Arthur Asessment Penglihatan Lagi, dan hasilnya…….

Arthur Asessment Penglihatan Lagi, dan hasilnya…….

Sekitar setahunan yang lalu Arthur pernah menjalani asessment penglihatan di yayasan Layak low vision.

ceritanya ada di link berikut :

Arthur Cek ke Low Vision Centre

Waktu itu, arthur masih usia setahun. Dia belum bisa berkomunikasi sehingga belum bisa memastikan bagaimana hasil asessment tersebut. Sebenernya udah sejak akhir tahun 2017 kemarin Arthur ditelepon diminta datang lagi ke Layak low vision untuk โ€œkontrolโ€ asessment lagi. Tapi karena bolak balik jogja bekasi dan juga ngepasin kondisi Arthur (Sempet batuk pilek), baru deh bisa dateng ke Layak bulan februari 2018. Ditemenin uti, kita naik kereta. Papanya nggak bisa ikut nemenin karena nggak bisa ijin dari kantor.

Sampai di Layak, Arthur pas lagi on. Dia ngobrol, cerita, main kesana kemari. Sayangnya yang mau meriksa Arthur masih perjalanan abis dari SLB pembina Lebak Bulus. Jadi Arthur nunggu dulu sambil main.

Pas yang meriksa Arthur dateng, mungkin Arthur nya udah agak bosan dan capek abis main. Jadinya malah agak ngambek dan minta pulang mulu. Akhirnya di periksanya sambil gendongan nemplok emaknya.

Arthur diperiksanya pakai alat funduscope, yang kayak teropong gitu. Karena arthur nemplokan mulu, aku ngga sempet fotoin saat Arthur diperiksa. Sebenernya aku dan papanya arthur udah bisa menebak hasilnya bagaimana. Karena aku udah tau bagaimana si ROP stage 5 ini telah merusak mata Arthur.

Arthur hanya respon sama cahaya saja. Ketajaman penglihatannya hanya sebatas cahaya/ sinar saja. Dan tidak ada alat yang dapat membantu penglihatan arthur. Baik itu kacamata, loop maupun alat bantu penglihatan lainnya.

Karena retina arthur udah lepas tidak berada di tempat yang seharusnya.

screenshot_2018-03-03-19-47-58-44270471787.png

Kondisi Arthur semacam ini (hanya respon cahaya) ada yang bilang termasuk low vision karena dia masih bisa respon. Tapi ternyata, respon yang berupa cahaya saja termasuk totally blind. Yahh.. aku juga masih belum bisa memastikan juga sih arthur itu sebenernya low vision atau totally blind. Aku nggak mau ambil pusing, karena masih banyak yang harus dipikirkan dan dipersiapkan untuk Arthur. Kemandiriannya, mobilitasnya, sekolahnya, dll.

Dan yang jelas dia akan membutuhkan white cane dan harus belajar huruf braille.

Arthur disarankan untuk memakai kacamata, tetapi bukan untuk membantu penglihatannya karena kacamata pun tidak akan berpengaruh membantu ketajaman penglihatannya. Tetapi, kacamatanya untuk mengurangi kegiatan Arthur menekan mata. Ini memang PR buanget bagi semua ortu yang memiliki anak tuna netra, khususnya ROP stage 5. kebiasaan jelek ini memang susah banget dihilangkan, karena anak merasa mendapatkan kenyamanan. disaat menekan mata. Dia merasa melihat. Coba aja deh kita tekan mata, pasti merasa ada cahaya merah abstrak atau semacamnya. Itulah yang membuat Arthur merasa nyaman dan senang, padahal itu kebiasaan buruk karena bisa membuat mata menjadi tidak simetris, apalagi Arthur masih dalam masa pertumbuhan dan berpengaruh dengan pertumbuhan matanya jika kebiasaan ditekan-tekan.

Orang yang melihat keseharian Arthur pasti menyangka bahwa Arthur masih memiliki sisa penglihatan entah samar, buram, atau blur. Padahal saat dilakukan asessment, kenyataannya tidak. Dia hanya ada respon dengan cahaya saja.

Kata bu prima, Arthur seperti masih punya sisa penglihatan karena Arthur diberikan stimulasi sejak dini sehingga Arthur terlihat Alami. Ya, Alhamdulillah Arthur tumbuh kembangnya baik. Tidak ada hambatan maupun delay di millestones motorik kasarnya. Karena memang sejak arthur terdiagnosa kami fokus ke tumbuh kembangnya. Saat ini,Dia hanya ketertinggalan di motorik halus, kegiatan yang menggunakan penglihatan. Kalau dari pihak yayasan Layak low vision, menyarankan Arthur agar sekolah, karena sekolah menjadi salah satu bentuk terapi untuk Arthur. Kegiatan playgroup kan biasanya juga memasukkan kegiatan seperti okupasi terapi untuk melatih motorik halus anak.

Kemarin Arthur memang sempet waiting list di salah satu Playgroup di jogja, yaitu pedagogia. Playgroup dan TK tersebut milik UNY. Aku coba menghubungi pedagogia dan menanyakan apakah Arthur masuk kuota ABK yang masuk di tahun ajaran baru besok. Ternyata Arthur nggak masuk kuota tahun ajaran baru 2018/2019 besok. Jadi sepertinya tahun ini sekolahnya di pending dulu, lanjut homeschooling sama mama dirumah. Sambil cari info sekolah inklusi lainnya, dan juga besok kalau pulang ke jogja mau nyamperin SLB A yaketunis jogja untuk tanya info disana.

Sewaktu aku diberi penjelasan , bahwa penglihatan arthur tidak bisa dibantu oleh alat apapun. Aku rasanya biasa aja, aku juga heran sih ngga ada sedih atau galau. Karena aku dan papa arthur sudah tau kemungkinan terburuk dan sudah mempersiapkan Arthur harus bagaimana. Aku malah jadi sedih itu waktu aku WA ngabarin ibuku, eyangnya Arthur. Kata-kata ibu memang menenangkan, tapi aku antara terharu, sedih. Malah jadi mewekโ€ฆ.

Aku ngabarin kalau Arthur abis diperiksa penglihatannya, dan hasilnya tidak ada alat bantu yang bisa membantu penglihatan dia. Ibu cuma bilang “Kita bantu dia dengan kekuatan doa, karena ibu yakin Arthur anak yang cerdas dan soleh”

Advertisements
Main Perosotan di Rumah Kakak

Main Perosotan di Rumah Kakak

Hari ini Arthur main ke rumah kakak sepupu nya. Kakak icha & Abang enji. Mereka punya plosotan dirumahnya.

Arthur coba main perosotan, eh malah ketagihan minta terus. Yang jelas mainnya masih sambil dipegangin.

Arthur bener-bener nggak bisa duduk diem sambil mainan. Jadi, main perosotan kayak gini cocok buat dia. Cuma ya capek yang meganginnya. Karena Arthur bener-bener harus pengawasan ekstra di usia nya yang sedang aktif-aktifnya ini. Anak yang matanya awas aja beresiko jatuh, tersandung, kepleset, kejedut, kejepit, dll. Sementara Arthur dengan kondisi keterbatasan penglihatannya harus diawasi serta didampingi terus. Disambi bentar atau Ditinggal meleng dikit aja biasanya dia bisa kejedut. Walaupun nggak nangis, karena mungkin udah biasa kejedut. Tapi kan kasihan juga.

#Day2

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Membeli Whitecane di SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped)

Membeli Whitecane di SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped)

Waktu kami jalan-jalan ke Singapore kemarin, Alhamdulillah Arthur diberi kesempatan mengunjungi SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped). Awalnya kami nggak tau tentang SAVH. Tiba-tiba bu prima (mentornya Arthur ๐Ÿ˜) mau nitip whitecane di SAVH, untuk balqiz putrinya yang juga ROP stage5.

Aku browsing deh tentang SAVH ini dan dimana lokasinya. Dan aku baru tau kalau SAVH ini semacam low vision centre di Singapore. Lokasinya sebenarnya cukup jauh dari pusat kota dan tempat menginap kami. SAVH berada di daerah toa payoh, meskipun jauh tapi ternyata SAVH sangat dekat sekali dengan stasiun MRT. Sehingga kami mudah untuk menuju kesana. Dari Bugis Hanya transit di 1 stasiun untuk ganti kereta. Transit di Botanic Garden, Lalu ganti kereta menuju Caldecott. Dari stasiun MRT caldecott keluar melalui exit A, sudah terlihat bangunan SAVH. Tinggal nyeberang jalan raya aja.

Awalnya kami bingung di gedung bagian mana yang menjual whitecane. Tapi setelah melihat petunjuk di depan gedung, Akhirnya kami coba masuk ke yusuf building. Begitu masuk gedung tersebut, di ruang paling depan ada pegawai yang ternyata resepsionisnya dan dia penyandang tuna netra. Setelah kami tanyakan dimana kami bisa membeli whitecane kamipun dipersilahkan masuk ke dalam, melalui pintu yang ada di sampingnya, disanalah tempat menjual whitecane.

Dan ternyata di dalam tidak hanya menjual whitecane. Tapi bermacam alat bantu penglihatan. Yang aku belum tahu apa nama dan fungsinya. Tapi yang jelas keren banget dan peralatannya cukup canggih. Entah di Indonesia ada nggak peralatan semacam itu. Aku ngeliat peralatan tersebut, jadi agak katrok juga. Hehehe… Pegawai yang melayani pun seorang penyandang tuna netra, namun dia dibantu oleh 1 orang “awas” yang mempunyai tugas mengambil stok barang. Aku ngeliat tuna netra tersebut melayani pembeli, kagum banget. Ya kayak orang biasa melayani pembeli gitu. Dan dia hafal dimana letak barang-barangnya.

Whitecane yang dipesan bu prima adalah merk ambutech, dengan rolling. Aku belum berpengalaman beli whitecane, megang aja belum pernah. Baru kali itu aku memegang whitecane secara langsung. Waktu aku bilang mau beli whitecane ambutech dengan size sesuai yang dipesan ibu prima, ternyata lagi kosong. Akhirnya aku belikan 1 size diatasnya, karena aku pikir balqiz pasti tambah tinggi supaya masih bisa awet agak lamaan dipakainya. Whitecane ini ada size nya dalam inch, panjangnya diukur dari dada sampai ke ujung kaki si pemakai.

Waktu aku beli, pegawai tuna netra tersebut meminta tolong temannya untuk mengambilkan stok whitecane. Setelah diambilkan, dia meraba dulu untuk meyakinkan apakah benar itu sesuai size dengan yang aku minta. Dia juga memintaku untuk mengecek yang tertulis di situ. Ternyata benar. Aduh, aku merinding deh waktu itu, dia sampai bisa tau size whitecane cuma dengan meraba. Belum lagi barang yang lainnya, padahal dia sama sekali tidak bisa melihat. Keren banget. Aku sempat agak miss komunikasi juga, karena dia chinese, dia berbahasa inggrisnya pakai logat chinese dan ngomongnya cepet gitu. Aku nggak pinter english ya mikir dua kali dulu to ya kalau mo ngomong dan dengerin omongannya. hehehe..

Aku sempat bertanya ke bu Prima, apakah Arthur sudah perlu whitecane? Menurut bu prima, anak yang sudah mulai bisa berjalan, sudah bisa dibekali dengan whitecane. Anak-anak bule biasanya sudah diberikan whitecane sejak kecil saat mulai berjalan. Tapi semua kembali kepada ortu, karena ortu yang lebih mengenal anak. Aku yang tadinya mau beliin Arthur juga, mumpung sekalian di singapore tapi aku tunda dulu sajalah. Karena aku belum tau bagaimana ngajarin seusia Arthur untuk pakai whitecane. Yang ada nanti malah digigitin, di lempar atau buat pukul-pukul. Yah semoga esok kami ada rejeki lebih untuk membelikan Arthur whitecane di singapore.

Pasti banyak yang bertanya kenapa bu prima titip ampe singapore segala? emangnya di Indonesia nggak ada? Di Indonesia ada kok whitecane, merk lokal. Kalau merk Ambutech made in canada dan belum ada distributornya di Indonesia. Sewaktu pertemuan baby community jabodetabek, bu prima memberikan materi mengenai whitecane. Dan beliau membawa beberapa whitecane lokal dan ambutech.

Tentang pertemuan baby community jabodetabek hari itu bisa dibaca di : Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

Aku sih cuma komentar “wow” sama ambutech ini, karena saat dibuka dan dilipat dia langsung “klik klik” seperti magnet. Sementara untuk whitecane lokal, saat membuka kita harus sedikit merangkainya. Dan begitupun saat melipat. Tapi kalau untuk usia anak yang masih belajar menggunakan whitecane. Menurutku sayang juga kalau pakai merk import. Karena ujung tongkat biasanya akan sering penyok disaat tahap belajar dan juga sayang di harganya (prinsip emak emak banget hehe). Ambutech harganya sekitar 300-500ribuan tergantung ukurannya. Kalau merk lokal sekitar 50-100ribu tergantung ukurannya. Lagian anak yang masih dalam masa pertumbuhan, pasti akan sering berganti whitecane. Untuk menyesuaikan tinggi si anak. Jadi mending pakai yang lokal dulu aja. Kecuali jika memang ada rezeki yang berlebih, karena kualitas impor emang enak dipakai. Ada harga ada rupa lah. Hehehe…

Arthur Meet The Low Vision Therapist @ JEC

Arthur Meet The Low Vision Therapist @ JEC

Hari ini Arthur ada janji dengan low vision therapist di JEC (Jakarta Eye Centre).Sewaktu kontrol tahunan dengan dokter florence manurung lalu, beliau menyarankan Arthur untuk dilakukan assesment di low vision centre JEC dan kami diberi kartu nama therapistya. Namanya pak agus.
Sebelumnya, aku WA ke pak agus dulu, untuk janjian kapan bisa ketemu beliau. Ternyata beliau langsung cepat merespon. Kami diminta mengamati Arthur mengenai apa saja yang bisa dia lihat. Misalnya cahaya, warna apa, benda dengan ukuran atau diameter berapa, serta arah sebelah mana yang dia lihat. Supaya hasilnya dapat didiskusikan saat pertemuan.

Sabtu ini kami pun ke JEC menteng. Berangkat dari rumah naik Kereta Commuter Line, dari stasiun kranji turun di stasiun cikini, lanjut naik bajaj ke JEC. Sebenernya deket dan bisa jalan kaki dari stasiun cikini ke JEC. Tapi pengen ngajakin Arthur ngerasain naik bajaj, sekalian ngenalin Arthur transportasi umum. 
Di JEC menteng, kami langsung menuju ke bagian low vision therapist di lantai 2 untuk bertemu pak agus.

Di awal pertemuan dengan pak agus, kami diperlihatkan mengenai sebuah film dokumenter mengenai kondisi seorang anak low vision. 

Aku tidak memperhatikan dan mendengarkan penjelasan pak Agus secara keseluruhan, karena Arthur nggak mau diem. Dia jalan kesana kemari dan harus selalu aku awasi. Ditambah dia belum tidur, jadilah dia sedikit rewel dan minta nenen. Akhirnya aku ajak Arthur ke ruang menyusui. Sementara itu papa Arthur mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Pak Agus mengenai stimulasi penglihatan apa saka yang harus dilakukan yang juga bertujuan untuk mencari tahu sejauh mana sisa penglihatan Arthur. 

Pak Agus juga memberikan motivasi dan semangat untuk kami, agar menerima kondisi Arthur dan tidak merasa putus asa dengan kondisi Arthur tersebut. 

#Day9

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject

DIY touch and feel counting card

DIY touch and feel counting card



Dua kali membeli buku touch and feel yang bertemakan “numbers and counting” ternyata isinya tidak sesuai dengan ekspetasi. Tidak semua nya bisa diraba untuk belajar berhitung dan mengenal angka. Hanya diraba untuk bermain tekstur saja, seperti buku touch and feel lainnya, bukannya berhitung jumlah dengan meraba. 

Jadi, Project kali ini bertujuan untuk Arthur belajar berhitung dan mengenal angka dengan media raba.  


Bahan :

– pipe cleaner (1 pack isi 10pcs Harga Rp 10.000)

– pompom (1pack isi sekitar 50 pcs Harga Rp 20.000)

– kertas Marga (1 gulung besar Harga Rp 5.500)

– 2 ring untuk menjilid ( Harga @ 1500)

– lem

Bahan yang diperlukan

 

Cara membuat : 

  1. potong kertas kira-kira seukuran A4
  2. bentuk pipe cleaner seperti angka 1-10 lalu tempel ke kertas
  3. tempel pompom, sesuaikan jumlah pompom dengan angka
  4. tempelkan angka braille di bawahnya
  5. jilid dengan ring

 

cara main : 

  • ajak anak menghitung pompom dengan meraba
  • perkenalkan bentuk angka dan perkenalkan angka braille

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

DIY touch and feel shape card

DIY touch and feel shape card



Salah satu media belajar Arthur dalam mengenal berbagai macam bentuk dengan indra perabanya.
Bahan :

  1. Kertas Marga
  2. Pipe Cleaner
  3. Lem
  4. Ring

 

Cara Membuat :

  1. Potong Kertas kira – kira separoh kertas HVS
  2. Bentuk pipe cleaner dengan berbagai macam bentuk seperti : Segi empat, Segi Tiga, Lingkaran, Segi Panjang, Hati, Bintang, setengah lingkaran, segi enam, dll Lalu tempelkan ke kertas.
  3. Kalau saya juga menambahkan bentuk : Panjang – Pendek, Besar – Kecil
  4. Tulis dengan huruf braille bentuk tersebut dan tempelkan dibawahnya 
  5. Jilid jadikan satu dengan menggunakan ring supaya tidak tercecer kemana – mana

 

 


Cara main :

Ajak anak meraba bentuk tersebut dan informasikan kepada anak, bentuk apa yang sedang dia raba.

#Day4
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

TMII – Sabtu, 12 Agustus 2017

Hari ini kami mengikuti pertemuan komunitas area Jabodetabek. Komunitas ini kami sebut dengan baby community, yaitu komunitas untuk tumbuh kembang anak dengan hambatan penglihatan. Saat Arthur di Jogja pun, Arthur selalu datang ke acara pertemuan baby community area Yogyakarta. Biasanya pertemuan dilaksanakan di area indoor. Tapi kebetulan, kali ini pas Arthur lagi di Bekasi pertemuan dilakukan di outdoor, dan dipilih Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasinya. Selain piknik, tentu saja ada materi yang akan disampaikan, yaitu belajar mengenai orientasi mobilitas di luar ruangan, khususnya di ruangan publik, dan juga pengenalan whitecane (alat bantu berupa tongkat untuk tuna netra).

Materi disampaikan oleh ibu primaningrum yang sudah banyak pengalaman di dunia disabilitas, khususnya pendampingan ABK tuna netra.ย Pada pertemuan baby community kali ini, ada beberapa tema yang dibahas oleh bu prima.

 

1. Pengenalan whitecane

a. Kaitan / Crook ย 

Seperti namanya, bagian ini merupakan bagian yang memiliki fungsi sebagai pengikat pergelangan tangan dengan tongkat, tujuannya adalah agar tongkat tidak terlepas dari tangan pengguna jika terjadi benturan atau ketika tongkat terlepas dari genggaman pengguna. Disisi lain, bagian ini juga memiliki fungsi untuk mengikat disaat tongkat dilipat. ย Pengikat ini biasanya berbahan yang bisa melar, seperti karet.

b. Pegangan / grip ย 

Bagian yang memiliki fungsi sebagai tempat jemari tangan untuk menggenggam tongkat.

c. Reflektor

Bagian yang memiliki fungsi memantulkan cahaya jika terkena sinar pada malam hari, sebagai penanda.

d. Ujung tongkat / tip

Bagian ini memiliki fungsi sebagai penuntun. Tip ini ada 2 macam, yaitu type fix(tetap) dan roller (beroda). Type fix biasa digunakan sebagai penuntun jalan yang memiliki berbagai macam kontur, sedangkan type roller digunakan pada jalan yang memiliki kontur rata/datar karena type ini dapat bergerak sesuai dengan dorongan tongkat. Biasanya type roller lebih cocok digunakan di area indoor.

2. Cara memakai tongkat

a. Mengukur panjang tongkat ย 

Mengukur panjang tongkat merupakan hal yang wajib dilakukan agar pengguna mendapatkan tongkat yang ideal sesuai dengan tinggi badannya, dengan panjang tongkat yang ideal maka akan memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Panjang tongkat yang ideal dapat diukur dengan mengukur tinggi antara dada pengguna hingga ujung kaki pengguna.

b. Menggunakan tongkat ย 

Cara penggunaan tongkat adalah dengan mengarahkan tip pada posisi 1-2 langkah didepan pengguna, lalu menggerakan tongkatnya ke kiri dan kanan dengan batasan selebar bahu pengguna. ย Agar keberadaan tongkaatnya tidak mengganggu keberadaan orang lain disekitarnya.

3. Orientasi mobilitas

Pada sesi ini, bu prima menjelaskan mengenai pentingnya komunikasi berupa deskripsi kondisi dan situasi bagi para ABK tuna netra dalam melakukan mobilitas aktifitasnya. Dalam kegiatan ini para orang tua diberikan tantangan untuk mencoba menjadi seperti para ABK yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Para orangtua ditantang menggunakan blindfold (tutup mata) agar merasakan apa yang dirasakan anak-anak saat berada di ruang publik tanpa melihat.

Tantangan pertama, orangtua berjalan dengan blindfold dan dituntun tanpa adanya komunikasi. Kendala yang kami alami adalah, kami tidak ada bayangan sama sekali mengenai apa yang akan kami lakukan, seperti apa bentuknya, bagaimana melaluinya, dll. ย Tentu saja banyak yang merasa ketakutan akan bahaya atau celaka apa saja yang ada didepannya saat berjalan. Karena tanpa diberikan informasi apapun tentang lingkungan tersebut.

Tantangan kedua, orangtua berjalan dituntun dengan blindfold dan diberikan pengarahan informasi, ย mengenai situasi dan kondisi lingkungan tersebut dan ย tentang apa saja yang ada didepannya. Sehingga kami memiliki bayangan mengenai apa yg akan kami lakukan dan kami mengerti apa yang harus dilakukan untuk melaluinya. ย Kami merasa lebih baik berjalan tanpa melihat tetapi diberikan penjelasan mengenai jalanan yang dilewati sehingga merasa lebih waspada.

Jadi, kita sebaiknya harus memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai situasi dan kondisi lingkungan tempat anak berada dan apa yang ada di depan anak serta ada apa saja disekitarnya. Bahkan kalau bisa informasi tersebut diberikan secara detail. Sejak dirumah, sudah diinformasikan kita mau pergi kemana dan disana ada apa. Dan selama diperjalanan, menginformasikan kepada anak tentang situasi dan kondisi perjalanan yang dilalui. Misalnya lewat jalan apa, belok kemana, melewati apa, dan sebagainya.

 

4. Pendamping ABKย  tuna netra

Menjadi pendamping ABK tuna netra kadang dilihat sebagai sebuah kegiatan yang mudah karena hanya tinggal mengarahkan dan menuntun sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini terpatahkan ketika bu prima menjelaskan bagaimana menjadi pendamping bagi para ABK, ada teknik-teknik tertentu untuk menjadi pendamping bagi ABK tuna netra ketika menuntunnya berjalan yaitu :

a. Pendamping harus berada disisi terlemah anak

Teknik ini dimaksudkan agar para pendamping dapat menutupi bagian terlemah dari anak, dalam artian ketika mendampingi anak untuk berjalan dan menemui halangan maka pendamping bisa mencegah anak terjatuh.

b. Pendamping didepan anka

Teknik ini ditujukan ketika anak melalui jalan yang sempit. Hal ini dimaksudkan agar pendamping dapat menuntun anak untuk melewati jalan tersebut, pendamping disarankan tidak berada dibelakang anak. Karena jika tinggi badan anak lebih tinggi dari pendamping maka akan menutupi pandangan pendamping.

Ibu Prima berbagi ilmu dan pengalamannya

Belajar penerapan mengenai orientasi mobilitas di ruang publik memang lebih menantang dibandingkan dengan belajar orientasi mobilitas didalam rumah.

Karena di ruang publik, para orangtua harus “kebal” dengan tatapan orang-orang. Tidak semua orang merasa welcome dengan keberadaan ABK. Pasti ada saja tatapan, pertanyaan maupun perkataan tentang ABK.

Kami, Para orangtua anak-anak dengan hambatan penglihatan

#Day2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP