Perlukah Arthur Sekolah Playgroup?

Perlukah Arthur Sekolah Playgroup?

Seperti perjuangan untuk memberikannya hak pendidikan yang layak. Harus aku pikirkan dan persiapkan dari sekarang meskipun usia Arthur belum cukup 2 tahun. Lagian, Arthur memberikan tanda kesiapan bersekolah. Setiap ditanya “siapa yang mau sekolah” Arthur langsung angkat tangannya dengan bersemangat, karena aku sering menceritakan kepada Arthur apa itu sekolah, ada apa di sekolah, dan ngapain aja di sekolah. Ketika Arthur ditanya, sekolah dimana dia langsung jawab “sekolah di TK”. Aku tanya temanku seorang psikolog, ternyata itu salah satu tanda Arthur menunjukkan kesiapan bersekolah. Sebelum masuk sekolah, PR ku adalah melatih kemandiriannya di rumah seperti makan sendiri dan toilet trainee. 2 Hal tersebut memang jadi PR banget, sudah lama dilakukan namun selalu saja kurang konsisten sehingga tidak ada hasilnya, hehehehe…

Ada yang pernah bilang “Anak sekolah di playgrup itu hanya sebagai ajang ibu-ibu untuk sibuk antar jemput anak sekolah lalu ngerumpi dengan ibu-ibu yang lain” Emang sih sering aku lihat macem gini, tapi semoga aku bukan kaum ibu-ibu yang sering rumpik nggak penting seperti ini kalau Arthur sekolah playgrup nanti. Lha wong aku nyekolahin Arthur supaya aku bisa me time, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku seperti bikin tugas, ngeblog, ngebraillein buku Arthur, dll. Kalau Arthur nggak sekolah, aku baru bisa ngerjain pekerjaanku kalau malem Arthur udah tidur dan itu aku bakalan begadang. Soalnya Arthur bakalan ngintilin aku kemana-mana.

Mungkin ada juga yang berpikir “Kasihan anak nya kecil – kecil udah disuruh sekolah, anak kecil kan main bukan belajar”

Sering juga aku lihat postingan di facebook, yang biasanya di re-share para ibu-ibu. Tulisan dari seorang psikolog pemerhati anak, yang mengatakan jika anak disekolahkan terlalu dini itu berbahaya, karena anak itu sebaiknya bermain bukan belajar. Menyekolahkan anak terlalu dini itu sama saja menyemai bibit kanker kata beliau. Dan kalau saya pribadi kok tidak setuju dengan kata-kata psikolog tersebut. Nah ini yang kadang menjadi perdebatan atau “mommy’s war”, Yes or No untuk menyekolahkan anak di Playgrup. Biasalah emak – emak kan hobbynya nyinyir dan ributin apa aja, hahahaha… aku sih maklumin aja. Persepsi orang kan berbeda-beda.  Tapi kemudian kembali lagi ke orang tua masing – masing, karena kondisi orang kan berbeda – beda. Mungkin pemilihan kata para emak – emak ketika mengkritisi permasalahan tersebut tidak tepat sehingga menimbulkan perdebatan yang tidak pada tempatnya alias nyinyir.Hehehe…

Playgroup itu artinya kelompok bermain.  Kegiatan sekolah playgroup ya bermain. Kalaupun belajar, mereka belajar dengan cara bermain.  Lagian Playgroup itu rata-rata nggak setiap hari juga sekolahnya, palingan seminggu 2-3 kali aja. Dan cuma sekitar 2-3 jam aja. Kecuali kalau ortunya pengen masukin ke program fullday, biasanya kalau kedua orangtuanya sibuk bekerja, anak akan dimasukkan ke playgroup yang fullday. Makanya aku bilang,  kondisi orang kan berbeda-beda.

Ya mungkin saja ada beberapa sekolah yang masih berkonsep pada hasil, sehingga anak usia dini dipaksa untuk bisa calistung. Kalau yang seperti ini memang tidak sesuai dengan fitrah anak yang seharusnya di usia tersebut lebih baik bermain. Mungkin psikolog pemerhati anak yang saya bilang tadi, menilai sekolah playgrup demikian karena hanya melihat playgrup yang berkonsep pada hasil seperti ini. Padahal tidak semua sekolah playgrup berkonsep pada hasil, sehingga kita harus melihat sistem belajar sekolahnya seperti apa sebelum mendaftarkan anak ke sekolah tersebut. Jadi, sebelum memutuskan akan disekolahkan dimana, baiknya bertanya dulu bagaimana kurikulum dan sistem belajar anak disana.

Kalau aku, mencari sekolahan bukan melihat bagaimana hasilnya dia ketika bersekolah disitu, tapi aku melihat proses didalamnya. Yang penting Arthur bisa mengembangkan dirinya dengan bermain bersama teman – temannya, berinteraksi dengan orang lain, menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri dan hal yang paling penting yang aku cari adalah sosialisasi dengan teman sebaya dan orang lain. Ketika anak tersebut memiliki prestasi di sekolah tersebut, itu hanyalah menjadi nilai tambah yang ada pada dirinya.

 

Perlukah Arthur masuk playgroup di usianya yang masih 2 tahunan ini?

Sekali lagi, semua kembali ke orang tua masing-masing dan juga meilihat kesiapan anak. Setelah konsultasi dengan teman yang seorang psikolog, dan dia bilang kalau Arthur menunjukkan tanda kesiapan sekolah aku langsung aktif untuk mencari informasi pre-school di Jogja. Dan menurutku, Arthur juga butuh untuk masuk playgroup.  Di grup Baby Community pun seringkali disarankan, ketika usia anak sudah bisa masuk sekolah (2-3tahunan), tidak ada salahnya dimasukkan ke PlayGroup agar dia mampu  bersosialisasi serta percaya diri.

 

Kenapa memilih sekolah di Jogja, bukan di Bekasi?

Karena setelah memikirkan beberapa hal di masa depan, kami berencana untuk tinggal di Jogja. Selain itu, sekolah di Jogja lebih mudah aksesibilitas nya dibanding ketika di Bekasi. Menurutku, biayanya pun juga lebih murah dengan fasilitas yang setara seperti sekolah di area jabodetabek. Dan yang paling penting, Yogyakarta ramah disabilitas. Terbukti dengan adanya guding block di trotoar-trotoar di pinggir jalan kota jogja (meskipun masih ada ditemui beberapa titik yang memang tidak sesuai pemasangan guiding block nya).

 

Sekolah inklusi menjadi pilihanku untuk Arthur bersekolah kelak. Karena pertimbangan beberapa hal. Di saat usia Arthur masih kecil seperti ini tentu saja dia belum paham ketika ada yang bertanya “matamu kenapa?” “kamu nggak bisa lihat ya” “kamu kasihan” dan sebagainya. Dia belum bisa merasakan sakit hati ataupun tersinggung dengan kata-kata seperti itu, tapi mamanya paling yang tersinggung hehehe… Tapi semoga aku selalu diberikan kewarasan dalam berpikir jika suatu saat nanti dihadapi oleh perkataan seperti itu, supaya kata-kata seperti itu tidak membuatku kembali denial lagi.

SLB VS sekolah umum inklusi

Tapi setelah bertanya kesana kemari ke beberapa sekolah inklusi di Kota Jogja,  ternyata masih banyak sekolah (pre-school) inklusi yang belum bisa menerima kondisi Arthur. Dengan alasan belum siap dengan fasilitas dan lingkungan sekolah, meskipun sekolah tersebut bisa menyediakan shadow teacher. Ternyata aku harus berjuang lagi. Ku ketuklah pintu UNY jurusan PLB. Dan Alhamdulillah jalan Arthur InsyaAllah menjadi di permudah. Aku diperkenalkan oleh temanku dengan seorang dosen disana, yang akan membantu “mengetuk pintu” sekolah-sekolah inklusi dan beliau juga menawarkan pendampingan untuk Arthur.

Sebelum bertemu dengan ibu sukinah (dosen PLB UNY) , Sebenernya aku juga sudah daftar waiting list PAUD inklusi psikologi UGM untuk tahun 2018. Sayangnya, waiting list nya udah buuanyak banget. Padahal mereka hanya ada 1 kelas, sekitar 12 – 15 anak.  Padahal PAUD psikologi UGM tersebut, bisa dibilang murah dengan fasilitas yang diberikannya. Dan disana bisa menerima anak dengan kondisi hambatan penglihatan. Mereka sudah beberapa kali menerima murid ABK tuna netra, dan saat aku datang kesana ada salah satu murid yang low vision. Jadi, aku pikir mereka memang suadah berpengalaman menangani dan membimbing anak – anak ABK, terutama Tuna Netra.

Namun sayangnya, pada tahun ajaran 2017 kemarin, PAUD inklusi psikologi UGM ini tutup. Karena sebenernya PAUD ini adalah laboratorium milik fakultas psikologi UGM, mungkin saja ada masalah dengan perizinannya sehingga tidak bisa dilanjutkan lagi. Sangat disayangkan sekali 😦

Lalu, aku cari tau sekolah lain di jogja, PAUD dan TK inklusi dan coba dateng langsung kesana untuk tanya – tanya cari informasi. Mereka memang meng-inklusi, menerima anak berkebutuhan khusus. Tapi sayangnya beberapa sekolah tidak bisa menerima semua kondisi ABK. Rata-rata anak autis, down syndrom, ADHD, gangguan konsentrasi yang bersekolah disana. Mereka masih belum bisa menerima Anak Tuna netra dan Tuna rungu dengan alasan keterbatasan fasilitas, lingkungan sekolah yang belum mendukung dan kekurangan tenaga pendidik. Meskipun orang tua bersedia membawa shadow teacher (guru pendamping) sendiri. Aku hampir hopeless untuk mencari playgroup inklusi. Karena kalau SLB pun belum ada yang bisa menerima murid usia playgroup 2 – 3 tahunan, rata-rata  usia TK atau SD minimal 4 tahun.

Akhirnya, setelah bercerita dengan temanku yang merupakan alumni PLB UNY, aku pun diperkenalkan dengan ibu Sukinah dosen PLB UNY. Kami pun janjian untuk bertemu di UNY. Ibu sukinah baik banget, enak diajak sharing dan diskusi serta memberikan masukan apa yang harus aku lakukan. Beliau juga bersedia membantu untuk mencarikan sekolah ataupun pendampingan kepada Arthur. Alhamdulillah jalan Arthur dipermudah. Bu Sukinah ini spesialisasinya adalah sekolah inklusi. Jadi beliau cukup tahu banyak tentang sekolah inklusi yang berada di Yogyakarta. Aku pun disarankan untuk mencoba datang dan bertanya ke TK & Playgroup Pedagogia. Pedagogia adalah TK & Playgroup milik UNY, dan salah satu sekolah inklusi di Yogyakarta.

Setelah diberi saran oleh Ibu Sukinah, aku pun mendatangi Pedagogia. Dan Alhamdulillah disana sebetulnya bisa menerima kondisi Arthur, namun sayangnya Quota ABK untuk tahun ajaran 2018 baru update di bulan Januari 2018. Sehingga aku diminta untuk mengisi waiting list terlebih dahulu. Padahal kalau bisa, aku mau langsung daftarin saat itu juga. Karena setelah tanya mengenai  sistem belajar dan  bagaimana respon anak lain terhadap ABK, aku merasa sekolah tersebut aman untuk Arthur. Selain itu, lokasi nya tidak terlalu jauh-jauh amat dari rumah.

Kita tunggu saja besok sekitar awal 2018, apakah Arthur masuk kuota dan diterima atau tidak. Kalaupun ternyata Arthur tidak masuk kuota, ya mau gimana lagi. Sekolah playgrupnya ditunda sampai 2019. Padahal kalau Arthur udah bisa bersekolah, rencananya aku pengen hamil lagi, hehehe 😀

Perjuangan banget sepertinya nyariin sekolah buat Arthur. Ini baru nyari Playgroup dan TK loh. Belum lagi besok kalau nyari SD, SMP, SMA, Kuliah. Semoga saja jalan Arthur selalu dipermudah dan selalu ada yang membantu Arthur. AMIN.

Advertisements
Arthur dan Buku

Arthur dan Buku

Membuat anak seperti Arthur agar tertarik dengan buku itu sebenernya agak sulit juga. Buku anak pada umumnya dipenuhi gambar yang menarik supaya anak menyukainya. Tapi siapa bilang anak dengan hambatan penglihatan tidak bisa bermain dan belajar dengan buku.

Salah satu family project kami adalah membraillekan buku-buku arthur. Dan sebagian sudah di braillekan tapi masih ada sebagian lagi yang masih menjadi PR kami.

Family Project : Membraillekan Buku-Buku Arthur

 

Yang menjadi prioritas saat ini adalah hardbook dan touch and feel book, yang memang cocok untuk seusia arthur. Dan di buku tersebut belum banyak kalimatnya, ceritanya pun cukup sederhana.

Aku lebih sering beliin Arthur buku jenis touch and feel. Yang dia bisa raba berbagai macam tekstur. Sambil aku ceritakan, dia sambil meraba. Kebanyakan sih tentang hewan-hewan dan bukunya berbahasa inggris. Arthur sebenernya cukup tertarik dengan buku. Dia sering juga mengambil buku nya sendiri di rak  buku. Walaupun pada akhirnya kadang dia gigitin buku-bukunya. Tapi yang penting Arthur mau meraba berbagai macam tekstur yang ada di dalamnya.

Untuk huruf braillenya, Arthur belum cukup tertarik untuk merabanya. Karena mungkin usianya memang belum sesuai untuk belajar huruf braille. Setidaknya sudah mulai diperkenalkan dari sekarang.

❌ Visual : ❌👀❌

✅ auditori : mendengarkan informasi yang ada di buku atau mendengarkan cerita di buku tersebut.

✅ kinestetik : menggunakan indra perabanya untuk meraba berbagai macam tekstur di buku touch and feel.

#auditoriXkinestetik

#Day9

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

DIY touch and feel counting card

DIY touch and feel counting card



Dua kali membeli buku touch and feel yang bertemakan “numbers and counting” ternyata isinya tidak sesuai dengan ekspetasi. Tidak semua nya bisa diraba untuk belajar berhitung dan mengenal angka. Hanya diraba untuk bermain tekstur saja, seperti buku touch and feel lainnya, bukannya berhitung jumlah dengan meraba. 

Jadi, Project kali ini bertujuan untuk Arthur belajar berhitung dan mengenal angka dengan media raba.  


Bahan :

– pipe cleaner (1 pack isi 10pcs Harga Rp 10.000)

– pompom (1pack isi sekitar 50 pcs Harga Rp 20.000)

– kertas Marga (1 gulung besar Harga Rp 5.500)

– 2 ring untuk menjilid ( Harga @ 1500)

– lem

Bahan yang diperlukan

 

Cara membuat : 

  1. potong kertas kira-kira seukuran A4
  2. bentuk pipe cleaner seperti angka 1-10 lalu tempel ke kertas
  3. tempel pompom, sesuaikan jumlah pompom dengan angka
  4. tempelkan angka braille di bawahnya
  5. jilid dengan ring

 

cara main : 

  • ajak anak menghitung pompom dengan meraba
  • perkenalkan bentuk angka dan perkenalkan angka braille

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

TMII – Sabtu, 12 Agustus 2017

Hari ini kami mengikuti pertemuan komunitas area Jabodetabek. Komunitas ini kami sebut dengan baby community, yaitu komunitas untuk tumbuh kembang anak dengan hambatan penglihatan. Saat Arthur di Jogja pun, Arthur selalu datang ke acara pertemuan baby community area Yogyakarta. Biasanya pertemuan dilaksanakan di area indoor. Tapi kebetulan, kali ini pas Arthur lagi di Bekasi pertemuan dilakukan di outdoor, dan dipilih Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasinya. Selain piknik, tentu saja ada materi yang akan disampaikan, yaitu belajar mengenai orientasi mobilitas di luar ruangan, khususnya di ruangan publik, dan juga pengenalan whitecane (alat bantu berupa tongkat untuk tuna netra).

Materi disampaikan oleh ibu primaningrum yang sudah banyak pengalaman di dunia disabilitas, khususnya pendampingan ABK tuna netra. Pada pertemuan baby community kali ini, ada beberapa tema yang dibahas oleh bu prima.

 

1. Pengenalan whitecane

a. Kaitan / Crook  

Seperti namanya, bagian ini merupakan bagian yang memiliki fungsi sebagai pengikat pergelangan tangan dengan tongkat, tujuannya adalah agar tongkat tidak terlepas dari tangan pengguna jika terjadi benturan atau ketika tongkat terlepas dari genggaman pengguna. Disisi lain, bagian ini juga memiliki fungsi untuk mengikat disaat tongkat dilipat.  Pengikat ini biasanya berbahan yang bisa melar, seperti karet.

b. Pegangan / grip  

Bagian yang memiliki fungsi sebagai tempat jemari tangan untuk menggenggam tongkat.

c. Reflektor

Bagian yang memiliki fungsi memantulkan cahaya jika terkena sinar pada malam hari, sebagai penanda.

d. Ujung tongkat / tip

Bagian ini memiliki fungsi sebagai penuntun. Tip ini ada 2 macam, yaitu type fix(tetap) dan roller (beroda). Type fix biasa digunakan sebagai penuntun jalan yang memiliki berbagai macam kontur, sedangkan type roller digunakan pada jalan yang memiliki kontur rata/datar karena type ini dapat bergerak sesuai dengan dorongan tongkat. Biasanya type roller lebih cocok digunakan di area indoor.

2. Cara memakai tongkat

a. Mengukur panjang tongkat  

Mengukur panjang tongkat merupakan hal yang wajib dilakukan agar pengguna mendapatkan tongkat yang ideal sesuai dengan tinggi badannya, dengan panjang tongkat yang ideal maka akan memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Panjang tongkat yang ideal dapat diukur dengan mengukur tinggi antara dada pengguna hingga ujung kaki pengguna.

b. Menggunakan tongkat  

Cara penggunaan tongkat adalah dengan mengarahkan tip pada posisi 1-2 langkah didepan pengguna, lalu menggerakan tongkatnya ke kiri dan kanan dengan batasan selebar bahu pengguna.  Agar keberadaan tongkaatnya tidak mengganggu keberadaan orang lain disekitarnya.

3. Orientasi mobilitas

Pada sesi ini, bu prima menjelaskan mengenai pentingnya komunikasi berupa deskripsi kondisi dan situasi bagi para ABK tuna netra dalam melakukan mobilitas aktifitasnya. Dalam kegiatan ini para orang tua diberikan tantangan untuk mencoba menjadi seperti para ABK yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Para orangtua ditantang menggunakan blindfold (tutup mata) agar merasakan apa yang dirasakan anak-anak saat berada di ruang publik tanpa melihat.

Tantangan pertama, orangtua berjalan dengan blindfold dan dituntun tanpa adanya komunikasi. Kendala yang kami alami adalah, kami tidak ada bayangan sama sekali mengenai apa yang akan kami lakukan, seperti apa bentuknya, bagaimana melaluinya, dll.  Tentu saja banyak yang merasa ketakutan akan bahaya atau celaka apa saja yang ada didepannya saat berjalan. Karena tanpa diberikan informasi apapun tentang lingkungan tersebut.

Tantangan kedua, orangtua berjalan dituntun dengan blindfold dan diberikan pengarahan informasi,  mengenai situasi dan kondisi lingkungan tersebut dan  tentang apa saja yang ada didepannya. Sehingga kami memiliki bayangan mengenai apa yg akan kami lakukan dan kami mengerti apa yang harus dilakukan untuk melaluinya.  Kami merasa lebih baik berjalan tanpa melihat tetapi diberikan penjelasan mengenai jalanan yang dilewati sehingga merasa lebih waspada.

Jadi, kita sebaiknya harus memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai situasi dan kondisi lingkungan tempat anak berada dan apa yang ada di depan anak serta ada apa saja disekitarnya. Bahkan kalau bisa informasi tersebut diberikan secara detail. Sejak dirumah, sudah diinformasikan kita mau pergi kemana dan disana ada apa. Dan selama diperjalanan, menginformasikan kepada anak tentang situasi dan kondisi perjalanan yang dilalui. Misalnya lewat jalan apa, belok kemana, melewati apa, dan sebagainya.

 

4. Pendamping ABK  tuna netra

Menjadi pendamping ABK tuna netra kadang dilihat sebagai sebuah kegiatan yang mudah karena hanya tinggal mengarahkan dan menuntun sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini terpatahkan ketika bu prima menjelaskan bagaimana menjadi pendamping bagi para ABK, ada teknik-teknik tertentu untuk menjadi pendamping bagi ABK tuna netra ketika menuntunnya berjalan yaitu :

a. Pendamping harus berada disisi terlemah anak

Teknik ini dimaksudkan agar para pendamping dapat menutupi bagian terlemah dari anak, dalam artian ketika mendampingi anak untuk berjalan dan menemui halangan maka pendamping bisa mencegah anak terjatuh.

b. Pendamping didepan anka

Teknik ini ditujukan ketika anak melalui jalan yang sempit. Hal ini dimaksudkan agar pendamping dapat menuntun anak untuk melewati jalan tersebut, pendamping disarankan tidak berada dibelakang anak. Karena jika tinggi badan anak lebih tinggi dari pendamping maka akan menutupi pandangan pendamping.

Ibu Prima berbagi ilmu dan pengalamannya

Belajar penerapan mengenai orientasi mobilitas di ruang publik memang lebih menantang dibandingkan dengan belajar orientasi mobilitas didalam rumah.

Karena di ruang publik, para orangtua harus “kebal” dengan tatapan orang-orang. Tidak semua orang merasa welcome dengan keberadaan ABK. Pasti ada saja tatapan, pertanyaan maupun perkataan tentang ABK.

Kami, Para orangtua anak-anak dengan hambatan penglihatan

#Day2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

DIY touch and feel letters card

DIY touch and feel letters card

Kata dokter mata saat kontrol kemarin, ketika sekolah besok Arthur menggunakan huruf braille. Namun tak ada salahnya mengajarkannya untuk tahu bagainama bentuk huruf awas. Di buku touch and feel yang belajar tentang bentukletters, belum tentu semua huruf bisa diraba bentuknya. Daripada sayang kalau beli juga percuma, akhirnya aku coba bikin sendiri touch and feel letters card. Yahhh… walaupun hasil akhirnya tidak begitu rapi, tapi not too bad lah, yang penting fungsinya. Meskipun setelah dicobakan, Arthur belum mau main kartu – kartu tersebut.

 

Bahan : 

1. kertas tebal (aku pake kertas marga tebal). – harga 1 gulung 5500

2.  3 cat timbul warna shocking terang – harga @3000

3. ring untuk menjilid – harga @1500

4. riglet, stylus, kertas mika bening untuk braille

bahan

 

 

cara membuat :

– potong kertas marga seukuran kartu-kartu. Kalau aku sekitar 9×14 cm

– Tulis huruf A sampai Z, dengan huruf besar dan kecil di kartu-kartu tersebut menggunakan cat timbul.

– Sambil menunggu cat timbul tersebut kering, tulis huruf braille A-Z di mika. Lalu potong dan tempelkan dengan double-tip sesuai dengan hurufnya.

– Kalau sudah bener-bener kering, jadikan satu dengan ring. Kalau aku, tak kasih selotip dulu di pinggiran kertasnya sebelum dibolong baru deh di masukin ke ring supaya awet dan kertas nggak gampang sobek pinggirannya.

img_9911

 

Cara main :

Ajak anak untuk meraba bentuk huruf timbul tersebut. Dan juga huruf braille nya. Sambil kita kasihtau huruf apa yang sedang dia raba.


#Day1
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

How To Train Your “Dragon”

How To Train Your “Dragon”

“The most helpful thing a person can do for a blind child is to treat them like a human being with normal social and emotional needs and to help others learn to do the same”

(wonderbaby.org)

 

Mengajarkan kemandirian pada anak dengan hambatan penglihatan, rasanya seperti menjinakkan naga. Jadi postingan ini judulnya how to train your dragon. Hahaha…

Susah? iya..

Sabar? Hadeh… Stok sabar harus ekstra ekstra ekstra buanyaaakk….

Dan yang masih menjadi kekuranganku adalah “konsisten”. Aku belum konsisten melatih Arthur mencapai kemandiriannya. Padahal Kalau terus-terusan terjadi pemakluman. “Maklum penglihatannya nggak seperti anak lain”. Kapan berhasilnya?. Goals nya Arthur adalah kemandirian, anak yang mandiri adalah anak yang memiliki keinginan dan menjalankan keinginanya sendiri tanpa perlu banyak bantuan orang tua mapun orang lain.

PR nya arthur itu banyak. Maksud PR disini, apa yang harus dilakukan Arthur agar tidak terjadi ketertinggalan motoriknya dan melatih kemandiriannya. Maklum, anak prematur rentan mengalami delay tumbuh kembang nya. Apalagi dengan keterbatasan yang dia miliki. Tapi Alhamdulillah dia sudah bisa berjalan saat usia sekitar 13 bulan. Tinggal ngajarin motorik halusnya dengan menggunakan sisa penglihatannya yang entah seberapa dan juga mengoptimalkan indra yang lainnya.

Kita bisa mengerjakan PR arthur belajar dengan bermain. Karena pada dasarnya anak memang senang bermain. Tapi sebelum belajar, kita harus tau tipe anak nya dulu. Supaya tidak memaksakan anak.

Ada 4 tipe gaya belajar anak:
1⃣ visual: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat mata/melihat
2⃣ auditori: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat telinga/mendengar
3⃣ kinestetik: informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat gerakan badan
4⃣ taktil : informasi bisa lebih cepat diterima kalau informasi masuk lewat rabaan tangan

Arthur sepertinya termasuk type anak kinestetik, cara belajar dan informasi cepat dia terima kalau lewat gerakan badan. Selain itu, Arthur type anak yang nggak bisa duduk anteng sambil mainan. Kalo main sambil duduk, nggak sampe semenit dia terus kabur lagi. Kalau anak lain dengan type ini mungkin juga belajar dengan meniru gerakan orang lain. Kalau Arthur, biasanya aku gerakin tangan atau badannya dulu, kalau dia anteng dan diem berarti dia sedang mencerna informasi yang aku berikan. Tapi kalau udah usil nggak betah atau nolak berarti dia lagi nggak mau dan aku nggak boleh memaksa.

Di usianya yang belum genap 2 tahun ini, yang harus Arthur capai adalah bisa makan sendiri dengan alat makan dan lulus toilet training. Itu hal mendasar kemandirian anak-anak di usia tersebut. Sama seperti anak-anak normal lain yang usianya sama. Namun cara atau threatment nya yang berbeda.

Anggap saja sebagai sebuah challenge.

Mungkin ada yang mbatin, kasihan anaknya buta tapi disuruh dan dipaksakan bisa ini itu. Saya tidak memaksakan. Tapi ini demi masa depan anak saya. Agar tidak selalu bergantung pada orang lain. Karena kami orang tuanya pun juga tidak selamanya bisa mendampinginya. Keberhasilan seorang tuna netra pada dasarnya adalah kemandirian.

Mengajarkan kemandirian pada anak pun juga perlu komunikasi produktif. Misalnya saat anak gagal atau ngompol hindari memarahi anak. Karena anak belum punya kontrol penuh untuk mengontrol pipis dan pup. Misalnya dengan bilang “wahh… arthur pipis disini (diruangan), yuk mama ajak ke toilet. Nanti pipis nya di toilet aja ya”.

 

Tips membuat jadwal teratur untuk toilet training (Walaupun belum sepenuhnya konsisten aku lakukan hehehe)

1. Pagi bangun tidur, ajak anak ke toilet. Tanyakan ke anak apa ingin pipis atau pup. Kalau belum, bilang ke anak “kalau mau pipis atau pup, kesini ya”

2. Beri kata kunci yang menarik dan mudah diingat anak. Misal sinyal untuk pipis diberi kata kunci “pis”. Ajarkan anak aturan mainnya.

3. Beri pujian setiap anak mengucapkan kata kunci dan berhasil sampai ke toilet.

4. Relakan sementara waktu rumah kotor kena pipis dan pup selama proses toilet training

5. Hindari memasang muka seram atau teriak histeris setiap anak pipis di sembarang tempat. Ini untuk menghindari anak trauma.

“Kemandirian terbangun melalui bantuan, kesempatan dan dukungan yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan sekitar.”

 

Dan Alhamdulillah, di kelas bunda sayang Institus Ibu Profesional ini diberikan materi dan game tantangan tentang membangun kemandirian anak. Sehingga aku pun juga menjadi bersemangat dalam melatih kemandirian Arthur walaupun belum maksimal. Se tidanya aku tahu cara melatih kemandirian anak dengan tepat dan benar. Learning by doing.

 

#GameLevel2

#BundaSayang

#IIP

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

#MelatihKemandirianAnak

Berikut terlampir materi dari kelas bunda sayang – IIP tentang melatih kemandirian anak :

 

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
10  Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi

 

Melatih Kemandirian Anak – Arthur Belajar Makan Sendiri Dengan Alat Makan dan Toilet Training #Day8

Melatih Kemandirian Anak – Arthur Belajar Makan Sendiri Dengan Alat Makan dan Toilet Training #Day8

Belajar makan

Hari ini Arthur masih agak males-males makan. Pagi makan bubur nggak mau, tapi makan pisang bisa habis 2 buah. Kayaknya gigi bawahnya mau keluar, karena biasanya kalo lagi susah makan gini giginya pas numbuh. Kalau lagi susah makan begini, jadi susah mau ngajarin makan. Dia pegang sendok nya pun semau dia, malah dimainin malah kadang dia buang.

Siang tadi, malah dia ngerusuhin mamanya makan. Tumbenan.. Akhirnya kita makan sepiring berdua (tapi arthur disuapin sambil mainan). Ternyata Arthur udah bisa makan daging ayam, dia bisa ngunyah & nelen daging ayam.

 

Toilet training

Arthur siang ini aku tawarin pipis setiap setengah sampai sejam sekali. Aku ajakin ke kamar mandi entah dia beneran mau pipis atau nggak. Beberapa kali dia cuma diem aja nggak pipis, aku tunggu nggak keluar-keluar. Akhirnya aku pakein celana lagi. Setengah jam kemudian aku tawarin mau pipis atau nggak, tapi sambil aku ajak ke kamar mandi. Aku tunggu lagi agak lama akhirnya dia pipis juga. Sambil aku bilang “Nah kalau mau pipis di kamar mandi gini ya, abis itu cebok pakai air terus pipisnya disiram”

Tapi habis itu, kelepasan lagi. Belum sempat aku tawarin pipis ke kamar mandi, dia ngompol waktu lagi mainan.

 

 

Walaupun hari ini Arthur gagal belajar makan sendiri, tapi dia berhasil pipis di kamar mandi walaupun cuma sekali. Selain itu, Arthur hari ini tumbenan minta mandi sore. AKu bilang “Kalau mau madni, ayo bajunya dilepas dulu” Dan dia mau buka baju nya sendiri, walaupun masih belum bisa buka baju dan celana nya sendiri sih. Tapi dia sepertinya udah mulai paham, tinggal diajarin aja caranya.

img_0054
Arthur mau buka bajunya sendiri

#Day8

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari