Membeli Whitecane di SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped)

Membeli Whitecane di SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped)

Waktu kami jalan-jalan ke Singapore kemarin, Alhamdulillah Arthur diberi kesempatan mengunjungi SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped). Awalnya kami nggak tau tentang SAVH. Tiba-tiba bu prima (mentornya Arthur 😁) mau nitip whitecane di SAVH, untuk balqiz putrinya yang juga ROP stage5.

Aku browsing deh tentang SAVH ini dan dimana lokasinya. Dan aku baru tau kalau SAVH ini semacam low vision centre di Singapore. Lokasinya sebenarnya cukup jauh dari pusat kota dan tempat menginap kami. SAVH berada di daerah toa payoh, meskipun jauh tapi ternyata SAVH sangat dekat sekali dengan stasiun MRT. Sehingga kami mudah untuk menuju kesana. Dari Bugis Hanya transit di 1 stasiun untuk ganti kereta. Transit di Botanic Garden, Lalu ganti kereta menuju Caldecott. Dari stasiun MRT caldecott keluar melalui exit A, sudah terlihat bangunan SAVH. Tinggal nyeberang jalan raya aja.

Awalnya kami bingung di gedung bagian mana yang menjual whitecane. Tapi setelah melihat petunjuk di depan gedung, Akhirnya kami coba masuk ke yusuf building. Begitu masuk gedung tersebut, di ruang paling depan ada pegawai yang ternyata resepsionisnya dan dia penyandang tuna netra. Setelah kami tanyakan dimana kami bisa membeli whitecane kamipun dipersilahkan masuk ke dalam, melalui pintu yang ada di sampingnya, disanalah tempat menjual whitecane.

Dan ternyata di dalam tidak hanya menjual whitecane. Tapi bermacam alat bantu penglihatan. Yang aku belum tahu apa nama dan fungsinya. Tapi yang jelas keren banget dan peralatannya cukup canggih. Entah di Indonesia ada nggak peralatan semacam itu. Aku ngeliat peralatan tersebut, jadi agak katrok juga. Hehehe… Pegawai yang melayani pun seorang penyandang tuna netra, namun dia dibantu oleh 1 orang “awas” yang mempunyai tugas mengambil stok barang. Aku ngeliat tuna netra tersebut melayani pembeli, kagum banget. Ya kayak orang biasa melayani pembeli gitu. Dan dia hafal dimana letak barang-barangnya.

Whitecane yang dipesan bu prima adalah merk ambutech, dengan rolling. Aku belum berpengalaman beli whitecane, megang aja belum pernah. Baru kali itu aku memegang whitecane secara langsung. Waktu aku bilang mau beli whitecane ambutech dengan size sesuai yang dipesan ibu prima, ternyata lagi kosong. Akhirnya aku belikan 1 size diatasnya, karena aku pikir balqiz pasti tambah tinggi supaya masih bisa awet agak lamaan dipakainya. Whitecane ini ada size nya dalam inch, panjangnya diukur dari dada sampai ke ujung kaki si pemakai.

Waktu aku beli, pegawai tuna netra tersebut meminta tolong temannya untuk mengambilkan stok whitecane. Setelah diambilkan, dia meraba dulu untuk meyakinkan apakah benar itu sesuai size dengan yang aku minta. Dia juga memintaku untuk mengecek yang tertulis di situ. Ternyata benar. Aduh, aku merinding deh waktu itu, dia sampai bisa tau size whitecane cuma dengan meraba. Belum lagi barang yang lainnya, padahal dia sama sekali tidak bisa melihat. Keren banget. Aku sempat agak miss komunikasi juga, karena dia chinese, dia berbahasa inggrisnya pakai logat chinese dan ngomongnya cepet gitu. Aku nggak pinter english ya mikir dua kali dulu to ya kalau mo ngomong dan dengerin omongannya. hehehe..

