Orientasi Mobilitas di Sekitar Rumah

Orientasi Mobilitas di Sekitar Rumah

Dulu, Arthur kalau diajak keluar rumah maunya digendong. Diturunin nggak mau, padahal dia udah bisa jalan.

Sekarang dia udah mulai mau berjalan keluar rumah. Malah udah mulai suka kabur-kaburan keluar. Mungkin karena di sekitar rumah banyak anak kecil, dia pengen ikutan main bareng. Walaupun kalau udah disamperin temennya, dia malah sibuk sendiri 🤣

♦️Orientasi Mobilitas di Sekitar Rumah ♦️ . Dulu, Arthur kalau diajak keluar rumah maunya digendong. Diturunin nggak mau, padahal dia udah bisa jalan. Sekarang dia udah mulai mau berjalan keluar rumah. Malah udah mulai suka kabur-kaburan keluar. Mungkin karena di sekitar rumah banyak anak kecil, dia pengen ikutan main bareng. Walaupun kalau udah disamperin temennya, dia malah sibuk sendiri 🤣 . ❌ Visual : ❌👀❌ . ✅ auditori : mendengarkan informasi mengenai situasi dan kondisi lingkungan disekitarnya. . ✅ kinestetik : berjalan tiada henti 😅 dan menggunakan indra perabanya untuk meraba tekstur2 tembok di sekitar rumah. #BayiPrematurIndonesia #20months #ROPstage5 #OrientasiMobilitas #auditoriXkinestetik #Day7 #Tantangan10Hari #Level4 #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional

A post shared by ranny aditya dewi (@rannyaditya) on

❌ Visual : ❌👀❌

.

✅ auditori : mendengarkan informasi mengenai situasi dan kondisi lingkungan disekitarnya.

.

✅ kinestetik : berjalan tiada henti 😅 dan menggunakan indra perabanya untuk meraba tekstur2 tembok di sekitar rumah.

#BayiPrematurIndonesia #20months #ROPstage5

#OrientasiMobilitas

#auditoriXkinestetik

#Day7

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

Advertisements
Menaiki Anak Tangga

Menaiki Anak Tangga

Arthur suka banget naik tangga. Bagaimana mengajari Arthur untuk naik tangga?

Ada di video yang saya posting di instagram berikut ini.

❌ Visual : Lebih ke feelingnya.

✅ auditori : menerima informasi yang diberikan mama & papa (suara disamarkan 😅)

✅ kinestetik : menaiki anak tangga sendiri.

Cara memberikan informasi ke Arthur juga harus memakai ilmu komunikasi produktif agar Arthur dapat menerima dan memahami informasi yang disampaikan.

#AuditoriXKinestetik

#Day3

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Main Perosotan di Rumah Kakak

Main Perosotan di Rumah Kakak

Hari ini Arthur main ke rumah kakak sepupu nya. Kakak icha & Abang enji. Mereka punya plosotan dirumahnya.

Arthur coba main perosotan, eh malah ketagihan minta terus. Yang jelas mainnya masih sambil dipegangin.

Arthur bener-bener nggak bisa duduk diem sambil mainan. Jadi, main perosotan kayak gini cocok buat dia. Cuma ya capek yang meganginnya. Karena Arthur bener-bener harus pengawasan ekstra di usia nya yang sedang aktif-aktifnya ini. Anak yang matanya awas aja beresiko jatuh, tersandung, kepleset, kejedut, kejepit, dll. Sementara Arthur dengan kondisi keterbatasan penglihatannya harus diawasi serta didampingi terus. Disambi bentar atau Ditinggal meleng dikit aja biasanya dia bisa kejedut. Walaupun nggak nangis, karena mungkin udah biasa kejedut. Tapi kan kasihan juga.

#Day2

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Mengenal Gaya Belajar Arthur : Auditori – Kinestetik

Mengenal Gaya Belajar Arthur : Auditori – Kinestetik

Saat aku membaca materi level 4 kelas bunda sayang ini, sebenernya ya bikin sedikit baper juga.

Ketika dijelaskan mengenai 3 gaya belajar anak : visual, auditori dan kinestetik. Karena anak lain pasti bisamelakukan  ke tiganya. Aku jadi agak bingung juga, gimana nanti aku ngerjain tugas level 4 ini. Tapi, ah sudahlah…. Aku nggak mau jadi terlarut, karena aku yakin Arthur bisa seperti anak yang lain dengan caranya sendiri.

Sebelum memulai tugas game di level 4 ini, pada tantangan #day1 kali ini aku akan jelaskan lebih dulu. Karena gaya belajar Arthur sudah terlihat. Yaitu auditori-kinestetik. Auditori yaitu melalui indra pendengarannya, dan kinestetik melalui gerakan maupun indra perabanya.

Keterbatasan penglihatan Arthur, otomatis akan mempengaruhi gaya belajarnya.

Aku sebenarnya ingin skip mengenai gaya belajar visual (gaya belajar dengan cara melihat). Meskipun kami juga sedang berusaha untuk memaksimalkan sisa penglihatan yang dimilikinya. Sesuai saran dari low vision therapist, yaitu Dengan melatih dan mengobservasi sejauh mana serta seluas mana sisa penglihatannya saat ini. Kira-kira objek seperti apa yang bisa dia lihat. Yang jelas dia ada respon dengan cahaya dan benda yang berwarna terang. Meskipun ada kemungkinan nantinya Arthur tidak bisa melihat atau membaca dengan huruf awas, setidaknya dia bisa memanfaatkan sisa penglihatannya tersebut untuk kemandiriannya.

Saat ini salah satu ikhtiar yang kami lakukan adalah menstimulasi, mengembangkan, dan memaksimalkan fungsi indra yang lain. Terutama indra peraba dan indra pendengaran. Sehingga gaya belajar Arthur cenderung auditori – kinestetik. Bukannya kami memaksakan, tapi dia memang harus seperti itu untuk kemandirian dan masa depannya.

Arthur itu anak yang tidak bisa diam. Susah banget ngajak Arthur main sambil duduk anteng, supaya dia sibuk dengan mainannya. Dia lebih suka eksplorasi, jalan kesana kemari sesukanya, meraba ini itu. Dia sibuk bergerak, dan sepertinya nggak punya rasa capek. Sehingga Arthur terlihat sebagai anak dengan type kinestetik.

Sementara itu, dia menerima perintah dan juga tahu ini-itu berdasarkan informasi apa yang dia dengarkan. Apalagi akhir-akhir ini Arthur sedang berada di tahapan “meniru”. Arthur lagi suka belajar ngomong, dengan menambah kosakata baru. Apa yang dia dengar, akan dia tirukan. Meskipun saat ini dia lebih sering menirukan suku kata terakhirnya saja. Jadi, gaya belajar Arthur juga secara auditori.

Misalnya pada Saat orientasi mobilitas, belajar makan, bermain, dan lainnya, Arthur menangkap informasi melalui apa yang dia dengar dan yang dia pegang atau yang sedang dia lakukan. Gaya belajarnya pun langsung terlihat, yaitu perpaduan antara auditori dan kinestetik.

Meskipun Kadang aku jadi baper sendiri melihat anak lain yang sedang bermain koordinasi mata dan tangan, permainan yang menggunakan warna, dan lainnya. Tapi aku yakin suatu saat Arthur pasti bisa dengan caranya sendiri. Koordinasi antara otak dan tangannya.

#Day1

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Membuang Sampah Pada Tempatnya

Membuang Sampah Pada Tempatnya

Arthur lagi suka buang sampah di tempat sampah. Awalnya, karena aku latih untuk membiasakan buang sampah di tempatnya.

Sekarang, Kalau abis minum susu uht, ngemil, ada tissu kotor, plastik, dll terus disuruh buang sampah dia seneng banget 😅

Padahal kalau diajak main memasukan bola kedalam kardus, masukin mainan ke kotaknya, dan semacam itu, dia nggak mau. Terlihat kurang tertarik. Tapi giliran diajak buang sampah ketempatnya, dia semangat banget. Kalau sampahnya udah masuk ke tempat sampah, biasanya dia terus ketawa atau tepuk tangan sendiri.

Selain ngajarin supaya cinta kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Pelajaran lain yang diambil adalah :<
Biar nggak asal buang barang terutama sampah sembarangan. Karena Arthur kalau udah bosan atau nggak suka sesuatu yang sedang dia pegang, main lempar aja.

2. Melatih kebiasaan meletakkan benda pada tempatnya.

3. Melatih Koordinasi mata (kalo arthur feeling nya aja deh) dan tangan

4. Belajar Orientasi Mobilitas di dalam rumah

5. Menghafal letak benda-benda didalam rumah

6. Memberikan penjelasan apa itu sampah dan mengapa harus dibuang ke tempat sampah

Berikut ini link video Arthur membuang sampah pada tempatnya

Arthur lagi suka buang sampah di tempat sampah. Awalnya, untuk membiasakan buang sampah di tempatnya. Sekarang, Kalau abis minum susu UHT, abis ngemil, ada tissu kotor, plastik, dll terus disuruh buang sampah dia seneng banget 😅 Selain mengajarkan untuk cinta kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Banyak pelajaran lain yang bisa diambil : 1. Melatih kebiasaan meletakkan benda pada tempatnya. 2. Biar nggak asal main lempar atau buang barang sembarangan. Karena Arthur kalau udah bosan atau nggak suka sesuatu yang sedang dia pegang, main lempar aja. 3. Belajar Orientasi Mobilitas di dalam rumah. 4. Menghafal letak benda-benda didalam rumah. Dan… Lanjutannya ada di blog aja yah 😁 #Day8 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject

A post shared by ranny aditya dewi (@rannyaditya) on

Sebuah kegiatan sederhana "membuang sampah" tapi ternyata banyak pelajaran yang bisa diberikan untuk Arthur.

#Day8

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject<<
p>

Arthur Bantuin Mama Belanja 🛍🛒

Arthur Bantuin Mama Belanja 🛍🛒

Project keluarga kami hari ini adalah belanja. Sebenernya bukan belanja bulanan juga sih, cuma karena papa Arthur beberapa hari lagi mau dinas ke papua selama sekitar semingguan. Sebelum ditinggal dinas, kudu nyiapin amunisi dan kebutuhan lainnya. Supaya nggak bingung kalau ini itu nya udah habis, karena di bekasi kadang aku nggak berani pergi-pergi sendirian. Daripada ngerepotin yang lain kan, mending repotin suami aja. hehehe…

Hari ini kami belanja di s*p*r*ndo. Yang paling utama adalah beli cemilan, buah dan susu UHT buat Arthur.

Kami menerapkan ilmu dari pelajaran “orientasi mobilitas di luar rumah”. Jadi sebelumnya, kami udah ngasih tau Arthur kalau kita mau belanja dimana dan mau beli apa aja. Arthur ditanya nanti mau beli apa, dia bilang mau beli “mik ahh” (maksudnya susu 😅).

Sampai di tempat belanja tersebut, aku ambil trolly dan dudukin Arthur di trolly belanja. Ternyata dia nggak betah lama duduk di trolly belanja sambil di dorong. Dia minta turun dan maunya dia yang dorong trolly belanja nya. Oke, Arthur sepertinya mau bantuin mama belanja, dia nggak mau duduk-duduk doang 😅

“Sekarang kita cari susu Arthur, nanti Arthur yang ambil ya”

Kitapun menuju rak tempat susu UHT. Arthur ambil susunya dibantu papa, supaya nggak ngacak-ngacak rak nya.Hehehe…

Arthur maunya bawa susunya sendiri. Tapi kita kasih tau kalau susunya itu dibeli dulu, dibeli itu dibayar dengan memberikan uang ke mbak kasir (Pelajaran tentang konsep menjual dan membeli).

Arthur akhirnya dorong lagi trolly nya menuju ke kasir. Tentu saja didorong nya dibantu sama papa, kalau nggak udah nubruk kemana-mana 😅

Arthur Dorong Trolly Belanja


Link video Arthur bantuin mama belanja :

 #Day7

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

#FamilyProject

How To Train Your “Dragon”

How To Train Your “Dragon”

“The most helpful thing a person can do for a blind child is to treat them like a human being with normal social and emotional needs and to help others learn to do the same”

(wonderbaby.org)

 

Mengajarkan kemandirian pada anak dengan hambatan penglihatan, rasanya seperti menjinakkan naga. Jadi postingan ini judulnya how to train your dragon. Hahaha…

Susah? iya..

Sabar? Hadeh… Stok sabar harus ekstra ekstra ekstra buanyaaakk….

Dan yang masih menjadi kekuranganku adalah “konsisten”. Aku belum konsisten melatih Arthur mencapai kemandiriannya. Padahal Kalau terus-terusan terjadi pemakluman. “Maklum penglihatannya nggak seperti anak lain”. Kapan berhasilnya?. Goals nya Arthur adalah kemandirian, anak yang mandiri adalah anak yang memiliki keinginan dan menjalankan keinginanya sendiri tanpa perlu banyak bantuan orang tua mapun orang lain.

PR nya arthur itu banyak. Maksud PR disini, apa yang harus dilakukan Arthur agar tidak terjadi ketertinggalan motoriknya dan melatih kemandiriannya. Maklum, anak prematur rentan mengalami delay tumbuh kembang nya. Apalagi dengan keterbatasan yang dia miliki. Tapi Alhamdulillah dia sudah bisa berjalan saat usia sekitar 13 bulan. Tinggal ngajarin motorik halusnya dengan menggunakan sisa penglihatannya yang entah seberapa dan juga mengoptimalkan indra yang lainnya.

Kita bisa mengerjakan PR arthur belajar dengan bermain. Karena pada dasarnya anak memang senang bermain. Tapi sebelum belajar, kita harus tau tipe anak nya dulu. Supaya tidak memaksakan anak.

Ada 4 tipe gaya belajar anak:
1⃣ visual: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat mata/melihat
2⃣ auditori: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat telinga/mendengar
3⃣ kinestetik: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat gerakan badan
4⃣ taktil : informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat rabaan tangan

Arthur sepertinya termasuk type anak kinestetik, cara belajar dan informasi cepat dia terima kalau lewat gerakan badan. Selain itu, Arthur type anak yang nggak bisa duduk anteng sambil mainan. Kalo main sambil duduk, nggak sampe semenit dia terus kabur lagi. Kalau anak lain dengan type ini mungkin juga belajar dengan meniru gerakan orang lain. Kalau Arthur, biasanya aku gerakin tangan atau badannya dulu, kalau dia anteng dan diem berarti dia sedang mencerna informasi yang aku berikan. Tapi kalau udah usil nggak betah atau nolak berarti dia lagi nggak mau dan aku nggak boleh memaksa.

Di usianya yang belum genap 2 tahun ini, yang harus Arthur capai adalah bisa makan sendiri dengan alat makan dan lulus toilet training. Itu hal mendasar kemandirian anak-anak di usia tersebut. Sama seperti anak-anak normal lain yang usianya sama. Namun cara atau threatment nya yang berbeda.

Anggap saja sebagai sebuah challenge.

Mungkin ada yang mbatin, kasihan anaknya buta tapi disuruh dan dipaksakan bisa ini itu. Saya tidak memaksakan. Tapi ini demi masa depan anak saya. Agar tidak selalu bergantung pada orang lain. Karena kami orang tuanya pun juga tidak selamanya bisa mendampinginya. Keberhasilan seorang tuna netra pada dasarnya adalah kemandirian.

Mengajarkan kemandirian pada anak pun juga perlu komunikasi produktif. Misalnya saat anak gagal atau ngompol hindari memarahi anak. Karena anak belum punya kontrol penuh untuk mengontrol pipis dan pup. Misalnya dengan bilang “wahh… arthur pipis disini (diruangan), yuk mama ajak ke toilet. Nanti pipis nya di toilet aja ya”.

 

Tips membuat jadwal teratur untuk toilet training (Walaupun belum sepenuhnya konsisten aku lakukan hehehe)

1. Pagi bangun tidur, ajak anak ke toilet. Tanyakan ke anak apa ingin pipis atau pup. Kalau belum, bilang ke anak “kalau mau pipis atau pup, kesini ya”

2. Beri kata kunci yang menarik dan mudah diingat anak. Misal sinyal untuk pipis diberi kata kunci “pis”. Ajarkan anak aturan mainnya.

3. Beri pujian setiap anak mengucapkan kata kunci dan berhasil sampai ke toilet.

4. Relakan sementara waktu rumah kotor kena pipis dan pup selama proses toilet training

5. Hindari memasang muka seram atau teriak histeris setiap anak pipis di sembarang tempat. Ini untuk menghindari anak trauma.

“Kemandirian terbangun melalui bantuan, kesempatan dan dukungan yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan sekitar.”

 

Dan Alhamdulillah, di kelas bunda sayang Institus Ibu Profesional ini diberikan materi dan game tantangan tentang membangun kemandirian anak. Sehingga aku pun juga menjadi bersemangat dalam melatih kemandirian Arthur walaupun belum maksimal. Se tidanya aku tahu cara melatih kemandirian anak dengan tepat dan benar. Learning by doing.

 

#GameLevel2

#BundaSayang

#IIP

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

#MelatihKemandirianAnak

Berikut terlampir materi dari kelas bunda sayang – IIP tentang melatih kemandirian anak :

 

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
10  Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi