Metode Konmari untuk mempermudah aktivitas keseharian Arthur

Metode Konmari untuk mempermudah aktivitas keseharian Arthur

Kondisi Arthur yang memiliki hambatan penglihatan membuat aku berpikir bagaimana supaya mobilitasnya di dalam rumah menjadi mudah dan juga mempermudah untuk melatih kemandiriannya.

Dulu waktu Arthur masih bayi, yang aku lakukan adalah, memberitahunya letak ruangan dan ada apa saja disana. Misalnya ketika kami berada di ruang tv, aku bilang itu suara tv, ada sofa, ada meja, dsb. Begitu juga ketika berada di ruangan lain. Ketika Arthur sudah mulai bisa bermobilitas (merangkak,merambat dan berjalan) aku menyentuhkan barang tersebut supaya dia tau letaknya.

Alhamdulillah, sejak masuk usia 2 tahun Arthur sudah dengan mudah bermobilitas di dalam rumah. Nggak nabrak, nggak jatuh. Mungkin hanya sesekali kejedut kalau dia ngebut. Orang lain biasanya bilang “dia masih bisa lihat mungkin” hehehe.. tapi udah diperiksa dokter dan therapist, di asessment penglihatannya juga dan hasilnya Arthur hanya respon dengan cahaya, bisa dibilang totally blind.

Meskipun Arthur sudah hafal ruangan, tapi aku  masih pengen memberikannya kemudahan ketika berada di dalam rumah agar dia bisa beraktifitas dan mandiri seperti orang lain pada umumnya. Bagaimana meletakkan, menyimpan,mengambil dan mengembalikkan suatu barang dari suatu tempat.

Ketemu lah dengan metode konmari ini.

Awal mula tertarik dengan konmari, karena teman di komunitas ibu profesional yang sama-sama menjadi kontributor buku antologi yang berjudul “Happy Moms”. Di buku tersebut, dia menceritakan pengalamannya ber konmari. Aku  jadi smakin penasaran dengan konmari. Coba browsing sedikit, dan tertarik dengan metode konmari ini. Kemudian bulan puasa kemarin, komunitas ibu profesional mengadakan semacam social media challenge yang bertemakan Ramadhan Metamorph, yaitu berberes lemari dengan berkonmari. Aku pun tertarik dan coba ikutan,

Karena keterbatasan informasi (hanya melihat gambar-gambarnya di internet) tanpa tau secara teori dan sistemnya yang bener kayak gimana. Ternyata konmari ala – ala yang aku lakukan masih belum bener.

Sampai pada akhirnya ,ku lihat info di instagram kalau Komunitas Konmari Indonesia (Sekarang namanya Komunitas Gemar Rapi), membuka kelas belajar basic konmari batch ke-2. Atas izin suami, aku pun daftar.

Awalnya aku  mikir, sekalian lah buat persiapan besok kalo kita punya rumah sendiri (belom tau kapan punya rumah sendiri tapi, semoga dimudahkan rezekinya, hehehe). Biar pas pindah ke rumah baru, langsung terkonsep dalemnya simple dan tertata rapi.

Dan, sekalian beberes. Belajar untuk lebih rapi supaya mempermudah pekerjaan rumah tangga juga.

Karena kami punya anak tuna netra. Kami pengennya kalo punya rumah yang nggak terlalu banyak barang dan mudah ter organize , supaya memudahkan mobilitas dan aktivitas Arthur di dalam rumah.

Setelah ku pikir, ternyata konsep menata dan menyimpan barang dengan metode konmari ini bisa membantu Arthur agar lebih mudah beraktivitas dan lebih mandiri. Meskipun dia masih balita, tapi jika terkonsep mulai dari sekarang pasti akan lebih baik 🙂

Awalnya sih coba ikutan ber konmari karena aku cuma pengen biar keliat lebih rapi aja, biar mempermudah pekerjaan rumah tangga. Tapi ini ternyata cuma tujuan orang ber-konmari pada umumnya.

Tujuanku berberes tidak hanya sekedar berberes agar rumah terlihat lebih rapi. Tapi aku punya tujuan lain selain hal tersebut, yaitu mempermudah arthur beraktifitas dan bermobilitas didalam rumah, agar dia bisa mandiri serta mempersiapkan masa depannya.

Saat ini, metode konmari udah mulai aku praktekkan di lemari Arthur,  lemari ku, mainan Arthur, rak buku,dan yang lainnya. Yang aku utamakan adalah ruangan dan benda- benda yang sering Arthur gunakan/ interaksi.