Aku sempat bertanya ke bu Prima, apakah Arthur sudah perlu whitecane? Menurut bu prima, anak yang sudah mulai bisa berjalan, sudah bisa dibekali dengan whitecane. Anak-anak bule biasanya sudah diberikan whitecane sejak kecil saat mulai berjalan. Tapi semua kembali kepada ortu, karena ortu yang lebih mengenal anak. Aku yang tadinya mau beliin Arthur juga, mumpung sekalian di singapore tapi aku tunda dulu sajalah. Karena aku belum tau bagaimana ngajarin seusia Arthur untuk pakai whitecane. Yang ada nanti malah digigitin, di lempar atau buat pukul-pukul. Yah semoga esok kami ada rejeki lebih untuk membelikan Arthur whitecane di singapore.

Pasti banyak yang bertanya kenapa bu prima titip ampe singapore segala? emangnya di Indonesia nggak ada? Di Indonesia ada kok whitecane, merk lokal. Kalau merk Ambutech made in canada dan belum ada distributornya di Indonesia. Sewaktu pertemuan baby community jabodetabek, bu prima memberikan materi mengenai whitecane. Dan beliau membawa beberapa whitecane lokal dan ambutech.

Tentang pertemuan baby community jabodetabek hari itu bisa dibaca di : Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

Aku sih cuma komentar “wow” sama ambutech ini, karena saat dibuka dan dilipat dia langsung “klik klik” seperti magnet. Sementara untuk whitecane lokal, saat membuka kita harus sedikit merangkainya. Dan begitupun saat melipat. Tapi kalau untuk usia anak yang masih belajar menggunakan whitecane. Menurutku sayang juga kalau pakai merk import. Karena ujung tongkat biasanya akan sering penyok disaat tahap belajar dan juga sayang di harganya (prinsip emak emak banget hehe). Ambutech harganya sekitar 300-500ribuan tergantung ukurannya. Kalau merk lokal sekitar 50-100ribu tergantung ukurannya. Lagian anak yang masih dalam masa pertumbuhan, pasti akan sering berganti whitecane. Untuk menyesuaikan tinggi si anak. Jadi mending pakai yang lokal dulu aja. Kecuali jika memang ada rezeki yang berlebih, karena kualitas impor emang enak dipakai. Ada harga ada rupa lah. Hehehe…

Advertisements
Arthur Meet The Low Vision Therapist @ JEC

Arthur Meet The Low Vision Therapist @ JEC

Hari ini Arthur ada janji dengan low vision therapist di JEC (Jakarta Eye Centre).Sewaktu kontrol tahunan dengan dokter florence manurung lalu, beliau menyarankan Arthur untuk dilakukan assesment di low vision centre JEC dan kami diberi kartu nama therapistya. Namanya pak agus.
Sebelumnya, aku WA ke pak agus dulu, untuk janjian kapan bisa ketemu beliau. Ternyata beliau langsung cepat merespon. Kami diminta mengamati Arthur mengenai apa saja yang bisa dia lihat. Misalnya cahaya, warna apa, benda dengan ukuran atau diameter berapa, serta arah sebelah mana yang dia lihat. Supaya hasilnya dapat didiskusikan saat pertemuan.

Sabtu ini kami pun ke JEC menteng. Berangkat dari rumah naik Kereta Commuter Line, dari stasiun kranji turun di stasiun cikini, lanjut naik bajaj ke JEC. Sebenernya deket dan bisa jalan kaki dari stasiun cikini ke JEC. Tapi pengen ngajakin Arthur ngerasain naik bajaj, sekalian ngenalin Arthur transportasi umum. 
Di JEC menteng, kami langsung menuju ke bagian low vision therapist di lantai 2 untuk bertemu pak agus.

Di awal pertemuan dengan pak agus, kami diperlihatkan mengenai sebuah film dokumenter mengenai kondisi seorang anak low vision. 

Aku tidak memperhatikan dan mendengarkan penjelasan pak Agus secara keseluruhan, karena Arthur nggak mau diem. Dia jalan kesana kemari dan harus selalu aku awasi. Ditambah dia belum tidur, jadilah dia sedikit rewel dan minta nenen. Akhirnya aku ajak Arthur ke ruang menyusui. Sementara itu papa Arthur mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Pak Agus mengenai stimulasi penglihatan apa saka yang harus dilakukan yang juga bertujuan untuk mencari tahu sejauh mana sisa penglihatan Arthur. 

Pak Agus juga memberikan motivasi dan semangat untuk kami, agar menerima kondisi Arthur dan tidak merasa putus asa dengan kondisi Arthur tersebut. 

#Day9

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject

Arthur Meet The Pediatric Opthalmologist @ Jakarta Eye Centre

Arthur Meet The Pediatric Opthalmologist @ Jakarta Eye Centre

Sekitar setahun sudah Arthur terdiagnosa ROP stage 5. Ingat dulu pontang panting kesana kemari mencari diagnosa. Karena sempat salah diagnosa oleh dokter mata di Jogja. Kalau inget itu aku jadi kesel sendiri! Kalau Arthur beneran retinoblastoma, mungkin sekarang dia udah di surga. Udah gitu seenaknya aja langsung disuruh tindakan untuk ambil bola matanya buat diganti bola mata palsu. Kok kayak cari duit banget ya, langsung main tindakan. Bukannya dirujuk untuk retcam dulu atau gimana. Padahal di RS mata yang di jogja itu juga ada retcam nya. ( ceritanya gimana baca disini aja deh : Retinoblastoma?!! )  Hissshhhh… Sudahlah… Daripada kesel & ngomel sendiri nggak ada gunanya karena inget yang lalu-lalu. Let’s move on!

Dulu Arthur akhirnya fix terdiagnosa ROP stage 5 di KMN (Klinik Mata Nusantara) Lebak Bulus, Jakarta Oleh dr. Rini Hersetyati Sp.M yang memang pediatric opthalmologist (dokter mata subspesialis anak). Dan dia banyak belajar tentang ROP. Jadi setelah melakukan retcam, dia langsung bilang arthur ROP stage 5 di kedua matanya. Meskipun sebelumnya di RS mata dr YAP jogja sempat terdiagnosa retinoblastoma dan di RS mata AINI jakarta diduga phpv (persistent hyperplastic primary vitreous).

Waktu mendengar penjelasan dr. rini aku down banget. Karena kedua mata Arthur memang sudah tidak bisa melihat dan tidak bisa diapa-apakan lagi.

 Diagnosa Final – ROP end of stage

dr. Rini bilang kalau Arthur tidak perlu kontrol-kontrol lagi. Tinggal di didik saja untuk masa depannya agar bisa mandiri dan survive dengan kondisi keterbatasannya tersebut. Tapi, setelah aku masuk komunitas orangtua dengan anak ber-hambatan penglihatan, disana ibu prima (pendamping komunitas tersebut) menjelaskan bahwa kontrol mata tetap harus dilakukan setahun sekali. Kontrol mata untuk anak ROP stage 5 bukan bertujuan untuk menyembuhkan karena memang dokter sudah nggak bisa apa-apa. Tapi tujuannya adalah untuk memeriksa kondisi kesehatan mata. Apakah ada iritasi dan infeksi atau tidak. Kondisi syaraf nya, Atau sudah sejauh mana kerusakan retina. Anak prematur yang bebas dari ROP maupun yang sudah mendapatkan tindakan sebelumnya, sebaiknya juga kontrol mata setahun sekali. Karena rentan mengalami minus tinggi yang berakibat lazy eyes atau starbismus (juling).

Masalah mata pada bayi yang terlahir prematur

Mumpung Arthur mau lebaran di Bekasi, sekalian aja kontrol mata tahunan. Karena sudah setahun yang lalu Arthur ke dokter mata, saat dia fix terdiagnosa ROP stage 5. Pilihannya 2, ke KMN lagi dengan dr. rini atau ke JEC dengan dr. florence. Dua-duanya adalah Pediatric Opthalmologist dan concern dengan ROP.

Aku dan lingga akhirnya memutuskan untuk kontrol mata Arthur ke Jakarta Eye Centre (JEC) dengan dr. Florence Manurung SpM. Karena :

  • Lebih deket ke Menteng daripada Lebak Bulus.
  • Kalau mau balik ke KMN Lebak Bulus macet banget karena daerah situ lagi ada proyek pembangunan MRT.
  • Banyak yang merekomendasikan dr florence di JEC, dan review dari mereka bagus. Katanya, dr flo enak diajak diskusi dan konsultasi.
  • Bulan ini lagi ada promo diskon 50% biaya admin di JEC kalau daftar online (maklum emak-emak).

2 minggu sebelumnya, aku daftarin Arthur secara online ke JEC menteng dengan dr. Florence. Sabtu, 18 juni 2017 kami pun ke JEC. Beberapa hari sebelumnya, Arthur udah di bilangin dulu kalau mau ketemu ibu dokter untuk diperiksa matanya. Pokoknya sounding – sounding terus sebelum hari H.

Sampai di JEC, Alhamdulillah Arthur nggak ngambek atau rewel. Dia ceria. Main – main dan jalan kesana kemari.

Begitu masuk ruangan, dr Flo bertanya masalahnya apa. Dan waktu aku bilang ROP, terlihat wajahnya seperti kecewa. Beliau langsung bertanya “Apakah ibu berasal dari daerah luar jakarta?”

Aku pun cerita kronologis Arthur waktu awal terdiagnosa ROP dulu, dan sudah periksa ke RS mana aja. Beliau agak menyayangkan karena Jogja termasuk kota besar.   Kemudian dia tanya history Arthur. Kelahiran Arthur, berat badan lahir, pemakaian oksigen selama di NICU, keadaan jantung dan paru-parunya, screening yang sudah dilakukan, apakah ada transfusi atau komplikasi. Pokoknya history medis yang paling penting bagi bayi prematur. Karena ini pertemuan pertama kali dengan dr Flo, beliau banyak bertanya mengenai riwayat medis arthur saat di NICU dan saat terdiagnosa ROP.

Waktu aku bilang, dulu di jogja salah diagnosa dibilang retinoblastoma, dr Flo langsung bilang “Ibu, kalau anak ini retinoblastoma dan itu diagnosa setahun yang lalu. Anak ini nggak mungkin kondisinya seperti ini. Dia pasti sudah di surga. Karena retinoblastoma itu kanker yang dapat mengancam nyawa. Kalau ROP tidak akan mengancam nyawa meskipun dia tidak bisa melihat lagi”

Beliau meminta hasil pemeriksaan Arthur dulu. Aku serahin hasil USG mata dari beberapa rumah sakit dan juga hasil retcam nya dulu. Aku juga bawa hasil CT scan yang segede gaban itu, tapi dr Flo nggak minta hasil CT scan nya. Kemudian beliau memeriksa mata Arthur menggunakan alat yang seperti teropong. Arthur diperiksa sambil main-main ama papanya jadi dia diem aja nggak berontak. Padahal aku udah takut banget kalau dia berontak pas kontrol.  Lalu Arthur juga di cek sisa penglihatannya. Dr Flo coba senterin mainan dan gerakin di deoan Arthur, dia bus mengikuti mainannya ke kanan kiri. Tapi waktu dr Flo coba gerakin jari atau tangannya ke kanan kiri, Arthur diem aja nggak mengikuti. Meskipun ikhlas, Sebenernya aku juga masih menaruh harapan akan hal ini. Tapi ternyata sama saja. Dr Flo bilang Arthur hanya respon pada cahaya. Yang jelas, dia nggak bisa lihat huruf sehingga untuk huruf harus dengan Braille. Kata dr Flo, kemungkinan Arthur ada di lowvision level terburuk yaitu bisa melihat cahaya saja. Dan aku juga tanya untuk penglihatan lain bagaimana, dr Flo bilang tunggu Arthur bisa berkomunikasi dulu. Aku sebenernya bingung, karena di komunitas dibilang anak seusia Arthur sudah bisa tes visus (tes jarak pandang / sisa penglihatan) tanpa harus menunggu anak bisa diajak komunikasi. Tetapi dr Flo bilang belum bisa. Padahal aku sebenernya juga butuh assesment dari dokter mata tentang penglihatan Arthur untuk persiapan Arthur masuk sekolah playgroup, tapi aku malah lupa karena banyak yang pengen aku tanyakan ke dr Flo.

Pertemuan dengan dr Florence sekitar 15 menitan. Aku suka dengan penjelasan beliau. Tanpa aku tanya banyak, beliau menjelaskan ini itu secara lengkap sambil browsing dengan google di komputernya untuk memperlihatkan kondisi mata. Beliau memperlihatkan gambar mata ROP, retinoblastoma, kornea keruh, dll. Aku juga dijelaskan kemungkinan Arthur salah diagnosa retinoblastoma dulu, karena hasil USG menunjukan ada sesuatu di dalam matanya. Dokter mata disana mengira itu sesuatu yang padat (seperti tumor) padahal sebenarnya itu adalah retina yang sudah retinal detachment, atau sudah terlepas dari tempatnya (Ablasio Retina).

Aku tanya tentang selaput putih yang ada di mata Arthur.  Apakah itu berbahaya?

Kata dokter itu tidak berbahaya. Itu adalah retina yang sudah terlepas dan menempel ke kornea, dan kornea sudah tidak berfungsi sehingga terlihat selaput putih-putih seperti itu. Nanti kalau Arthur sudah besar, bisa memakai soft lens hitam. Bukan untuk penglihatannya, tetapi hanya untuk kosmetikanya. Supaya orang tidak “takut” atau menganggap dia “aneh” dengan kondisi mata nya yang putih-putih. Dr Flo juga menjelaskan, bahwa beliau punya pasien anak yang matanya putih keruh seperti itu, bahkan sejak lahir di kedua matanya putih-putih. Dia tidak ROP, tetapi korneanya keruh (maaf saya lupa istilah medisnya)

Saat beliau sedang mencari di hp nya untuk memperlihatkan foto anak itu, aku langsung bilang “namanya syahnaz ya bu?”

dr florence kaget kok aku bisa kenal Syahnaz. Syahnaz itu teman Arthur di komunitas baby community (komunitas orang tua dengan anak hambatan penglihatan, hambatan penglihatan diagnosa apa saja tidak hanya ROP). Sebelum ke JEC aku whatsapp mamanya syahnaz dulu tanya tentang dr Florence sebelum akhirnya memutuskan periksa dengan dr Flo. Karena syahnaz abis operasi pencangkokan kornea dengan dr Flo, dan perjalanan syahnaz masih sangat panjang. Semoga syahnaz sehat selalu, dan selalu diberikan kelancaran rizki untuk kedua orang tuanya 😊 (Semangat terus untuk ortu syahnaz!).

Dr Flo menjelaskan, perbedaan Arthur dan Syahnaz. Kalau Arthur yang rusak itu dalem matanya, jadi kalau lampu yang sudah rusak bohlamnya mau diapakan lagi? Arthur sudah tidak bisa diapa-apakan lagi matanya. Kalau syahnaz, yang rusak itu luar matanya. Jadi masih bisa dibenerin. Dalem matanya syahnaz masih bagus, jadi luarnya saja yang kudu di benerin dengan pencangkokan kornea. Sampai saat ini, belum ada teknologi pencangkokan retina apalagi untuk kasus ROP. Retina itu selaput tipis seperti tissu. Kalau sudah rusak, robek, terlepas dan menempel ke kornea sudah susah dibenerin. Mau sampai ke Amerika, Eropa atau ujung dunia pun dokter mata disana juga pasti akan bilang “Buat apa buang-buang waktu, lebih baik gunakan waktumu untuk mendidik anakmu. Tumbuh kembang anak tidak akan bisa diulang kembali”

Intinya, ROP nggak main-main. Kalau udah terlambat nggak bisa disembuhin. Jadi jangan sepelekan screening ROP pada bayi prematur.

Arthur kembali kontrol mata tahun depan, tapi kalau mata Arthur ada infeksi atau iritasi harus segera dibawa ke dokter mata.

Terimakasih dr Florence Manurung SpM. πŸ™πŸ»

 

 

Arthur Cek ke Low Vision Centre

Arthur Cek ke Low Vision Centre

Akhir tahun arthur di bawa ke bekasi mumpung ayah nya nggak dinas. Jadi, Arthur ikut pertemuan bulanan baby community area jabodetabek. Agenda saat itu akan ada petugas dari low vision centre yayasan Layak untuk membantu memeriksa anak low vi, jika masih memiliki sisa penglihatan dan bisa dibantu dengan alat, akan dibantu untuk mengecek dan mencarikan alat bantu penglihtannya.

Arthur termasuk low vision karena masih memiliki sisa penglihatan. Dia ada respon dengan cahaya dan warna terang. Tapi kita masih belum tau seberapa besar dan disebelah mana sisa penglihatan arthur.

Arthur di minta datang ke kantor lowvi layak di daerah jagakarsa, jaksel. Sebelum kesana, kami harus janjian dulu karena petugasnya kadang juga ke lapangan. Tadinya mau dateng hari kamis tapi ternyata mereka sedang di RSCM jadi arthur diminta datang hari jumat siang.

Jumat siang arthur, mama dan uti naik Commuter line terus ketemuan sama ayah di stasiun manggarai. Ayah ijin dari kantor sebentar, mau nemenin arthur. Dari stasiun manggarai kita transit dan ganti kereta yang ke arah depok. Lalu turun di stasiun pasar minggu, terus naik angkot. Turun dari angkot kita masih nyari-nyari klinik lowvi layak disebelah mana dan setelah nanya-nanya akhirnya ketemu juga.

Sampai disana Arthur dikasih mainan dengan warna terang dan mengeluarkan suara, dia juga dites dengan cahaya. Dia bisa mengikuti ke arah mana saat cahaya itu digerak-gerakkan. Dan dia juga bisa menangkap mainan berwarna terang yang disenterin. Bener aja arthur nya on mood, hepi, ceria kalo ditemenin ayahnya. Nggak kayak pas acara pertemuan baby community jabodetabek kemarin, arthur lagi nggak mood dan cengeng banget kalau main sama temen-temennya.

arthur mau nangkepin cahaya dari senter

Arthur sambil main dicek dengan menggunakan alat, tetapi ternyata penglihatan arthur sejauh mana masih belum tau, karena masih belum nemu fokusnya arthur dimana. Mungkin dia kalo nangkep melihat sesuatu yang samar, tapi abis itu yaudah dia nggak melihat nya terlalu lama. Jadi fokus nya dia bisa melihat disebelah mana belum ketemu. Kami disuruh sering latihan di rumah supaya arthur nemuin fokus nya.

 

arthur sedang di cek

Ini bukan berarti arthur berobat agar sembuh. Tapi lowvi centre membantu anak untuk memaksimalkan sejauh mana sisa penglihatannya dan agar dia tidak malas menggunakan sisa penglihatannya. Karena arthur juga masih dalam masa pertumbuhan, jika sering dilatih maka dia akan terbiasa menggunakan sisa penglihatannya.

Dan dalam kasus ROP stage 5 aku nggak terlalu berharap banyak mengenai alat yang bisa digunakan untuk memaksimalkan sisa penglihatan arthur. Tapi ikhtiar yang kami lakukan semoga nggak sia-sia.

Tapi aku yakin teknologi semakin maju, semakin canggih, dan dapat membantu masa depan arthur. Seperti adanya penelitian mengenai kacamata bionic yang dapat membantu penglihatan tuna netra tanpa dilakukan operasi. Bahkan info terakhir yang aku baca, kacamata bionic juga akan dikembangkan menjadi lensa bionic. Semoga saja kacamata atau lensa bionic segera masuk ke indonesia. Berapapun harganya mama dan ayah akan menabung untuk beli kacamata bionic buat arthur ❀️

Stevie Wonder

Stevie Wonder

Tau stevie wonder? Salah satu legenda musik, Β penyanyi asal amerika. Jujur aja, aku nggak tau lagu dia. Cuma tau namanya doang. hehehe

Waktu aku browsing tentang ROP, ada artikel mengenai stevie wonder ini.

Mungkin belum banyak yang tau. Stevie wonder ini terlahir prematur, ibu nya melahirkan dia maju 6 minggu dari HPL. Dia berada di inkubator dan mendapat terlalu banyak tekanan oksigen sehingga mempengaruhi perkembangan retina matanya. Dan kemudian dokter pun mendiagnosa dia buta permanen. Stevie wonder adalah salah satu penyandang ROP stage 5.

Walaupun dari bayi dia memiliki hambatan penglihatan tapi ibu nya memperlakukan dia sama seperti anak-anak nya yang lainnya. Tidak ada perlakuan khusus. Sehingga dia bisa mandiri, percaya diri, dan dia memilki potensi di dunia musik.Β  Potensinya tersebut terus digali sehingga dia bisa menjadi salah satu penyanyi legenda dunia seperti saat ini.

Aku sedikit terinspirasi oleh ibunya. Yang mendidik dia tanpa membedakan perlakuan dan tanpa mengkhususkan bahwa stevie wonder seorang tuna netra. Ibunya menganggap stevie wonder seperti anaknya yang lain. Semoga aja aku bisaΒ  mendidik Arthur seperti itu. Tidak memberikan perlakuan khusus kepada nya dan tidak membedakannya ketika Arthur memiliki adik.

 

“Mama was my greatest teacher, a teacher of compassion, love and fearlessness. If love is sweet as a flower, then my mother is that sweet flower of love.” — Stevie Wonder.

Gallery

Masalah mata pada bayi yang terlahir prematur

Bayi prematur jika sudah lolos dari skrining ROP dan dinyatakan bebas ROP. Tetap harus rutin per 6bulan sekali atau 1 tahun sekali untuk memeriksakan kesehatan matanya. Karena pada bayi yang terlahir prematur rentan terjadi gangguan pada mata nya, seperti mata malas, mata minus, mata juling, dll. Berikut penjelasan dari dr rozalina loebis spM :

Β 

Β 

Β 

Β 

Seputar Kesehatan Mata Anak

Masih dalam rangka #WorldPrematureDay

Setelah bayi prematur kita mencapai usia kehamilan 45 minggu dan sudah dinyatakan terbebas dari Retinopathy of Prematurity atau ROP, what’s next?

1. Bayi prematur mempunyai kecenderungan untuk menjadi minus (myopia of prematurity) oleh karena gangguan perkembangan segmen anterior bola mata karena prematuritasnya.
Biasanya myopia (mata minus) yang terjadi cukup tinggi ( diatas minus 3 ) sehingga rawan terjadi amblyopia ( mata malas/ lazy eyes ).
Reference: http://bjobeta.bmj.com/content/81/1/2.full
Tentang lazy eyes ini entar kita diskusikan lebih lanjut yaa..

2. Oleh karena prematuritasnya, yang menyebabkan otot-otot luar bola mata juga terganggu kekuatannya, maka bayi yang terlahir prematur juga ada risiko untuk juling ( strabismus ).
Reference : http://www.webmd.com/eye-health/premature-babies-eye-problems

Karena itu bayi prematur tetap harus di periksa kondisi bola mata secara rutin paling tidak 1 tahun sekali untuk mendeteksi hal ini secara dini.

Periksanya pakai BPJS? Sangat bisa, asal meminta rujukan ke faskes yang ada fasilitas pelayanan mata yaa.

View original post 6 more words

Retinopati pada Prematuritas

Retinopati pada Prematuritas

Berikut mengenai ROP, oleh dr rozalina loebis spM

Seputar Kesehatan Mata Anak

Retinopathy of prematurity (ROP) adalah penyakit mata yang terjadi pada bayi yang terlahir prematur dengan usia kehamilan kurang dari 31 minggu dan berat badan lahir kurang dari 1250 gram. Semakin premature dan semakin kecil bayi, maka kemungkinan terjadinya ROP semakin besar.

Penyakit ROP ini menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah abnormal pada retina, yaitu lapisan jaringan syaraf pada mata yang penting untuk penglihatan.Pertumbuhan pembuluh darah abnormal pada retina ini akan menyebabkan lapisan retina terlepas dan mengakibatkan kebutaan.

Bayi yang terlahir prematur pada usia kehamilan < 32 minggu dengan berat badan lahir < 1500 gram, harus menjalani skrining mata untuk kemungkinan Retinopati pada Prematuritas ini.

Pada skrining, maka akan ditentukan kondisi pembuluh darah retina bayi prematur tersebut.

ROP dibagi menjadi 5 stadium :

Stadium I β€” Pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang ringan. Pada stadium ini biasanya membaik sendiri dan bayi akan mempunyai penglihatan yang normal.

Stadium II β€” Pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal…

View original post 390 more words