27 Agustus 2013

27 Agustus 2013

Selasa, 27 Agustus 2013.

Sudah 4 tahun berlalu sejak kepergianmu pak…

Sudah 4 tahun bapak meninggalkan kami…

Bapak, terimakasih untuk semuanya. Maaf kalau aku belum bisa mengucapkan jutaan rasa terima kasih ku ke bapak. Seandainya bapak masih bisa menunggu beberapa tahun lagi… Pasti bapak akan merasa hidupnya lebih bahagia dan bermakna, karena bisa menikahkan anaknya dan juga sempat merasakan menimang cucunya.
Tapi semua adalah kuasa Allah.

Pagi itu, selasa 27 Agustus 2013. Ternyata bapak terakhir kalinya bertemu denganku, sewaktu aku pamit mau berangkat ke kantor. Pagi itu aku juga pamit pulang agak malam karena rencananya akan ada meeting audit dan juga ada acara training di kantor pusat.

Aku masih ingat rasanya tangan bapak waktu itu. Tangannya agak dingin dan lemas. Waktu aku pamit, bapak juga nggak bilang apa-apa. Aku pikir bapak memang capek dan ingin istirahat. Kondisi bapak beberapa hari itu memang sedang down. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya, badannya pun semakin kurus. Semua karena penyakit diabetes yang sudah komplikasi ke ginjalnya. Sehingga setahun terakhir, bapak menjalani cuci darah rutin seminggu 2 kali. Tapi 2 bulan sebelum kepergiannya, dokter meminta untuk dilakukan cuci darah seminggu 3 kali.

Aku nggak ada feeling apa-apa. Aku berdoa dan selalu positif thinking untuk bapak. Di kantor, aku kerja kayak biasanya. Dan hari itu sedang ada audit, aku pun agak direpotkan dengan temuan audit. Karena sorenya akan diadakan meeting membahas temuan-temuan itu.

Sorenya, kami pun meeting. Saat meeting sedang berjalan, aku di bbm kakak sepupuku. Dia tanya aku lagi di kantor mana. Beberapa menit kemudian aku melihat kakak sepupuku di depan kantor, dan sepertinya dia masuk ke kantor lewat pintu samping. Kemudian satpam dateng dan bilang kalo aku dicariin dan katanya penting. Disitu aku masih belum ada feeling apa-apa. Cuma batin “ada apa kok tumben ya…”
Waktu aku keluar, kakak sepupuku langsung nyamperin aku dan langsung peluk aku. Sambil bilang “Rann… Kamu yang sabar ya… om meninggal”

Innalillahi wainaillaihi rajiun…

Innalillahi wainaillaihi rajiun…

Innalillahi wainaillaihi rajiun…

Aku nggak percaya. Nggak mungkin… Bapak, kenapa secepat itu? Bapak belum ngomong apa-apa sama aku. Bapak kenapa nggak pamit atau berpesan sesuatu dulu sama aku. Maaf aku hari itu sibuk dengan pekerjaanku pak. Maaf kalau pekerjaanku waktu itu membuat aku nggak bisa menemani bapak sesering mungkin.
Lututku langsung lemas, tangisku langsung pecah. Aku udah nggak bisa apa-apa lagi…

Teman-teman dan atasanku langsung datang bertanya ada apa, mereka pun menenangkan aku.

Setelah agak tenang, aku langsung diantarkan temanku pulang ke rumah. Di perjalanan, aku masih terus menangis.
Sesampainya di rumah, ternyata sudah mulai ramai tetangga dan saudara. Tenda juga mulai terpasang di jalanan depan rumah.

Aku langsung masuk ke dalam rumah, ke kamar bapak. Cari bapak. Tapi bapak nggak ada. Bapak dimana?? Ibu juga nggak ada di rumah. Saudara-saudaraku mencoba menenangkan aku. Mereka menyuruhku untuk istighfar dulu.

Pakde bilang, kepergian bapak sekitar ba’da ashar. Tapi untuk membuktikan secara medis, bapak dibawa ke rumah sakit. Dan kondisi bapak saat di rumah sakit harapannya tinggal 10%. Pakde memintaku untuk ikhlas. Dan menunggu saja di rumah. Pakde juga berpesan, kalau nanti bapak sudah di rumah, jangan menangis. Nangis nya sekarang aja. Supaya bapak nggak ikut sedih. Nanti kasihan bapak kalau ditangisin terus.

Menjelang maghrib, mobil jenazah dari rumah sakit datang. Hatiku bergetar, tapi aku nggak boleh nangis. Kemudian ibu keluar dari mobil, terlihat raut wajahnya yang lelah dan sangat sembab. Entah sudah berapa tetes air mata yang ibu keluarkan. Ibu datengin aku, dan memelukku. Sambil menangis, ibu bilang “Mbak, sekarang kamu dan adik jadi anak yatim”. Aku yang tadinya menahan tangis supaya bisa deket ke jenazah bapak, pecah lagi tangisanku.

Lalu jenazah bapak dikeluarkan dari dalam mobil dan dibawa masuk ke dalam rumah. Aku mencoba menenangkan diri dulu sebelum menemani jenazah bapak.

Ibu bilang “Bapak ditemeni dulu, bapak kayak lagi tidur kok. Nggak kelihatan kalo sakit lagi.”

Waktu aku buka kain penutup jenazah bapak, aku pun melihat wajah bapak. Ibu benar, bapak seperti sedang tertidur nyenyak. Wajahnya terlihat lebih bersih dan tidak setua yang aku temui pagi tadi. Mungkin karena bapak sudah tidak merasakan sakit lagi. Sekarang bapak sudah sembuh. Dan saat itu,terakhir kali nya lah aku memandang wajah bapakku. Bapak yang telah membesarkanku dan menemaniku selama 24 tahun ini.

Kemudian, aku teringat kata-kata bapak waktu lebaran. Sebelum aku meminta maaf, malah bapak yang meminta maaf duluan ke aku dan adikku. Bapak minta maaf kalau beliau nggak bisa mendampingi dan membimbing anaknya dengan baik.

Apakah mungkin itu sudah pertanda bahwa bapak akan pergi selamanya…
Malam itu, jenazah bapak disucikan dan dikafan. Setelah disucikan, aku sudah tidak bisa melihat bapak lagi. Bapak sudah di dalam keranda. Semalaman disemayamkan di rumah. Ditemani sanak saudara dan kerabat yang datang silih berganti untuk menemani bapak. Aku nggak bisa tidur, aku masih belum percaya kalau bapak sudah dipanggil oleh Nya. Besok dan seterusnya aku nggak bisa ketemu bapak lagi. Bapak nggak ada di rumah lagi.

Azan subuh pun berkumandang, beberapa saat kemudian datang jamaah sholat subuh dari beberapa masjid sekitar rumah untuk bertakziah dan menyolatkan bapak. Hari itu bapak akan dimakamkan jam 2 siang.

Matahari pun terbit, tamu yang ingin bertakziah berdatangan.

Pak, banyak yang sayang sama bapak. Banyak yang ingin menyolatkan bapak dan mengantarkan kepergian bapak.

Di hari terakhirnya, anak-anak sekolah dari SD muhammadiyah dekat rumah ramai-ramai berdatangan bergantian hanya untuk menyolatkan jenazah bapak dan menyampaikan belasungkawa mereka. Aku nggak kuat untuk nggak nangis saat anak-anak itu berdatangan. Mereka nggak kenal bapak tapi mereka ikhlas untuk mendoakan bapak. Salah satu kebesaran Allah, Allah mengganti amalan semasa hidup bapak dengan banyak doa untuk mengantarkan kepergian bapak.

Hari semakin siang dan semakin banyak yang datang untuk bertakziah. Sepanjang jalanan depan rumah sampai dipenuhi para pelayat. Aku nggak mengira ternyata bapakku disayang dan dihormati banyak orang.

Jam 2 siang, jenazah bapak mulai diangkat untuk diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Aku, ibu, dan adikku ikut mengantarkan sampai ke makam ditemani saudara dan para pelayat lainnya. Mengiringi perjalanan terakhir bapak di dunia dengan doa…

 

 

‎اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

Amin.

Advertisements
Setahun pasca pencarian sebuah diagnosa

Setahun pasca pencarian sebuah diagnosa

Tidak mudah untuk jujur dengan keadaan. Banyak di luar sana orang sibuk dengan berbagai macam pencitraan diri dan segala kepura-puraan.
Aku sendiri butuh waktu untuk mencoba mulai membuka diri.
Aku butuh waktu kurang dari setahun untuk menata hati dan mempersiapkan diri, untuk bercerita disini tentang arthur.

Ya pastilah akan ada aja omongan nggak enak diluar sana yang nggak perlu aku tau dan nggak perlu aku denger. Talk to my ass! Terserah aja mereka mau ngomong apalah inilah itulah endebra endebre… tapi semua faktanya, apa yang terjadi akan aku tulis di blog ini biar nggak jadi omongan yang cuma simpang siur. Biar kalau mau kepo in lebih gampang dan mereka jadi tau apa yang terjadi dan aku juga sangat berharap mereka menjadi lebih mengerti apa yang seharusnya dilakukan, supaya nggak asal ngomongin aja. Karena kekuatan netizen dalam berkomentar belakangan ini, nyablak banget. Omongannya bias Lebih pedes dari seblak level 10. Memangnya mereka ini bisa jadi aku? Kalo mereka dikasih cobaan kayak gini apa mereka bisa menjalaninya dengan ikhlas? Nggak semua orang bisa menjalani seperti ini. Banyak anak pejabat yang disembunyiin, cuma karena mereka malu. Naudzubilah!

Hal semacam ini nggak perlu disembunyikan. Tapi kami butuh waktu dan proses untuk Mempersiapkan diri, hati dan batin untuk menerima pertanyaan, empati, omongan orang, maupun cibiran orang.
Darimana aku dapet kekuatan itu? Paling utama adalah dari komunitas dan dukungan orang sekitar. Didalam sebuah komunitas yang berisi orang-orang dengan pengalaman yang sama, membuat kita tidak merasa sendiri. Kita saling memberikan motivasi, menguatkan dan mendukung demi buah hati. Mencari tahu dan mendatangi acara yang berhubungan dengan disabilitas, memberikan semangat kepada kami untuk selalu memberikan yang terbaik untuk Arthur.

Satu tahun sudah berlalu sejak perjalanan kami untuk mencari sebuah kepastian diagnosa.
Ketika kami sedang dalam kondisi seperti ini, akan terlihat mana teman, sahabat, saudara, dan kerabat yang sesungguhnya. Yang benar-benar tulus ikhlas menolong, yang hanya bersimpati, hanya mengkasihani, atau justru mencibir dan menjauhi. Tapi sejak aku mulai terbuka, Alhamdulillah kemudian Allah mencoba membukakan jalan kami. Untuk memudahkan segala urusan. Perkenalanku dengan beberapa orang kemudian memudahkan segala urusan kami. Terutama untuk pendidikan Arthur di masa depan. Kami selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Arthur. Penawaran pendampingan saat arthur masuk sekolah, dibantu dalam pencarian sekolah inklusi, serta informasi-informasi lainnya yang sangaaaaattt membantu.

Disabilitas itu sensitif. Maaf kalau postingan ini sedikit ber-suudzon. Karena orangtuanya pun terkadang bisa menjadi lebih sensitif. Anaknya sensitif untuk di bully, sensitif untuk di diskriminasikan. Tapi sebenarnya disabilitas itu adalah pola pikir. Kalian yang membully dan mendiskriminasikan lah yang seharusnya diberi label “penyandang disabilitas”.

bola plastik VS bola kaca

bola plastik VS bola kaca

Quotes nya Brian Dyson – CEO coca cola. Kira-kira seperti ini:

hidup itu seperti memegang bola, tangan kanan memegang bola kaca dan tangan kiri memegang bola karet. Bola kaca ibarat keluarga, teman, kesehatan. Sedangkan bola karet ibarat pekerjaan. Kedua nya harus seimbang, namun jika harus memilih mana yang akan dilempar… 

Lemparlah bola karet karena ketika dia jatuh akan memental dan kembali ke tangan kita. Ibarat pekerjaan. Rejeki sudah ada yang mengatur. Jika kita meninggalkan pekerjaan demi keluarga, suatu saat akan ada rejeki lain yang datang.

Tapi jika kita melemparkan bola kaca, ketika jatuh dari tangan dia akan langsung retak dan hancur. Seperti keluarga, kesehatan, hubungan pertemanan. Jika rusak akan susah untuk menjadikannya utuh dan baik kembali.

Aku pernah mendengar tentang pilihan seorang ibu yang meninggalkan pekerjaannya demi mengurus anak dan keluarga itu pilihan yang sangat mulia. Tidak penting apa kata orang. “rejeki bisa dicari” , “rejeki pasti datang lagi” tapi sebenernya anak dan keluarga itulah yang dibilang rejeki. Karena rezeki itu tidak hanya gaji, tidak hanya seberapa banyak uang yang kita dapatkan. Rezeki tidak selalu berupa materi.

Jadi, Aku lebih memilih lempar bola karet yang ada di genggaman ku agar tangan ku bisa menggenggam bola kaca erat dengan kedua tangan ini.

 

img_1232
Merasa jleb banget waktu di path ada yang share postingan itu. Hahaha..

Yap, kemudian aku memilih resign dari pekerjaan. Demi masa depan arthur. Aku ingin mendidik arthur dan setiap hari bersama Arthur. Membersamainya…

Resign

 

Waktu itu, aku cukup lama untuk periksakan arthur di jakarta dan sementara akan tinggal di bekasi dulu. Aku ambil cuti dan ijin terlalu lama. Sampai jatah cuti ku habis, dan untuk pegawai dengan grade seperti aku ini sepertinya belum bisa mengajukan cuti diluar tanggungan. Daripada aku membebani perusahaan dan teman-teman di kantor, Aku putuskan Resign secara mendadak dan maaf tidak sempat berpamitan dengan teman-teman semua. Terima kasih perusahaan tempat aku bekerja selama hampir 5 tahun ini. Keputusanku untuk resign cukup mendadak, walaupun aku memang sempat bilang ada rencana untuk resign tapi entah kapan.

Terimakasih fasilitas asuransi nya untuk arthur. Dari periksa kehamilan, melahirkan, arthur berada di NICU setelah lahir, vaksin arthur, perawatan arthur opname karena DB, CT Scan Arthur dan skrining-skrining periksa mata arthur. Dibiayai sama kantor semua, sampai plafon habis.

Terima kasih kebersamaan dan kekeluargaannya selama ini. Terima kasih kalian sudah menjadi bagian dari hidup aku. Sukses untuk kalian semua. Sampai jumpa di episode kehidupan yang lain… 😊😊😊

Prematurity Awareness

Prematurity Awareness

Mengapa saya membuat blog ini?

  1. Sharing and Caring. Saya mengalami kelahiran anak pertama secara prematur. Di usia gestasi 30w, berat badan bayi saat lahir hanya 1500gr. Dan arthur terdiagnosa ROP.
  2. Membantu untuk ber-edukasi. Karena masih Kurangnya edukasi tenaga medis mengenai penanganan bayi prematur. Saya ini hanya orang awam, bukan orang medis. Namun saya ingin berbagi pengalaman dan informasi yang sepengetahuan saya. Prematur tidak hanya masalah BBLR, masih banyak masalah riskan lain yang mungkin ditemui pada bayi prematur. Terutama masalah ROP ini. Belakangan kasus ROP semakin sering ditemui, dan sepertinya belum ada penelitian mengenai penyebab prematuritas di indonesia.
  3. Dan yang paling utama sebenernya untuk menjawab pertanyaan teman-teman dan orang-orang yang menanyakan kondisi Arthur. Karena saya capek juga lhoh menceritakan berulang-ulang kalau ada yang menanyakan tentang kondisi Arthur dari awal hingga saat ini. 
  4. Support special needs kids parents, dan juga untuk menyadarkan masyarakat kita ini mengenai disabilitas. Masyarakat Indonesia ini masih ada saja yang meremehkan para penyandang disabilitas. Padahal mereka sama saja seperti yang lain, tidak boleh membeda-bedakan. 
  5. Daripada cuma diliputi rasa penyesalan karena kondisi arthur seperti ini, tapi aku bisa apa sih? Mau nuntut dokter? Aku cuma orang biasa, bukan orang berduit banyak yang bisa ini itu. Daripada buang uang, tenaga, dan waktu untuk itu mending aku fokus ke tumbuh kembang arthur dan mendidik arthur. Dan aku juga cuma bisa kasihtau ibu yang lain mengenai kewajiban skrining untuk bayi yang terlahir prematur agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.

Semoga postingan di blog ini nanti nya bisa bermanfaat. thanks!