Salah Satu Buku Dongeng Yang Recomended Untuk ABK

Salah Satu Buku Dongeng Yang Recomended Untuk ABK

Judul Buku : Coka Ingin Jadi Beruang dan cerita-cerita lainnya

Penulis : Irene Tjiunata

Jumlah Halaman : 124 halaman

Kategori : Anak-anak / cerita

Penerbit : BIP (Bhuana Ilmu Populer) – Kelompok Gramedia

Β COKA_INGIN_JADI_BERUANG___IRENE_TJIUNATA_

Dongeng didalam buku ini menggunakan 2 bahasa (bilingual), yaitu bahasa indonesia dan bahasa inggris. Sehingga anak bisa belajar kosakata bahasa inggris dan juga belajar speaking dengan membaca cerita didalamnya. Gambar didalamnya pun menarik dan berwarna warni. Di setiap akhir cerita juga terdapat game sederhana, agar anak tidak bosan dengan buku. Serta memberikan stimulasi pada anak untuk berpikir dan mengingat tentang cerita yang baru saja dibacanya.

Buku ini terdiri dari 5 dongeng yang berbedai. Antara lain :

1. Mimi sangat dicintai

Bercerita tentang seekor kucing biasa yang merasa iri dengan kucing milik seorang artis yang selalu dirawat, memiliki baju serta tempat tidur yang bagus. Namun ternyata kucing milik artis tersebut seringkali kesepian dan tidak disayang oleh majikannya.

Dalam cerita ini, mengajarkan pada anak bahwa kita harus selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki selama ini. Karena kemewahan bukanlah segalanya dan apa yang orang lain miliki belum tentu baik untuk kita.

2. Hadiah istimewa Lota

Lota adalah seekor kijang kecil, tinggal dengan keluarganya yang sederhana. Saat itu Lota ingin memberikan hadiah kepada sang pangeran. Karena hewan lain datang berbondong-bondong memberikan berbagai macam hadiah yang cukup bagus dan mewah. Dengan kesederhanannya Lota pun akhirnya membuat sendiri kado untuk sang pangeran, berupa sebuah boneka singa kecil yang mirip seperti pangeran. Hewan lain menertawakannya saat Lota akan memberikan hadiah itu kepada pangeran, mereka meremehkan hadiah Lota namun Lota tidak peduli. Setelah hadiah tersebut diberikan kepada pangeran, ternyata sangat bermanfaat dan pangeran punsangat menyukainya.

Cerita ini mengajarakan bahwa, segala sesuatu tidaklah harus terlihat mewah. Tapi kita bisa melakukan hal yang kreatif. Di cerita ini juga mengajarkan untuk tidak peduli terhadap cemooh orang lain yang biasanya meremehkan kualitas diri.

3. Rumah baru Riri

Bercerita tentang Riri seekor umang-umang (keong) yang merasa bosan dengan rumahnya. sehingga dia meninggalkan rumahnya dan mencari rumah yang baru. Tapi beberapa kali mendapatkan rumah yang baru dia merasa tidak cocok. sampai pada akhirnya dia menemukan rumah yang paling nyaman yang ternyata adalah rumahnya yang lama.

Cerita ini mengajarkan anak untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah dimiliki karena merupakan pemberian dari Tuhan yang terbaik.

4. Quincy kuda yang paling kecil

Menceritakan seekor kuda yang merasa tidak percaya diri karena fisiknya yang kecil. Dia merasa berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Dia merasa tidak berguna, tidak seperti orang tua dan saudaranya yang menjadi kuda balap dan kuda yang membantu di perkebunan. Namun suatu hari raja datang, dan putri raja yang masih kecil jugaΒ  ingin memiliki seekor kuda. Dipilihlah Quincy si kuda kecil tersebut.

Cerita ini mengajarkan agar kita selalu bangga terhadap diri sendiri meskipun kita memiliki kekurangan. Karena dibalik setiap kekurangan pasti Tuhan memberikan kelebihan. Sehingga kita harus selalu bersyukur dan percaya diri.

5. Coka ingin jadi beruang

Bercerita tentang serkor kelinci yang merasa minder karena selalu dianggap lucu dan ditertawakan oleh hewan yang lain. Dia ingin menjadi seekor beruang yang ditakuti oleh siapapun. Namun ternyata si beruang seringkali merasa sedih karena dia ditakuti oleh hewan lain sehingga tidak memiliki teman. Akhirnya, kelinci itupun membatalkan keinginannya untuk menjadi seekor beruang.

Cerita ini mengajarkan agar anak-anak selalu percaya diri meskipun ada yang meremehkan. Karena setiap individu itu unik, sehingga kita harus menerima diri kita apa adanya.

Menurutku, dongeng didalamnya sangat recomended untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) agar mereka selalu bersyukur dalam kondisi apapun, termasuk bersyukur dengan kekurangan yang dimilikinya. Karena setiap individu itu unik dan istimewa, sehingga beberapa cerita di dalam buku ini memiliki pesan untuk selalu bersyukur, percaya diri, dan bangga pada diri sendiri. Semoga dongeng yang ada di buku ini dapat membantu ABK untuk dapat menerima dirinya apa adanya. Dengan segala kekurangan, kelebihan serta keunikannya.

Advertisements
Membeli Whitecane di SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped)

Membeli Whitecane di SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped)

Waktu kami jalan-jalan ke Singapore kemarin, Alhamdulillah Arthur diberi kesempatan mengunjungi SAVH (Singapore Association of the Visually Handicaped). Awalnya kami nggak tau tentang SAVH. Tiba-tiba bu prima (mentornya Arthur 😁) mau nitip whitecane di SAVH, untuk balqiz putrinya yang juga ROP stage5.

Aku browsing deh tentang SAVH ini dan dimana lokasinya. Dan aku baru tau kalau SAVH ini semacam low vision centre di Singapore. Lokasinya sebenarnya cukup jauh dari pusat kota dan tempat menginap kami. SAVH berada di daerah toa payoh, meskipun jauh tapi ternyata SAVH sangat dekat sekali dengan stasiun MRT. Sehingga kami mudah untuk menuju kesana. Dari Bugis Hanya transit di 1 stasiun untuk ganti kereta. Transit di Botanic Garden, Lalu ganti kereta menuju Caldecott. Dari stasiun MRT caldecott keluar melalui exit A, sudah terlihat bangunan SAVH. Tinggal nyeberang jalan raya aja.

Awalnya kami bingung di gedung bagian mana yang menjual whitecane. Tapi setelah melihat petunjuk di depan gedung, Akhirnya kami coba masuk ke yusuf building. Begitu masuk gedung tersebut, di ruang paling depan ada pegawai yang ternyata resepsionisnya dan dia penyandang tuna netra. Setelah kami tanyakan dimana kami bisa membeli whitecane kamipun dipersilahkan masuk ke dalam, melalui pintu yang ada di sampingnya, disanalah tempat menjual whitecane.

Dan ternyata di dalam tidak hanya menjual whitecane. Tapi bermacam alat bantu penglihatan. Yang aku belum tahu apa nama dan fungsinya. Tapi yang jelas keren banget dan peralatannya cukup canggih. Entah di Indonesia ada nggak peralatan semacam itu. Aku ngeliat peralatan tersebut, jadi agak katrok juga. Hehehe… Pegawai yang melayani pun seorang penyandang tuna netra, namun dia dibantu oleh 1 orang “awas” yang mempunyai tugas mengambil stok barang. Aku ngeliat tuna netra tersebut melayani pembeli, kagum banget. Ya kayak orang biasa melayani pembeli gitu. Dan dia hafal dimana letak barang-barangnya.

Whitecane yang dipesan bu prima adalah merk ambutech, dengan rolling. Aku belum berpengalaman beli whitecane, megang aja belum pernah. Baru kali itu aku memegang whitecane secara langsung. Waktu aku bilang mau beli whitecane ambutech dengan size sesuai yang dipesan ibu prima, ternyata lagi kosong. Akhirnya aku belikan 1 size diatasnya, karena aku pikir balqiz pasti tambah tinggi supaya masih bisa awet agak lamaan dipakainya. Whitecane ini ada size nya dalam inch, panjangnya diukur dari dada sampai ke ujung kaki si pemakai.

Waktu aku beli, pegawai tuna netra tersebut meminta tolong temannya untuk mengambilkan stok whitecane. Setelah diambilkan, dia meraba dulu untuk meyakinkan apakah benar itu sesuai size dengan yang aku minta. Dia juga memintaku untuk mengecek yang tertulis di situ. Ternyata benar. Aduh, aku merinding deh waktu itu, dia sampai bisa tau size whitecane cuma dengan meraba. Belum lagi barang yang lainnya, padahal dia sama sekali tidak bisa melihat. Keren banget. Aku sempat agak miss komunikasi juga, karena dia chinese, dia berbahasa inggrisnya pakai logat chinese dan ngomongnya cepet gitu. Aku nggak pinter english ya mikir dua kali dulu to ya kalau mo ngomong dan dengerin omongannya. hehehe..

Aku sempat bertanya ke bu Prima, apakah Arthur sudah perlu whitecane? Menurut bu prima, anak yang sudah mulai bisa berjalan, sudah bisa dibekali dengan whitecane. Anak-anak bule biasanya sudah diberikan whitecane sejak kecil saat mulai berjalan. Tapi semua kembali kepada ortu, karena ortu yang lebih mengenal anak. Aku yang tadinya mau beliin Arthur juga, mumpung sekalian di singapore tapi aku tunda dulu sajalah. Karena aku belum tau bagaimana ngajarin seusia Arthur untuk pakai whitecane. Yang ada nanti malah digigitin, di lempar atau buat pukul-pukul. Yah semoga esok kami ada rejeki lebih untuk membelikan Arthur whitecane di singapore.

Pasti banyak yang bertanya kenapa bu prima titip ampe singapore segala? emangnya di Indonesia nggak ada? Di Indonesia ada kok whitecane, merk lokal. Kalau merk Ambutech made in canada dan belum ada distributornya di Indonesia. Sewaktu pertemuan baby community jabodetabek, bu prima memberikan materi mengenai whitecane. Dan beliau membawa beberapa whitecane lokal dan ambutech.

Tentang pertemuan baby community jabodetabek hari itu bisa dibaca di : Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

Aku sih cuma komentar “wow” sama ambutech ini, karena saat dibuka dan dilipat dia langsung “klik klik” seperti magnet. Sementara untuk whitecane lokal, saat membuka kita harus sedikit merangkainya. Dan begitupun saat melipat. Tapi kalau untuk usia anak yang masih belajar menggunakan whitecane. Menurutku sayang juga kalau pakai merk import. Karena ujung tongkat biasanya akan sering penyok disaat tahap belajar dan juga sayang di harganya (prinsip emak emak banget hehe). Ambutech harganya sekitar 300-500ribuan tergantung ukurannya. Kalau merk lokal sekitar 50-100ribu tergantung ukurannya. Lagian anak yang masih dalam masa pertumbuhan, pasti akan sering berganti whitecane. Untuk menyesuaikan tinggi si anak. Jadi mending pakai yang lokal dulu aja. Kecuali jika memang ada rezeki yang berlebih, karena kualitas impor emang enak dipakai. Ada harga ada rupa lah. Hehehe…

Family Project : Membraillekan Buku-Buku Arthur

Family Project : Membraillekan Buku-Buku Arthur

Kemarin aku sempat berburu buku-buku touch and feel untuk Arthur. Dan pas ada event Big Bad Wolf 2017, sempet agak kalap juga beli buku anak-anak lewat jastip. Yang tadinya mau beli touch and feel aja, malah beli ini itu. Soalnya harganya pada miring sih (Penyakit emak-emak πŸ˜…).

Sebenernya di Jogja udah banyak buku Arthur yang aku braille kan.

Nah, pas di bekasi project kami adalah mem braille kan buku-buku Arthur yang ada disini. Sekalian biar papa Arthur belajar cara nya bikin huruf braille. Tapi ternyata papa nya Arthur keburu berangkat dinas selama 1 minggu di ujung timur Indonesia. Yaudah deh, nunggu pulang dulu sambil nyicil nge-braillein buku nya.

Aku membuat huruf braille, menggunakan riglet dan stylus. Kapan-kapan aku posting tutorial sederhana tentang cara menulis huruf braille deh. Kertas yang digunakan harus tebal supaya nggak bolong dan mudah diraba. Tapi karena aku mau tempelin ke buku cerita hard book yang didalamnya banyak gambar, jadi aku pakai kertas mika bening yang biasa dipakai untuk sampul. Supaya saat ditempel, gambar atau tulisannya masih terlihat. Biar besok bukunya bisa dipake adek-adeknya Arthur juga.

Alhamdulillah, Arthur mulai bisa dikenalkan dengan buku dan dia mau diajarkan untuk meraba berbagai macam tekstur di buku touch and feel.

<
Day10

#Level3

#FamilyProject

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

#InstitutIbuProfesional

Arthur Meet The Low Vision Therapist @ JEC

Arthur Meet The Low Vision Therapist @ JEC

Hari ini Arthur ada janji dengan low vision therapist di JEC (Jakarta Eye Centre).Sewaktu kontrol tahunan dengan dokter florence manurung lalu, beliau menyarankan Arthur untuk dilakukan assesment di low vision centre JEC dan kami diberi kartu nama therapistya. Namanya pak agus.
Sebelumnya, aku WA ke pak agus dulu, untuk janjian kapan bisa ketemu beliau. Ternyata beliau langsung cepat merespon. Kami diminta mengamati Arthur mengenai apa saja yang bisa dia lihat. Misalnya cahaya, warna apa, benda dengan ukuran atau diameter berapa, serta arah sebelah mana yang dia lihat. Supaya hasilnya dapat didiskusikan saat pertemuan.

Sabtu ini kami pun ke JEC menteng. Berangkat dari rumah naik Kereta Commuter Line, dari stasiun kranji turun di stasiun cikini, lanjut naik bajaj ke JEC. Sebenernya deket dan bisa jalan kaki dari stasiun cikini ke JEC. Tapi pengen ngajakin Arthur ngerasain naik bajaj, sekalian ngenalin Arthur transportasi umum. 
Di JEC menteng, kami langsung menuju ke bagian low vision therapist di lantai 2 untuk bertemu pak agus.

Di awal pertemuan dengan pak agus, kami diperlihatkan mengenai sebuah film dokumenter mengenai kondisi seorang anak low vision. 

Aku tidak memperhatikan dan mendengarkan penjelasan pak Agus secara keseluruhan, karena Arthur nggak mau diem. Dia jalan kesana kemari dan harus selalu aku awasi. Ditambah dia belum tidur, jadilah dia sedikit rewel dan minta nenen. Akhirnya aku ajak Arthur ke ruang menyusui. Sementara itu papa Arthur mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Pak Agus mengenai stimulasi penglihatan apa saka yang harus dilakukan yang juga bertujuan untuk mencari tahu sejauh mana sisa penglihatan Arthur. 

Pak Agus juga memberikan motivasi dan semangat untuk kami, agar menerima kondisi Arthur dan tidak merasa putus asa dengan kondisi Arthur tersebut. 

#Day9

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #FamilyProject

DIY touch and feel counting card

DIY touch and feel counting card



Dua kali membeli buku touch and feel yang bertemakan “numbers and counting” ternyata isinya tidak sesuai dengan ekspetasi. Tidak semua nya bisa diraba untuk belajar berhitung dan mengenal angka. Hanya diraba untuk bermain tekstur saja, seperti buku touch and feel lainnya, bukannya berhitung jumlah dengan meraba. 

Jadi, Project kali ini bertujuan untuk Arthur belajar berhitung dan mengenal angka dengan media raba.  


Bahan :

– pipe cleaner (1 pack isi 10pcs Harga Rp 10.000)

– pompom (1pack isi sekitar 50 pcs Harga Rp 20.000)

– kertas Marga (1 gulung besar Harga Rp 5.500)

– 2 ring untuk menjilid ( Harga @ 1500)

– lem

Bahan yang diperlukan

 

Cara membuat : 

  1. potong kertas kira-kira seukuran A4
  2. bentuk pipe cleaner seperti angka 1-10 lalu tempel ke kertas
  3. tempel pompom, sesuaikan jumlah pompom dengan angka
  4. tempelkan angka braille di bawahnya
  5. jilid dengan ring

 

cara main : 

  • ajak anak menghitung pompom dengan meraba
  • perkenalkan bentuk angka dan perkenalkan angka braille

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

DIY touch and feel shape card

DIY touch and feel shape card



Salah satu media belajar Arthur dalam mengenal berbagai macam bentuk dengan indra perabanya.
Bahan :

  1. Kertas Marga
  2. Pipe Cleaner
  3. Lem
  4. Ring

 

Cara Membuat :

  1. Potong Kertas kira – kira separoh kertas HVS
  2. Bentuk pipe cleaner dengan berbagai macam bentuk seperti : Segi empat, Segi Tiga, Lingkaran, Segi Panjang, Hati, Bintang, setengah lingkaran, segi enam, dll Lalu tempelkan ke kertas.
  3. Kalau saya juga menambahkan bentuk : Panjang – Pendek, Besar – Kecil
  4. Tulis dengan huruf braille bentuk tersebut dan tempelkan dibawahnya 
  5. Jilid jadikan satu dengan menggunakan ring supaya tidak tercecer kemana – mana

 

 


Cara main :

Ajak anak meraba bentuk tersebut dan informasikan kepada anak, bentuk apa yang sedang dia raba.

#Day4
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

Belajar Tentang Orientasi Mobilitas di Luar Ruangan

TMII – Sabtu, 12 Agustus 2017

Hari ini kami mengikuti pertemuan komunitas area Jabodetabek. Komunitas ini kami sebut dengan baby community, yaitu komunitas untuk tumbuh kembang anak dengan hambatan penglihatan. Saat Arthur di Jogja pun, Arthur selalu datang ke acara pertemuan baby community area Yogyakarta. Biasanya pertemuan dilaksanakan di area indoor. Tapi kebetulan, kali ini pas Arthur lagi di Bekasi pertemuan dilakukan di outdoor, dan dipilih Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasinya. Selain piknik, tentu saja ada materi yang akan disampaikan, yaitu belajar mengenai orientasi mobilitas di luar ruangan, khususnya di ruangan publik, dan juga pengenalan whitecane (alat bantu berupa tongkat untuk tuna netra).

Materi disampaikan oleh ibu primaningrum yang sudah banyak pengalaman di dunia disabilitas, khususnya pendampingan ABK tuna netra.Β Pada pertemuan baby community kali ini, ada beberapa tema yang dibahas oleh bu prima.

 

1. Pengenalan whitecane

a. Kaitan / Crook Β 

Seperti namanya, bagian ini merupakan bagian yang memiliki fungsi sebagai pengikat pergelangan tangan dengan tongkat, tujuannya adalah agar tongkat tidak terlepas dari tangan pengguna jika terjadi benturan atau ketika tongkat terlepas dari genggaman pengguna. Disisi lain, bagian ini juga memiliki fungsi untuk mengikat disaat tongkat dilipat. Β Pengikat ini biasanya berbahan yang bisa melar, seperti karet.

b. Pegangan / grip Β 

Bagian yang memiliki fungsi sebagai tempat jemari tangan untuk menggenggam tongkat.

c. Reflektor

Bagian yang memiliki fungsi memantulkan cahaya jika terkena sinar pada malam hari, sebagai penanda.

d. Ujung tongkat / tip

Bagian ini memiliki fungsi sebagai penuntun. Tip ini ada 2 macam, yaitu type fix(tetap) dan roller (beroda). Type fix biasa digunakan sebagai penuntun jalan yang memiliki berbagai macam kontur, sedangkan type roller digunakan pada jalan yang memiliki kontur rata/datar karena type ini dapat bergerak sesuai dengan dorongan tongkat. Biasanya type roller lebih cocok digunakan di area indoor.

2. Cara memakai tongkat

a. Mengukur panjang tongkat Β 

Mengukur panjang tongkat merupakan hal yang wajib dilakukan agar pengguna mendapatkan tongkat yang ideal sesuai dengan tinggi badannya, dengan panjang tongkat yang ideal maka akan memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Panjang tongkat yang ideal dapat diukur dengan mengukur tinggi antara dada pengguna hingga ujung kaki pengguna.

b. Menggunakan tongkat Β 

Cara penggunaan tongkat adalah dengan mengarahkan tip pada posisi 1-2 langkah didepan pengguna, lalu menggerakan tongkatnya ke kiri dan kanan dengan batasan selebar bahu pengguna. Β Agar keberadaan tongkaatnya tidak mengganggu keberadaan orang lain disekitarnya.

3. Orientasi mobilitas

Pada sesi ini, bu prima menjelaskan mengenai pentingnya komunikasi berupa deskripsi kondisi dan situasi bagi para ABK tuna netra dalam melakukan mobilitas aktifitasnya. Dalam kegiatan ini para orang tua diberikan tantangan untuk mencoba menjadi seperti para ABK yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Para orangtua ditantang menggunakan blindfold (tutup mata) agar merasakan apa yang dirasakan anak-anak saat berada di ruang publik tanpa melihat.

Tantangan pertama, orangtua berjalan dengan blindfold dan dituntun tanpa adanya komunikasi. Kendala yang kami alami adalah, kami tidak ada bayangan sama sekali mengenai apa yang akan kami lakukan, seperti apa bentuknya, bagaimana melaluinya, dll. Β Tentu saja banyak yang merasa ketakutan akan bahaya atau celaka apa saja yang ada didepannya saat berjalan. Karena tanpa diberikan informasi apapun tentang lingkungan tersebut.

Tantangan kedua, orangtua berjalan dituntun dengan blindfold dan diberikan pengarahan informasi, Β mengenai situasi dan kondisi lingkungan tersebut dan Β tentang apa saja yang ada didepannya. Sehingga kami memiliki bayangan mengenai apa yg akan kami lakukan dan kami mengerti apa yang harus dilakukan untuk melaluinya. Β Kami merasa lebih baik berjalan tanpa melihat tetapi diberikan penjelasan mengenai jalanan yang dilewati sehingga merasa lebih waspada.

Jadi, kita sebaiknya harus memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai situasi dan kondisi lingkungan tempat anak berada dan apa yang ada di depan anak serta ada apa saja disekitarnya. Bahkan kalau bisa informasi tersebut diberikan secara detail. Sejak dirumah, sudah diinformasikan kita mau pergi kemana dan disana ada apa. Dan selama diperjalanan, menginformasikan kepada anak tentang situasi dan kondisi perjalanan yang dilalui. Misalnya lewat jalan apa, belok kemana, melewati apa, dan sebagainya.

 

4. Pendamping ABKΒ  tuna netra

Menjadi pendamping ABK tuna netra kadang dilihat sebagai sebuah kegiatan yang mudah karena hanya tinggal mengarahkan dan menuntun sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini terpatahkan ketika bu prima menjelaskan bagaimana menjadi pendamping bagi para ABK, ada teknik-teknik tertentu untuk menjadi pendamping bagi ABK tuna netra ketika menuntunnya berjalan yaitu :

a. Pendamping harus berada disisi terlemah anak

Teknik ini dimaksudkan agar para pendamping dapat menutupi bagian terlemah dari anak, dalam artian ketika mendampingi anak untuk berjalan dan menemui halangan maka pendamping bisa mencegah anak terjatuh.

b. Pendamping didepan anka

Teknik ini ditujukan ketika anak melalui jalan yang sempit. Hal ini dimaksudkan agar pendamping dapat menuntun anak untuk melewati jalan tersebut, pendamping disarankan tidak berada dibelakang anak. Karena jika tinggi badan anak lebih tinggi dari pendamping maka akan menutupi pandangan pendamping.

Ibu Prima berbagi ilmu dan pengalamannya

Belajar penerapan mengenai orientasi mobilitas di ruang publik memang lebih menantang dibandingkan dengan belajar orientasi mobilitas didalam rumah.

Karena di ruang publik, para orangtua harus “kebal” dengan tatapan orang-orang. Tidak semua orang merasa welcome dengan keberadaan ABK. Pasti ada saja tatapan, pertanyaan maupun perkataan tentang ABK.

Kami, Para orangtua anak-anak dengan hambatan penglihatan

#Day2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP