Membuang Sampah Pada Tempatnya

Arthur lagi suka buang sampah di tempat sampah. Awalnya, karena aku latih untuk membiasakan buang sampah di tempatnya.

Sekarang, Kalau abis minum susu uht, ngemil, ada tissu kotor, plastik, dll terus disuruh buang sampah dia seneng banget πŸ˜…

Padahal kalau diajak main memasukan bola kedalam kardus, masukin mainan ke kotaknya, dan semacam itu, dia nggak mau. Terlihat kurang tertarik. Tapi giliran diajak buang sampah ketempatnya, dia semangat banget. Kalau sampahnya udah masuk ke tempat sampah, biasanya dia terus ketawa atau tepuk tangan sendiri.

Selain ngajarin supaya cinta kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Pelajaran lain yang diambil adalah : 
1. Biar nggak asal buang barang terutama sampah sembarangan. Karena Arthur kalau udah bosan atau nggak suka sesuatu yang sedang dia pegang, main lempar aja. 

2. Melatih kebiasaan meletakkan benda pada tempatnya.

3. Melatih Koordinasi mata (kalo arthur feeling nya aja deh) dan tangan 

4. Belajar Orientasi Mobilitas di dalam rumah

5. Menghafal letak benda-benda didalam rumah

6. Memberikan penjelasan apa itu sampah dan mengapa harus dibuang ke tempat sampah 

Berikut ini link video Arthur membuang sampah pada tempatnya     

Arthur lagi suka buang sampah di tempat sampah. Awalnya, untuk membiasakan buang sampah di tempatnya. Sekarang, Kalau abis minum susu UHT, abis ngemil, ada tissu kotor, plastik, dll terus disuruh buang sampah dia seneng banget πŸ˜… Selain mengajarkan untuk cinta kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Banyak pelajaran lain yang bisa diambil : 1. Melatih kebiasaan meletakkan benda pada tempatnya. 2. Biar nggak asal main lempar atau buang barang sembarangan. Karena Arthur kalau udah bosan atau nggak suka sesuatu yang sedang dia pegang, main lempar aja. 3. Belajar Orientasi Mobilitas di dalam rumah. 4. Menghafal letak benda-benda didalam rumah. Dan… Lanjutannya ada di blog aja yah 😁 #Day8 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject

A post shared by ranny aditya (@rannyaditya) on

Sebuah kegiatan sederhana “membuang sampah” tapi ternyata banyak pelajaran yang bisa diberikan untuk Arthur. 

#Day8

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject

Arthur Bantuin Mama Belanja πŸ›πŸ›’

Project keluarga kami hari ini adalah belanja. Sebenernya bukan belanja bulanan juga sih, cuma karena papa Arthur beberapa hari lagi mau dinas ke papua selama sekitar semingguan. Sebelum ditinggal dinas, kudu nyiapin amunisi dan kebutuhan lainnya. Supaya nggak bingung kalau ini itu nya udah habis, karena di bekasi kadang aku nggak berani pergi-pergi sendirian. Daripada ngerepotin yang lain kan, mending repotin suami aja. hehehe…

Hari ini kami belanja di s*p*r*ndo. Yang paling utama adalah beli cemilan, buah dan susu UHT buat Arthur.

Kami menerapkan ilmu dari pelajaran “orientasi mobilitas di luar rumah”. Jadi sebelumnya, kami udah ngasih tau Arthur kalau kita mau belanja dimana dan mau beli apa aja. Arthur ditanya nanti mau beli apa, dia bilang mau beli “mik ahh” (maksudnya susu πŸ˜…).

Sampai di tempat belanja tersebut, aku ambil trolly dan dudukin Arthur di trolly belanja. Ternyata dia nggak betah lama duduk di trolly belanja sambil di dorong. Dia minta turun dan maunya dia yang dorong trolly belanja nya. Oke, Arthur sepertinya mau bantuin mama belanja, dia nggak mau duduk-duduk doang πŸ˜…

“Sekarang kita cari susu Arthur, nanti Arthur yang ambil ya”

Kitapun menuju rak tempat susu UHT. Arthur ambil susunya dibantu papa, supaya nggak ngacak-ngacak rak nya.Hehehe…

Arthur maunya bawa susunya sendiri. Tapi kita kasih tau kalau susunya itu dibeli dulu, dibeli itu dibayar dengan memberikan uang ke mbak kasir (Pelajaran tentang konsep menjual dan membeli).

Arthur akhirnya dorong lagi trolly nya menuju ke kasir. Tentu saja didorong nya dibantu sama papa, kalau nggak udah nubruk kemana-mana πŸ˜…

Arthur Dorong Trolly Belanja

Link video Arthur bantuin mama belanja :

Β #Day7

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

#FamilyProject

Belajar dari Buah Jeruk

🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊

Hari ini, di rumah ada buah jeruk. Banyak yang bisa diajarkan ke Arthur dengan buah jeruk. Apalagi untuk melatih ketajaman indra penciuman, indra perasa, dan indra perabanya.

1. Bentuk buah jeruk

Aku kasih buah jeruk ke Arthur untuk dia pegang. Bentuknya yang bulat seperti bola kecil, eh malah dilempar sama Arthur πŸ˜…

2. Tekstur jeruk

Tekstur kulit jeruk sebelum dan setelah di kupas. Untuk diraba. Dan juga tekstur buah jeruk itu sendiri.

3. Bau jeruk

Bau jeruk paling kuat pada kulit bagian dalamnya. Setelah aku ajarkan untuk meraba tekstur kulitnya. Aku minta Arthur untuk mencium kulitnya supaya dia merasakan bagaimana bau jeruk. Ehhh tapi malah dia makan kulitnya πŸ™ˆπŸ˜…

4. Rasa jeruk

Rasa jeruk nya pas dapet yang manis, sehingga Arthur doyan dan dia langsung habis 1 buah jeruk.

5. Bagaimana cara memakan buah jeruk

Buah Jeruk harus dikupas dulu kulitnya, lalu di ambil sesuai potongannya. Kemudian dihilangkan serat putih yang masih menempel dan dihilangkan bijinya. Baru deh dimakan.

Hal yang sederhana tapi banyak ilmu yang bisa diajarkan ke Arthur.

Arthur dan Buah Jeruk

#Day6
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

DIY touch and feel counting card



Dua kali membeli buku touch and feel yang bertemakan “numbers and counting” ternyata isinya tidak sesuai dengan ekspetasi. Tidak semua nya bisa diraba untuk belajar berhitung dan mengenal angka. Hanya diraba untuk bermain tekstur saja, seperti buku touch and feel lainnya, bukannya berhitung jumlah dengan meraba. 

Jadi, Project kali ini bertujuan untuk Arthur belajar berhitung dan mengenal angka dengan media raba.  


Bahan :

– pipe cleaner (1 pack isi 10pcs Harga Rp 10.000)

– pompom (1pack isi sekitar 50 pcs Harga Rp 20.000)

– kertas Marga (1 gulung besar Harga Rp 5.500)

– 2 ring untuk menjilid ( Harga @ 1500)

– lem

Bahan yang diperlukan

 

Cara membuat : 

  1. potong kertas kira-kira seukuran A4
  2. bentuk pipe cleaner seperti angka 1-10 lalu tempel ke kertas
  3. tempel pompom, sesuaikan jumlah pompom dengan angka
  4. tempelkan angka braille di bawahnya
  5. jilid dengan ring

 

cara main : 

  • ajak anak menghitung pompom dengan meraba
  • perkenalkan bentuk angka dan perkenalkan angka braille

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

DIY touch and feel shape card



Salah satu media belajar Arthur dalam mengenal berbagai macam bentuk dengan indra perabanya.
Bahan :

  1. Kertas Marga
  2. Pipe Cleaner
  3. Lem
  4. Ring

 

Cara Membuat :

  1. Potong Kertas kira – kira separoh kertas HVS
  2. Bentuk pipe cleaner dengan berbagai macam bentuk seperti : Segi empat, Segi Tiga, Lingkaran, Segi Panjang, Hati, Bintang, setengah lingkaran, segi enam, dll Lalu tempelkan ke kertas.
  3. Kalau saya juga menambahkan bentuk : Panjang – Pendek, Besar – Kecil
  4. Tulis dengan huruf braille bentuk tersebut dan tempelkan dibawahnya 
  5. Jilid jadikan satu dengan menggunakan ring supaya tidak tercecer kemana – mana

 

 


Cara main :

Ajak anak meraba bentuk tersebut dan informasikan kepada anak, bentuk apa yang sedang dia raba.

#Day4
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Project Mingguan Kami : Mencuci BajuΒ 

Mencuci baju adalah project mingguan kami yang biasa dilakukan 2-3 kali dalam seminggu.

Dulu arthur tidak terlibat dalam kegiatan mencuci baju ini, karena dia masih belum berani sama air dingin. Tapi belakangan ini, kami mencoba melibatkan Arthur. Karena Arthur sudah berani dengan air dingin dan mulai suka main air. Walaupun akhirnya dia nggak bakalan ikut nyuci tapi malah cuma mainan air aja.

Setidaknya kami sudah mencoba melibatkan anak dalam melakukan aktifitas rumah tangga. Supaya anak paham bagaimana itu aktifitas mencuci. Sambil di jelaskan step-step apa saja yang dilakukan saat mencuci baju. walaupun Arthur belum sepenuhnya paham.

Kalau di Jogja, Arthur nggak bisa ikutan cuci baju karena mesin cuci di jogja “terima beres” alias cemplungin baju, nyalain air, masukin detergen. Puter deh sampai bilas & dikeringkan. Bisa disambi sambil nyantai atau melakukan hal yang lain, kalau udah selesai baru deh tinggal kita jemur.

Nah kalau di bekasi, proses ngebilasnya manual. Pake ember & Kucek tangan baru deh dimasukin ke tabung pengering. Yah, cukup melelahkan sebenernya. Karena terbiasa yang langsung beres di Jogja. Dulu sempet agak protes juga ke papa arthur. Karena capek, rempong, dan Arthur susah disambi lama-lama.

Tapi, Daripada boros manggil tukang cuci atau nyuci di laundry (biaya laundry di bekasi mahal, nggak kayak di Jogja), Walaupun kalau nyetrika manggil orang untuk nyetrikain. Akhirnya kami pun membagi tugas dalam hal mencuci baju. Papa Arthur yang ngegiling ke mesin cuci, ngebilas & ngeringin. Mama Arthur yang jemurin. Yang paling penting papa Arthur yang ngebilasinnya, hehehee… Alhamdulillah, aku bersyukur punya suami yang mau membantu pekerjaan rumah tangga begini.

Kalau weekday kami seringnya cuci baju malam hari setelah papa Arthur pulang dari kantor. Kalau misal siang nya Arthur bisa disambi, aku cuci sendiri sambil Arthur bantuin (dia sambil mainan air).

Kalau weekend, semua kebagian tugas. Waktu giliran papa yang nyuci & mbilas, arthur sibuk bantuin nyuci alias main air. Mama bantuin sambil awasin arthur, supaya nggak kepleset atau jatuh. Sekalian arthur mandi juga. Setelah selesai semua, baru deh gantian mama Arthur yang jemurin bajunya. Sementara Arthur sudah selesai mandi, lalu main sama papa.

 

#Day3

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

 

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

TMII – Sabtu, 12 Agustus 2017

Hari ini kami mengikuti pertemuan komunitas area Jabodetabek. Komunitas ini kami sebut dengan baby community, yaitu komunitas untuk tumbuh kembang anak dengan hambatan penglihatan. Saat Arthur di Jogja pun, Arthur selalu datang ke acara pertemuan baby community area Yogyakarta. Biasanya pertemuan dilaksanakan di area indoor. Tapi kebetulan, kali ini pas Arthur lagi di Bekasi pertemuan dilakukan di outdoor, dan dipilih Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasinya. Selain piknik, tentu saja ada materi yang akan disampaikan, yaitu belajar mengenai orientasi mobilitas di luar ruangan, khususnya di ruangan publik, dan juga pengenalan whitecane (alat bantu berupa tongkat untuk tuna netra).

Materi disampaikan oleh ibu primaningrum yang sudah banyak pengalaman di dunia disabilitas, khususnya pendampingan ABK tuna netra.Β Pada pertemuan baby community kali ini, ada beberapa tema yang dibahas oleh bu prima.

 

1. Pengenalan whitecane

a. Kaitan / Crook Β 

Seperti namanya, bagian ini merupakan bagian yang memiliki fungsi sebagai pengikat pergelangan tangan dengan tongkat, tujuannya adalah agar tongkat tidak terlepas dari tangan pengguna jika terjadi benturan atau ketika tongkat terlepas dari genggaman pengguna. Disisi lain, bagian ini juga memiliki fungsi untuk mengikat disaat tongkat dilipat. Β Pengikat ini biasanya berbahan yang bisa melar, seperti karet.

b. Pegangan / grip Β 

Bagian yang memiliki fungsi sebagai tempat jemari tangan untuk menggenggam tongkat.

c. Reflektor

Bagian yang memiliki fungsi memantulkan cahaya jika terkena sinar pada malam hari, sebagai penanda.

d. Ujung tongkat / tip

Bagian ini memiliki fungsi sebagai penuntun. Tip ini ada 2 macam, yaitu type fix(tetap) dan roller (beroda). Type fix biasa digunakan sebagai penuntun jalan yang memiliki berbagai macam kontur, sedangkan type roller digunakan pada jalan yang memiliki kontur rata/datar karena type ini dapat bergerak sesuai dengan dorongan tongkat. Biasanya type roller lebih cocok digunakan di area indoor.

2. Cara memakai tongkat

a. Mengukur panjang tongkat Β 

Mengukur panjang tongkat merupakan hal yang wajib dilakukan agar pengguna mendapatkan tongkat yang ideal sesuai dengan tinggi badannya, dengan panjang tongkat yang ideal maka akan memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Panjang tongkat yang ideal dapat diukur dengan mengukur tinggi antara dada pengguna hingga ujung kaki pengguna.

b. Menggunakan tongkat Β 

Cara penggunaan tongkat adalah dengan mengarahkan tip pada posisi 1-2 langkah didepan pengguna, lalu menggerakan tongkatnya ke kiri dan kanan dengan batasan selebar bahu pengguna. Β Agar keberadaan tongkaatnya tidak mengganggu keberadaan orang lain disekitarnya.

3. Orientasi mobilitas

Pada sesi ini, bu prima menjelaskan mengenai pentingnya komunikasi berupa deskripsi kondisi dan situasi bagi para ABK tuna netra dalam melakukan mobilitas aktifitasnya. Dalam kegiatan ini para orang tua diberikan tantangan untuk mencoba menjadi seperti para ABK yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Para orangtua ditantang menggunakan blindfold (tutup mata) agar merasakan apa yang dirasakan anak-anak saat berada di ruang publik tanpa melihat.

Tantangan pertama, orangtua berjalan dengan blindfold dan dituntun tanpa adanya komunikasi. Kendala yang kami alami adalah, kami tidak ada bayangan sama sekali mengenai apa yang akan kami lakukan, seperti apa bentuknya, bagaimana melaluinya, dll. Β Tentu saja banyak yang merasa ketakutan akan bahaya atau celaka apa saja yang ada didepannya saat berjalan. Karena tanpa diberikan informasi apapun tentang lingkungan tersebut.

Tantangan kedua, orangtua berjalan dituntun dengan blindfold dan diberikan pengarahan informasi, Β mengenai situasi dan kondisi lingkungan tersebut dan Β tentang apa saja yang ada didepannya. Sehingga kami memiliki bayangan mengenai apa yg akan kami lakukan dan kami mengerti apa yang harus dilakukan untuk melaluinya. Β Kami merasa lebih baik berjalan tanpa melihat tetapi diberikan penjelasan mengenai jalanan yang dilewati sehingga merasa lebih waspada.

Jadi, kita sebaiknya harus memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai situasi dan kondisi lingkungan tempat anak berada dan apa yang ada di depan anak serta ada apa saja disekitarnya. Bahkan kalau bisa informasi tersebut diberikan secara detail. Sejak dirumah, sudah diinformasikan kita mau pergi kemana dan disana ada apa. Dan selama diperjalanan, menginformasikan kepada anak tentang situasi dan kondisi perjalanan yang dilalui. Misalnya lewat jalan apa, belok kemana, melewati apa, dan sebagainya.

 

4. Pendamping ABKΒ  tuna netra

Menjadi pendamping ABK tuna netra kadang dilihat sebagai sebuah kegiatan yang mudah karena hanya tinggal mengarahkan dan menuntun sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini terpatahkan ketika bu prima menjelaskan bagaimana menjadi pendamping bagi para ABK, ada teknik-teknik tertentu untuk menjadi pendamping bagi ABK tuna netra ketika menuntunnya berjalan yaitu :

a. Pendamping harus berada disisi terlemah anak

Teknik ini dimaksudkan agar para pendamping dapat menutupi bagian terlemah dari anak, dalam artian ketika mendampingi anak untuk berjalan dan menemui halangan maka pendamping bisa mencegah anak terjatuh.

b. Pendamping didepan anka

Teknik ini ditujukan ketika anak melalui jalan yang sempit. Hal ini dimaksudkan agar pendamping dapat menuntun anak untuk melewati jalan tersebut, pendamping disarankan tidak berada dibelakang anak. Karena jika tinggi badan anak lebih tinggi dari pendamping maka akan menutupi pandangan pendamping.

Ibu Prima berbagi ilmu dan pengalamannya

Belajar penerapan mengenai orientasi mobilitas di ruang publik memang lebih menantang dibandingkan dengan belajar orientasi mobilitas didalam rumah.

Karena di ruang publik, para orangtua harus “kebal” dengan tatapan orang-orang. Tidak semua orang merasa welcome dengan keberadaan ABK. Pasti ada saja tatapan, pertanyaan maupun perkataan tentang ABK.

Kami, Para orangtua anak-anak dengan hambatan penglihatan

#Day2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP