangkok nya pun sambil aku pegangin, karena bisa disampar atau di obok-obok ama dia.

👩🏻 Mama : “Arthur, kalau makan pegang sendoknya begini ya, pakai tangan yang kanan.. Sekarang ambil nasinya pakai sendok, terus masukin ke mulut haaapppp… dikunyah-kunyah nyam nyam nyamm… Pinterr, Arthur bisa makan sendiri pakai sendok.”

 Tapi nggak berlangsung lama Arthur makan sambil pegang sendok sendiri. Dia terus main-main atau pencalitan di kursi. Se enggak nya dia udah latihan sedikit-sedikit setiap hari. Arthur belakangan ini juga suka ngemut makanannya. Dan ini bikin kegiatan makan jadi lama.

👩🏻 Mama : “Eh Arthur, nasi nya mau masuk ke perut. Udah ditungguin di perut. Ayo telan lewat tenggorokan sini (sambil pegang tenggorokannya) terus lewat sini (pegang dadanya) terus sampai deh ke perut Arthur”

👩🏻 Mama : “Ayoooo… ini wortel nya mau masuk ke perut Arthur, tok tok tok… Mau masuk lewat mulut dulu nih, ayo dibuka mulutnya.. haaaaakkk…. emmm…”

👩🏻 Mama : “Arthur, ayo maemnya dikunyah-kunyah nyam nyam.. terus ditelan glek glek… Biar makanannya masuk ke perut, Arthur kenyang deh. Biar Arthur juga cepet gede badannya tambah tinggi”

Makan duduk di kursi cuma berlangsung beberapa suapan. Abis itu dia merengek minta turun dari kursinya. Akhirnya aku turunin aja dia biar sambil jalan-jalan kesana kemari, yang penting makanannya bisa masuk pikirku. Walaupun sangat melelahkan. Karena Arthur kudu ngejar berat badannya, yang seret kenaikannya.

Entah kenapa sekarang kegiatan makan ini jadi melelahkan. Belum lagi kalau makanannya di samplak, tumpah, dilepeh. Aduh jadi gampang bikin emosi dan ngomel. Kalau anaknya lagi mau duduk dan lahap rasanya bahagia sekali. Tapi seringnya pencalitan di kursi dan ujung-ujungnya makan sambil kejar-kejaran. Dia lagi aktif bereksplorasi jalan kesana kemari. Entah kata-kata yang bagaimana lagi buat ngasih tau Arthur supaya makan dengan baik. PR lagi ini buat mama Arthur. Semoga aja kalau sering dibilangin secara konsisten dia mengerti.

#level1

#day5

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip