Arthur ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Arthur ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Arthur skrining ADB

Sekitar 6 bulan yang lalu, arthur sempat demam beberapa hari dan aku bawa ke dokter anak, waktu itu Arthur bertemu dengan dr rina triasih di RS Hermina Jogja. Dokter Rina melakukan anamnesis dan memeriksa fisik Arthur. Karena saat itu arthur juga sedikit diare. Dokter rina detail banget meriksanya, nggak keburu-buru juga padahal diluar masih banyak yang antri.

Seperti biasa, Arthur diperiksa dengan stetoskop dan termometer. Saat itu badannya anget tapi masih aktif. Waktu periksa mulutnya, ternyata gigi Arthur lagi pada mau keluar. Geraham atas dan bawah. Kemungkinan penyebab demam adalah gigi tumbuh. Karena langsung 4 geraham yang keluar. Padahal taring bawahnya aja baru keluar separo belum nongol full.

Dokter juga memeriksa penis Arthur, karena takutnya ada ISK. Demam adalah salah satu ciri ISK. Tapi Kata dokter, sepertinya tidak ada tanda ISK. Karena Arthur kalo pipis juga nggak keliat kesakitan. Sehingga tidak perlu cek urin. Hanya ada gejala fimosis, tapi nggak parah amat. Hanya penis nya harus sering di bersihkan. Supaya tidak ada kotoran yang menyumbat.

Lalu Arthur juga disarankan cek darah, karena demamnya udah sekitar 3 harian. Untuk memeriksa haemoglobin, trombosit, leukosit, dsb. Agak drama juga pas cek darah, diambil darah dari jarinya beberapa cc. Nangis kejer. Hasil cek darah langsung keluar sekitar 15-30menit kemudian dan langsung aku konsultasikan dengan dr rina. Ternyata Hb Arthur rendah. Hanya 8 g/dl, normalnya 10,8 – 12,8 g/dl. Dokter bilang, Arthur kemungkinan kurang asupan zat besi juga, disebut ADB (Anemia Defisiensi Besi). Karena Arthur memiliki riwayat prematur, BBLR, dan juga ASI eksklusif bahkan masih ASI sampai sekarang.

Kandungan zat besi didalam ASI tidak mampu memenuhi kebutuhan zat besi yang diperlukan oleh tubuh, namun zat besi yang di peroleh dari ASI dicerna dengan mudah oleh sistem pencernaan bayi.Selingan susu seperti UHT ataupun susu murni, biasanya kandungan zat besinya juga sedikit. Sehingga sebaiknya, diberikan suplemen zat besi tambahan.

Arthur pun diresepkan Fe (suplemen zat besi). Awalnya Arthur minum ferlin drop, 1 botol sampe habis dalam beberapa minggu. Lalu aku pun beli lagi di apotek, tapi Arthur sering muntah tiap dikasih ferlin yang baru. Akhirnya aku coba konsultasikan ke dokter lagi saat imunisasi, suplemennya pun diganti merk feriz. Dan sampai sekarang Arthur masih rutin minum feriz.

****************************************************************************

BB Arthur Stuck

Lalu sekitar 6 bulan kemudian, Aku sedikit galau. Setelah berdiskusi sebentar dengan dr rinawati di metro tv, beliau sambil kasih liat chart ke aku tentang pertumbuhan arthur. Katanya arthur kayak anak 12-13 bulan. Badannya tidak sesuai dengan usianya dan ada di garis merah 💔  Beliaupun menyarankan untuk konsultasi ke dsa sub gizi.

Mama Arthur dalam acara Selamat Pagi Indonesia @MetroTV , selasa 12 september 2017

Lalu aku pun berencana ke dr Rina Triasih di hermina jogja. Beliau sebenernya dsa sub spesialis respirologi (paru anak). Tapi aku pengen coba dulu Bagaimana saran beliau karena aku merasa klik konsultasi dengan beliau. Komunikatif, detail dan nggak kemrungsung. Aku pun menceritakan kegalauanku setelah pertemuanku dengan dr rinawati, karena Arthur BB nya kurang. Lalu setelah di cek ulang, di buku KMS nya Arthur ternyata pertumbuhannya ada di garis ijo muda. Bisa dibilang masih dalam batas aman, tapi kan tidak boleh santai dan kalo bisa dikejar.

Dokter Rina juga sempat menghitung sesuatu, entah apa aku nggak tau. Hehehe. Tapi dia menjelaskan bahwa berat badan dan tinggi badan Arthur Proporsional, di angka 85%. Jika berada di bawah 80% dapat dikatakan kurang gizi. Namun jika dilihat perbandingan berat badan dan tinggi badannya dengan usia koreksinya, memang harus dikejar. Karena arthur usia 2 tahun udah nggak pakai usia koreksi lagi buat tumbuh kembangnya. Anak prematur masuk usia 2 tahun, tumbangnya diusahakan sudah bisa sesuai dengan anak-anak seusianya.

Memanglah masalah berat  badan anak yang seret naiknya, dan bahkan stuck membuat galau para Ibu. Nggak terlalu di khawatirkan juga sih sebenernya, tapi ya nggak boleh terus jadi nyantai juga.

Waktu periksa, Arthur pas lagi agak batuk pilek,  ternyata hanya common cold. Batuk nya juga gak kelihatan, paru-paru bersih. Pileknya juga nggak parah sampai bikin mampet.  PAs diperiksa, Arthur sensi banget, kayaknya dia udah tau ketika masuk di ruang periksa akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Karena waktu mau di stetoskop pun dia nggak mau, padahal stetoskop nempel di bajunya bukan di kulitnya. Dia langsung menepis stetoskop itu. Sampai dr rina pelan-pelan banget periksanya, dia masih aja kerasa. Akhirnya yaudah, sambil nangis deh diperiksanya. Padahal udah dibilangin sebelumnya, kalau arthur mau pergi ke hermina ketemu dengan dr rina untuk diperiksa.

Aku sempet bikin beberapa list pertanyaan untuk dokter rina. Yang aku tulis di buku pasien hermina. Beliaupun jawab pertanyaan itu satu persatu. Katanya “Wah aku dikasih soal ujian, sebentar aku tak tes dulu” Hehehehe…

List pertanyaanku itu antara lain masalah BB arthur yang stuck, perlukah review ADB dan tes urin untuk cek ISK, perlukah asupan susu atau makanan cair tambahan selain ASI, dan perlukah ke dsa subspesialis gizi.

 Penyebab berat badan anak stuck, biasanya :

asupan makanan

padahal arthur maem doyan. kalopun gtm juga nggak parah amat karena lagi nggak tumbuh gigi juga. Makan udah pakai protein nabati hewani, dll juga.

ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Arthur emang positif ADB tapi sudah di terapi pake suplemen sekitar 5-6bulanan, dan setelah di review ternyata udah bagus.

ISK (Infeksi Saluran Kencing)< /strong>

Nggak ada tanda ISK, arthur nggak lagi demam juga. Jadi menurut dokter nggak perlu cek urin segala.

TB (Tuberkulosis)

Nggak ada tanda TB. Coba skoring sendiri hasilnya memang nggak ada tanda TB jadi tidak perlu mantoux segala.

Review ADB

Karena cek ADB terakhir sudah 6 bulan yang lalu, doter rina menyarankan untuk dilakukan review. Bagaimanakah hasilnya setelah diberikan suplemen zat besi secara rutin. Di review nya dengan tes darah di laboratorium seperti awal dulu. Dan dramaaakkk bangeetttt…. Di stetoskop aja nggak mau dan ngambek. Ini mau diambil darahnya segala. Sampe dipegangin 4 orang waktu ambil darah. Nangis kejer teriak sampai jackpot. Kasihan sebenenya, aku malah jadi inget perjalanan diagnosa Arthur dulu, bolak balik diperiksa ini itu segala macem. Tapi mau gimana lagi kan, balada antara tega nggak tega. Semua demi kesehatan Arthur kok.

Selesai ambil darah untuk sample, jari Arthur diplester tapi dia masih nangis dan malah ditarik plesternya soalnya dia risih. Sampai ganti 4x plesternya. Karena dia tarikin mulu, dan dikibasin. Akhirnya sama perawat ditebelin beberapa kali tuh buntelan plesternya, eehhh malah diteken-teken ama dia karena dia risih. Darahnya masih keluar dan merembes ke plester. Minta ganti lagi deh plester dan perbannya. Abis itu dia baru diem nangisnya karena dibeliin puding di kantin hermina, dan nggak lama kemudian dia molor digendong eyangnya. Antara capek nangis dan emang dasarnya udah ngantuk.

Hasil lab langsung keluar sekitar 15 menit kemudian, dan aku langsung serahkan ke dr rina untuk dikonsultasikan. Alhamdulillah hasilnya bagus jadi tidak ada tes lanjutan untuk pemeriksaan lab yang lebih detail. 6 bulan yang lalu Hb nya 8 g/dl, setelah terapi pakai vitamin zat besi secara rutin sehari 2 kali sekarang Hb nya udah naik jadi 13,1 g/dl. Dokter rina menyarankan suplemen zat besi tetap diberikan tapi sekarang sehari sekali aja.

Aku pun tanya kesimpulannya, jadi apakah penyebab bb nya Arthur stuck? Apa perlu diberikan susu atau suplemen tambahan lagi?

Dokter Rina menyarankan Arthur untuk diberikan tambahan makanan cair. Yaitu infantrini atau nutrinidrink. Namun disarankan, lebih baik konsul ke dsa sub gizi dulu, soalnya masalah begini wilayahnya dsa sub gizi.

Biasanya nanti  dsa sub gizi mereview pola makannya, dan juga membuatkan menu untuk asupan makanan apa saja yang sebetulnya diperlukan oleh tubuh Arthur. Kalau ternyata memang asupannya dari makanan masih kurang, baru deh dikasih tambahan makanan cair seperti susu tapi bukan susu juga sih yaitu infantrini atau nutrinidrink itu tadi.

Sebaiknya sih memang harus dikonsultasikan ke dsa sub spesialis gizi dulu. Karena makanan cair seperti infantrini atau nutrinidrink tidak boleh sembarangan diberikan, harus berdasarkan resep dokter atau ada indikasi medis tertentu.

Jadi setelah ini, kunjungan berikutnya adalah ke dokter subspesialis gizi.

Berikut Artikel yang diambil dari IDAI mengenai Anemia kekurangan zat besi

Secara sederhana anemia sering diartikan sebagai kekurangan darah. Secara teoritis anemia merupakan istilah untuk menjelaskan rendahnya nilai hemoglobin (Hb) sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Pada anak anak, kekurangan zat besi atau Anemia defisiensi Besi (ADB) merupakan penyebab anemia terbanyak. Anemia kekurangan zat besi ialah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan zat besi tubuh. Prevalensi anemia defisiensi besi di Indonesia masih sangat tinggi, terutama pada wanita hamil, anak balita, usia sekolah dan pekerja berpenghasilan rendah. Pada anak-anak Indonesia angka kejadiannya berkisar 40-50%. Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan kejadian anemia defisiensi besi sebanyak 48,1% pada kelompok usia balita dan 47,3% pada kelompok usia anak sekolah.

ADB pada anak akan memberikan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Selain itu berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang. Masalah yang paling penting yang ditimbulkan oleh defisiensi besi yang berlangsung lama, adalah menurunkan daya konsentrasi dan prestasi belajar pada anak

Saat lahir, bayi memiliki Hb dan cadangan zat besi yang tinggi karena zat besi ibu mengalir aktif  melalui plasenta ke janin tanpa perduli status besi sang ibu. Setelah lahir akan terjadi 3 tahap, yaitu:

  1. Usia 6-8 minggu akan terjadi penurunan kadar Hb sampai 11 g/dl, karena eritropoeisis berkurang dan umur sel darah merah janin memang pendek
  2. Mulai umur 2 bulan, Hb akan meningkat sampai 12,5 g/dl, saat ini eritorpoeisis mulai meningkat dan cadangan besi mulai dipakai (deplesi)
  3. Diatas usia 4 bulan cadangan besi mulai berkurang dan dibutuhkan zat besi dari makanan.

Pada bayi aterm, deplesi jarang terjadi sebelum usia 4 bulan, dan anemia juga jarang terjadi bila mulai dikenalkan makanan saat usia 4-6 bulan. Tetapi pada bayi premature, deplesi dapat terjadi pada usia 3 bulan karena pertumbuhan lebih cepat dan cadangan besi memang lebih sedikit.

Beberapa faktor yang dapat memicu kekurangan zat besi pada manusia adalah status hematologik ibu hamil, Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), Bayi kembar, Infeksi, Infestasi parasit.

Sedangkan faktor faktor yang dapat menjadi penyebab kekurangan zat besi pada anak adalah:

  1. Pertumbuhan yang cepat
  2. Pola makanan. Susu merupakan sumber kalori utama bayi. Zat besi pada ASI  merupakan zat besi yang mudah diserap, tetapi zat besi pada susu formula memiliki bentuk ikatan non-heme sehingga lebih sulit diserap oleh usus. Pada bayi aterm, pemberian ASI saja sampai usia 6 bulan masih dapat memenuhi kebutuhan zat besi bayi, tetapi tidak bagi bayi premature. Komposisi makanan kita yang lebih banyak mengandung sereal/serat juga berperan dalam penyerapan zat besi. Besi pada serat bersifat non-heme dan serat sendiri dapat menghambat penyerapan zat besi.
  3. Infeksi. Kuman penyebab infeksi menggunakan zat besi untuk pertumbuhan dan multiplikasinya. Sehingga anak yang sering infeksi dapat menderita kekurangan zat besi
  4. Perdarahan saluran cerna
  5. Malabsorbsi (gangguan penyerapan makanan dalam usus)

Bagaimana mengetahui anak dengan ADB?

1. Klinis

Biasanya diagnosis klinis tegak sesudah terjadi anemia, yang sebenarnya merupakan gejala lanjut dari kekurangan zat besi. Pada tahap awal yang sering dikeluhkan orang tua adalah iritabel, lesu, lemas, nafsu makan berkurang, perhatian mudah teralih, tidak bergairah bermain, cepat lelah bila sedang bermain, sulit konsentrasi dalam belajar, pusing atau sakit kepala, dada berdebar-debar, sampai gejala yang sangat berat berupa pica (gemar makan atau mengunyah benda tertentu seperti tanah, kertas, kotoran, alat tulis, pasta gigi, dll)

2. Laboratoris

Hasil pemeriksaaan laboratorium biasanya sesuai dengan stadium kekurangan zat besi, yaitu:

– Stadium I: deplesi cadangan besi (penurunan kadar feritin)

– Stadium II: defisiensi besi tanpa anemia (penurunan SI dan TIBC)

– Stadium III: anemia defisiensi zat besi (penurunan Hb, MCV, Ht)

Dianjurkan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi dini defisiensi zat besi pada usia 1 tahun untuk bayi aterm, usia 6-9 bulan untuk bayi preterm, usia anak 2-3 tahun, 5 tahun dan saat dewasa muda.

Apakah ADB dapat diobati? Tentu saja ADB dapat dan harus segera diobati bila diagnosis sudah ditegakkan. Pada keadaan anemia defisiensi zat besi dapat diberikan  preparat besi (ferosulfat / ferofumarat / feroglukonat), diberikan diantara waktu makan pengobatan dilanjutkan sampai 2-3 bulan setelah kadar Hb normal untuk mengisi cadangan besi dalam tubuh. Dengan pemberian yang teratur, kadar Hb akan meningkat 1 g/dl tiap 1-2 minggu. Penyerapan dapat ditingkatkan dengan pemberian vit. C. Penyerapan akan berkurang akibat zat tannin (teh), susu, telur, fitat dan fosfat yang terdapat dalam tepung gandum. Setelah kadar besi normal di dalam tubuh, penting untuk ibu ibu untuk mencegah agar tidak sampai jatuh dalam keadaan anemia lagi.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari minum susu segar sapi yang berlebihan, memberikan makanan yang mudah absorbsi besinya (daging, ikan, ayam, hati dan asam askorbat). Sedangkan untuk bayi baru lahir, ibu ibu harus menggalakkan ASI sampai 4-6 bulan untuk bayi aterm, tetapi untuk bayi premature mulai diberikan preparat besi saat usia 2 bulan atau makanan tambahan yang mengandung suplemen besi saat usia 4-6 bulan.

Penulis: Rini Purnamasari

Reviewer: Hikari Ambara Sjakti

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Advertisements
Skrining Yang Wajib Dilakukan Pada Bayi Prematur

Skrining Yang Wajib Dilakukan Pada Bayi Prematur

Bayi prematur dilahirkan lebih cepat dari perkiraan kelahiran. Bisa dibilang prematur kalau lahir nya maju lebih dari 3 minggu dari perkiraan atau usia kehamilan <37  weeks.

Bayi prematur wajib dilakukan berbagai macam skrining untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang kemungkinan dialaminya. Karena dia born to soon, perkembangan organ terjadi di luar kandungan sehingga sangat riskan terjadi berbagai macam gangguan kesehatan. Bayi prematur juga bisa lahir dengan beberapa kondisi yang salah satunya menyebabkan disabilitas. . Jangan terus bilang “anak ku prematur tapi nggak apa-apa kok ngapain kudu skrining”. Bu ibuk, beberapa kejadian tidak bisa dilihat dengan kasat mata loh. Butuh pemeriksaan secara medis dengan alat tertentu. Misalnya saja pada kasus ROP ataupun loss hearing.

Kalau arthur, bisa dibilang skrining nya telat. Ya karena kurang pemahaman saya tentang informasi pentingnya skrining ini. Pihak medis yang merawat arthur saat di NICU juga kurang mengedukasi hal ini. Sangat disayangkan juga, saya mendengar cerita para ibu-ibu preemie yang lain, mereka juga nggak paham mengenai skrining apa saja yang harus dilakukan. Padahal ini sangat penting dan berdampak pada masa depan anak. Hal semacam ini pun kemudian menjadi tugas komunitas atau support group untuk mengedukasi secara benar.

Screening prematuritas yang wajib dilakukan antara lain adalah:

1. Skrining ROP (Penglihatan)

Skrining mata untuk pemeriksaan ROP hukumnya wajib bagi bayi prematur!!!

Skrining ROP fungsinya untuk memeriksa indra penglihatan bayi karena bayi prematur perkembangan retina nya belum sempurna.

Skrining ROP, gold standard nya menggunakan alat yang bernama opthalmoskop indirect. Dilakukan oleh dokter spesialis mata (biasanya oleh subspesialis mata anak atau subspesialis retina). Jika dibutuhkan pemeriksaan yang lebih detail dapat dilakukan retcam (foto retina).

Arthur menjalani skrining mata pertamanya saat usia 5 minggu dan hasil nya baik, nggak ada gejala ROP. Dokter nya bilang terserah aja mau balik untuk skrining lagi atau nggak.  Bodohnya aku waktu itu, pikirku arthur nggak apa – apa kok. Yaudah nggak skrining mata lagi.

Setelah itu dia berkali-kali di skrining saat usia 4bulan karena mencari diagnosa yang tepat. Pakai Opthalmoskop Indirect, USG mata, dan akhirnya setelah dilakukan pemeriksaan dengan retcam (foto retina) Arthur pun fix terdiagnosa ROP stage 5.

Baca :

Diagnosa Final – ROP end of stage

Retinopathy Of Prematurity (ROP)

2. Screening THT (Pendengaran)

Kalau skrining THT pertama kali waktu arthur usia 2minggu. Ada perawat yang dateng ke inkubator nya Arthur untuk periksa telinga arthur. Skrining ini bertujuan untuk memeriksa fungsi indra pendengaran bayi. Screening dilakukan dengan OAE. Jika hasilnya butuh tindak lanjut biasanya, dilakukan tes BERA yang hasilnya bisa lebih akurat.

Pas arthur pulang dari NICU aku dikasih laporan hasil skrining THT nya waktu  itu, hasilnya baik tidak ada masalah dan disitu di tulis skrining lagi akhir maret (saat usia Arthur UK 40 weeks atau sesuai HPL nya) . Aku juga nurutin dateng lagi buat skrining THT yang kedua walaupun telat beberapa hari datengnya. Hasilnya Baik. tidak ada masalah pada indra pendengarannya.

Saat ini banyak Rumah sakit yang sudah memiliki standard wajib, melakukan skrining OAE pada bayi yang baru lahir. Baik bayi premature maupun bayi yang lahir cukup bulan.

3. Skrining Kepala / Otak

Skrining kepala bertujuan untuk memeriksa otak bayi. biasanya dilakukan dengan USG kepala, dan juga bisa dilakukan dengan MRI jika ingin pemeriksaan lebih lanjut atau ada indikasi medis tertentu.

Kalau Arthur di skrining dengan CT scan saat usianya 4 bulan, waktu itu arthur nggak dicurigai ada retinoblastoma mungkin aku nggak ngelakuin pemeriksaan CT scan ini, karena aku juga belum paham dan belum memiliki banyak informasi mengenai skrining kepala. CT scan saat itu bertujuan untuk melihat otak serta syaraf nya arthur.

Baca :

Drama CT scan Arthur

4. Skrining Jantung

Arthur menjalani skrining jantung (ECHO) bisa dibilang telat banget. Pas dia udah 9 bulan. Itu juga karena dsa nya waktu itu lebih aware, sehingga langsung menyarankan dan memberi rujukan untuk ECHO. Karena dicurigai ada PFO, dan juga Arthur belum pernah ada riwayat dilakukan ECHO.  Alhamdulillah hasil ECHO nya juga bagus, dan ternyata tidak ada tanda PFO.

Baca :

arthur skrining jantung (echo)

5. Skrining paru-paru dan pencernaan

Saat pertama kali masuk NICU, arthur di rontgen dulu. Untuk mengecek bagaimana kondisi paru – paru dan pencernaannya. Karena Arthur juga sempat mengalami APNEA setelah lahir, dikawatirkan paru – parunya belum berkembang sempurna.

Waktu itu aku baru tahu kalau Arthur sempat di rontgen, saat Arthur akan pulang ke rumah. Perawat memberikan hasil babygram kepadaku , yang ternyata hasil foto rontgen Arthur sebelum masuk di ruang NICU.

6. Skrining Hipotiroid

Sebetulnya skrining Hipotiroid wajib dilakukan ke seluruh bayi yang baru lahir baik premature maupun cukup bulan. Namun masih banyak rumah sakit di Indonesia yang belum melakukan skrining hipotiroid pada bayi baru lahir. Skrining HK paling baik dilakukan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang. Sedikit darah bayi diteteskan di atas kertas saring khusus, dikeringkan kemudian bercak darah dikirim ke laboratorium

Hipotiroid jika kadar hormon tiroid pada bayi dibawah normal.  Skrining hipotiroid kongenital dilakukan untuk mendeteksi adanya hipotiroid kongenital (bawaan lahir). Karena diawal kehidupan, gejala klinis hipotiroid kongenital tidak tampak dan seharusnya menjadi skrining wajib.

Salah satu dampak hipotiroid kongenital jika tidak mendapat penanganan adalah pembesaran pada leher yang sering disebut gondok. Hipotiroid kongenital juga bisa mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan anak. Seperti

  1. Tubuh pendek (cebol)
  2. Muka hipotiroid yang khas ( muka sembab, bibir tebal, hidung pesek)
  3. Mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah)/ idiot
  4. Kesulitan bicara dan tidak bisa diajar bicara

Aku tau mengenai skrining Hipotiroid ini sebenarnya juga belum lama, saat chat whatsapp dengan dr Rinawati yang waktu itu aku temui saat live di metro tv. Karena aku juga belum mengetahui banyak mengenai Hipotiroid Kongenital ini, silahkan kunjungi website IDAI. Disana ada beberapa artikel yang membahas mengenai Hipotiroid Kongenital.

**********************************************************************

Berikut kutipan artikel dari seminar acara world prematurity day 2016 yang diselenggarakan oleh komunitas premature indonesia

Skrining bermanfaat untuk mengetahui secara dini masalah-masalah pada tubuh seseorang. Termasuk pada bayi prematur, skrining penting dilakukan. Mengingat pada bayi prematur, karena lahir sebelum waktunya organ tubuh mereka bisa dikatakan belum berkembang sebagaimana mestinya.

Diungkapkan dr Agung Zentyo Wibowo dari Prematur Indonesia, masalah pada bayi prematur menjadi masalah yang serius. Di Indonesia, 1 dari 7 kelahiran adalah bayi prematur sehingga penanganan bayi prematur seperti skirining dinilai sangat penting.

“Bayi prematur bisa lahir dengan beberapa kondisi yang salah satunya menyebabkan disabilitas. Oleh karena itu skrining sangat wajib dilakukan untuk mendeteksi dini masalah-masalah tersebut,” tutur dr Agung.

Hal tersebut ia sampaikan usai acara World Premature Day: Optimalisasi Tumbuh Kembang Bayi Prematur di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (3/12/2016). Lalu apa saja skrining-skrining yang harus dilakukan pada bayi prematur?

Skrining pertama ialah rontgen untuk memeriksa sistem pernapasan dan saluran pencernaan. Sebab, bayi yang lahir di bawah usia 34 minggu memiliki paru-paru yang tidak berkembang dengan baik sehingga berisiko mengalami masalah pernapasan.

Baca juga: Peneliti: Lahir Prematur, Perkembangan Bayi Lebih Berisiko Terhambat

“Pemeriksaan ini biasanya dilakukan 6 jam setelah lahir. Jika hasilnya bayi normal tanpa masalah berarti bisa dikatan aman,” sambung dr Agung.

Selanjutnya adalah pemeriksaan mata yakni retinopathy of prematury (ROP). Pemeriksaan ini dilakukan secara berkesinambungan dan berdasarkan dua hal. Jika bayi lahir di bawah usia kandungan 30 minggu, pemeriksaan ROP dilakukan setelah bayi berusia 4 minggu. Sedangkan, jika bayi lahir di atas usia 30 minggu, maka pemeriksaan dilakukan di usia 2 minggu.

“Pemeriksaan ini paling penting ya karena semua bayi prematur apalagi di bawah 28 minggu pasti mengalami ROP. Karena ROP bisa membuat retina berkembang abnormal sehingga berisiko kebutaan,” kata dr Agung.

Skrining ketiga adalah pemeriksaan pendengaran OAE (Otto Acoustic Emission). Pemeriksaan ini dinilai dr Agung sangat sederhana yaitu hanya dengan menempelkan alat pada telinga bayi kemudian alat bisa mengevaluasi hasilnya.

Yang terakhir adalah USG (ultrasound) kepala karena kepala pada bayi prematur rentan mengalami perdarahan. dr Agung menyebutkan pemeriksaan ini harus dilakukan pada minggu-minggu pertama.

“Jadi skrining 4 ini wajib harus dilakukan. Kalau masih kurang yakin ya bisa ditambah 1 lagi yaitu magnetic resonance imaging (MRI),” imbuh dr Agung.

Oleh karena itu, dr Agung mengingatkan kepada seluruh orang tua yang memiliki bayi prematur untuk segera melakukan skrining-skrining tersebut. Karena masalah yang diketahui dini bisa ditangani dini dan hasilnya, perkembangan anak pun jadi lebih baik.

“Pokoknya anak prematur di bawah 37 minggu harus skrining. Karena bayi yang nggak cukup bulan tetap memiliki risiko mengalami gangguan kesehatan. Meski memang, risiko paling tinggi pada bayi di bawah 32 minggu dan berat di bawah 700 gram,” pungkas dr Agung.

Kangaroo Mother Care (KMC)

Kangaroo Mother Care (KMC)

Kangaroo Mother Care (KMC) atau Perawatan Metode Kanguru (PMK) sangat disarankan sekali dilakukan kepada bayi prematur. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari KMC ini daripada hanya mengandalkan peralatan inkubator saja. Setelah bayi diperbolehkan pulang ke rumah, lebih baik dan sangat disarankan untuk melakukan KMC saja daripada menggunakan inkubator rumahan. Karena saat bayi diperbolehkan pulang (bukan pulang paksa) artinya kondisi bayi sudah baik dan stabil. Tidak pelu menggunakan inkubator segala. Inkubator rumahan sebetulnya juga memiliki resiko. Karena inkubator adalah peralatan medis, sehingga harus diawasi penggunaannya oleh tenaga medis. Pernah denger berita tentang bayi yang gosong karena berada di dalam inkubator kan? Kira – kira seperti itulah salah satu resikonya. Jika sudah pulang ke rumah, lebih baik melakukan KMC yang sangat praktis, sederhana, nggak ribet, gratis, dan minim resiko.

KMC sangat ditunggu para bayi prematur. Karena KMC adalah kesempatan pertama bayi prematur untuk bertemu dan berada didekapan ibunya setelah beberapa hari dipisahakan di ruang NICU. KMC dilakukan setelah kondisi bayi benar-benar stabil dan dokter sudah memberikan ijin untuk bisa dilakukan KMC.

KMC merupakan alternatif pengganti inkubator dalam perawatan bayi prematur atau BBLR, dengan banyak kelebihan antara lain :

  1. Metode yang mudah, praktis, dan murah. Serta dapat dilakukan siapa saja selain ibu.
  2. Skin to skin ibu dan bayi. Merupakan cara yang palng efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu , dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi mendapatkan kehangatan dari tubuh ibunya dan terhindar dari hipotermia. Karena bayi prematur rentan mengalami hipotermia (kedinginan). Dan juga dapat menurunkan suhu tubuh bayi saat bayi demam.
  3. KMC mempermudah pemberian ASI.
  4. Memberikan perlindungan dari infeksi, daya tahan tubuh yang lebih baik, memberikan stimulasi,keselamatan dan kasih sayang.
  5. Dapat menurunkan kejadian infeksi , penyakit berat, masalah menyusui.
  6. Mengurangi terjadinya post partum depression atau baby blues.
  7. Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi. KMC juga berpengaruh dengan kenaikan berat badan bayi.
  8. Bayi tidur lebih nyenyak.
  9. Mengurangi angka kematian pada bayi prematur.

Banyak banget kan manfaat KMC ini, dibandingkan hanya menggunakan inkubator saja? Apalagi jika bayi sudah berada di rumah, lebih baik dilakukan KMC sesering mungkin daripada mengandalkan inkubator rumahan.

Berikut juga Saya Copas dari Facebook tentang manfaat KMC, yang ditulis oleh Mbak FAtimah Berliana Monika Purba (Konselor ASI)

Merawat bayi preterm/prematur bukan hanya sekedar menghangatkan badan bayi, bukan hanya sekedar “membesarkan bayi” tetapi banyak hal yang perlu diperhatikan seperti : Apakah ROP (Retinopathy of Prematurity) ? Ini banyak sekali kasus yang terlambat diketahui, diketahui ketika bayi sudah kehilangan penglihatannya. Kemudian bagaimana kondisi jantungnya yang diketahui melalui Echo jantung? Lalu sudahkah lakukan EEG? Sudahkan OAE (Otoacoustic Emissions) – tes pendengaran? Bagaimana fungsi parunya? Apakah masih perlu alat bantu napas? Nah jadi bukan “hanya” sekedar perlu inkubator.

Tahukah bahwa ada yang namanya KMC (Kangoroo Mother Care) / PMK (Perawatan Metoda Kangguru)? Ketika bayi dinyatakan stabil dan boleh keluar RS pun ketika di rumah tidak dimasukkan ke inkubator, tapi terus melanjutkan KMC/PMK. Bila belum tau apa itu PMK mari simak tulisan saya ini :

Perawatan Metoda Kangguru (PMK) / Kangaroo Mother Care (KMC) adalah perawatan untuk bayi preterm / prematur, bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari 37 minggu dan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) dengan cara bayi melakukan skin to skin contact / kontak kulit dengan kulit dengan Ibunya.
Nama kangguru dipilih untuk menggambarkan bahwa metoda PMK mirip dengan cara kangguru membawa anaknya (kantung di perut Ibu kangguru).

Pada tahun 1978, karena meningkatnya angka kematian bayi dan bayi yang sakit di sebuah NICU di Bogota, Kolombia, Dr. Edgar Rey Sanabria memperkenalkan metoda baru dalam merawat bayi BBLR dengan kondisi terbatasnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Rekomendasinya adalah Ibu melanjutkan kontak kulit dengan kulit dengan bayi untuk menjaga agar bayi tetap hangat dan memberikan ASI eksklusif sesuai kebutuhan bayi.

Dengan cara ini, kebutuhan akan inkubator dan tenaga kesehatan berkurang. Tubuh Ibu berfungsi sebagai thermoregulator (pengatur suhu tubuh) bagi bayi sehingga badan bayi tetap hangat dan dapat terhindar dari hipotermia (suhu tubuh dingin, di bawah 36,5 derajat Celsius). Hampir 2 dekade pelaksanaan dan penelitian mengenai PMK menyatakan bahwa PMK lebih dari sekedar alternatif pengganti inkubator – jadi bukan hanya bualan/omong kosong/janji surga semata. PMK adalah intervensi yang berdampak besar dan low cost + efisien yang telah terbukti menyelamatkan nyawa bayi preterm/premature &/ BBLR.

Secara spesifik manfaat PMK untuk Ibu dan bayi sbb:

Manfaat Perawatan Metoda Kangguru (PMK)

A. Untuk Ibu :

– Meningkatkan kedekatan (bonding) dan kasih sayang dengan bayi
– Meningkatkan produksi ASI
– Meningkatkan hingga 2 kali lipat kesuksesan menyusui dan lamanya menyusui
– Secara fisiologis tubuh Ibu terutama payudara Ibu merespon kebutuhan bayi akan kehangatan
– Meningkatkan kepercayaan diri, merasa mampu dan puas dalam merawat bayi
– Mengurangi stress (tertekannya hormon kortisol)
– Menghemat pengeluaran

B. Manfaat Untuk bayi preterm / prematur dan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) :

– Suhu tubuh, detak jantung dan pernapasan normal
– ASI mudah didapat dan selalu tersedia, membantu memperkuat daya tahan tubuh bayi
– Kontak kulit dengan kulit memberikan rasa tenang, mengurangi stress bayi
– Mengurangi rasa sakit
– Membantu meningkatkan pertumbuhan bayi (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala)
– Meningkatkan kedekatan dan kasih sayang dengan Ibu
– Berkurangnya resiko akan infeksi nosokomial, penyakit berat – penyakit saluran pernapasan bawah
– Tidur lebih nyenyak
– Keluar RS lebih cepat
– Berkurangnya resiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)
– Membantu perkembangan motorik bayi
– Salah satu cara menangani bayi kolik
– Perkembangan kognitif & motorik yang lebih baik

Alhamdulilah ternyata sudah ada penelitian2 Evidence Based mengenai: Perbandingan hasil PMK vs Inkubator :

1. Penelitian tingkat Meta analisis dari 3 RCT menunjukkan penurunan tingkat kematian bayi dengan BBL <2kg sebesar 51% bila mendapatkan PMK dibanding dengan perawatan konvensional inkubator.

2. Ruth Feldman & Arthur tahun 2002 membanding 73 bayi premature di NICU yang menerima PMK vs perawatan inkubator. Hasilnya para Ibu bayi premature yang melakukan PMK memiliki perasaan yang lebih tenang dan positif, terhindar dari depresi, sementara bayi menunjukkan respon positif yaitu lebih alert & berkurang keengganan untuk menatap.

3. Bayi yang melakukan PMK kenaikan Berat Badan per harinya LEBIH BAIK dibanding bayi yang dirawat konvensional (inkubator) : 23,99 gr vs 15,58 gr

4. Para Ibu yang melakukan PMK lebih besar kemungkinan untuk menyusui & mencapai keberhasilan menyusui

5. Perkembangan kognitif & motorik bayi2 yang mendapatkan PMK lebih baik dibandingkan bayi2 yang dirawat konvensional

6. PMK yang dilaksanakan selama bayi dirawat RS neurodevelopmentalnya lebih baik. Skor Mental Development Index & Psychomotor Development Index menggunakan Bayley Scales of Infant Development yang dinilai pada saat usia 6 bulan & 12 bulan hasilnya Lebih Tinggi dibanding bayi2 yang dirawat konvensional

2 cara PMK (Perawatan Metoda Kangguru) :

1. PMK Sesi pendek / PMK intermiten

PMK tidak dapat dijalankan sepanjang waktu karena kondisi kesehatan bayi yang tidak memungkinkan (bayi dirawat intensif di NICU). PMK dilakukan saat Ibu mendapat jadwal mengunjungi bayi. PMK dilakukan minimal satu jam per hari walau bayi masih diberikan alat-alat bantu jadi ya, bayi dengan kondisi ini memang banyak berada di inkubator.

2. PMK Kontinu

Bila kondisi bayi sudah stabil terutama bayi dapat bernapas sendiri (spontan) tanpa bantuan oksigen.

MasyaaAllah sambil saya mengumpulkan dan mempelajari berbagai penelitian mengenai PMK , makin saya bersyukur bahwa Allah sudah beri kemudahan jalan untuk merawat bayi2 yang ditakdirkan lahir lebih cepat dari perkiraan. Tiada lain tulisan saya ini untuk mengEdukasi, sayapun berharap pemerintah, terutama Kemenkes menaruh perhatian, melatih para tenaga kesehatan mengenai pelaksanaan PMK dan tentunya para orang tua tidak terus berhenti belajar.

Sumber :

1. KMC Saves Newborn : Maternal & Child Health Integrated Program USAID

2. KMC – No More Incubator Care : Muhammad Ali Jan, Department of Pediatrics Saidu Group of Teaching Hospitals

3. Kangaroo mother care’ to prevent neonatal deaths due to preterm birth complications : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20348117

4. [Kangaroo Mother Care and conventional care: a review of literature]. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21843431

5. Effect of Kangaroo Mother Care on Vital Physiological Parameters of The Low Birth Weight Newborn http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4215507/

6. Kangaroo care for the preterm infant and family : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3287094/

7. Incubation and Kangaroo Mother Care : https://www.eemec.med.ed.ac.uk/wiki/wikinode.asp…

8. Kangaroo Mother Care in reducing pain in preterm neonates on heel prick. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22544676

9. Effect of Early Skin-to-Skin Contact on Mother-Preterm Infant Interaction Through 18 Months: Randomized Controlled Trial http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2818078/

Selengkapnya di wall saya :

https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10207749558682826&id=1409280466&set=a.1070999501093.13218.1409280466&source=43

F.B. Monika
La Leche League (LLL) International Leader
Konselor Menyusui & MPASI

Dan Berikut ini juga bisa dibaca penjelasan mengenai KMC di web resmi IDAI :

IDAI – PMK (perawatan metode kanguru)

Mama Arthur dalam acara Selamat Pagi Indonesia @MetroTV , selasa 12 september 2017

Mama Arthur dalam acara Selamat Pagi Indonesia @MetroTV , selasa 12 september 2017

Kasus bayi debora cukup viral. Di berita pun sering dibahas.Debora memiliki riwayat prematur, sehingga metro tv hari itu akan mengangkat tema tentang perawatan bayi prematur.

Secara mendadak, aku diundang untuk live di acara selamat pagi indonesia tanggal 12 september 2017 kemarin.

Sehari sebelumnya, aku dapet DM di instagram. Dari seorang jurnalis metro tv, yang ternyata produser program selamat pagi indonesia di metro tv. Dia meminta kontakku atau komunitas premature indonesia. Untuk berdialog seputar perawatan bayi premature. Chat kami pun lanjut ke wa, dan aku juga memberikan nomor dr Agung selaku founder komunitas premature indonesia.

Tiba-tiba mas produser bilang, misal aku diundang metro tv besok pagi bisa nggak. Untuk acara selamat pagi indonesia.

Hehh.. aku syok..

Tambah syok pas tau kalau programnya dialog live di studio 😂

Secara aku ini nggak pinter public speaking. Nggak pinter ngomong. Jaman kuliah aja males presentasi di depan kelas, apalagi debat. Eh ini diminta untuk dialog live di TV, ditonton ribuan orang Indonesia.

Tapi aku pikir, ah nanti ada dr Agung yang bisa membantu menjelaskan penanganan bayi prematur. Aku bisa agak terbantu sedikit lah…

Awalnya aku agak ragu datang atau tidak. Aku di bekasi sementara studio metro tv di kedoya jakarta barat. Jauh banget dan pagi gitu pasti macet. Karena acara livenya jam 8 pagi. Ternyata pihak metro tv menawarkan fasilitas antar jemput.

Setelah aku pikir dan aku diskusikan dengan papa arthur dan juga komunitas. Akhirnya bismillah aja aku mengiyakan undangan dialog dari metro tv tersebut.

Dan…. ternyata dr Agung tidak bisa hadir, karena itu kapasitas dokter anak yang memberikan penjelasan. Karena dr Agung sendiri adalah dokter umum. Sementara pihak metro tv meminta narasumber 1 dokter anak dan 1 anggota komunitas premature indonesia.

dr Agung akhirnya sedikit kasih “training” ke aku tentang apa yang mesti disampaikan, sebagai pesan dari komunitas. Seperti misalnya mengenai masalah ASI, pentingnya screening, dampak dan resiko prematuritas, pentingnya KMC, big no inkubator rumahan, dll. Dan ternyata sesuai dengan apa yang ingin aku sampaikan, apalagi tentang masalah screening dan bahaya ROP. Supaya tidak ada lagi kasus ROP. Meskipun ternyata tidak semua nya bisa aku sampaikan, karena aku agak gugup dan hanya mengikuti pertanyaan yang diberikan reporter.

Akhirnya, aku pun datang ke acara dialog live tersebut sebagai anggota komunitas premature indonesia. Dan ternyata dokter anak yang akan hadir adalah dr Rinawati spA, yang memang spesialisasinya menangani bayi prematur. Beliau adalah dokter di perinatologi RSCM.

 

 Selasa, 12 September 2017

 

Pagi itu pun, kami berangkat ke studio metro tv. Dijemput driver metro tv ke rumah. Aku ditemenin arthur dan mama mertua. Arthur nggak mandi, cuma dilap tisu basah aja 😂 Soalnya jam 5 pagi aku udah dihubungi driver nya kalau udah hampir sampai. Sementara arthur masih molor. Akhirnya ya arthur dibangunin, dilap bentar ama ganti baju. Soalnya, kalau nggak diajak dia bakalan cari mamanya mulu. Supaya sekalian pada tau, ini lho anak premature dengan efek prematuritasnya.

Sampai di sana, kami menunggu sekitar 1 jam sebelum mulai live. Dan Arthur pun sempat bertemu dengan dr rina, aku pun cerita tentang prematuritas dan kondisi arthur saat ini. Eh dr rina bilang, arthur kurang gizi 😭 Karena berat badannya nggak sesuai sama usianya, beliau pun menunjukkan grafik nya. Dan beliau menyarankan untuk konsultasi ke dr anak subspesialis gizi. Padahal Arthur makannya banyak, ngemil doyan, vitamin zat besi juga tiap hari. Baiklah, besok atur jadwal untuk konsutasi ke dokter anak.

Aku dan dr rina pun dipanggil untuk masuk ke studio. Arthur dibawa mama jalan-jalan keluar supaya nggak nyari-nyariin mamanya. Karena didalem gedung ada tv nya, nanti kalau denger suaraku ndak malah nyariin terus nangis kan rempong. Soalnya arthur itu nempel kayak magnet banget ama aku.

Selama live, aku agak grogi juga sih. Tapi ternyata dialog dan diskusi nya cukup santai. Kayak ngobrol & ditanya-tanyain biasa. Presenternya juga ramah, saat break pun kami ngobrol santai. Di dalem studio juga cuma ada beberapa doang aja, Kalau ada banyak yang nonton baru deh aku bisa gugup banget. Hahahaha.. Padahal ya itu juga ditonton ribuan orang Indonesia di TV.

Dan Alhamdulilah semua berjalan lancar. Walaupun aku agak grogi juga 😂

Setelah selesai on air, aku sempat ngobrol dengan dr rina dan bertukar kontak. Karena dr rina menawarkan kerjasama dengan komunitas premature indonesia dalam menyambut acara world prematurity day november mendatang.

*World Prematurity Day diperingati setiap tanggal 17 november

Kalau ada yang belum sempat nonton acara selamat pagi indonesia di metro tv kemarin, bisa ditonton di web metro tv. Berikut link nya :

– PART 1: http://video.metrotvnews.com/selamat-pagi-indonesia/GNl6Bj9k-penanganan-ekstra-bayi-prematur-1

– PART 2: http://video.metrotvnews.com/selamat-pagi-indonesia/0KvG8VRN-penanganan-ekstra-bayi-prematur-2

– PART 3: http://video.metrotvnews.com/selamat-pagi-indonesia/akW874BK-penanganan-ekstra-bayi-prematur-3

 

Ternyata banyak yang nunggu Arthur nongol pas acara live kemarin. Pada nanya Arthur nya mana, kok nggak ikutan. Arthur ikut kok, tapi nggak ikut masuk studio. Dia nunggu di luar sama Uti nya. Kalau Arthur nya ikut masuk live di studio, yang ada mama malah ngemong enggak jadi ngomong. Hehehe…

 

img_1273
Bersama tante Widya Saputra dan Om Iqbal Himawan, Presenter MetroTV
Kenapa saya bisa melahirkan prematur dok?

Kenapa saya bisa melahirkan prematur dok?

Pertanyaan itu beberapa kali aku tanya ke dokter yang membantu proses persalinanku. Aku tanya sebab kelahiran prematur ku, berapa persen kemungkinan kelahiran prematur lagi kalau besok aku hamil lagi, Dan kenapa kok pas abis lahiran dibilang plasentaku nggak utuh / udah hancur. Tapi jawaban beliau cuma gini :

udah nggak apa-apa jeng.. kehamilan itu salah satu resikonya kelahiran secara prematur, resiko kelahiran prematur lagi cuma 1%. Udah nggak usah dipikirin, yang penting sehat

Beliau jawabnya santai banget. Kayaknya tuh secara nggak langsung bilang, udah lah besok kamu kalau mau hamil lagi ya hamil aja nggak usah mikirin yang macem-macem dulu.

Ya ada baiknya juga sih, kata dokternya. Tapi aku kan jadi penasaran kenapa kok bisa lahir prematur, sampe kalau ada yang nanya aku juga nggak bisa jawab kenapa sebabnya. Paling simpel sih jawab aja “KECAPEKAN” hahahhaha…

Aku sempat baca – baca beberapa artikel dan postingan tentang penyebab kelahiran prematur. Dugaan sementara, kemungkinan aku mengalami plasenta previa marginal (tepi). Karena 2 minggu sebelum melahirkan (waktu usia kehamilan 28weeks) aku mengalami sedikit pendarahan (nge-flek), dan pas kontrol ke dokter di bilang plasenta nya turun, dan tepi plasenta berada di dekat jaln lahir tapi nggak sampai menutup jalan lahir. Dokter nggak jelasin kalau itu namanya termasuk plasenta previa, karena aku tau nya plasenta previa itu plasenta nya nutup jalan lahir. Dan dokter nggak menjelaskan kalau beresiko kelahiran prematur juga. Waktu itu Dokter cuma bilang, kalau dalam waktu 3 hari masih terjadi pendarahan langsung balik RS lagi untuk bedrest di RS.

Cerita nya bisa di buka di sini –> Kehamilan Arthur

plasenta previa
plasenta previa

 

Plasenta previa adalah kondisi dimana plasenta berada di bagian bawah dari uterus/rahim, sebagian atau seluruhnya. Plasenta bisa terpisah dengan dinding rahim saat terjadi pembukaan pada serviks/mulut rahim saat persalinan.

Plasenta previa terjadi di sekitar 1 dari 200 ibu hamil, pada trimester ketiga. Plasenta previa lebih umum ditemui pada ibu dengan kondisi sebagai berikut:
– Lebih dari satu anak
– Riwayat operasi sesar sebelumnya
– Riwayat operasi pada rahim
– Kembar

  • Plasenta previa ada yang menutup seluruhnya ke jalan lahir, disebut plasenta previa totalis/komplit.
  • Sedangkan jika hanya sebagian jalan lahir yang tertutup disebut plasenta previa sebagian/parsial.
  • Sementara jika plasenta berada di tepi dari jalan lahir, disebut plasenta previa marjinal/tepi.

Gejala dari plasenta previa sangat beragam, tapi paling sering adalah pendarahan yang tidak menimbulkan rasa nyeri yang terjadi pada trimester ketiga.

Sebagian kecurigaan terjadinya plasenta previa bila:
– Kontraksi prematur
– Posisi sungsang atau lintang
– Ukuran uterus/rahim yang lebih besar daripada usia kehamilan.

Penanganan plasenta previa biasanya membutuhkan bed rest dan rutin kontrol ke RS. Sesuai dengan usia kehamilan, injeksi steroid bisa diberikan untuk membantu mematangkan paru-paru bayi. Jika ibu mengalami pendarahan yang tidak terkendali, tindakan operasi sesar emergensi bisa dibutuhkan berapapun usia kehamilannya. Sebagian dari plasenta previa marjinal bisa lahir per vaginam, meskipun untuk plasenta previa parsial dan total, membutuhkan operasi sesar.

Sumber: American Pregnancy Association

Besok aku posting lagi di blog, kalau aku udah konsultasi dan sharing ke dokter SpOg yang lain dan udah ketemu jawaban yang pasti tentang penyebab kelahiran prematur ku kemarin.

Berikut ada sedikit penjelasan mengenai penyebab kelahiran bayi prematur.

Resiko Persalinan Prematur

Penyebab kelahiran bayi prematur jarang diketahui. Namun, menurut pendiri Komunitas Prematur Indonesia, dr. Agung Zentyo Wibowo, Bmedsc, ada beberapa penyebab yang akan membuat risiko kelahiran prematur meningkat. Penyebab tersebut di antaranya:

1. Kehamilan kembar. Biasanya beberapa mama ingin memiliki anak kembar, padahal kehamilan kembar memiliki risiko besar untuk bayi lahir prematur. Baik kembar dua, tiga, dan sebagainya, diharapkan mama bisa lebih waspada dalam menjaga kondisi agar kelahiran bisa cukup bulan.

2. Riwayat persalinan prematur dan riwayat dalam keluarga. Jika pernah melahirkan prematur, kemungkinan mama bisa mengalami persalinan prematur lagi. Bagaimana agar tidak terulang? Salah satu caranya, kenali faktor risiko sehingga bisa diatasi sejak dini.

3. Jarak yang terlalu pendek antar kehamilan. Jarak antar kehamilan yang kurang dari 2 tahun, dan jarak kehamilan yang terlalu jauh, misalnya 7 tahun, berisiko melahirkan prematur. Jarak kehamilan yang ideal adalah sekitar 2-5 tahun.

4. Preeklamsia. Kondisi ini disebabkan oleh hipertensi. Cara mencegahnya adalah dengan kontrol rutin.

5. Merokok. Maksud merokok di sini tak hanya perokok aktif, tapi juga perokok pasif. Maka, sangat dianjurkan bagi anggota keluarga lain untuk tidak merokok di sekitar mama hamil karena bisa menjadi risiko kelahiran prematur.

6. Kelainan pada mulut rahim. Salah satunya adalah mudah terjadinya pembukaan pada mulut rahim sehingga harus dilakukan pencegahan agar tidak terjadi kelahiran prematur.

7. Penyulit-penyulit lain. Contohnya penyakit kronis, riwayat keguguran, usia yang terlalu muda (di bawah 18 tahun), konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, ketuban pecah dini, dan masalah pada plasenta.

*wawancara dengan dr Agung yang dimuat di tabloid Nakita

AOP – Apnea Of Prematurity 

AOP – Apnea Of Prematurity 

APNEA biasa terjadi pada bayi prematur. Hari pertama setelah arthur dilahirkan, arthur mengalami APNEA. Waktu itu, pagi – pagi aku tengok arthur masih nggak apa-apa. Tapi siangnya dia mulai APNEA, perawatnya bilang arthur boleh dipegang dengan sentuhan-sentuhan untuk merangsang supaya dia tidak henti nafas. Dan sore itu dokter anak bilang, arthur harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU dengan CPAP.

Walaupun ada sumber yang mengatakan, meskipun setelah seminggu tidak terjadi APNEA sama sekali, resiko nya kecil untuk terjadi APNEA lagi. Tapi, APNEA ini bisa juga terjadi pasca bayi pulang ke rumah, dokter dan perawat selalu pesen ke aku supaya sering di itung nafas arthur per menit. Seinget ku, normalnya bayi semenit itu 40-50 hitungan nafas. Kalau lebih dari itu  (nafasnya cepet) bisa aja sesek, dan kalau kurang dari itu yang di takutkan adalah terjadi APNEA lagi. Alhamdulillah, setelah pulang ke rumah, arthur tidak ada masalah dengan pernafasannya.

Belum lama kemarin, sempat ada pembahasan mengenai APNEA di grup pemature. Ternyata APNEA ini masih bisa terjadi saat anak eks preemie sudah memasuki usia sekolah. Memanglah anak eks preemie harus ekstra ketat, tidak boleh sembarangan. Berikut ini ada penjelasan mengenai APNEA yang bersumber dari kids health, di copy dari postingan facebook dr agung zentyo wibowo SpA

Mengenal Apnea of Prematurity, Bahaya Laten Pada Bayi Prematur

Setelah bayi dilahirkan, tubuh bayi membutuhkan oksigen secara terus-menerus. Pada bayi yang terlahir prematur, bagian pada sistem saraf pusat yang mengatur pernafasan belum cukup matang untuk mengatur pernafasan yang non-stop. Ini menimbulkan suatu periode nafas yang normal diikuti dengan periode nafas yang lemah, atau bahkan berhenti bernafas (apnea). Kondisi inilah yang disebut Apnea of Prematurity (AOP).

AOP cukup sering ditemui pada bayi prematur. Dokter biasanya mendiagnosis sebelum bayi boleh dibawa pulang. Apnea umumnya akan membaik dengan sendirinya seiring bertambah usia bayi. Ketika AOP sudah hilang, maka tidak akan kambuh kembali. Satu hal yang pasti, kondisi apnea sangat menakutkan bagi orang tua bayi prematur.

Apnea adalah kondisi dimana nafas benar-benar berhenti. Sebagian ahli mendefinisikan AOP sebagai kondisi bayi prematur yang berhenti nafas untuk 15-20 detik saat tidur.

Pada umumnya, bayi yang lahir kurang dari UK 35 minggu memiliki periode dimana mereka akan berhenti nafas atau detak jantungnya menurun (dalam bahasa medis disebut bradikardia). Ini adalah kondisi pernafasan yang tidak normal, bisa mulai terjadi sejak bayi berusia 2 hari hingga usia 2-3 bulan. Semakin kecil berat lahirnya, dan semakin prematur/awal lahirnya, maka sangat besar kemungkinannya untuk memiliki AOP.

Meskipun ini juga ditemui pada bayi umumnya, mereka berhenti nafas sejenak (pause) dan detak jantung, mereka yang memiliki AOP akan memiliki detak jantung dibawah 80 kali per menit yang menyebabkan bayi menjadi pucat dan kebiruan. Bayi juga tampak seperti lemah dan nafasnya berbunyi. Bisa jadi mereka bernafas lagi dengan sendirinya, atau memerlukan bantuan untuk bisa kembali bernafas.

Bedakan AOP dengan nafas periodik, yang juga umum ditemui pada bayi prematur. Nafas periodik ditandai dengan jeda/’pause’ pada saat bernafas yang hanya terjadi beberapa detik, dan diikuti oleh beberapa nafas cepat, dan lemah. Nafas periodik tidak disertai dengan perubahan pada warna kulit wajah (seperti kebiruan sekitar mulut), atau menurunnya detak jantung. Bayi yang memiliki nafas periodik bisa kembali bernafas dengan normal dengan sendirinya. Meskipun tampak menakutkan, nafas periodik tidak menimbulkan masalah khusus pada bayi baru lahir.

Pada kebanyakan kasus, bayi prematur (khususnya dengan UK <34 minggu) akan menerima bantuan medis untuk mengatasi AOP di NICU, dan perina. Ketika mereka lahir, bayi prematur harus dibantu untuk bisa bernafas dengan normal, karena paru—parunya belum matang, dan belum sanggup untuk bernafas dengan sendirinya.

Bayi yang memiliki AOP bisa diberikan obat minum atau intravena (infus) yang mengandung kafein untuk menstimulasi nafas mereka. Seperti halnya fungsi kafein pada kopi, dosis kecil bisa membantu bayi untuk tetap sadar dan bernafas dengan teratur. Kebanyakan bayi tidak memerlukan lagi kafein yang biasa mereka dapat di NICU, meskipun sebagian kecil tetap melanjutkan pengobatan setelah pulang dari RS.

Bayi perlu dimonitor secara terus-menerus untuk menemukan bukti terjadinya apnea. Monitor cardiorespiratory atau disebut apnea dan bradikardia atau A/B monitor, juga bisa melihat detak jantung bayi. Alarm pada monitor akan bersuara jika nafas bayi berhenti untuk beberapa detik. Ketika monitor berbunyi, perawat akan segera mengecek apakah terjadi distress pada bayi. Meskipun seringkali alarm bunyi tapi tidak ada apa-apa.

Kalau bayi tidak mulai bernafas lagi dalam 15 detik, maka perawat akan mengusap punggung bayi, tangan, dan kaki untuk menstimulasi pernafasan. Pada banyak kasus bayi dengan AOP akan mulai bernafas lagi setelah dilakukan stimulasi ini.

Bagimanapun, ketika perawat menangani bayi, dan bayi belum mulai bernafas, dan tampak pucat, kebiruan, maka oksigen akan diberikan dengan masker dan kantung udara. Perawat akan memasangkan masker udara ke wajah bayi dan memompa kantung udara untuk mendorong beberapa nafas masuk ke paru-paru. Biasanya beberapa nafas yang dibutuhkan, sebelum akhirnya bayi bisa bernafas lagi dengan sendirinya.

AOP bisa terjadi sekali atau beberapa kali dalam sehari. Dokter akan memonitor dengan ketat untuk evaluasi bayi untuk memastikan apnea tidak berasal dari sebab khusus, misalnya dari infeksi.

Kalau bayi tidak bernafas, dan wajahnya tampak pucat atau kebiruan, ikuti instruksi yang disarankan staf NICU. Biasanya yang harus dilakukan adalah teknik stimulasi lembut, dan jika tidak berhasil, baru lakukan CPR dan bawa ke RS. Ingat, jangan mengguncangkan bayi untuk membangunkannya.

Hal ini bisa jadi sangat membuat stres bagi orang tua, bayi pulang dengan membawa monitor apnea. Sebagian orang tua terus melihat monitor apnea bahkan takut untuk ditinggal kemana-mana. Biasanya ini akan membaik seiring waktu. Jika anda merasakan hal ini, sampaikan ke staf NICU. Mereka bisa menenangkan dan meyakinkan, bahwa orang tua bisa melewatinya, sama seperti orang tua bayi prematur yang lain.
(*pembahasan ini memang sangat tepat untuk di negara maju)

AOP biasanya menghilang seiring waktu. Untuk kebanyakan bayi prematur, AOP berhenti di usia post konsepsi 44 minggu. Usia post konsepsi dihitung dari usia kehamilan saat melahirkan ditambah usia setelah lahir. Pada beberapa kasus yang jarang, AOP berlanjut untuk beberapa minggu lebih lama.

Bayi yang sehat yang punya riwayat AOP biasanya tidak punya masalah tumbuh kembang khusus dibandingkan bayi lainnya. AOP tidak menyebabkan kerusakan otak. Bayi yang sehat dan sudah tidak apnea untuk 1 minggu, kemungkinan tidak akan mengalami AOP lagi.

Meskipun sindrom kematian bayi yang mendadak/Sudden Infant Death Syndromes (SIDS) bisa terjadi pada bayi prematur, tidak ada hubungannya antara AOP dan SIDS.

Selain dari AOP, komplikasi lain dari bayi prematur akan membatasi orang tua untuk bisa langsung berinteraksi dengan bayi. Tapi orang tua tetap bisa memiliki ikatan/’bonding’ yang baik dengan bayi saat di NICU. Bicarakan dengan perawat NICU, interaksi apa yang terbaik dilakukan saat di NICU. Apakah memegang, memberikan ‘makanan’, atau sekedar berbicara dengan lembut. Staf di NICU tidak hanya untuk merawat dan menangani bayi prematur, tapi juga untuk memastikan dan mensuport orang tua dari bayi prematur.

Sumber: KidsHealth

(Dari postingan di Facebook dr agung zentyo wibowo SpA)

Arthur Jadi Murid Klinik Tumbuh Kembang

Arthur Jadi Murid Klinik Tumbuh Kembang

Aku sering update di sosmed, arthur fisioterapi di hermina jogja. Terus pada nanya :

1. Arthur kenapa? 

2. Arthur terapi apaan sih? 

3. Buat apa arthur di terapi? 

4. Udah bagus kan perkembangannya kok masih di terapi? 

5. Sampe kapan mau terapi? 

6. dll dll dll dll dll bla bla bla

Mungkin ada yang aku jawab sekenanya aja, dan mungkin waktu itu ada yang udah tau dan ada juga yang belum tau kalau arthur ROP.

Jawaban pertanyaan temen-temen diatas baru sempet aku ceritakan disini.
Kelahiran arthur yang secara prematur, membuat dia punya 2 usia. Usia kronologis yaitu usia sesuai hari kelahirannya. Dan usia koreksi yaitu usia sesuai HPL (Hari Perkiraan Lahir) seharusnya. Usia koreksi digunakan untuk memantau tumbuh kembang anak prematur. Seperti berat badan, panjang, lingkar kepala. Serta perkembangannya seperti saat tengkurap, berguling, duduk, merangkak, merambat, berjalan, dll.
Tentang tumbuh kembang arthur sendiri, awalnya aku cukup memaklumi karena kelahirannya yang prematur pasti akan ada sedikit keterlambatan dan kemudian bisa dipantau dengan menggunakan usia koreksi. Sehingga perkembangannya pun tidak bisa menyamakan dengan anak yang seusianya.

Tapi kemudian arthur di diagnosa ROP. Ada rasa ketakutan sendiri buat aku. Aku takut arthur kemudian GDD (Global Development Delay). Karena dia prematur dan memiliki hambatan penglihatan. Tentu aja bisa mempengaruhi millestones perkembangannya. Waktu imunisasi dan konsultasi ke salah satu DSA di bekasi, dokternya ngasih rujukan supaya arthur di fisioterapi dan juga di rujuk untuk diperiksa ke neurolog anak (dokter anak subspesialis syaraf anak).

Waktu ketemu neurolog, Arthur diperiksa dan disarankan MRI, tapi aku terus bilang kalau arthur udah pernah CT scan apa masih harus dilakukan MRI juga. Ternyata nggak perlu lagi kalau udah dilakukan CT scan. Sayangnya waktu ketemu dengan neurolog, hasil CT scannya nggak aku bawa. Arthur kemudian diminta untuk fisioterapi. Di surat rujukan untuk fisioterapi dituis microsephaly. Duh arthur kena apalagi coba, dibilang microsephaly segala. Microsephaly itu lingkar kepalanya kecil, tidak sesuai dengan seusianya. Sehingga bisa berpengaruh ke perkembangan otak dan juga perkembangan anak. Aku malah jadi takut kok ada diagnosa beginian lagi. Aku juga baru nyadar kalau dokter nulis microsephaly pas mau daftarin fisioterapi, jadi nggak sempet nanyain.

Fisioterapi di hermina bekasi memang terkenal bagus. Dan tempat pelatihan para terapis hermina se indonesia. Kemudian kami daftar buat fisoterapi arthur, ternyata fisioterapi di hermina bekasi sistemnya paketan Mau yang berapa kali pertemuan, dan bayar nya diawal. Jadwalnya nanti di cocokan juga dengan terapis yang kosong hari itu. Kirain sistemnya sekali dateng terus bayar. Padahal dalam waktu dekat rencana nya mau balik jogja. Kan nanti sayang juga, udah terlanjur daftar dan bayar tapi malah nggak dilanjutin karena mau balik ke jogja.

Akhirnya kami putuskan fisioterapi di jogja aja. Sambil cari dokter yang kompeten di jogja.
Aku kan suka mantengin instagram dan blog @grace.melia , anaknya yang terkena rubella rutin fisioterapi. Aku terus DM in dia di instagram nanya fisioterapi si ubii dimana dan siapa dokter nya. Orang ini ramah banget, belum kenal sama sekali dia langsung merespon dan kasih masukan juga. Ubii fisioterapi di RS UGM, dia juga kasihtau gimana prosedurnya, dokter rehab medik dan neurolog nya dengan siapa. Dia juga bilang kalau fisioterapi bisa dengan BPJS dan belakangan ini fisioterapi di RS yang ber-BPJS antriannya ramai. Sistemnya pun bayar per kedatangan, kata grace di RS UGM 55ribu/ kedatangan.

Setelah beberapa hari di jogja, aku bawa arthur ke RS UGM. Sesuai dengan prosedur yang dikasih tau gracemelia. Aku Ketemu dengan dokter rehab medik nya, Bawa surat rujukan dari neurolog di bekasi. Aku cerita riwayat prematur dan ROP arthur. Aku juga nanya tentang microsephaly yang dibilang neurolog di surat rujukan. Kemudian dokter rehab medik menjelaskan, karena arthur lahir prematur dan BBLR, fisiknya kan kecil banget saat lahir, jadi sebenernya normal aja lingkar kepalanya. Tinggal besok pertumbuhan dan perkembangannya lingkar kepalanya gimana. Kan masih dalam masa pertumbuhan, jadi sebaiknya dipantau juga. Semoga saja perkembangan lingkar kepalanya bisa mengikuti sesuai dengan usia (koreksi) nya. Denger itu aku agak lega juga. Memanglah second opinion itu penting…

Saat itu arthur di cek perkembangannya udah bisa ngapain aja, waktu itu arthur umurnya sekitar 7bulanan koreksi 5 bulan. Baru bisa baring & miring doang 😅 Belum bisa tengkurep sendiri, Kalau ditengkurepin pun belum kuat angkat kepalanya. Dokternya kemudian saranin fisioterapi seminggu 2-3 kali tapi karena antriannya lama, dokter ngajarin stimulasi supaya arthur bisa angkat kepala kalau ditengkurepin. Padahal kalau dipangkuin atau gendong lehernya dah kuat tegak. Selesai ketemu dokter rehab medik. Aku ke bagian respsionis fisioterapi buat daftarin arthur. Dan ternyata antrinya bisa 2-3 bulanan.

Karena lama banget tunggu kabar dari RS UGM yang nggak pasti, aku mau coba ke hermina jogja. Karena dokter rehab medik nya juga praktek disana. Daripada arthur keburu telat perkembangannya pikirku. Sekalian Aku juga coba browsing Dokter anak subspesialis tumbuh kembang anak di jogja, ternyata beliau juga praktek di hermina jogja. Dan sekalian aja pas jadwalnya vaksin, daftar dengan dsa subspesialis tumbang. Biar sekalian konsultasi juga. Sesampai di hermina jogja, aku coba nanya tentang fisioterapi takutnya antri juga. Ternyata nggak, berhubung hermina jogja termasuk RS baru dan belum menerima BPJS jadi antrian fisioterapinya ngga kayak RS yang udah ber-BPJS. Jadi malem itu daftar besoknya bisa langsung fisioterapi. Biaya fisioterapi di hermina jogja agak lebih mahal , 95ribu/pertemuan.

Karena hermina jogja rada jauh dari rumah. Aku daftar seminggu 2x aja. Kalau seminggu 3x agak kerepotan juga nanti yang antar jemput. Aku terus ngisi jadwal mau ambil hari apa dan jam berapa, nyesuain jadwal yang masih kosong disitu. Dan saran dari terapis diselang seling aja harinya. Supaya latihannya nggak melulu dari terapis tapi juga dilakukan latihan di rumah. Karena pada dasarnya fisioterapi tumbuh kembang / bobath, lebih ke ngajarin orang tua buat dilakukan latihan di rumah. Awalnya aku ambil hari selasa dan sabtu. Tapi cuma bertahan beberapa kali pertemuan aja, kemudian aku ambil jadwal seminggu sekali. Hari sabtu doang. Soalnya ndak nggak ada yang nganter dan nemenin.

Terapis arthur cowok, mas – mas gitu. Ada 2 orang yang menangani arthur. Sebelum latihan arthur dipijat dulu. Dia kalo dipijet awalnya diem tapi lama kelamaan nangis. Jadi pas mulai sesi terapi nangis kejer. Kata terapis, emang biasanya pada nangis kalo sesi terapi gini. Mas nya bilang seneng kalo megang arthur soalnya walaupun nangis kejer gitu, arthur tetep mau mengikuti apa yang diajarin. Jadi latihannya pasti sambil nangis kejer. Kadang ada anak yang kalo udah nangis kejer gitu badannya terus dikakuin jadi bikin nggak bisa maksimal latihannya. Awal-awal ikut fisioterapi Arthur belajar tengkurep, berguling dan angkat kepala. Sekitar 1-2bulanan fisioterapi akhirnya arthur bisa tengkurep dan kuat angkat kepalanya dikit, tapi masih belum bisa on hand (tengkurep angkat kepala dan dada dengan tumpuan tangan yang tegak – moga bisa bayanginnya ya hehe). Setelah program belajar tengkurep berguling, selanjutnya belajar bangun untuk duduk. Arthur usia 8 bulanan mulai bisa duduk (didudukin) walaupun masih goyang doyong-doyong dan ambruk. Cukup lama ngajarin Arthur bangun duduk sendiri. Dia sebenernya kurang dikit banget. Halah, paling cuma tinggal 10% aja, buat dia bangun duduk sendiri. Sambil ngajarin duduk sendiri, dikasih latihan juga untuk ongkok – ongkok. Arthur masih belum begitu kuat tengkurep sambil on hand nya, jadi ongkok – ongkok nya juga masih belum muncul.

Arthur jadi murid fisioterapi di klinik tumbuh kembang hermina jogja cuma 3 bulanan aja. Soalnya Akhir tahun diajak ke bekasi jadi fisioterapi di stop. Pas pertemuan terakhir aku konsultasi dan minta diajarin sama terapis , PR nya apa aja. Pokoknya target nya arthur kudu dah bisa bangun duduk sendiri dalam waktu sebulan. Karena duduk statis nya sudah bagus. Tapi masih belum bisa bangun duduk sendiri. Nah pas dibawa ke bekasi, baru 2 mingguan di sana arthur udah bisa bangun duduk sendiri. Pertamanya dia tengkurep terus ongkok-ongkok, tau-tau bisa duduk sendiri.

Kalau pada bilang efek tiap hari ngumpul ama ortunya lengkap jadi bikin perkembangan anak bagus. Maklum jarang ketemu ayah. Tapi nggak cuma bagus menurut aku dan keluarga. Perkembangannya mendadak jadi cepet banget. Dibanding pas di fisioterapi. Setelah dia bisa duduk, dia juga mulai merangkak dan juga merambat berdiri. Apalagi mertuaku type nya cas cis cus… Tau arthur merambat berdiri terus diajarin jalan, dititah. Awalnya emang cm mau melangkah 1-2langkah tapi lama-lama akhirnya mau jalan dititah. Terus dikenalin naik tangga juga. Ampe anaknya ketagihan main naik-naik tangga.

Sekitar 2 bulan di bekasi, arthur balik ke jogja lagi. Maklum ya arthur ini masih no maden, galau mau di mana 😜 Besok kalau udah mulai sekolah baru deh menetap, mumpung belum sekolah bolak balik jogja – bekasi deh. Pas di jogja, seperti biasa kalau jadwal vaksin sekalian konsultasi. Dsa arthur nanya perkembangan arthur sekarang, kemudian aku ceritain arthur sekarang dah bisa ngapain aja. Menurut dokter, perkembangan arthur dengan kondisi nya yang ROP sudah sangat bagus. Dan udah nggak perlu dilakukan fisioterapi lagi.

Di grup baby community pernah dibahas tentang “Fisioterapi yes or no” Jadi semacam sedikit perdebatan gitu sih. Seberapa pentingkah terapi A B C, kenapa kok ortu berpikir memberikan terapi A B C, apakah terapi membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi, dll. Sebenarnya sih kembalikan ke masing-masing lagi aja, karena setiap orang tua pasti memiliki alasan tersendiri dan ingin yang terbaik untuk buah hatinya. Pendapat seriap ortu pasti berbeda-beda.

Kalau menurut aku dan lingga, sebagai ortu kami saat ini fokus pada tumbuh kembang arthur. Kami konsultasikan kepada dsa tumbuh kembang yang menurut kami memang ahli nya, beliau menyarankan fisioterapi. Beberapa dsa juga menyarankan demikian. Terapi melalui fisioterapi ini membantu dalam proses tumbang anak, karena aku dan lingga orangnya kudu diajarin secara praktek dulu baru mengerti. hehhehe.. Kan terapis nya juga ngajarin langsung secara praktek untuk melatih arthur dirumah. Jadi prosesnya bukan cuma tergantung pada terapis saja. Terapis ngajarin praktek yang bener untuk latihan, takutnya ngajarin stimulasi nya salah dan malah resiko cedera pada anak. Kadang di rumah aku juga tambahin melatih stimulasi indra lain, karena terapis nggak ngasih stimulasi indra lainnya.

Pokoknya masalah terapi itu intinya cuma : sering – sering aja anaknya dilatih dirumah, karena terapis cuma ngajarin dan bantu ngoreksi.