 

Lemari Pakaian

Di lemari Arthur pakaian sudah dipisahkan di masing-masing storage box nya berdasarkan subcategory, misalnya baju main, celana main, baju rumah, baju tidur, dan lainnya. Masing-masing storage box sudah ditempel judul subcategory tersebut dengan menggunakan huruf awas dan huruf braille. Dengan harapan kelak, Arthur bisa mengambil dan menyimpan pakaiannya sendiri. Dengan cara menghafal letak penyimpanannya di lemari , dan dengan meraba huruf braillenya.

Bayangkan jika pakaian tersebut menumpuk vertikal, Arthur pasti akan kesulitan memilih dan mengambilnya, pakaian juga mudah ambruk dan berantakan.
Tapi kalau dengan metode konmari ini, harapannya Arthur bisa mengambil dan memilih sendiri pakaiannya dengan mudah. Dan tetap rapi. Karena tersusun horizontal di masing-masing storage box.
Sehingga Arthur lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, meskipun dalam hal kecil seperti mengambil / memilih pakaian.

Yang perlu diajarkan sekarang adalah, memberitahunya letak / posisi storage box di dalam lemari. Dimana letak celana, baju, baju tidur, dll.
Nanti dia bisa hafal letak nya atau bisa juga dengan meraba braille nya (*kalau udah bisa baca).

arthur belajar mengambil dan meletakkan pakaiannya sendiri di lemarinya
lemari Arthur yang sudah ditata dengan metode konmari
storagebox yang masing-masing sudah ditempel huruf braille dan juga huruf awas

Book and Toys

Selain di lemari pakaian Arthur, tempat mainan nya pun juga demikian. Mainan Arthur ada kotaknya masing-masing. Misalnya mobil-mobilan diecast ada di kotak sendiri dan diberi label dengan huruf braille, begitu juga dengan kotak mainan balok, kotak mainan lego, kotak mainan berbahan plastik , kotak bola sensory, kotak mainan hewan, dll. Sehingga Arthur dengan mudah mencari, mengambil, mengembalikan, dan juga membereskan mainannya sendiri.

Karena aku juga sedang mempelajari tentang montessori, dan cara menyimpan/ menaruh maianan ternyata sejalan dengan metode konmari. Dalam prinsip montessori, mainan juga dipisahkan berdasarkan subkategori masing-masing di dalam kotak yang berbeda lalu sebaiknya diletakkan di rak. Sehingga anak tertarik untuk memainkannya, dan juga anak lebih mudah menjangkaunya.

Aku memakai rak seadanya dirumah, yang memang tidak dipakai. Aku manfaatkan aja untuk menaruh mainan-mainan arthur. Nantinya kalau sudah punya aparatus montessori rencananya mau aku letakkan disitu. Tapi sekarang untuk menyimpan mainan yang sering dia mainkan dulu. Karena keterbatasan tempat di rak, tidak semuanya bisa aku taruh di rak tersebut. Mainan yang Arthur jarang mainkan atau masih belum bisa memainkannya, ku simpan di dalam kontainer besar.

 

 

Tempat mainnya Arthur

 

 

rak mainan arthur
rak buku Arthur

 

 

storage mainan Arthur, yang masing- masing sub category sudah ditempel huruf braille dan huruf awas.

 

 

Untuk Rak buku, memang belum sesuai dengan prinsip montesori. Tapi menurutku tidak terlalu menjadi masalah mengingat kondis Arthur yang memilki hambatan penglihatan, dia tidakertarik untuk mengambil buku karena dia melihatnya. Semoga saja besok kalauada rejeki bisa beli rak buku yang sesuai dengan prinsip montesori. Jadi, saat ini sementara rak buku masih disusun seperti biasanya, hanya di urutkan per sub kategori buku. Misal buku touch and feel, buku import , buku anak muslim, dan juga buku yang dijual di onlineshopku harus dipisahkan sendiri di rak tersebut.

 

 

***

 

 

Bagaimana jika ada suatu barang yang dipindah? Misal meja digeser atau letak lemari dipindah kita harus menginformasikan kepada Arthur. Kalau perlu sounding dulu sebelum dipindah, karena nanti dia pasti mencari atau malah menabrak benda yang dipindah letaknya tersebut. Karena Arthur tidak bisa melihat, sehingga dia menggunakan insting dan sudah hafal letak benda tersebut dimana.

Kemarin sewaktu rumah sedang sedikit di renovasi, lemari , rak dan mainan Arthur digeser dan dipindahkan untuk sementara. Aku lupa sounding dan kasihtau kalau letaknya dipindah-pindah unytuk sementara, ya karena waktu itu memang sedikit mendadak. Alhasil, Arthur merasa kebingungan, dia mencari mainannya, mencari sepedanya yang biasanya ditaruh didekat pintu kamar. Dia seperti pengen memegang padahal didepannya tidak ada apa-apa. Jujur aja, melihat itu aku sedikit terenyuh dan sedih. Kasihan sama Arthur. Tapi kalau dipikir aku juga salah karena tidak menginformasikan apa-apa ke Arthur kalau barang-barang ada yang dipindah sementara karena renovasi.

 

***

 

Karena saat ini keluarga kecil kami masih tinggal menumpang di rumah ortu, jadi nya metode konmari ini baru dilakukan di area kamar seperti lemari arthur, lemari ku, rak buku, rak sepatu, dan kotak mainan. Walaupun sepertinya belum rapih-rapih banget, setidaknya lebih baik daripada sebelumnya.

Demikian sedikit pengalamanku yang masih belum seberapa dalam ber konmari dan juga tujuan ku dalam melakukan metode konmari. Semoga selalu konsisten meskipun menghadapi kendala yang bermacam-macam 🙂
Ber-konmari dengan tujuan menjadi lebih rapi adalah hal yang sudah biasa. Tapi kalau demi kemandirian seorang anak berkebutuhan khusus akan menjadi luar biasa 😀

Advertisements
Orientasi Mobilitas di Sekitar Rumah

Orientasi Mobilitas di Sekitar Rumah

Dulu, Arthur kalau diajak keluar rumah maunya digendong. Diturunin nggak mau, padahal dia udah bisa jalan.

Sekarang dia udah mulai mau berjalan keluar rumah. Malah udah mulai suka kabur-kaburan keluar. Mungkin karena di sekitar rumah banyak anak kecil, dia pengen ikutan main bareng. Walaupun kalau udah disamperin temennya, dia malah sibuk sendiri 🤣

View this post on Instagram

♦️Orientasi Mobilitas di Sekitar Rumah ♦️ . Dulu, Arthur kalau diajak keluar rumah maunya digendong. Diturunin nggak mau, padahal dia udah bisa jalan. Sekarang dia udah mulai mau berjalan keluar rumah. Malah udah mulai suka kabur-kaburan keluar. Mungkin karena di sekitar rumah banyak anak kecil, dia pengen ikutan main bareng. Walaupun kalau udah disamperin temennya, dia malah sibuk sendiri 🤣 . ❌ Visual : ❌👀❌ . ✅ auditori : mendengarkan informasi mengenai situasi dan kondisi lingkungan disekitarnya. . ✅ kinestetik : berjalan tiada henti 😅 dan menggunakan indra perabanya untuk meraba tekstur2 tembok di sekitar rumah. #BayiPrematurIndonesia #20months #ROPstage5 #OrientasiMobilitas #auditoriXkinestetik #Day7 #Tantangan10Hari #Level4 #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional

A post shared by ranny aditya dewi (@rannyaditya) on

❌ Visual : ❌👀❌

.

✅ auditori : mendengarkan informasi mengenai situasi dan kondisi lingkungan disekitarnya.

.

✅ kinestetik : berjalan tiada henti 😅 dan menggunakan indra perabanya untuk meraba tekstur2 tembok di sekitar rumah.

#BayiPrematurIndonesia #20months #ROPstage5

#OrientasiMobilitas

#auditoriXkinestetik

#Day7

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

Menaiki Anak Tangga

Menaiki Anak Tangga

Arthur suka banget naik tangga. Bagaimana mengajari Arthur untuk naik tangga?

Ada di video yang saya posting di instagram berikut ini.

❌ Visual : Lebih ke feelingnya.

✅ auditori : menerima informasi yang diberikan mama & papa (suara disamarkan 😅)

✅ kinestetik : menaiki anak tangga sendiri.

Cara memberikan informasi ke Arthur juga harus memakai ilmu komunikasi produktif agar Arthur dapat menerima dan memahami informasi yang disampaikan.

#AuditoriXKinestetik

#Day3

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Main Perosotan di Rumah Kakak

Main Perosotan di Rumah Kakak

Hari ini Arthur main ke rumah kakak sepupu nya. Kakak icha & Abang enji. Mereka punya plosotan dirumahnya.

Arthur coba main perosotan, eh malah ketagihan minta terus. Yang jelas mainnya masih sambil dipegangin.

Arthur bener-bener nggak bisa duduk diem sambil mainan. Jadi, main perosotan kayak gini cocok buat dia. Cuma ya capek yang meganginnya. Karena Arthur bener-bener harus pengawasan ekstra di usia nya yang sedang aktif-aktifnya ini. Anak yang matanya awas aja beresiko jatuh, tersandung, kepleset, kejedut, kejepit, dll. Sementara Arthur dengan kondisi keterbatasan penglihatannya harus diawasi serta didampingi terus. Disambi bentar atau Ditinggal meleng dikit aja biasanya dia bisa kejedut. Walaupun nggak nangis, karena mungkin udah biasa kejedut. Tapi kan kasihan juga.

#Day2

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Mengenal Gaya Belajar Arthur : Auditori – Kinestetik

Mengenal Gaya Belajar Arthur : Auditori – Kinestetik

Saat aku membaca materi level 4 kelas bunda sayang ini, sebenernya ya bikin sedikit baper juga.

Ketika dijelaskan mengenai 3 gaya belajar anak : visual, auditori dan kinestetik. Karena anak lain pasti bisamelakukan  ke tiganya. Aku jadi agak bingung juga, gimana nanti aku ngerjain tugas level 4 ini. Tapi, ah sudahlah…. Aku nggak mau jadi terlarut, karena aku yakin Arthur bisa seperti anak yang lain dengan caranya sendiri.

Sebelum memulai tugas game di level 4 ini, pada tantangan #day1 kali ini aku akan jelaskan lebih dulu. Karena gaya belajar Arthur sudah terlihat. Yaitu auditori-kinestetik. Auditori yaitu melalui indra pendengarannya, dan kinestetik melalui gerakan maupun indra perabanya.

Keterbatasan penglihatan Arthur, otomatis akan mempengaruhi gaya belajarnya.

Aku sebenarnya ingin skip mengenai gaya belajar visual (gaya belajar dengan cara melihat). Meskipun kami juga sedang berusaha untuk memaksimalkan sisa penglihatan yang dimilikinya. Sesuai saran dari low vision therapist, yaitu Dengan melatih dan mengobservasi sejauh mana serta seluas mana sisa penglihatannya saat ini. Kira-kira objek seperti apa yang bisa dia lihat. Yang jelas dia ada respon dengan cahaya dan benda yang berwarna terang. Meskipun ada kemungkinan nantinya Arthur tidak bisa melihat atau membaca dengan huruf awas, setidaknya dia bisa memanfaatkan sisa penglihatannya tersebut untuk kemandiriannya.

Saat ini salah satu ikhtiar yang kami lakukan adalah menstimulasi, mengembangkan, dan memaksimalkan fungsi indra yang lain. Terutama indra peraba dan indra pendengaran. Sehingga gaya belajar Arthur cenderung auditori – kinestetik. Bukannya kami memaksakan, tapi dia memang harus seperti itu untuk kemandirian dan masa depannya.

Arthur itu anak yang tidak bisa diam. Susah banget ngajak Arthur main sambil duduk anteng, supaya dia sibuk dengan mainannya. Dia lebih suka eksplorasi, jalan kesana kemari sesukanya, meraba ini itu. Dia sibuk bergerak, dan sepertinya nggak punya rasa capek. Sehingga Arthur terlihat sebagai anak dengan type kinestetik.

Sementara itu, dia menerima perintah dan juga tahu ini-itu berdasarkan informasi apa yang dia dengarkan. Apalagi akhir-akhir ini Arthur sedang berada di tahapan “meniru”. Arthur lagi suka belajar ngomong, dengan menambah kosakata baru. Apa yang dia dengar, akan dia tirukan. Meskipun saat ini dia lebih sering menirukan suku kata terakhirnya saja. Jadi, gaya belajar Arthur juga secara auditori.

Misalnya pada Saat orientasi mobilitas, belajar makan, bermain, dan lainnya, Arthur menangkap informasi melalui apa yang dia dengar dan yang dia pegang atau yang sedang dia lakukan. Gaya belajarnya pun langsung terlihat, yaitu perpaduan antara auditori dan kinestetik.

Meskipun Kadang aku jadi baper sendiri melihat anak lain yang sedang bermain koordinasi mata dan tangan, permainan yang menggunakan warna, dan lainnya. Tapi aku yakin suatu saat Arthur pasti bisa dengan caranya sendiri. Koordinasi antara otak dan tangannya.

#Day1

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Membuang Sampah Pada Tempatnya

Membuang Sampah Pada Tempatnya

Arthur lagi suka buang sampah di tempat sampah. Awalnya, karena aku latih untuk membiasakan buang sampah di tempatnya.

Sekarang, Kalau abis minum susu uht, ngemil, ada tissu kotor, plastik, dll terus disuruh buang sampah dia seneng banget 😅

Padahal kalau diajak main memasukan bola kedalam kardus, masukin mainan ke kotaknya, dan semacam itu, dia nggak mau. Terlihat kurang tertarik. Tapi giliran diajak buang sampah ketempatnya, dia semangat banget. Kalau sampahnya udah masuk ke tempat sampah, biasanya dia terus ketawa atau tepuk tangan sendiri.

Selain ngajarin supaya cinta kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Pelajaran lain yang diambil adalah :<
Biar nggak asal buang barang terutama sampah sembarangan. Karena Arthur kalau udah bosan atau nggak suka sesuatu yang sedang dia pegang, main lempar aja.

2. Melatih kebiasaan meletakkan benda pada tempatnya.

3. Melatih Koordinasi mata (kalo arthur feeling nya aja deh) dan tangan

4. Belajar Orientasi Mobilitas di dalam rumah

5. Menghafal letak benda-benda didalam rumah

6. Memberikan penjelasan apa itu sampah dan mengapa harus dibuang ke tempat sampah

Berikut ini link video Arthur membuang sampah pada tempatnya

View this post on Instagram

Arthur lagi suka buang sampah di tempat sampah. Awalnya, untuk membiasakan buang sampah di tempatnya. Sekarang, Kalau abis minum susu UHT, abis ngemil, ada tissu kotor, plastik, dll terus disuruh buang sampah dia seneng banget 😅 Selain mengajarkan untuk cinta kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Banyak pelajaran lain yang bisa diambil : 1. Melatih kebiasaan meletakkan benda pada tempatnya. 2. Biar nggak asal main lempar atau buang barang sembarangan. Karena Arthur kalau udah bosan atau nggak suka sesuatu yang sedang dia pegang, main lempar aja. 3. Belajar Orientasi Mobilitas di dalam rumah. 4. Menghafal letak benda-benda didalam rumah. Dan… Lanjutannya ada di blog aja yah 😁 #Day8 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject

A post shared by ranny aditya dewi (@rannyaditya) on

Sebuah kegiatan sederhana "membuang sampah" tapi ternyata banyak pelajaran yang bisa diberikan untuk Arthur.

#Day8

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject<<
p>

Arthur Bantuin Mama Belanja 🛍🛒

Arthur Bantuin Mama Belanja 🛍🛒

Project keluarga kami hari ini adalah belanja. Sebenernya bukan belanja bulanan juga sih, cuma karena papa Arthur beberapa hari lagi mau dinas ke papua selama sekitar semingguan. Sebelum ditinggal dinas, kudu nyiapin amunisi dan kebutuhan lainnya. Supaya nggak bingung kalau ini itu nya udah habis, karena di bekasi kadang aku nggak berani pergi-pergi sendirian. Daripada ngerepotin yang lain kan, mending repotin suami aja. hehehe…

Hari ini kami belanja di s*p*r*ndo. Yang paling utama adalah beli cemilan, buah dan susu UHT buat Arthur.

Kami menerapkan ilmu dari pelajaran “orientasi mobilitas di luar rumah”. Jadi sebelumnya, kami udah ngasih tau Arthur kalau kita mau belanja dimana dan mau beli apa aja. Arthur ditanya nanti mau beli apa, dia bilang mau beli “mik ahh” (maksudnya susu 😅).

Sampai di tempat belanja tersebut, aku ambil trolly dan dudukin Arthur di trolly belanja. Ternyata dia nggak betah lama duduk di trolly belanja sambil di dorong. Dia minta turun dan maunya dia yang dorong trolly belanja nya. Oke, Arthur sepertinya mau bantuin mama belanja, dia nggak mau duduk-duduk doang 😅

“Sekarang kita cari susu Arthur, nanti Arthur yang ambil ya”

Kitapun menuju rak tempat susu UHT. Arthur ambil susunya dibantu papa, supaya nggak ngacak-ngacak rak nya.Hehehe…

Arthur maunya bawa susunya sendiri. Tapi kita kasih tau kalau susunya itu dibeli dulu, dibeli itu dibayar dengan memberikan uang ke mbak kasir (Pelajaran tentang konsep menjual dan membeli).

Arthur akhirnya dorong lagi trolly nya menuju ke kasir. Tentu saja didorong nya dibantu sama papa, kalau nggak udah nubruk kemana-mana 😅

Arthur Dorong Trolly Belanja


Link video Arthur bantuin mama belanja :

 #Day7

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

#FamilyProject